Chelsea Cellina Stefani adalah seorang gadis cantik dan juga pintar dia adalah sahabat baik Earlyn.
Mereka telah bersahabat semenjak kecil.
Darielle Abrisham Nathaniel atau yang biasa dipanggil Ziel adalah sahabat kecil mereka.
Ketika lulus SMA Ziel melanjutkan kuliah di Harvard University sehingga mereka terpisah selama beberapa tahun. Namun walau begitu mereka masih tetap saling memberi kabar.
Ziel tidak mengetahui bahwa diantara Celline dan Earlyn memendam perasaan yang sama pada orang yang sama. Akankah Ziel memilih salah satu diantara mereka ataukah dia menjatuhkan pilihan pada gadis lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThaRoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Ganggu aku
Axel terus saja mencari Celline namun yang ditemuinya hanya kakaknya dan Earlyn. Mereka segera memberitahukan Axel keberadaan Celline. Dia segera mencari kekelas Celline namun yang dicari tidak ada dimanapun dia pun menjadi cemas dan kesal.
Jam 10 Axel melihat Celline sedang berjalan dengan kakak seniornya. Axel segera menghampirinya namun saat ini Celline sedang tidak bisa diganggu.
"Aku mau ke UKM xel....persiapan turnamen memanah. Kamu sebaiknya kuliah sana jangan temui aku dulu karena aku akan sibuk sampai beberapa minggu kedepan" Celline.
"Aku akan menemanimu" Axel.
"Tidak perlu Xel ada kak Yudha yang akan selalu bersamaku" Line
"Aku akan membantumu Line aku janji tidak akan mengganggumu" Axel.
"Dengar Xel kalau kamu masih mau menjadi temanku maka kamu harus menuruti apa kataku. Kalau kamu masih keras kepala maka aku tidak akan mau menjadi temanmu lagi" ancam Celline.
"Sekarang kamu fokus ke kuliah kamu dan aku juga akan mempersiapkan diri mengikuti turnamen ini" Line.
"Tapi kamu harus janji Line jika kamu tidak mempunyai hubungan apapun dengan pria itu" Axel segera mengarahkan pandangannya pada pria yang bersama Celline tadi.
"Jangan ngaco kamu...tidak ada bedanya kamu dengan dia Xel kalian adalah sahabat-sahabatku" ucap Celline
"Kamu taukan jika aku serius padamu Line" ucap Axel sambil memegang tangan Celline
Celline segera melepaskan cekalan tangan Axel.
"Cukup Xel...kita fokus ke tugas kita masing-masing. Jangan ada hati diantara kita karena aku tidak mau ada yang menghalangi jalanku. Aku ingin meraih kesuksesan dulu Xel. Jika kamu ingin lebih maaf aku belum bisa. Sebaiknya kita berhenti sampai disini saja persahabatan kita" setelah berkata seperti itu Celine segera berlalu dari hadapan Axel dan pergi dengan Yudha. Axel ternganga mendengar ucapan Celline. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa Celline tidak menyukainya?disaat gadis-gadis yang lain sibuk mengejar dan memuja cintanya tetapi Celline malah memilih mengabaikan dan menghancurkan hatinya. Ini tidak benar pasti ada sesuatu yang salah. Apa Celline sedang salah makan? Kenapa hari ini dia sikapnya berbeda 180 derajat? Aarggg.....Celline kamu benar-benar membuatku bingung.
Dengan wajah merah dia melangkahkan kakinya dan duduk dikoridor sendiri. Taklama kemudian Ziel dan Earlyn segera menghampirinya.
"What's wrong?" Tanya Ziel
"Celline" jawabnya singkat
"Ada apa dengan dia?" Tanya Ziel.
"Dia mengabaikanku katanya jika aku tetap memaksanya maka dia akan memutuskan hubungan persahabatan kami" ujar Axel seolah tidak bisa menerima perkataan Celline.
"Memangnya apa yang kamu minta darinya?" Ziel
"Aku katakan aku akan menemaninya apapun yang dia lakukan. Saat ini dia akan mengikuti turnamen memanah aku mau mengantar dan menunggunya tapi dia tidak mau. Katanya keberadaanku bisa mengganggu konsentrasinya. Ini tidak benar kak, aku akan memberinya semangat dan dukungan tapi kenapa dia menolakku? Padahal semalam dia masih bersikap manis terhadapku tetapi pagi ini sepertinya aku menghadapi Celline dari versi yang berbeda" Axel
Ziel nampak antusias mendengar perkataan Axel. Dia menjadi bertanya-tanya sendiri apa maunya Celline dan mengapa mengabaikan Axel yang selama ini sudah begitu baik kepadanya?
Sepertinya Ziel harus turun tangan menangani masalah adiknya itu.
"Memang dimana dia sekarang?" Tanya Ziel
"Aku tidak tau hanya saja tadi aku melihat dia sedang berjalan dengan cowok lain. Entah siapanya dia" ujar Axel berang.
"Apa dia sudah mematahkan hati adikku ini?" Ziel
"Jangan menggodaku kak" lalu Axel segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kelasnya.
"Aku masuk kelas dulu kak" ucapnya dan segera menghilang dari hadapan Ziel.
"Uhh...Celline ada apa denganmu. Kenapa menyakiti Axel padahal Axel sudah terlalu baik padanya kak kenapa sekarang aku merasa jika Axel dicampakkan olehnya. Apa karena sekarang Celline sudah mendapatkan pria lain?" Tanya Earlyn
"Aku tidak tahu... kalian yang tahu sifat dia" Ziel
"Sebaiknya kamu masuk kelas Lyn kakak akan ke kantin menunggu kalian berdua disana" Ziel
"Tapi kak" Earlyn hendak melanjutkan kata-katanya namun Ziel langsung mengeluarkan jari telunjuknya dan menunjuk ke arah kelas. Mau tidak mau Earlyn bangkit dan kemudian pergi menuju kelasnya. Sementara Ziel mencoba mengitari seluruh area kampus dan mencari keberadaan Celline.
"Kampus yang sangat luas dan aku tidak tau berada digedung yang mana dia sekarang. Kamu seperti kutu loncat Line nemplok dimanapun yang kamu mau hingga membuat orang lain kebingungan mencari dirimu" Ziel kemudian membeli air mineral dan duduk disalah satu bangku kafe. Seperti biasanya kehadiran dirinya selalu menarik perhatian penghuni kafe itu terutama kaum hawa.
Dia mengeluarkan rokoknya dan mulai menghisapnya sambil membuka handphonenya berusaha menghubungi Celline. Namun jawaban selalu sedang diluar jangkauan.
"Ada apa denganmu Line dan kenapa kamu bertingkah seperti ini?" Tanyanya dalam hati.
"Apa kamu mendengar percakapanku dengan Earlyn?"Ziel nampak kaget dan dia segera mengurut keningnya mencoba berfikir dengan keras.
"Tidak mungkin...saat itu hanya ada aku dan Earlyn lagipula bukankah dia sedang berdua dengan Axel? Sungguh aku tidak percaya jika dia bisa menyakiti hati adikku dan aku tidak akan terima" ucapnya dalam hati.
Sambil menenteng air mineral dia mulai mencari kembali Celline dari tiap sudut ruangan kelas sampai parkiran ataupun lapangan kampus. Dari jauh dia melihat seorang gadis sedang memegang alat memanah Ziel berusaha mendekat untuk melihatnya dan ternyata benar Celline sedang membidik sasaran anak panahnya.
"Shitt...darimana aku masuknya jika seluruh ruangan diberi jaring pembatas. Ziel berusaha menelusuri pembatas itu untuk mencari pintu masuknya namun langkahnya segera terhenti saat melihat pria hampir sebaya dirinya mendekati Celline dan memberikan air mineral padanya.
"Siapa dia? Pelatih atau kekasihnya?" Ziel memperhatikan dengan seksama gerak tubuh mereka. Dan tampak pria itu sedang mengarahkan dan memberitahukan sesuatu kepada Celline.
Ziel berdiri dan menyandarkan punggungnya didinding gedung itu sambil menekuk sebelah lututnya dan matanya tidak berhenti melihat ke arah Celline.
Pria yang bernama Yudha segera memberikan pengarahan kepada Celline dan dia memberikan secarik kertas kepadanya setelah itu dia pergi meninggalkan Celline. Tinggal Celline sendiri sedang berlatih memanah saat ini.
Ziel segera bangkit dari sandarannya dan bermaksud menghampiri Celline tetapi tiba-tiba dia segera mengurungkan niatnya karena dua pemanah lainnya segera menghampiri Celline. Diapun segera kembali ketempatnya semula dan mulai menyalakan rokoknya.
Tak berapa lama Ziel membuka handphonenya dan menerima telpon dari Axel.
"Dimana kak?" Tanyanya
"Kakak ada dilapangan memanah Xel kamu kemarilah Celline ada disini" Ziel
"Oke" jawabnya singkat lalu dia segera menutup telponnya dan langsung pergi ke lapangan yang kakaknya tunjukkan. Dengan setengah berlari Axel mencari lapangan itu dan dengan nafas yang hampir copot akhirnya dia bisa melihat gadis yang dicintainya itu.
"Line....Celline" panggil Axel sambil melambai-lambaikan tangannya.
Seorang teman Celline melihatnya dan mencolek Celline memberitahukannya jika ada yang mencarinya. Celline segera memutar tubuhnya dan melihat dua pria tampan sedang memandanginya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dia segera menghampiri mereka.
"Hai...ada apa Xel?" Tanyanya
"Jam berapa kamu selesai latihan aku akan menunggumu Line" Axel.
"Jangan pernah menungguku Xel karena setelah ini aku akan berangkat ke kampus Y untuk ikut mendaftarkan dan menjadi bagian dari turnamen ini" jawabnya
"Aku akan mengantar kalian" ujarnya bersikeras.
" Tidak bisa Axel aku sangat sibuk hari ini. Sebaiknya kalian pulang segera karena kuliah kamu sudah selesai Xel" Celline
"Line apa salahku kenapa kamu menghindariku? Apa karena aku sudah menciummu tadi malam?" Tanyanya
Dengan membuang nafas kasar Celline segera mendekat kepada Axel "Aku tidak perduli tentang ciuman semalam tapi aku sudah bilang padamu biarkan aku sendiri karena aku punya tujuan dalam hidupku dan aku akan meraih tujuan hidupku dulu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan untukku. Pesanku kepadamu sebaiknya kamu mulai membenahi diri kamu agar mommy dan daddymu tidak merasa sia-sia karena sudah menguliahkanmu dikampus yang bagus ini" setelah berkata seperti itu Celline segera berjalan kembali ketempatnya.
"Aku akan menunggumu disini. Aku tidak perduli kamu suka atau tidak Line" teriaknya.
Celline tidak memperdulikannya dia kembali berlatih dengan kedua teman regunya itu.
Ziel mulai kesal dengan Celline yang begitu tak menganggap adiknya itu. Apa kurangnya Axel kepadanya kenapa Celline sekarang mengabaikannya?
Rasanya ingin sekali dia mendobrak jaring yang memisahkan jarak mereka itu dan menggunting-guntingnya serta ingin menarik paksa Celline dan menghempaskannya kepada Axel hanya saja situasi saat ini sangat tidak mendukung.
Akhirnya yang dia lakukan adalah menarik Axel agar tidak nampak menyedihkan karena diabaikan oleh orang yang dicintainya.
"Ayo kita pulang masih banyak gadis diluaran sana yang lebih darinya. Kakak tidak suka melihatmu saat ini kamu benar-benar sangat menyedihkan Xel" ucapnya.
"Ayo bangkit kita akan bersenang-senang" ajak Ziel
Namun Axel tidak merespon ajakan kakaknya itu. Akhirnya dia meminta pulang dan saat ini dia hanya menginginkan kamarnya dan pergi tidur untuk mengistirahatkan pikirannya itu.
Ziel segera menelpon Earlyn dan mengatakan jika dia akan pulang mengantar Axel sekarang. Dan tanpa diduga Earlyn segera meminta ijin kepada dosennya agar diperbolehkan keluar terlebih dahulu. Setelah mendapat ijin dia segera menuju parkiran dan menghampiri mobil Ziel lalu dia segera duduk dibangku belakang karena bangku depan sudah terlebih dahulu diisi oleh Axel.
Mereka semua diam didalam mobil. Axel menutup matanya Ziel fokus kedepan pandangannya dan sesekali melirik ke arah Axel.
"Maaf kak apa yang terjadi pada Axel?" Tanyanya
"Entahlah...Celline mengabaikannya. Apa kamu tahu apa yang terjadi pada Celline? Biasanya dia selalu bersama Axel tetapi sekarang dia nampak menghindari Axel" Ziel
Earlyn hanya bisa membulatkan bibirnya itu.
"Apa mungkin dia sudah mulai bosan kak?" Tanyanya lagi.
"Semalam mereka baik-baik saja. Entah kenapa hari ini tampak lain sekali sikap Celline" Ziel
"Dia pasti bersama Yudha kak" Earlyn
"Siapa dia?" Ziel
"Senior yang membawahi UKM bidang olahraga. Celline dalam pengawasannya saat ini karena dia yang menjadi penanggung jawabnya.
Ziel langsung menganggukkan wajahnya tanda mengerti.
"Aku akan cari tau penyebab dia mengabaikan Axel" ucap Ziel sambil mengendarai mobilnya menuju rumah Earlyn.
"Kamu pulang ya...kakak ingin istirahat dirumah" Ziel
"Ohh....iya kak" jawabnya singkat. Andai diperbolehkan tentu saja dia lebih suka mengekori Ziel kemanapun dia pergi namun kali ini dia harus puas hanya diantar dan jemput saja oleh Ziel. Jika tidak hari ini setidaknya besok dia harus mencari alasan agar Ziel bisa menemaninya.
********
Maaf saat ini kita harus seperti ini kamu harus terbiasa tanpaku Xel🤧
Genks jangan lupa like vote n komennya ya sayang-sayangkuh😍😍🤗
Makasih yang sudah vote....ketcup...ketcup buat kalian😘😘😘😘
Poor Axel....maaf🤧🤧
Aku harus fokus saat ini karena hati yang telah terhempas🥺
Yudha