Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 PERTARUNGAN
Kring.
Satu mata rantai jatuh ke jalan yang retak. Hanya itu. Tapi bunyi sekecil itu menusuk telingaku seperti paku.
"Di sebelah kiri," kata Haris.
Aku tak sempat bertanya.
BRAAAKK!
Tanah tempatku berdiri meledak. Serpihan batu menampar wajahku, panas dan tajam. Rantai sebesar lengan melintas, mendesing, menghantam dinding di belakangku, dan dinding itu runtuh seperti kue kering.
Hanzo tertawa. Tawanya berat, bergulir seperti batu di dasar sumur.
"Wah...Satunya lolos. Aku suka yang bisa lari."
Jantungku menghantam rusuk. Debu. Besi. Dan di bawahnya, bau manis yang busuk, seperti buah terlalu lama di keranjang.
Ia sudah tak ada di tempatnya.
"Diatas," desis Haris.
Aku mendongak. Di antara asap, siluet kurus itu melayang turun, mantel robeknya mengembang seperti sayap kelelawar. Sepuluh pisau hitam berkilat di sela jemarinya.
Satu napas. Aku mengangkat pedang. Angin di dadaku berputar, panas, gelisah, minta dilepas.
Dua napas.
"Wind element, broken wind!"
WHUUUSSSH-KRAAAK!
Bilahku menebas udara, dan udara itu pecah. Puluhan sabit angin kasatmata menderu ke atas, mengiris asap menjadi pita-pita, menghantam hujan pisau di tengah jalan. TING-TING-TING-TING! Pisau-pisau itu terpental, berputar liar, menancap di tembok dan tiang lampu.
Di setiap tempat pisau itu menancap, besi meleleh menjadi lumpur hitam. Aku menelan ludah. Satu goresan saja bisa melelehkan benda sekitar.
Anchor mendarat tanpa suara. Ia menatap lengan mantelnya. Ada satu sayatan tipis di sana. Ujung bibirnya naik.
"Oh elemen angin ya," bisiknya. "Ini menarik."
Lalu ia lenyap.
Aku tak sempat bernapas.
Rantai menyapu dari kanan. Aku melompat, dan rantai itu menghantam tiang batu yang pecah jadi debu. Dari kiri, Hanzo datang sendiri, bahunya seperti tembok bergerak, kepalan sebesar kepalaku menyambar. Aku memiringkan tubuh. Angin dari tinjunya mengelupas kulit pipiku.
"Hati hati dia mau menangkapmu," kata Haris tenang, seakan membacakan ramalan cuaca. "Rantai keduanya ada di Kaki, Sekarang."
Aku melompat tepat ketika sesuatu berdesir di bawah sepatuku. Rantai lain. Lolos seujung kuku.
Haris tak pernah berhenti bergerak. Ia mengalir di antara dua musuh seperti air melewati batu, belatinya berkelebat. SRET. TRANG. SRET. Ia tak pernah menyerang lebih dulu. Ia menunggu, dan setiap kali Anchor menusuk, belatinya sudah di sana, menepis, memotong lintasan, memaksa pisau busuk itu menjauh dari kulitnya.
"Dia melempar tiga pisau," gumamnya. "Tapi yang keduanya palsu."
Aku tak pernah mengerti bagaimana ia tahu.
Tapi aku mulai merasakannya. Sesuatu di tengkukku, dingin, tajam, berdenyut sebelum bahaya datang. Insting. Pagi tadi di taman aku menutup mata dan kalah empat kali. Sekarang mataku terbuka, dan aku tetap nyaris tak bisa mengikuti.
Cepat. Kamu harus lebih cepat.
"Wind element, gale spiral!"
Aku memutar pedang di atas kepala. Angin mengamuk, menyedot debu dan serpihan dari seluruh jalan, membentuk puyuh liar yang melaju ke arah Hanzo. Ia menyilangkan lengan. Pusaran itu menghantam dadanya, mengikis, menggerus, mendorongnya mundur selangkah, dua langkah, tumit sepatunya membajak dua alur di tanah.
Ketika puyuh mereda, Hanzo masih berdiri. Kulit kelabunya tergores di banyak tempat, tapi goresan itu tidak berdarah. Ia mengangkat wajah, dan urat merah menjalar dari leher sampai ke pelipisnya.
"Itu...," katanya, nyaris takjub. "Itu tadi sentuhan ya..? Heheheheh"
Dingin merambat di punggungku. Aku pernah merasakan ini di lembah batu hitam: jurang antara apa yang kupunya dan apa yang kuhadapi. Tidak lagi. Aku tak mau jatuh lagi. Iyan menyerang dari sisi buta.
Aku tak melihatnya datang. Aku hanya mendengar KRIIIT tipis, seperti kulit ular dikelupas, lalu kilat kuning menyambar rahang Hanzo.
ZZZAPP-BUUKK!
Kepala si raksasa terpelanting ke samping. Bau daging hangus menyengat. Untuk pertama kalinya, ada darah di wajah kelabu itu, setetes hitam kental di sudut bibirnya.
"Kena!" Iyan mundur terhuyung, napasnya berpacu. Gadanya berasap. "Aku berhasil mengenai dia!"
Hanzo meludah ke tanah. Darah hitam. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Iyan dengan sorot yang berbeda. Bukan lagi sorot bermain-main.
"Dasar, bocah petir," katanya pelan. "Sepertinya kamu yang pertama akan kubunuh."
Rantainya melesat.
Iyan menjerit, melempar tubuh ke samping. Rantai itu menyambar tempatnya berdiri, dan sebuah gerobak di belakangnya terbelah menjadi dua bagian yang melayang di udara. Roda-roda menggelinding liar.
"Iyan, merunduk!"
Ia tak mendengarku. Wajahnya putih, matanya melebar menatap rantai yang berayun balik. Aku sudah melompat, tanpa berpikir, pedangku terangkat.
"Wind element, gust shield!"
Angin menggumpal di depanku menjadi dinding tipis berpusar. Rantai itu menghantamnya.
DUUUUAAAAARRR!
Seluruh lenganku bergetar sampai ke tulang bahu. Dinding anginku retak, bergelombang, nyaris pecah, tapi rantai itu berhasil terpental ke atas, menghantam atap rumah di sisi jalan dan membuatnya runtuh.
"Terima kasih, Arka" bisik Iyan, tersengal.
"Jangan berterima kasih dulu, coba bergerak dengan sisa tenagamu!"
"ARKA, AWAS BELAKANGMU!"
Suara Iyan lagi. Parau, putus asa.
Aku berputar. Terlambat.
Pisau hitam ramping menyambar dari asap. Aku mengayunkan pedang dan menangkisnya di udara, tapi percikan cairan hijau dari bilahnya menciprat ke ujung jubahku.
Hanya sedetik. Kain hijau itu menghitam. Mengerut. Lalu hancur menjadi serbuk, rontok dari bahuku seperti abu.
Perutku jungkir balik.
Itu jubahku. Jubah yang kupakai sejak berangkat dari selatan. Hilang, semudah itu.
Kalau itu kulitku...
"Bagus sekali tadi loh." bisik Anchor tepat di telingaku.
Aku tak melihatnya bergerak. Ia sudah ada di sana, wajah cekungnya sejengkal dari wajahku, mata tanpa kedip dengan pupil sekecil titik. Napasnya berbau tanah kuburan.
"Kenapa? Kamu takut?"
BRAAAKK!
Rantai menghantam punggungku seperti palu. Dunia memutih. Paru-paruku kosong. Aku terlempar tanpa berat, menghantam dinding, merasakan sesuatu retak di rusukku, dan jatuh bersama hujan puing.
Rasa logam memenuhi mulutku.
"ARKA!!!!"
Aku mencoba bangkit. Lututku mengkhianatiku. Pedangku, di mana pedangku? Di sana, setengah terkubur debu, tiga langkah jauhnya.
Rantai sudah melilit pergelangan kakiku.
"KESINI KAU, BOCAH....." Hanzo menarik, pelan, hampir lembut. Aku diseret, seluruh tubuhku, di atas pecahan kaca dan batu tajam, kuku-kukuku menggaruk tanah.
"JANGAN!"
Iyan berlari terhuyung, gadanya terangkat, listrik kuning menyala di ujungnya, lemah, hampir padam.
"Iyan, tunggu!" bentak Haris. "Belum waktunya!"
Terlambat. Anchor sudah menoleh.
"Hai, tikus petir," katanya riang. Tangan kurusnya terayun. Tiga pisau melesat.
Haris menghilang dari sisiku.
Aku tak tahu bagaimana ia melakukannya. Dalam sekejap, tubuh sebesar itu sudah berada di depan Iyan, belatinya menari. TANG! TANG! Dua pisau terpental. Yang ketiga...
SRET.
Haris mendesis pelan.
Pisau itu menggores lengan bawahnya. Hanya garis tipis, tak lebih dalam dari kuku. Tapi aku melihatnya dari tempatku terseret: kulit di sekitar goresan itu menghitam. Menjalar. Cepat, sangat cepat, seperti tinta tertumpah di kain.
Haris tak berteriak. Ia menatap lengannya sedetik, sorot satu matanya dingin sekali.
Lalu ia mengangkat belati kedua dan mengiris lengannya sendiri.
SRAAAT.
Selembar daging hitam jatuh ke tanah. Darah segar menyembur. Iyan terkesiap, wajahnya pucat pasi, tapi Haris sudah berdiri tegak lagi, napasnya berat.
"Pembusukan itu," katanya terengah, "Sudah tak punya jalan lagi ke tulangku."
"Guru..." suaraku serak.
"Aku masih bisa berdiri. Itu cukup."
Aku menggertakkan gigi sampai ngilu. Rantai di kakiku menegang, menyeretku makin dekat ke Hanzo. Tangan kiriku meraba tanah. Jari-jariku menemukan sesuatu yang tajam, serpihan kaca dari kanal.
Pedangku terjatuh cukup jauh. Tapi aku punya angin.
Dengarkan, kata suara Haris di kepalaku, sisa latihan pagi tadi. Insting bekerja sebelum mata sempat melihat.
Aku memejamkan mata.
Gelap. Dentang rantai. Napas Hanzo yang berat, tepat di atas kepalaku. Detak jantungku sendiri. Dan di balik semuanya, satu getaran tipis, dingin: pisau yang melayang dari belakang.
Aku menarik napas.
"Wind element..."
Telapak tanganku menghantam tanah.
"...tempest cut!"
KRAAAAAAK-WHUUUUUSSHH!
Angin meledak dari tanah di bawahku, naik dalam satu semburan liar, melilit rantai, memotong, menggerus, mengiris. Dalam satu tarikan napas, mata rantai di pergelangan kakiku retak. Satu. Dua. Tiga.
PRAAANGGG!
Rantai putus.
Aku berguling mundur, merampas pedangku dari debu, dan bangkit dengan tubuh bergetar. Rusukku menjerit setiap kali menarik napas. Tapi aku berdiri.
Hanzo menatap potongan rantainya. Lalu menatapku. Senyum malasnya lenyap untuk pertama kali.
"Kau..." ia menggeram. "Merusak mainanku."
Sunyi sesaat.
Hanya desis air kanal, derak kayu terbakar, dan napas kami berempat.
"Pakai instingmu di saat yang tepat. Arka."
"Ya, Guru."
"Arka, Anginmu. Coba gabungkan dengan petirku. Seperti di lembah itu."
Aku mengangguk. Dadaku berdebar. Kami pernah melakukannya sekali, melawan raksasa kroco yang kini terasa seperti anak kecil dibanding dua monster ini.
"Yang gempal itu tak bisa ditembus dengan satu jurus saja," lanjut Haris. "Tapi tubuhnya retak di dada kiri.
Kamu lihat?"
Aku menyipit. Di antara goresan kelabu di dada Hanzo, ada satu garis yang lebih dalam, bekas gale spiral tadi, nyaris tak terlihat kalau tak memperhatikannya.
Anchor tertawa dari balik asap. Tawanya tipis dan renyah. Lalu Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan batu akik biru pucat itu. Cahayanya berpendar di telapak tangannya yang pucat.
"Tuanku tidak sabar menunggu ini."
Ia menggenggam batu itu.
Retakan kecil merambat di permukaannya, berderak pelan. Cahaya biru bocor di sela jemarinya, menjalar naik ke lengannya, berubah menjadi sesuatu yang gelap dan berdenyut.
"Dia menyerapnya..," bisik Haris. Untuk pertama kalinya aku mendengar nada cemas di suaranya. "Dia memakan batu itu."
"Tapi itu segel..." Iyan tercekat. "Kalau hancur..."
"Terlalu lambat," kata Anchor, hampir lembut.
Cahaya biru itu meledak.
WHUUUUUUUUMMMMMMM!
Gelombang tekanan menghantamku, mendorongku mundur dua langkah. Kerikil beterbangan. Kanal-kanal kaca yang tersisa pecah serempak. Di tengah pusaran cahaya, tubuh Anchor melonjak, urat-urat hitam menyembur dari kulitnya seperti akar pohon mati, pupilnya melebar menjadi lingkaran merah penuh. Di sampingnya, Hanzo menggeram, otot-ototnya membengkak, retakan di dadanya menutup dan mengeras seperti batu yang baru dipanggang.
Bau busuk memenuhi udara, begitu pekat hingga aku hampir muntah.
Dan di belakang mereka, di setiap tempat yang disentuh cahaya itu, tanah menghitam. Kayu melapuk. Logam berkarat dalam sekejap mata.
"Ini..." suara Iyan bergetar. "Ini bukan lagi kekuatan tingkat bawah."
Haris menurunkan tubuhnya, belati di kedua tangan, napasnya dalam dan berat. Darah masih menetes dari lengannya, tapi sorot matanya setajam elang.
"Arka. Iyan." Suaranya datar, tenang, dan itu yang paling menakutkan. "Kalau aku bilang lari, kalian lari."
"Tidak," kataku.
"Arka..."
"Tidak, Guru."
Aku mengangkat pedangku. Tanganku gemetar, rusukku nyeri, tapi angin di bilahku menyala lebih terang dari sebelumnya, hijau, tajam, dan keras kepala.
Anchor bergerak lebih dulu.
Bukan menghilang seperti tadi. Kali ini ia meledak ke depan, dan jalan di bawah kakinya hancur menjadi serbuk hitam. Aku mengangkat pedang dengan refleks sempit, dan bilahnya menghantam bilahku.
TRAAAANNGGG!
Lenganku mati rasa. Tubuhku terdorong mundur dua belas langkah, tumitku membajak tanah, dan aku nyaris terjungkal. Wajah cekungnya sejengkal dari wajahku, mata merah menyala tanpa kelopak.
"Lambat sekali," bisiknya.
"Wind element, break step!"
Aku menghentak tanah. Ledakan angin meletus di antara kami, mendorongnya setengah langkah. Cukup. Aku berguling ke samping tepat ketika pisaunya menusuk tempat leherku tadi berada.
Di belakangku, Haris dan Hanzo sudah saling menghantam.
Aku hanya sempat melihat sekilas: belati melengkung bertemu rantai, percikan merah menyembur seperti kembang api. Haris tak mundur sejengkal pun. Ia menunduk, memutar, menyelinap di bawah ayunan rantai, belatinya menyambar ke pergelangan Hanzo.
KRAAAK.
Hanzo menggeram, mengayunkan siku. Haris sudah tak ada di sana.
"Dikanan! Dikiri! Diatas!" suaranya seperti hitungan, tapi bukan untukku. Itu ia sedang bicara pada dirinya sendiri, membaca gerakan musuh yang bahkan belum terjadi.
Aku ingin menyaksikan lebih lama. Anchor tak memberiku kesempatan.
Pisaunya berdesing. Sepuluh, dua puluh, aku kehilangan hitungan. Aku menepis satu, merunduk dari dua, melompat dari yang ketiga. Setiap goresan di tanah meninggalkan bekas hitam. Napasku memburu, keringat dingin membasahi punggung, dan di antara pukulan jantungku, suara halus berbisik: satu saja. Satu goresan, dan kau selesai.
"Arka!" teriak Iyan. "Merunduk!"
Aku tak bertanya. Aku merunduk.
KRAAAK-ZZZZZZAAAAAPPPP!
Petir kuning menyambar di atas kepalaku, tepat menghantam dada Anchor. Cahaya putih membutakan. Tubuh kurus itu terpental ke belakang, menghantam dinding toko hingga seluruh bangunannya runtuh menimpanya.
"Aku menoleh dengan napas tercekat. "Iyan, kau bilang..."
"Maaf, aku bohong," katanya terengah, bersandar pada gadanya yang kini padam. Wajahnya putih seperti kertas, tapi ia nyengir. "Masih ada setengah."
"Kamu gila ya."
"Aku... Hanya... pemula... yang beruntung."
Aku nyaris tertawa. Nyaris. Reruntuhan toko itu bergetar.
Satu tangan hitam menyembul dari antara puing. Lalu satu lagi. Anchor berdiri perlahan, batu dan kayu berjatuhan dari bahunya, mantelnya hangus dan compang-camping. Di dadanya, bekas petir Iyan menghitam seperti arang, tapi retakan itu menutup di depan mataku, urat-urat gelap menjalin kulitnya kembali utuh.
"Aduh, sakit," katanya pelan. Ia memiringkan kepala. "Aku sudah lama tak merasakan sakit."
Aku menelan ludah. Mulutku kering seperti pasir.
"Terima kasih iyan..."
Dan ia tersenyum, senyum paling mengerikan yang pernah kulihat.
"Arka."
Suara Haris menembus dengung di telingaku. Aku menoleh, dan jantungku berhenti.
Haris berlutut dengan satu lutut. Napasnya putus-putus. Lengan kirinya, yang tadi ia iris sendiri, kini bergetar tak terkendali, dan di sekeliling lukanya kulitnya menghitam lagi, perlahan merayap ke pergelangan tangan. Dua belatinya masih tergenggam, tapi ujungnya bergetar.
Di depannya berdiri Hanzo, rantai melingkar di lengannya, dada bidangnya naik turun. Ada luka dalam di pundaknya, tapi ia menyeringai, giginya merah oleh darah hitamnya sendiri.
"Heh, Cukup menarik, orang tua," katanya. "Tapi kamu mulai melambat ya."
"Aku melambat?," ulang Haris pelan, dan ia tertawa kecil di sela napasnya. "heheheh, Hanya karena kamu terlalu besar untuk kulihat lengkap ya..."
"Hm?"
Haris menutup satu matanya yang terbuka.
Dan aku merasakan sesuatu yang aneh: seluruh jalan itu berubah. Hawa di sekeliling Haris menipis, lalu menajam, seperti ruangan yang tiba-tiba kehilangan semua suara kecuali satu. Batu kelabu di penutup matanya berkilau terang sekali.
"Insting tak butuh mata," bisiknya.
Hanzo mengayunkan rantai.
Haris tidak bergerak.
WUUUUUNG!
Rantai itu melintas satu jari dari wajahnya. Satu jari. Haris bahkan tak berkedip. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, dan rantai itu menggores udara kosong.
"Tiga," katanya.
Rantai kedua menyapu. Haris memiringkan bahunya. Lewat.
"Dua."
Hanzo menggeram dan mengayunkan kepalannya. Haris sudah tak ada di sana. Ia berdiri tepat di samping bahu si raksasa, belati terangkat.
"Satu."
SRAAAAT!
Darah hitam menyembur. Hanzo meraung, menjatuhkan rantainya, mundur sempoyongan sambil memegangi pergelangan tangan yang kini hanya tersisa separuh. Tangan kirinya tergeletak di tanah, jari-jarinya masih berkedut.
"AAARGH! KAU... KAU..."
"Jangan senang dulu," kata Haris. Ia tersengal, wajahnya basah keringat, dan aku melihat darah menetes dari ujung dagunya. Lengan kirinya kini hitam sampai siku. "Aku... baru memulai."
Tapi suaranya gemetar.
Aku melihatnya. Aku melihat ia berpura-pura. Dan aku melihat Anchor melihatnya juga.
"Guru, awas!"
Pisau hitam melesat dari belakang. Haris menoleh, terlambat setengah detik.
Aku melompat.
"Wind element, hurricane lance!"
Aku menusukkan pedang ke depan, dan seluruh angin di tubuhku mengalir keluar dalam satu garis hijau menyilaukan. Tombak angin menderu, menghantam pisau itu di udara dan melemparkannya ke tembok, tepat sebelum menyentuh bahu Haris.
TAAAANGG!
Anchor menoleh padaku. Matanya yang merah menyala, dan senyum di wajahnya perlahan hilang.
"KAU..." bisiknya. "KAU PENGGANGGU....."
Ia menunduk, mengangkat kedua tangannya, dan di setiap jemarinya, pisau hitam berkelebat muncul. Tidak sepuluh. Tidak dua puluh. Puluhan, seperti hutan baja yang tumbuh dalam sekejap.
Cahaya bulan memantul di bilah-bilah itu, memantulkan ribuan kilau beracun di dinding-dinding kota yang hancur.
"Haris-san," kataku pelan, tanpa menoleh. "Berapa lama kamu bisa bertahan?"
"Ah, mungkin.. cukup lama."
Di sampingku, Iyan mengangkat gadanya yang bergetar. Di belakang kami, Vivi mengintip dari balik puing dengan wajah sepucat kapas. Di depan, Anchor dan Hanzo menunggu, dua bayangan raksasa yang kini menutupi jalan, mata merah mereka menyala seperti bara.
Aku menarik napas dalam, merasakan angin di dadaku berputar semakin cepat, panas, gelisah, hampir tak terkendali.
Pertarungan ini belum selesai.
Bahkan belum setengahnya.