NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Masuk

Permintaan Arnold sederhana, ia hanya ingin benar-benar merajut rumah tangga dengan Arini.

Dan saat Bunda Jennifer mengangguk merestui, Arnold pun tidak tunggu lama segera masuk ke mobilnya dan menyuruh driver menuju Diamond Grup.

Sesampainya di Diamond Grup, Arnold turun diikuti pengawalnya untuk menemui pemilik Diamond Grup dengan membawa kopian rekaman CCTV bandara di ponselnya.

"Aku mau ketemu Pak Raka." ujarnya pada resepsionis.

"Maaf, Apa sudah ada janji sebelumnya, Pak?" tanya resepsionis tersebut yang membuat Arnold mendengus.

Namun saat ia mau menjawab, Arnold melihat Jessica keluar dari lift yang ada di lobi dan seketika Arnold pun memanggilnya, "Jess!"

"Kak Arnold!" Jessica membulatkan matanya, ia sangat senang melihat Arnold.

"Aku mau ketemu Papamu." to the point Arnold.

"Papa enggak masuk kerja hari ini. Papa di rumah." jelas Jessica sembari menggelayut manja di lengan Arnold.

"Di rumah yang mana?" Arnold bertanya dengan membiarkan Jessica agar gadis itu mengaku.

"Hemmm.." Jessica menatap langit-langit gedung sembari mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya. "Aku enggak tau sih Kak, Papa tadi enggak bilang mau ke rumah yang mana."

"Coba telpon Papamu sebentar." pinta Arnold.

"Kakak ada perlu penting banget sama Papa ya?"

Arnold menganggukkan kepalanya.

"Oke. Aku telpon Papa." Jessica mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, lalu menghubungi Papanya.

Arnold menggeram kesal mendengar Jessica tidak bertanya langsung pada poinnya, namun mencoba bersabar demi Arini.

"Papa di rumahnya yang ada di Jakarta Selatan." jelas Jessica saat panggilan dengan Papanya berakhir.

"Di Kemang?" tanya Arnold yang dijawab anggukan kepala oleh Jessica.

Tanpa mengucapkan terimakasih, Arnold melepas tangan Jessica yang tertaut di lengannya, lalu berbalik badan untuk menaiki mobilnya menuju Kemang dimana rumah Raka Bramantyo berada.

***

"Saya mau bertemu dengan Pak Raka." ujar Arnold saat pengawalnya ditolak oleh satpam jaga di rumah Raka.

"Kami tidak menerima tamu hari ini. Silahkan kembali esok hari." Satpam jaga kembali menolak, membuat Arnold mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.

"Panggilkan Pak Raka sekarang!" teriak Arnold dengan muka berangnya.

"Tidak bisa, Pak! Anda sopan kami segan. Tapi jika Anda tidak sopan, jangan salahkan kami kalau kami lawan!"

"Keluarkan pasukan kalian! Aku mau bertemu dengan Pak Raka sekarang!" jelas Arnold tidak mundur.

"Pasukan kami sepuluh kali lipat dari pasukan Anda. Anda jelas kalah Pak!" ujar satpam jaga tersebut lalu menutup celah kotak kecil yang menjadi penghubung mereka berbicara.

"Pak Raka! Keluar Anda Pak Raka!" teriak Arnold dari luar gerbang lalu menendang gerbang tersebut dengan brutal untuk melampiaskan emosinya.

"Aaarghh!" Arnold mengesah lalu kembali masuk ke dalam mobilnya sembari memikirkan cara lain agar bisa masuk ke dalam rumah Raka Bramantyo.

***

Kamar yang ditempati Arini kini seperti butik dadakan karena Ayah biologisnya mendatangkan berbagai macam style baju muslimah agar Arini bisa berganti baju.

Semenjak kemarin siang Arini sampai di rumah Raka, Arini sama sekali tidak mandi dan berganti baju, hanya makan itu saja cuman sedikit untuk mengisi lambungnya.

Arini tidak mau mogok makan, karena ia butuh tenaga untuk melawan Raka.

"Berapa yang harus saya bayar untuk baju ini, Pak?" tanya Arini sembari memegang celana dan tunik beserta hijab yang telah dipilihnya.

"Arini!" Pak Raka mendekati anaknya yang belum juga mau menerima dirinya. "Baju ini Papa khusus belikan buat kamu. Kamu tidak perlu membayarnya, Sayang."

"Saya tetap harus membayarnya. Saya tidak mungkin menerima baju dari orang yang bahkan bukan siapa-siapa bagi saya." tolak Arini sembari menghindar.

"Arini!" Raka menggenggam angin saat Arini menolak dipegang olehnya, "Kamu anakku. Mau bagaimanapun kamu menolaknya, di dalam darahmu mengalir darahku."

"Aku hanya anak Bunda." jelas Arini membantah.

"Bundamu tidak bisa membuatmu hadir sendiri." Raka menunjuk dadanya, "Papa. Kalau enggak ada Papa, kamu enggak akan lahir ke dunia ini."

"Andai saya bisa memilih, saya ingin sekali menjadi anak Ayah Darius." Arini meneteskan air mata lagi.

"Sayangnya kamu tidak bisa memilih, Arini." Raka menatap putrinya yang semakin melangkah mundur, menjauh darinya dengan pedih.

"Anda benar. Saya tidak bisa memilih saya akan dilahirkan siapa, dan cerita kehadiran saya bagaimana." Arini mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menahan laju derasnya air matanya.

Tapi gagal, bahu Arini bergetar hebat saat mengingatnya.

"Kehadiran saya membuat Bunda trauma, tapi juga membuat Bunda bisa memiliki Ayah yang begitu mencintainya dengan sempurna." Arini berujar sembari menguatkan dirinya sendiri atas takdir hidupnya.

"Arini!" Raka akhirnya kembali duduk di ranjang, "Andai Papa bisa bertanggungjawab waktu itu--"

"Anda tidak berusaha. Dan Anda meninggalkan bunda begitu saja. Anda menikah dengan wanita lain dan meninggalkan Bunda yang saat itu sedang mengandungku. Anda adalah lelaki paling jahat sedunia. Saya membenci Anda. Sangat. Sangat membenci Anda." Arini tidak tahan juga akhirnya, istri Arnold itu mengeluarkan uneg-unegnya agar Ayah biologisnya itu melepaskannya.

"Kalau saja waktu itu saya tau, saya tidak akan mau hadir meliput di perusahaan Anda dan kenal dengan Anda Pak Raka." lanjut Arini.

"Arini! Papa hanya ingin dekat denganmu. Kamulah pewaris Diamond Grup sesungguhnya, Arini."

"Saya bukan anak Anda, Pak. Berulang kali saya ulang, kalau saya bukan anak Anda."

"Kamu anakku. Itu tidak bisa kamu tolak." kekeh Raka yang membuat Arini mengembuskan napas kasar.

"Sebatas hubungan darah. Tidak lebih."

****

"Jess!" Arnold kembali menghubungi Jessica ketika malam telah datang dan ia belum bisa masuk ke rumah Raka.

Gerbang yang ia tunggu dari sore itu tidak dibuka sama sekali dari dalam, dan ia tidak bisa menyelinap masuk.

"Ada apa Kak Arnold? Kakak tumben banget hubungin Jessica terus hari ini." ada jeda sebentar karena Arnold hanya diam saja menanggapi celotehan Jessica, "Kak Arnold lagi ada masalah sama istri Kak Arnold ya? Terus Kak Arnold jadinya milih Jess, gitu?"

"Kapan kamu pulang ke rumah?" tanya Arnold tidak menanggapi sama sekali pertanyaan Jessica.

"Jess udah di rumah, Kak. Kakak mau datang ke rumah Jess? Mau melamar Jess?" tanya Jessica beruntun.

"Udah di rumah?" ulang Arnold yang dijawab "Ya" oleh Jessica.

"Kapan mobil kamu masuk gerbang?"

"Udah dari jam 6 sore tadi Kak." jelas Jessica yang membuat Arnold mengingat sesuatu.

"Kamu enggak balik ke Kemang?"

"Enggak! Jess di penthouse dekat kantor." jelas Jessica yang membuat Arnold mengembuskan napas kasar.

Arnold kira ia bisa menumpang mobil Jessica untuk masuk ke rumah Raka, namun ternyata Jessica tidak tinggal di rumah itu.

Tanpa berkata apapun lagi, Arnold memutus panggilan tersambungnya namun sedetik kemudian Uncle Chandra ganti menelponnya.

Panggilan tersambung..

Chandra : Kamu sudah bertemu Arini, Arnold?

Arnold : Belum Uncle. Arnold belum bisa masuk ke dalam rumahnya.

Chandra : Kamu yakin Arini di dalam rumah itu?

Arnold : Sangat yakin, karena tadi Arnold sudah meminta pengawal untuk melihat rekaman CCTV jalanan dan mobil yang dikendarai driver Pak Raka tidak berhenti dimanapun setelah dari Bandara.

Chandra : Apa Uncle harus turun tangan, Arnold?

Arnold : Tidak usah Uncle, ini janji Arnold sama Bunda biar Bunda merestui Arnold dan Arini.

Chandra : Segera berikan kabar baik buat kami Arnold.

Arnold : Baik, Uncle.

Panggilan terputus..

BersMbung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!