Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berbagi kebahagiaan
Suasana haru masih menyelimuti halaman pesantren ketika Aira berjalan pelan hendak kembali ke asrama. Di bawah naungan pohon rindang tak jauh dari gerbang, langkah Aira terhenti. Ia melihat Nazwa—teman satu kamarnya—sedang duduk menyendiri sambil menunduk. Bahunya berguncang pelan.
Aira melangkah mendekat, lalu duduk berlutut di samping Nazwa.
"Nazwa... kok nangis?" tanya Aira lembut sambil mengusap pelan bahu sahabatnya.
Nazwa mendongak pelan, matanya sudah sembap dan memerah oleh air mata. Dengan suara serak yang putus-putus, ia mengadu, "Bulan depan ayah ibu ku tidak bisa datang, Aira..."
Aira menatap Nazwa dengan iba, memahami betapa beratnya membayangkan satu bulan lagi tanpa dekapan orang tua di tempat perantauan ini. Namun, ia tak ingin sahabatnya larut dalam sedih. Aira tersenyum tulus, menggenggam erat kedua tangan Nazwa.
"Yaudah, bulan depan sama Aira aja!" hibur Aira mantap, matanya berbinar menenangkan. "Nanti pas ayah dan ibu Aira datang, kamu ikut gabung. Ibu pasti masak banyak buat kita berdua. Jangan sedih lagi ya, Nazwa?"
Nazwa mengusap air matanya, lalu mengangguk pelan. Kehangatan sikap Aira perlahan melelehkan rasa sepi di dadanya.
Kemudian mereka masuk kamar dengan langkah yang jauh lebih ringan, membawa berbagai kantong dan dus oleh-oleh dari pendopo kunjungan.
Di dalam kamar, para pengurus dan senior kamar sedang berkumpul merapikan beberapa barang. Aira meletakkan kantong bawaannya, lalu mengambil sebuah bingkisan rapi dan berjalan mendekati senior yang paling disegani di kamar itu.
"Ukhti Maya... ini dari ibu," ucap Aira penuh kesopanan sambil menyerahkan bingkisan makanan tersebut.
Ukhti Maya yang sedang melipat sejadah mendongak, tersenyum hangat melihat Aira.
"Ini juga ada untuk Ukhti Nisa dan Ukhti Ririn," tambah Aira seraya membagikan bingkisan berikutnya kepada dua senior lainnya yang sedang duduk di atas karpet. "Ibu mengucapkan terima kasih banyak sudah jaga Aira selama di sini."
Ukhti Maya menerima bingkisan itu dengan kedua tangannya, matanya berbinar haru. "Masya Allah, alhamdulillah... Terima kasih banyak ya, Aira. Sampaikan salam balik dari kami untuk ibu dan ayahmu. Sudah jadi kewajiban kami di sini menjaga adik-adik semua."
"Sama-sama, Ukhti," jawab Aira tersenyum lega.
Tak lama, Nazwa juga memberikan bawaan dari orang tuanya. Ia menyodorkan kotak kue kering dan camilan khas daerahnya ke tengah-tengah ruangan. "Ukhti, ini dari orang tua Nazwa juga... Ada kue buat dimakan ramai-ramai."
"Barakallah, Nazwa! Makasih banyak ya, Nak," sahut Ukhti Nisa gembira seraya mengelus lembut jilbab Nazwa.
Teman-teman kamar Aira lainnya—Rifa, Syifa, dan Hani—sedang duduk melingkar di atas karpet, sibuk merapikan barang bawaan masing-masing.
"Assalamu'alaikum! Aira, Nazwa... akhirnya balik juga!" seru Rifa gembira saat melihat kedua temannya melangkah masuk membawa kantong-kantong makanan yang melimpah.
"Wa'alaikumussalam! Waaah, banyak banget itu bawaannya!" timpal Syifa matanya berbinar-binar menatap dus susu cokelat dan dua toples rendang yang dibawa Aira.
Bawaan Aira dan Nazwa langsung disambut hangat oleh teman-teman kamar lainnya. Rasa sedih akibat perpisahan di gerbang pondok tadi seketika menguap, berganti dengan kehangatan kebersamaan saat mereka mulai membuka toples makanan dan menikmati hasil kunjungan bersama-sama di dalam kamar asrama.
Aksi saling berbagi itu langsung disambut teman-teman kamar Aira lainnya dengan antusias. Rifa, Syifa, dan santri lainnya segera merapat, memutari tumpukan makanan yang kini memenuhi tengah karpet kamar. Tawa, rencananya jam belajar, dan riuk renyah camilan seketika memenuhi ruangan—menghapus sisa-sisa duka perpisahan dan menggantinya dengan kehangatan keluarga baru di balik tembok pesantren.
---
Aira menatap toples makanan yang masih tersisa di tengah karpet. Di antara rasa gembira menikmati oleh-oleh dari orang tua, ada satu ganjalan di hatinya yang belum tuntas. Ia mengingat teguran Ukhti Inggit kemarin sore akibat melanggar jam mandi.
Aira menyenggol pelan lengan Nazwa yang duduk di sampingnya.
"Temenin kasih Ukhti Inggit yuk, Nazwa," bisik Aira pelan dengan raut cemas. "Kemarin Aira buat salah, mandi pas mau Magrib. Takut Ukhti Inggit masih marah."
Nazwa menatap Aira sejenak, lalu mengangguk mantap. "Ayo, Ra. Biar pikiranmu juga tenang. Kita antar makanan dari ibumu sekalian minta maaf."
Keduanya pamit sebentar dari keramaian kamar, membawa satu bingkisan khusus yang sudah disiapkan Ibu Aira. Langkah kaki mereka mengayun menuju sekretariat pengurus kedisiplinan di ujung lorong.
Di luar ruangan, suasana terasa jauh lebih menegangkan dibanding area asrama lainnya. Pintu kantor terbuka setengah. Di dalam, Ukhti Inggit dengan wajah berwibawa sedang menghukum anak-anak yang melanggar aturan pondok. Tatapan matanya tajam, namun tenang dan penuh ketegasan yang disegani seluruh santri.
Di hadapan Ukhti Inggit, dua orang santriwati berdiri menunduk dalam-dalam. Salah seorang di antaranya memegang seragam yang potongan dan bahannya melanggar ketentuan ketertiban pesantren.
"Ketentuan pakaian di pondok ini sudah tertulis jelas di buku panduan sejak awal kalian masuk," tegas Ukhti Inggit, suaranya terdengar berat dan dingin meretas keheningan ruangan. "Ini bajunya jangan pakai lagi. Pulangin ke orang tua waktu kunjungan berikutnya atau dikirim balik."
Kedua santriwati itu hanya bisa mengangguk pasrah seraya berbisik, "Nggih, Ukhti... afwan..."
Aira dan Nazwa yang berdiri di balik ambang pintu mendadak menelan ludah. Aira meremas kain bingkisan di tangannya dengan jemari yang makin dingin. Rasa gentar sempat menyelinap, namun Nazwa menepuk pelan punggung tangan Aira untuk memberikan keberanian.
Setelah kedua santriwati itu keluar ruangan dengan menunduk, Aira memberanikan diri mengetuk bingkai pintu.
Ketuk... ketuk... ketuk...
"Assalamu'alaikum, Ukhti Inggit..." panggil Aira dengan suara agak bergetar.
Ukhti Inggit mengalihkan pandangannya dari lembaran catatan pelanggaran di meja. Wajahnya yang tadinya sangat serius perlahan mengendur saat melihat Aira dan Nazwa berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Aira... Nazwa. Ada apa? Masuk," titah Ukhti Inggit, mengibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka mendekat.
Aira dan Nazwa melangkah masuk dengan santun, lalu menundukkan badan sedikit di hadapan sang pengurus kedisiplinan.
"Afwan mengganggu waktunya, Ukhti Inggit," ujar Aira pelan, memberanikan diri menatap mata Ukhti Inggit. "Ini... Aira mau antarkan makanan dari Ibu. Ibu titip pesan terima kasih untuk Ukhti Inggit dan para pengurus yang sudah mendidik Aira."
Ukhti Inggit menatap bingkisan di tangan Aira, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum langka yang seketika mencairkan suasana tegang di ruangan itu.
"Masya Allah... Terima kasih banyak ya, Aira, Nazwa. Salam kembali untuk Ibu di rumah," ucap Ukhti Inggit seraya menerima bingkisan tersebut dengan kedua tangannya.
Aira tidak langsung pergi. Ia meremas kedua telapak tangannya sendiri di depan dada, lalu menunduk tulus.
"Sama... Aira mau minta maaf sekali lagi soal kemarin sore, Ukhti," aku Aira jujur. "Aira janji ndak bakal ulangi lagi mandi pas mau Magrib. Aira bakal lebih pintar atur waktu belajar sama olahraganya."
Ukhti Inggit menatap Aira beberapa saat, lalu terkekeh pelan. Ketegasannya sebagai pengurus tak melenyapkan sisi keibuannya. Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut puncak jilbab Aira.
"Iya, Aira. Ukhti sudah maafkan dari kemarin. Teguran Ukhti itu bukan karena benci, tapi karena sayang sama kalian, supaya disiplin dan ibadahnya tidak keteteran," tutur Ukhti Inggit lembut namun sarat makna. "Yang penting janji itu dipegang, ya? Jangan diulangi lagi."
"Nggih, Ukhti! Terima kasih banyak!" jawab Aira lega luar biasa, seolah beban berat di dadanya terangkat seketika.
Nazwa di sampingnya pun ikut tersenyum lebar melihat sahabatnya kini sudah kembali ceria.