Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Tindakan, Ada Balasan 20.
Koridor kelas XII IPA A pagi itu sudah ramai, tapi bagi Dafa, sisa-sisa kehangatan di halte semalam masih terasa menggelitik di bahu kirinya. Sialnya, realitas sekolah langsung menamparnya begitu dia menginjakkan kaki di depan pintu kelas.
Kinar sudah berdiri di sana. Di tangannya ada sebuah paper bag kecil berwarna pastel. Begitu melihat Dafa, senyum cewek itu langsung mengembang manis—tipe senyum yang biasanya membuat cowok-cowok satu angkatan menoleh dua kali.
"Daf! Untung belum masuk," panggil Kinar, suaranya sengaja dibuat cukup nyaring hingga beberapa anak yang lewat refleks melirik.
Dafa menghentikan langkah. "Yo, Nar. Kenapa?"
"Ini," Kinar menyodorkan paper bag itu ke depan dada Dafa. "Gue bikin sandwich ayam ekstra keju tadi subuh. Kebanyakan kalau buat gue sendiri. Lo belum sarapan, kan? Dimakan ya, awas kalau dikasih ke anak-anak basket."
Dafa agak termangu. Matanya melirik kotak bekal di dalam tas kertas itu, lalu beralih ke wajah Kinar yang penuh harap.
Di sudut koridor, langkah kaki yang sangat dia kenali mendadak melambat. Lilis baru saja datang, berjalan bersisian dengan Feli sambil membawa tumpukan proposal Kejurnas.
Kinar sadar betul kehadiran Lilis. Alih-alih mundur, dia justru sengaja menggeser posisi berdirinya, membuat interaksinya dengan Dafa menjadi pusat perhatian utama di depan pintu kelas XII IPA A. Kinar ingin melihat, sejauh mana status "pacaran fiktif" yang rumornya sedang dijalani Dafa dan Lilis itu punya pondasi yang kuat. Dia ingin menguji reaksi Dafa di depan publik.
Dafa merasa tenggorokannya mendadak kering. Dia tahu Lilis sedang melihatnya. Ada dorongan dalam dirinya untuk menolak bebas demi menjaga perasaan aneh yang baru tumbuh semalam di halte.
Tapi di sisi lain, otaknya berputar. Kinar adalah target asli yang ingin Dafa tembak, dan selama ini cewek itu selalu baik padanya tanpa cela. Menolak bekal yang sudah dibuat susah-susah di depan umum rasanya seperti tindakan brengsek yang akan mencoreng harga dirinya.
"Ah... repot-repot banget, Nar," Dafa akhirnya bersuara, mengulas senyum tipis yang agak kaku. Tangan kanannya terulur menerima paper bag tersebut. "Makasih ya. Kebetulan gue emang buru-buru tadi, gak sempat sarapan di rumah."
Kinar tersenyum puas, matanya sekilas melirik ke arah Lilis dengan binar kemenangan yang tipis, hampir tak kentara jika tidak diperhatikan dengan jeli. "Sama-sama. Dihabiskan, ya!"
Sementara itu, beberapa langkah di belakang mereka, Lilis menghentikan gerakannya sepenuhnya.
Dada Lilis rasanya seperti dihantam sesuatu yang tidak kelihatan. Perih, tapi dia sendiri bingung dari mana datangnya rasa perih itu.
'Gak se-brengsek yang gue kira, katanya?' Lilis membatin, menertawakan kebodohannya sendiri semalam.
Kata-kata manis Dafa di halte, bagaimana cowok itu merilekskan bahunya agar dia bisa tidur nyaman, dan kehangatan yang sempat merembes ke hatinya langsung menguap jadi abu.
Semuanya fiktif. Dafa tetaplah Dafa, cowok populer yang ramah ke semua cewek cantik, termasuk Kinar.
Sifat pasrah Lilis semalam berubah menjadi rasa jengkel yang membakar ego.
Dia merasa bodoh karena sempat menurunkan benteng pertahanannya.
Tanpa membuang waktu, Lilis langsung memutar tumitnya. Dia tidak jadi masuk ke kelas XII IPA A untuk menaruh proposal.
"Lis? Mau ke mana? Kan kelas kita di situ," tanya Felly bingung, setengah berlari menyusul sahabatnya yang tiba-tiba berbalik arah dengan langkah menghentak.
"Kantin. Lapar gue," jawab Lilis pendek, nadanya sedingin es.
Dafa yang baru saja memasukkan bekal Kinar ke dalam tasnya, langsung menoleh saat mendengar suara Lilis. Dia melihat punggung cewek itu menjauh dengan cepat.
Ada rasa bersalah yang langsung mencubit hati nya.
Dafa ingin mengejar, tapi bel masuk berbunyi nyaring, dan Kinar masih berdiri di depannya, menuntut obrolan basa-basi sebelum masuk kelas.
Suasana kantin saat jam istirahat pertama sangat bising, tapi meja di sudut dekat tukang soto terasa seperti area perang yang dingin.
Lilis menusuk-nusuk baksonya dengan garpu sampai hancur, sama sekali tidak berniat memakannya.
"Itu bakso gak punya salah apa-apa, Lis. Jangan diadili gitu," sebuah suara berat diiringi tawa renyah terdengar dari arah depan.
Lilis mendongak.
Azril, si kapten tim futsal sekolah, sudah duduk di hadapannya sambil membawa segelas es teh manis. Azril memakai jersi latihan luarannya yang tidak dikancing, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Cowok itu adalah rival abadi Dafa, baik dalam perebutan anggaran fasilitas olahraga dari OSIS maupun dalam hal popularitas di koridor sekolah.
"Gue lagi malas bercanda, Zril," cetus Lilis, tapi dia tidak menyuruh Azril pergi. Kehadiran Azril setidaknya bisa menjadi pengalih perhatian yang bagus.
"Gue tahu. Kelihatan dari muka lo yang ditekuk kayak jemuran belum kering," Azril memajukan badannya, menatap Lilis dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Gara-gara Dafa?"
Lilis terdiam. Dia benci karena emosinya begitu mudah dibaca.
"Gak cocok. Lo itu terlalu tulus buat cowok yang cuma peduli sama reputasi lapangan kayak dia."
Sebelum Lilis sempat membalas, seisi kantin mendadak agak senyap di bagian pintu masuk. Dafa berjalan masuk bersama beberapa anak basket. Pandangan Dafa langsung menyapu ruangan dan berhenti tepat pada satu titik: meja sudut tempat Lilis duduk.
Rahang Dafa mengeras seketika. Langkah kakinya otomatis berbelok, memisahkan diri dari rombongan anak basket, berjalan lurus menuju meja Lilis. Fokus matanya terkunci pada Azril yang sedang tersenyum lebar ke arah Lilis. Ada rasa tidak terima yang membakar dada Dafa melihat posisi duduk mereka yang begitu dekat.
Lilis melihat kedatangan Dafa dari sudut matanya. Alih-alih menunduk, ego Lilis bangkit. Begitu Dafa tinggal berjarak beberapa langkah dari meja, Lilis sengaja meletakkan garpunya, lalu menatap Azril dengan senyum paling manis yang bisa dia pamerkan.
"Zril, proposal futsal lo yang kemarin butuh tanda tangan gue, kan? Yuk ke ruang OSIS sekarang, sekalian gue periksa biar bisa langsung cair anggarannya," kata Lilis setengah sengaja mengeraskan suaranya.
Azril sempat terkejut, tapi dia langsung menangkap situasi begitu melihat Dafa berdiri kaku di samping meja mereka dengan wajah mendung. Azril berdiri sambil tersenyum miring. "Boleh banget. Kebetulan anak-anak emang butuh dana cepat buat beli jersi baru."
Lilis ikut berdiri, meraih buku catatannya tanpa melirik Dafa sama sekali. Dia memperlakukan kehadiran cowok itu seperti angin lalu.
"Lis, kita perlu ngomong," tahan Dafa, tangan kanannya refleks memegang pergelangan tangan Lilis. Suaranya rendah, menahan gejolak emosi yang tertahan di tenggorokan.
Lilis menghentikan langkahnya, menatap tangan Dafa yang memegangnya, lalu mendongak menatap mata cokelat gelap cowok itu dengan pandangan kosong. "Ngomong apa? Soal rasa sandwich ayam dari Kinar? Sorry, gue sibuk, Daf. Urusan OSIS lebih penting daripada dengerin testimoni sarapan lo."
Lilis menarik tangannya dengan sentakan pelan tapi tegas, melepaskan cengkeraman Dafa. Dia langsung melangkah pergi mendahului Azril.
Azril berhenti sejenak di samping Dafa, menepuk bahu kapten basket itu dengan gestur memprovokasi. "Gaya lo boleh keren di lapangan basket, Daf. Tapi buat urusan jaga cewek... lo kalah start."
Dafa mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menatap punggung Lilis dan Azril yang berjalan beriringan keluar dari kantin.
Rasa sesak semalam di halte karena debaran manis kini berubah menjadi rasa sesak yang membakar karena cemburu.
Batasan antara pacaran fiktif dan perasaan nyata di antara mereka baru saja hancur total, meninggalkan ego yang terluka dan kesalahpahaman yang mulai meruncing.
......................
...****************...
Tbc,