NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Simpanan dari Desa, Kata Mereka

Judul tulisan Laras terpampang di layar ruang redaksi Fortuna.

Kirana berdiri di depan tim. “Liputan harga pangan ini paling lengkap minggu ini. Narasumbernya berimbang, datanya rapi, dan pembaca bertahan sampai paragraf terakhir.”

Tepuk tangan terdengar. Laras menahan senyum dan mencatat koreksi kecil. Sebulan bekerja, untuk pertama kalinya namanya berdiri di atas sebuah karya tanpa nama pria kaya di dekatnya.

“Bagus, Laras,” kata seorang editor.

“Terima kasih.”

Ponsel para karyawan berbunyi hampir bersamaan. Seseorang mengirim tangkapan layar ke grup WA Redaksi Fortuna.

Blind item akun gosip menampilkan foto buram Laras keluar dari restoran bersama Galih.

Cewek kampung yang jadi simpanan anak konglomerat sekarang pura-pura kerja kantoran. Katanya idealis, padahal tasnya dibeli sugar daddy.

Tawa tertahan muncul dari meja belakang. Kirana meminta semua kembali bekerja, tetapi gambar itu sudah menyebar.

Di pantry, Laras mendengar dua rekan berbicara.

“Itu dia, kan?”

“Mirip banget. Katanya dari dekat Solo.”

“Pantas bajunya selalu bagus. Gaji reporter kontrak mana cukup.”

“Eh, katanya sih idealis banget orangnya. Taunya begitu juga.”

Laras berdiri di ambang pintu dengan cangkir kosong. Kedua orang itu terdiam.

“Lanjutkan,” katanya. “Saya juga penasaran hidup saya versi kalian.”

“Maaf, kami cuma bahas unggahan.”

“Kalau cuma unggahan, bahas datanya. Akunnya anonim, fotonya tanpa tanggal, kesimpulannya tanpa bukti. Standar kalian serendah itu untuk sesama pekerja media?”

Tak ada jawaban.

Laras membuat kopi dan kembali ke meja. Tangannya tetap tenang sampai Kirana memanggil ke ruangannya.

“Saya bisa minta IT melacak siapa yang memasukkan gambar ke grup,” kata Kirana.

“Tidak perlu. Saya tahu semua sudah lihat.”

“Kamu mau menjelaskan?”

“Hubungan pribadi saya tidak memengaruhi liputan.”

“Itu bukan pertanyaan saya sebagai atasan. Saya bertanya apakah kamu aman.”

Kebaikan itu hampir menembus pertahanan Laras. “Saya aman.”

“Kalau ada ancaman, bilang. Tapi untuk urusan kerja, saya menilai tulisanmu. Tulisan hari ini bagus.”

“Terima kasih, Mbak Kirana.”

Saat keluar, seorang intern menghampiri dengan wajah pucat. “Mbak, saya yang teruskan screenshot. Saya nggak tahu itu Mbak Laras.”

“Kalau bukan saya, berarti boleh mempermalukan orang lain?”

“Nggak. Saya salah.”

“Dari mana kamu dapat?”

“Teman kuliah kirim. Katanya sumber awal dari grup arisan sosialita Jakarta Selatan.”

“Ada nama?”

“Nggak ada. Tapi caption pertama menyebut tas hitam yang Mbak pakai di acara keluarga Prasetyo.”

Laras teringat Prita menilai clutch-nya. Hanya orang di makan malam itu yang tahu konteks tas tersebut. Namun dugaan bukan bukti, dan ia menolak melakukan kesalahan yang sama dengan para penggosip.

“Simpan pesan sumber awal. Jangan sebar lagi. Kalau nanti ada fitnah lebih serius, saya mungkin butuh jejaknya.”

“Baik, Mbak.”

“Hapus dari grup dan minta admin mengingatkan aturan privasi. Setelah itu kembali kerja.”

Intern itu mengangguk cepat. Beberapa menit kemudian, permintaan maaf muncul di grup. Tidak menghapus apa yang sudah dibaca, tetapi setidaknya menetapkan batas.

Nadia menelepon saat makan siang. “Akun itu sering dapat kiriman dari sosialita. Bisa jadi Prita.”

“Belum ada bukti.”

“Lo masih bisa tenang?”

“Kalau marah tanpa bukti, saya cuma memberi mereka tontonan baru.”

“Pakai gue kalau butuh saksi. Dan jangan baca komentar.”

Tentu Laras membaca komentar setelah telepon berakhir. Puluhan orang menebak harga tas, pekerjaan ayahnya, dan berapa uang yang ia terima setiap bulan. Tak satu pun membahas tulisannya.

Satu komentar menyebut nama desanya. Yang lain menulis bahwa perempuan kampung seharusnya tahu diri. Laras mengambil tangkapan layar, mencatat waktu dan tautan, lalu mengirimkannya ke surel pribadi sebagai bukti. Ia tidak melaporkan akun itu dulu. Jika dihapus sekarang, sumber kebocoran akan bersembunyi sebelum terlihat.

Nadia mengirim pesan lagi: Lo nggak harus kuat sendirian.

Laras mengetik: Gue nggak sendirian. Gue cuma sedang kerja.

Ia kemudian menelepon salah satu narasumber UMKM untuk mengonfirmasi kutipan. Perempuan penjual makanan itu tidak tahu apa pun tentang gosip dan hanya mengucapkan terima kasih karena omzet usahanya naik setelah artikel terbit.

“Biasanya media cuma foto dagangan, Mbak,” kata narasumber. “Mbak Laras dengar cerita kami sampai selesai.”

“Cerita Ibu memang penting.”

“Tulisan Mbak juga penting.”

Setelah telepon berakhir, Laras menatap statistik pembaca. Satu suara nyata menahan puluhan suara anonim agar tidak menenggelamkannya.

Ia menutup aplikasi dan membuka naskah berikutnya.

Di meja, kartu REPORTER berada di samping tas yang menjadi bahan gosip. Laras memindahkan tas ke bawah meja, lalu berhenti. Ia mengangkatnya kembali dan menaruh tepat di kursi sebelah.

Seorang rekan datang menyerahkan data tambahan. “Tulisan tadi memang bagus, Mbak. Saya belajar banyak.”

“Terima kasih.”

“Dan soal grup… maaf saya ikut diam.”

“Besok kalau terjadi pada orang lain, jangan diam.”

Rekan itu mengangguk, lalu membantu Laras memeriksa tabel harga pasar. Mereka menemukan satu angka salah ketik sebelum terbit. Laras mengoreksi sumber, menulis catatan transparansi, dan mengirim revisi ke Kirana.

“Tetap fokus setelah hari seperti ini bukan hal mudah,” kata rekannya.

“Fokus bukan berarti tidak sakit. Saya cuma tidak mau rasa sakit memilih pekerjaan saya.”

“Kalau butuh teman makan, saya ada.”

“Besok. Hari ini saya masih ingin sendiri.”

Pilihan itu dihormati. Bagi Laras, penghormatan kecil tersebut lebih berharga daripada pembelaan dramatis.

Sore itu, artikel Laras masuk daftar terpopuler. Kirana mengirim statistik pembaca tanpa komentar. Laras menyimpannya di folder bernama kerja, terpisah dari tangkapan layar gosip.

Sebelum pulang, Kirana keluar dari ruangannya dan berdiri di tengah redaksi.

“Mulai hari ini, blind item, data pribadi, dan foto tanpa persetujuan tidak boleh disebar di kanal internal,” katanya. “Kita media. Kalau kita sendiri tidak bisa membedakan informasi dengan fitnah, kita tidak pantas meminta kepercayaan pembaca.”

Tak ada yang berani bercanda. Intern yang tadi meminta maaf mencatat aturan tersebut dan menyematkannya di grup.

Kirana menoleh kepada Laras. “Naskah berikutnya kapan?”

“Besok siang.”

“Jangan terlambat hanya karena namamu sedang ramai.”

“Tidak akan.”

“Bagus.”

Kirana kembali ke ruangannya. Ia tidak memeluk, menghibur, atau memberi perlakuan khusus. Dengan menuntut standar yang sama, ia mengembalikan Laras ke tempat yang ingin dipertahankannya: meja kerja, bukan panggung gosip.

Kedua penilaian itu nyata. Satu dibangun dari data dan kerja. Satu lagi dari foto buram dan prasangka.

Laras menarik napas, membuka laptop, dan mengetik kalimat pertama liputan baru. Jemarinya sempat berhenti tiga detik.

Lalu ia terus menulis.

Di luar jendela, malam turun di antara gedung kantor. Di layar, namanya tetap berada di bawah judul sebagai penulis. Tak ada komentar anonim yang bisa menghapus fakta sederhana itu selamanya.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!