Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Jordan dan Aurora, kini tengah berada di mobil. Jordan duduk di kursi pengemudi, dan Aurora kini duduk di sampingnya.
Saat ini, sudah hampir sore. Ruas jalan terlihat padat akan keramaian lalu lintas. Kendaraan terlihat memenuhi jalanan kota.
Jordan mengambil jalan lintas, entah akan pergi ke mana pria itu membawanya. Namun Aurora kini hanya mengikutinya. Di sepanjang jalan, Aurora berbagi keluh kesahnya kepada Jordan. Ia bercerita seakan mereka sudah lama saling kenal. Jordan juga menanggapinya, tak ada rasa canggung bagi keduanya.
Mobil Jordan semakin lama, semakin menjauh dari kota jakarta. Mobil itu semakin lama semakin menuju ke arah timur. Masuk ke dalam sebuah desa.
Aurora baru pertama kali pergi ke tempat ini, bahkan dalam daftar ingatannya Jordan tidak pernah ke sini. Atau mungkin memang Aurora yang tak tahu.
"Baru kali ini aku pergi ke sini, sebenarnya Jordan akan membawaku ke mana? Bahkan saat aku masih menjadi Maudy, dia belum pernah bilang ada tempat seperti ini." Batin Aurora sambil menatap Jordan.
Pria itu terus fokus pada jalanan, terlihat santai seperti sudah terbiasa. Sedangkan Aurora kini malah merinding.
Pasalnya jalanan itu sepi, sepanjang jalan juga hanya ada perbukitan, hutan dan curam yang tinggi.
"Jika kau takut, pejamkan matamu dan tidur saja. Akan ku bangunkan saat kita sudah sampai." Jordan paham betul, respons wajah Aurora sudah terlihat jelas bahwa wanita itu tengah ketakutan.
"Tidak, tidak apa-apa."
Perjalanan itu sangat jauh, tak ada satu pun pengemudi lain, selain mereka. Yang Aurora takutkan hanya satu, saat mereka sampai nanti. Itu adalah sebuah tempat angker yang mengerikan. Perasaannya sudah tidak enak sejak tadi.
Padahal mereka berangkat dari jakarta pusat pukul 3 sore. Namun sampai saat ini, mereka belum juga sampai. Aurora bahkan kini melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 8 malam.
"Jangan cemas, hanya tinggal satu belokan di kanan depan. Kita akan sampai." Jordan dengan santainya berucap seperti itu.
"Sialan Jordan, kau tidak aneh-aneh kan pak. Kau tidak akan membuat mantan sekretarismu ini menjadi tumbal pesugihankan?" Batin Aurora. Saking takutnya wanita itu, ia sampai menggenggam erat sabuk pengaman erat-erat dengan tangannya. Jordan yang melihat reaksi itu hanya bisa bergedek pelan.
"Aurora, Aurora." Batin Jordan.
***
Setelah perjalan yang panjang, Aurora dan Jordan akhirnya sampai. Tidak seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Aurora kini melongo setelah turun dari mobil, wanita itu tak percaya dengan apa yang ia lihat. Di depannya sekarang, terdapat satu mansion besar yang berada di tengah hutan belantara.
"Ayo masuk!" Dengan santainya Jordan mengatakan itu. Pria itu berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Aurora yang masih tercengang di sana.
"Apa ini, besar sekali? Ini tidak mungkin, aku pasti bermimpi." Bangunan itu 3 kali jauh lebih besar dari rumah milik Aurora.
"Kau pasti tercengang ya Aurora," Tanya Jordan kepada Aurora, yang ia pikir masih ada di sampingnya.
Jordan kini merasa Heran, karena wanita itu sama sekali tak menyahuti ucapannya.
"Aurora..." Jordan kini menoleh, wanita itu tak ada di sampingnya. Kini ia berbalik badan, dan menemukan Aurora masih berdiri di tempat yang sama dan mematung seperti tadi.
Jordan melihat hal itu, seketika menyipitkan matanya, dan langsung menatap Aurora datar. "Dasar Aurora..." Batin Jordan.
Pria itu kini menghampiri Aurora, menyadarkannya dari lamunan, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mansion itu.
Aurora tak sabar untuk masuk, wanita itu sempat mengira bahwa saat ia masuk. Ia akan mendapatkan kejutan yang menyenangkan.
"Apa setelah ini akan ada pelayan, atau waiters yang membawakan secarik anggur seperti di dalam drama china, atau beberapa bodyguard yang datang mengawal kami." Batin Aurora yang sudah melayang-layang entah kemana-mana.
Kini mereka masuk, Jordan membukakan pintu untuk Aurora. Lalu... Ta da...
"Apa ini?" Raut wajah Aurora yang semula tampak girang, sekarang menjadi masam.
Tak ada sambutan pelayan seperti di film-film, atau waiters yang membawakannya anggur. Tak ada bodyguard yang datang mengawal mereka. Justru kebalikan dari itu, yang datang menghampiri mereka adalah seseorang berbadan tegap gagah, bukan pria. Melainkan seorang wanita, tubuhnya terlihat macho, namun wajahnya terlihat sangat manis dan imut.
"Tidak sesuai ekspetasi." Aurora menatap sekitar, tampak beberapa orang yang terlihat tengah mengobrol, ada pula yang tengah berlatih tinju. Mereka semua berbadan besar seperti seorang abdi negara.
"Jordan, sudah lama kau tidak ke sini." Ucap wanita itu.
Aurora kini semakin tercengang mendengar suaranya, wanita itu memiliki suara yang jauh lebih lembut dan halus darinya.
"Maaf Nat, aku akhir-akhir ini sangat sibuk dengan urusan kantor."
Wanita itu bernama Nathalia, wanita itu terlihat tomboy dengan setelah celana tentara dan baju crop. Rambutnya terurai panjang, tangannya terlihat kekar dan dia terlihat sangat sehat.
Nata kini menatap Aurora, ia terlihat sangat senang karena akhirnya Jordan membawa seorang wanita kemari.
"Hayo Jordan, akhirnya kau punya pacar juga. Aku pikir kau akan menikahi pekerjaanmu." Ledek Nata, karena yang ia tahu selama ini. Jordan hanya sibuk dengan pekerjaannya.
"Terserah kau sajalah." Jawab Jordan.
"Hai, siapa namamu? Aku Nata." Ucap Nata sebari mengulurkan tangannya.
Aurora membalas jabat tangan itu, namun hal yang tak terduga benar-benar terjadi. Genggaman tangan itu kuat sekali. Bahkan Aurora sempat mengira bahwa lengannya akan putus jika terus berjabat tangan dengannya.
"Sial, sebanarnya dia ini cewek modelan apa, wajahnya sangat imut. Namun tenaganya seperti samson." Batin Aurora.
Aurora tak dapat menahan rasa sakitnya, raut wajahnya tampak kesakitan. Nata yang sadar akan hal itu, kini langsung melepaskannya. Jordan juga kini langsung menatap Nata tajam, dan wanita itu benar-benar merasa sangat bersalah kepada Aurora.
"Maaf ya hehe, kepelesan. Aku ingat kau pria." Ucap Nata sambil menggaruk kepalanya walau tak gatal.
"A ha ha ha, tak apa, tidak sakit kok. O iya, aku Aurora, salam kenal" Ucap Aurora dengan canggung.
"Senang bertemu denganmu Aurora." Wanita itu kini mendekati Aurora, ia berdiri di sampingnya dan berbisik pada wanita.
"Hai Aurora, kau tahu. Kau wanita pertama yang di ajak olehnya ke kemp ini." Bisik Nata, dan sontak Aurora langsung mendongak ke samping menatap Jordan.
Jordan yang melihat Aurora tengah menatapnya, kini sadar akan sesuatu. Pria itu kini menarik lengan Aurora yang tadi sempat sakit.
"Awww." Aurora meringis kesakitan, lantaran Jordan malah menarik lengannya. Jordan yang melihat wanita itu tampak kesakitan. Kini ia berusaha pelan.
Pria itu meniup tangan Aurora, memijat tangannya perlahan untuk menyalurkan rasa sakit.
Jordan terlihat sangat perhatian padanya, hal itu spontan membuat Aurora langsung tersipu malu.
"Jordan, aku baru tahu kau punya sisi lembut seperti ini." Batin Aurora. Jordan kini menatapnya, dan Aurora langsung memalingkan muka.
Nata yang melihat hal itu, diam-diam memotretnya. Wanita itu terlihat sangat senang karena akhirnya Jordan punya pacar. Setidaknya itulah pikir Nata.
***
Di sisi lain, beberapa mobil van hitam berjalan menuju Pelabuhan.
Salah satu mobil itu, ada Zico dan Hanzo yang duduk di kursi penumpang.
"Kau sudah bilang pada Kris, bahwa kita akan pergi lagi?" Tanya Hanzo, dan Zico pun mengangguk.
"Sudah, Kau tahu, jika terus seperti ini. Polisi bisa terus menangkap kita." Ucap Zico yang sedari tadi terus mengutak atik layar laptop.
"Sialan memang orang itu, sudah berapa tahun kita hanya mendapatkan janji manis, sampai kapan kita akan terus berpindah seperti ini." Hanzo terlihat sangat Frustrasi sekarang.
Di tangan Hanzo, sudah ada sebuah foto, pria itu kini menatap foto seorang wanita cantik.
"Aurora..., pewaris grub Darren. Pantas kau sulit di dapatkan, kau secantik ini rupanya." Ucap Hanzo yang tersenyum menatap foto Aurora.
Zico menara aneh pada pria itu, "Kenapa kau?"
Hanzo tersenyum menyeringai, "Jika Kris tidak bisa di andalkan. Maka aku akan menggantikan dia untuk mencoba mendekati Aurora." Hanzo tersenyum licik. Zico tak mau ikut campur, ia lebih memilih mengamankan dirinya sendiri. Menghapus jejak rekaman cctv tempat mereka bersinggah. Ia harus memastikan semuanya bersih agar tak ada satu jejak pun yang tertinggal.
BERSAMBUNG