Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Jovan ke rumah kontrakan Serina. Sejak saat itu, ada satu hal yang terus memenuhi pikirannya. Yaitu Farel.
Bocah kecil itu kehilangan ayahnya di usia yang begitu muda. Jovan tahu, dirinya tidak mungkin menggantikan posisi Riki. Tidak akan pernah.
Namun setidaknya, ia ingin Farel tetap merasakan kehadiran seorang pria dewasa yang bisa memberikan perhatian kepadanya.
Bukan sebagai pengganti ayah.
Melainkan sebagai seseorang yang bersedia berada di sisinya ketika suatu hari nanti bocah itu membutuhkan bantuan.
Karena itulah, Jovan mulai mencari tahu berbagai hal yang disukai anak-anak seusia Farel. Ia bahkan beberapa kali bertanya kepada pegawai toko mainan.
"Kalau anak laki-laki umur empat tahun biasanya suka apa?"
"Robot, mobil-mobilan, dinosaurus, atau karakter kartun, Kak," jawab seorang pegawai.
"Kalau makanan?"
"Biasanya nugget, ayam goreng, kentang goreng, burger mini, puding, atau makanan ringan."
Jovan mengangguk serius. "Baik. Saya ambil semuanya."
Pegawai itu sampai terkejut. "Sebanyak ini, Kak?"
Jovan tersenyum. "Bukan buat saya."
Sore itu, Jovan kembali menuju rumah kontrakan Serina. Di tangannya terdapat beberapa kantong belanja. Sebuah robot mainan terbaru. Beberapa makanan ringan. Ayam goreng,Kentang, Puding cokelat. Dan beberapa makanan kecil yang menurutnya mungkin disukai Farel. Jovan sengaja datang tanpa memberi tahu Serina. Ia tahu kalau memberitahunya terlebih dahulu, kemungkinan besar wanita itu akan melarangnya datang.
Mobil Jovan berhenti tidak jauh dari rumah kontrakan.
Ia turun sambil membawa semua barang tersebut.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Semoga kali ini dia suka."
Jovan berjalan mendekati rumah.
Namun baru beberapa langkah, ia melihat Serina sedang menjemur pakaian di halaman samping rumah.
Wanita itu membelakanginya. Jovan berhenti. Ia tidak ingin mengganggu. Namun tanpa sengaja, salah satu kantong plastik yang dibawanya berbunyi cukup keras.
Kresek!
Serina langsung menoleh. Matanya membesar. "Jovan." Serina menatap dingin ke arah Jovan "Untuk apa kamu ke sini lagi?" tanyanya sinis.
Jovan hanya tersenyum tipis. "Mau mengantar sesuatu."
"Aku tidak membutuhkan apa pun darimu."
"Aku tahu." Jawaban santai itu justru membuat Serina semakin kesal.
"Lalu kenapa kamu datang?"
Jovan mengangkat beberapa kantong belanja. "Buat Farel."
Serina langsung menggeleng. "Jangan biasakan anakku menerima pemberianmu."
Jovan terdiam sejenak. "Aku tidak bermaksud membeli kasih sayang Farel."
"Kalau begitu jangan datang terus-menerus."
"Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja."
Serina meletakkan pakaian yang baru saja dijemurnya.
"Farel punya aku."
"Aku tahu." jawab Jovan
"Dia tidak membutuhkanmu." balas Serina
Jovan menundukkan kepalanya, "Aku juga tahu.".Nada suaranya tetap tenang. "Tapi aku tidak akan memaksamu menerima aku."
Serina menatapnya tajam. "Lalu?"
"Aku cuma ingin membuat Farel tersenyum."
Sebelum Serina menjawab, terdengar suara langkah kecil dari dalam rumah.
"Bunda..."
Farel muncul dari pintu. Ketika melihat Jovan, wajah bocah itu langsung berubah cerah.
"Om!"
Jovan spontan tersenyum. "Hai, Farel."
Farel berlari kecil mendekat. "Om datang lagi!"
Serina terdiam. Ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman ketika melihat putranya justru tampak bahagia melihat Jovan.
Farel memandangi kantong-kantong yang dibawa Jovan. "Om bawa apa?"
Jovan sengaja membuat wajah misterius. "Rahasia."
Farel tertawa. "Mau tahu!" Jovan berjongkok.
"Kalau Farel mau tahu, harus janji satu hal."
"Apa?"
"Jangan langsung membuka semuanya sekaligus."
Farel mengangguk cepat.
"Iya!"
Jovan kemudian mengeluarkan sebuah kotak besar.
Sebuah robot mainan terbaru. Matanya Farel langsung berbinar.
"Robot!"
"Iya."
"Robotnya bisa jalan?"
Jovan tersenyum.
"Bisa."
"Bisa ngomong?"
"Bisa."
"Bisa berantem?"
Jovan tertawa.
"Kayaknya bisa."
Farel langsung memeluk kotak tersebut.
"Om baik!"
Jovan terdiam.
Dua kata sederhana itu terasa begitu dalam di hatinya.
"Terima kasih, Farel."
Kemudian ia mengeluarkan kantong lainnya. "Ada makanan juga."
Farel semakin bersemangat. "Apa?"
Jovan mengeluarkan kotak ayam goreng dan beberapa makanan kesukaan anak-anak. "Ada ayam, kentang, puding cokelat, sama beberapa camilan."
Farel menatap makanan tersebut dengan mata berbinar.
"Semua buat Farel?"
Jovan mengangguk. "Tapi jangan dihabiskan semuanya sekaligus."
Farel tertawa. "Iya!"
Serina hanya berdiri beberapa langkah dari mereka.
Wajahnya tetap dingin. Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang perlahan bergerak. Ia melihat bagaimana Jovan tidak sekali pun memaksa dirinya untuk berbicara.
Pria itu bahkan tidak berusaha membela diri. Perhatiannya benar-benar tertuju kepada Farel.
"Jovan."
Jovan menoleh. "Apa?"
"Jangan terlalu sering memberikan anakku sesuatu."
Jovan menatap Serina. "Aku akan berhenti kalau Farel tidak menginginkannya."
"Ini bukan soal itu."
"Aku tahu." Jovan menghela napas. "Aku cuma ingin dia punya alasan untuk tersenyum."
Serina terdiam.
Jovan kemudian menatap Farel yang sedang sibuk memandangi robot barunya.
"Aku tahu aku nggak bisa menggantikan ayahnya." Suara Jovan melembut. "Dan aku nggak pernah punya niat melakukan itu." Ia menatap Serina. "Tapi Farel masih kecil. Dia kehilangan ayahnya. Kalau ada sesuatu yang bisa membuat hari-harinya sedikit lebih ringan, aku ingin memberikannya."
Serina menggenggam pakaian yang ada di tangannya.
"Jangan berharap aku akan memaafkanmu hanya karena kamu melakukan semua ini."
Jovan menggeleng. "Aku nggak berharap itu."
"Kalau begitu apa yang kamu inginkan?"
Jovan menatap Farel. "Untuk sekarang?" Ia tersenyum tipis. "Aku cuma ingin melihat dia bahagia."
Serina terdiam.
Farel tiba-tiba menarik tangannya Jovan.
"Om!"
"Ya?"
"Ajari Farel main robot!"
Jovan menoleh kepada Serina.
Wanita itu tampak ragu.
Namun akhirnya berkata,
"Sebentar saja."
Jovan pun tersenyum. "Oke."
Ia duduk di lantai halaman bersama Farel.
"Ini tombol untuk jalan."
Farel menekan tombol.
Robot itu bergerak maju.
"Wow!"
Farel tertawa.
"Ini tombol mundur."
Robot bergerak mundur.
"Om! Lihat!"
"Iya, jago banget."
"Kalau ini?"
"Jangan pencet yang merah."
Farel langsung menekan tombol merah.
Robot itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras.
Farel tertawa terbahak-bahak.
Jovan ikut tertawa.
Untuk beberapa saat, halaman rumah kontrakan itu dipenuhi suara tawa seorang anak kecil. Serina hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan. Ia masih membenci Jovan.
Kematian Riki belum membuat hatinya mampu memberikan ruang bagi pria itu. Namun melihat Farel tertawa setelah sekian lama...
Serina tidak bisa menyangkal bahwa pemandangan tersebut membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Jovan menatap Farel. Dalam hati, ia membuat sebuah keputusan.
"Aku tidak akan memaksakan diriku masuk ke dalam kehidupan kalian. Aku hanya akan datang ketika kalian membutuhkan. Dan selama Farel masih membutuhkan seseorang untuk membuatnya tersenyum, aku akan berusaha berada di sana."
Jovan kemudian menatap Serina. Wanita itu segera membuang pandangannya. Jovan hanya tersenyum kecil. Ia tahu perjalanan untuk mendapatkan maaf dari Serina mungkin masih sangat panjang.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak takut dengan panjangnya perjalanan tersebut.
Karena sekarang ia memiliki satu alasan untuk terus berjalan. Yaitu Farel.
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭