NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa Harus Istri Kakak?

Sinar matahari pagi menembus tirai sutra tebal The Wirasena Compound. Cahaya itu menyinari lantai marmer yang berkilau mewah.

Meja kayu jati panjang di ruang makan utama itu sunyi banget. Cuma ada bunyi denting sendok porselen beradu yang kasih tanda kalau sarapan keluarga besar ini lagi jalan.

"Pemandangan semalam benar-benar luar biasa, ya?" Suara Helena meluncur penuh sindiran.

"Gaun sutra langka rusak total di lantai dansa. Dan itu di depan para kolega bisnis kita."

Aira mengedip pelan. Senyum sopan langsung terukir rapi di bibirnya. Tidak ada ekspresi tersinggung sedikit pun yang kelihatan.

"Mohon maaf atas kelalaian saya, Mami Helena. Kurang hati-hati pas jalan," balas Aira santun, merendah di depan ibu mertuanya.

"Kurang hati-hati?" Helena mendengus sinis. "Kamu tahu berapa nilai gaun itu, Aira? Ganti rugi pun rasanya akan sulit untukmu."

"Cukup, Helena," potong Surya dengan tenang, tapi tegas.

"Aira sudah minta maaf. Kejadian semalam murni kecelakaan," lanjut Surya.

"Tapi, Mas—"

"Tidak perlu diperpanjang," Kakek Baskara menaruh koran paginya dengan gerakan lambat.

Aira sang patriark tertinggi keluarga Wirasena itu langsung bikin seisi meja makan diam. Kakek menatap Aira dengan sorot mata yang teduh namun penuh wibawa.

"Jangan meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahan kamu, Aira. Acara semalam sukses besar," ucap Kakek Baskara.

Kakek tersenyum tipis. "Orang yang berkelas dinilai dari caranya tetap tenang saat menghadapi situasi sulit. Dan kamu melakukannya dengan sangat baik semalam."

Aira menunduk hormat. "Terima kasih banyak, Kakek."

Evan di sebelahnya cuma sibuk memotong roti panggang. Tanpa ekspresi, tanpa pembelaan, dingin seolah dunia luar tak menarik perhatiannya.

"Banyak kolega saya yang memuji pembawaan kamu semalam, Aira," Surya menyela lagi, berusaha mencairkan suasana. "Mereka terkesan dengan ketenangan kamu."

"Ketenangan palsu pencitraan," sambar Helena ketus dengan suara lirih.

"Tapi itu membuka jalan relasi bisnis baru, Mi," sahut Evan tiba-tiba dengan nada formal khasnya.

"Semua yang saya lakukan semalam untuk menjaga kredibilitas Wirasena Group di mata publik. Tidak lebih."

Di ujung seberang, Sean mematung. Piring sarapannya utuh tak tersentuh, sementara kepalan tangannya di bawah meja bergetar menahan gejolak yang nyaris meledak.

"Sean," suara Helena melunak, menyusupkan nada cemas seorang ibu yang hafal betul perangai anak bungsunya. "Kamu tidak menyentuh makananmu sejak tadi. Wajahmu pucat. Kamu sakit atau ada masalah di urusan balap?"

Sean mengerjap, cepat-cepat menarik napas untuk meredam rahangnya yang mengeras. "Nggak, Mi. Aku harus segera mengkalibrasi ulang setelan suspensi hidrolik di simulator privat sayap barat sebelum sesi tes resmi siang ini."

"Sean permisi duluan, Kek, Mi, Pi," Sean membungkuk sekilas.

Dia beranjak cepat, meninggalkan ruang makan dengan langkah berat. Aira melirik punggung adik iparnya itu. Aneh.

*

Udara di paviliun sayap barat terasa jauh senyap.

Interior ruangan itu mewah minimalis. Dindingnya dilapisi panel marmer gelap berpadu aksen kaca besar dan karya seni modern berharga fantastis.

Sean berdiri di depan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah sirkuit privat latihan.

Tangannya meremas tengkuknya kuat-kuat. Dadanya naik turun karena sesak napas.

"Sialan..."

Tawanya pecah, tapi pahit bukan main. "Gila lo, Sean. Gila!"

Dia merosot menyandar pada pilar marmer dingin di ruangan itu. Matanya dipejamkan rapat-rapat, menahan rasa sakit yang tak kasat mata.

"Kenapa harus istri kakak kandung sendiri?" Bisikannya bergetar hebat. Lemah dan hancur.

Pertama kali ketemu di hari pernikahan itu, Aira berdiri kaku. Tapi sorot mata cewek itu menyimpan ketegaran yang menghantam telak logika Sean sebagai pembalap muda.

Makin hari, makin dalam dia jatuh. Tanpa izin, tanpa bisa direm.

"Dia milik Kak Evan." Sean menampar wajahnya dengan sebelah tangan.

Brak!

Pintu kaca di ruang privat itu terbuka tanpa permisi. Evan berdiri di ambang pintu dengan postur tinggi menjulang. Rahangnya kaku sempurna. Sorot matanya tajam menghujam, dingin tanpa toleransi.

Sean buru-buru berdiri. Napasnya tercekat sesaat. "K-Kak Evan?"

Evan melangkah maju. Auranya langsung menekan seisi ruangan mewah itu.

"Sudah kuperingatkan berapa kali, Sean," desis Evan dingin, suaranya menusuk tajam.

"Jangan pernah mendekati Aira. Jangan pernah pasang muka peduli di depan umum ataupun di belakangku."

Sean menegakkan tubuhnya. Alih-alih ciut, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tengil yang dingin.

"Emang salah kalau seorang adik ipar cuma memastikan kakaknya baik-baik aja setelah diinjak semalam?"

"Aku tidak butuh kamu ikut campur urusan rumah tanggaku," potong Evan telak. "Mau pernikahan ini terjadi karena perjodohan Kakek atau apa pun alasannya, dia tetap istriku. Milikku. Jangan pernah melewati batas."

Mata Sean menyorot tajam, menantang penuh amarah. "Milik lo?" Suaranya bergetar dalam tawa merendahkan.

"Sejak kapan lo peduli sama dia, Kak? Lo menerima perjodohan Kakek ini kan cuma demi posisi lo di Wirasena Group! Jangan berlagak kayak suami yang cinta mati, deh."

Ruangan itu mendadak hampa udara. Evan tidak bergerak, namun kepalan tangannya di dalam saku celana mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Harga diri sang penguasa runtuh dan tersulut di hadapan adiknya sendiri.

"Aku tidak perlu membuktikan apa pun kepadamu," suara Evan rendah, sarat ancaman. "Di mata hukum dan dan keluarga besar kita, dia istriku. Siapa pun yang berani mengganggu gugat apa yang sudah menjadi hakku... bahkan kamu sekalipun, aku tidak akan tinggal diam."

Sean menatap kakaknya dengan sisa-sisa rasa getir. Dia tahu betul watak Evan Wirasena: pria itu akan mempertahankan apa pun yang sudah menjadi miliknya, bahkan jika ia sendiri tidak pernah tahu bagaimana cara mencintai wanita itu.

1
falea sezi
jangan nyesel klo lu cerai ma Aira trs Aira ma adek. lu ya bangsat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!