NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunshine

Ara berusaha mencari Bara di toilet, tetapi lelaki itu tidak ada di sana. Ia kemudian berlari menuju kantin.

Kosong. Bara juga tidak ada di sana.

Ara terus berlari ke sana kemari, berusaha mencari jejak lelaki itu. Ia menyusuri beberapa sudut kampus yang mungkin didatangi Bara, tetapi hasilnya tetap sama.

Tidak ada Bara.

"Apa dia udah pulang?" Ara bergumam sambil mengatur napas. "Aneh banget kalau dia menghilang secepat ini. Nggak mungkin. Dia pasti masih ada di kampus."

Ara kemudian berusaha mengingat tempat yang biasanya digunakan Bara untuk menyendiri.

Bara memang tidak memiliki banyak teman di kampus. Bahkan bisa dibilang, lelaki itu lebih sering menghabiskan waktunya seorang diri.

Sampai akhirnya, Ara teringat sesuatu. Atap kampus.

Ara sebenarnya belum pernah datang ke tempat itu meskipun Bara pernah mengajaknya beberapa kali. Dulu, ia memang sengaja menjauhi Bara karena lelaki tersebut tidak pernah berhenti mengerjainya.

Entah sudah berapa kali Ara menjadi korban kejahilan Bara. Bara pernah menaruh laba-laba di atas mejanya.

Ia juga sering menjegal kaki Ara hingga gadis itu terjatuh. Bahkan, Bara pernah sengaja mengagetkannya ketika sedang makan sampai Ara hampir mati tersedak.

Bukan hanya itu. Bara pernah mengunci Ara di dalam toilet, kemudian menyembunyikan tasnya di pos satpam. Ia juga pernah mendorong Ara hingga tercebur ke dalam got.

Dan masih banyak lagi kejahilan lainnya yang membuat Ara ingin menjambak rambut lelaki itu setiap kali mengingatnya.

Lalu, apa sebenarnya alasan Bara senang sekali mengerjainya? Sederhana. Ara tidak pernah menangis.

Seberapa pun keterlaluan kejahilan Bara, Ara selalu membalasnya dengan amarah, omelan, atau cubitan.

Dan bagi Bara, reaksi Ara ketika sedang marah justru terlihat sangat lucu. Semakin Ara emosi, semakin ia senang menggodanya.

Padahal, ada alasan lain yang jauh lebih dalam di balik semua kejahilan itu. Bara sebenarnya sudah menyukai Ara sejak pertama kali mereka masuk kuliah.

Namun, ia tidak pernah berani menyatakan perasaannya karena merasa Ara sangat membencinya.

Terlebih, setahun terakhir ia telah didiagnosis mengidap penyakit yang mematikan. Karena itu, Bara memilih memendam perasaannya.

Ia lebih memilih menjahili Ara daripada membuat gadis itu jatuh cinta kepadanya. Bara tidak ingin Ara mencintainya, lalu harus menangis ketika suatu hari nanti ia pergi.

Baginya, melihat Ara membencinya jauh lebih baik daripada melihat Ara menangisinya. Namun, kejahilan yang dilakukannya hari ini sepertinya sudah benar-benar keterlaluan.

Bara merasa sangat bersalah karena ulahnya membuat Ara mendapatkan nilai D untuk mata kuliah Pak Adam. Ia bahkan sempat mengatakan akan ikut mengulang bersama Ara semester depan.

Namun, jauh di dalam hati, Bara sendiri tidak yakin apakah dirinya akan mampu bertahan sampai semester berikutnya.

Saat ini, Bara sedang duduk sendirian di atap kampus. Ia mendongakkan wajahnya ke atas sambil menyumbat hidung dengan tisu.

Mimisan seperti ini sudah terlampau biasa baginya. Ia bahkan sudah tidak terlalu memedulikannya. Hanya saja, kali ini Bara merasa kesal karena Ara sempat melihatnya mimisan.

Ia sengaja menyembunyikan penyakitnya dari teman-temannya. Termasuk Ara.

Bara tidak ingin dikasihani. Ia tidak ingin orang-orang memperlakukannya berbeda hanya karena mengetahui bahwa hidupnya mungkin tidak akan sepanjang hidup mereka.

Tanpa Bara sadari, seseorang sudah berada tidak jauh darinya. Ara berdiri di balik dinding, hanya beberapa meter dari tempat Bara duduk.

Tatapannya tidak pernah lepas dari punggung lelaki itu. Ia melihat Bara yang masih menyumbat hidungnya dengan tisu.

Ara sebenarnya ingin langsung menghampirinya. Namun, ia masih ragu.

Haruskah ia mendekat? Atau sebaiknya ia membiarkan Bara sendirian?

Ara menarik napas panjang.

Udahlah. Gue nggak peduli kalau dia marah. Gue mending maju aja. Nggak perlu mundur.

Ara akhirnya memberanikan diri melangkah keluar dari persembunyiannya.

"Hmm, Bara?"

Bara sontak menoleh. Ia terkejut melihat Ara berdiri di sana. Bagaimana tidak? Selama ini Ara tidak pernah datang ke tempat tersebut.

Namun, sekarang gadis itu benar-benar datang. Entah kenapa, perasaan Bara langsung menjadi tidak enak. Ia takut Ara berubah sikap setelah melihatnya mimisan.

Padahal, Ara hanya melihat darah yang keluar dari hidungnya. Tetapi Bara sudah membayangkan kemungkinan terburuk.

Ia takut Ara mengetahui penyakitnya. Lebih dari itu, ia takut Ara mulai mengasihaninya.

"Ngapain lo ke sini?"

"Nyari angin."

Ara berjalan mendekat.

"Ternyata seger juga, ya, di sini. Tahu gitu gue ke sini dari dulu."

"Gak usah sok basa-basi."

Bara menatapnya curiga.

"Lo ngapain ke sini? Mau ngasihanin gue karena tadi tiba-tiba mimisan?"

"Dih, ngapain juga gue ngasihanin lo?"

Ara mendengus.

"Emang gue pernah peduli sama lo?"

Bara terdiam.

"Gue ke sini memang niatnya cuma mau cari angin."

"Gue nggak percaya."

Bara menghela napas.

"Perlu lo ketahui, gue memang bakal mimisan kalau udah kecapekan banget. Dan gue nggak mau lo malah nganggap gue penyakitan."

"Pikiran lo kok negatif mulu, sih?"

Ara memutar bola matanya.

"Orang gue emang nggak punya niat apa-apa sama lo."

Ia kemudian menatap Bara dengan wajah datar.

"Kalau di dalam hati lo berharap gue bakal ngomong, 'Bara, kamu nggak apa-apa? Kok bisa mimisan gitu, sih? Kamu sakit? Mau aku antar ke rumah sakit? Atau mau aku anterin pulang?'"

Ara mengangkat bahu.

"Ya, kata-kata semacam itu."

Ia mendengus.

"Nggak usah ngimpi, oke? Gue emang nggak akan pernah ngomong kayak gitu ke lo."

Maaf. Sebenarnya aku juga pengin banget merhatiin kondisi kamu. Tapi aku nggak mau kamu malah ngejauhin aku. Jadi, untuk saat ini, aku akan berusaha mengikuti alur permainanmu. Meskipun sebenarnya aku pengin banget meluk kamu sekarang juga.

Bara akhirnya tersenyum lega.

"Bagus kalau gitu."

Ia kembali menyandarkan tubuhnya.

"Jadi, gue masih bisa ngusilin lo kayak biasanya."

"Lo kok nggak capek, sih, ngerjain gue mulu?"

"Karena gue suka sama reaksi lo, Ra."

Bara terkekeh.

"Gue suka aja kalau lo udah emosi terus marah-marah. Asik aja lihatnya."

"Ngeselin banget!"

Ara langsung mencubit perut Bara sekuat tenaga.

"Awas, ya, lo! Lain kali gue bener-bener bakal balas dendam gara-gara lo udah bikin nilai gue D!"

"Aduh!"

Bara langsung meringis.

"Ampun, Ra! Sakit banget cubitan lo!"

Ara justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Bara. Sementara itu, Bara hanya bisa memasang wajah merengut sambil mengusap-usap perutnya yang terasa nyeri.

"Makanya, jadi orang jangan ngeselin."

"Tapi kalau gue nggak ngusilin lo, rasanya nggak asik."

Bara mengangkat bahu.

"Kayak ada yang kurang gitu di hidup gue."

"Tapi lihat kondisi juga, dong."

Ara kembali memasang wajah kesal.

"Kalau kayak tadi, sumpah, ya, lo udah keterlaluan banget."

"Maaf."

Bara menundukkan kepala.

"Jadi gue harus gimana, dong? Perlu gue bilang ke Pak Adam kalau itu salah gue?"

Ia menggaruk tengkuknya.

"Gue nggak nyangka aja tadi kuisnya harus maju ke depan begitu."

"Hmm, nggak perlu."

Ara berpikir sejenak.

"Mending lo kabulin permintaan gue aja."

"Permintaan apa?"

Bara langsung menatapnya waspada.

"Jangan yang aneh-aneh, kayak misalnya lo nyuruh gue beliin lo mobil. Gue nggak sanggup."

Ara hampir tertawa.

"Permintaan gue sederhana."

Ia menatap Bara serius.

"Lo harus nemenin gue selama dua belas hari ke depan."

"Dua belas hari?"

Bara mengerutkan kening.

"Kenapa harus dua belas hari?"

Ia kemudian menatap Ara dari atas sampai bawah.

"Nemenin gimana dulu, nih? Tapi gue nggak bisa dua puluh empat jam penuh nemenin lo."

"Gue nggak minta lo nemenin gue dua puluh empat jam juga, Bara."

Ara menghela napas.

"Kalau misalnya gue mau pergi ke suatu tempat, lo harus nemenin gue."

Ia mengangkat satu jari.

"Lo juga harus nurutin apa pun kemauan gue."

Satu jari lainnya ikut terangkat.

"Dan kalau di kampus, lo harus selalu bareng sama gue."

Ara kemudian tersenyum jahil.

"Terus, lo harus memperlakukan gue kayak tuan putri."

Bara menatapnya tidak percaya.

"Gampangnya..."

Ara menunjuk Bara.

"Lo itu harus jadi babu gue."

Bara terdiam beberapa saat.

"Hmm, oke."

Ia mengangguk santai.

"Gue nggak masalah."

"Tapi misalnya sewaktu gue nggak bisa masuk kuliah, gimana?"

Aku tahu kalau kamu juga harus ke rumah sakit. Dan aku nggak akan sekejam itu sama kamu, Bara.

"Gak masalah."

Ara tersenyum kecil.

"Intinya, selama dua belas hari ini, lo harus nemenin gue dan ada di sisi gue sebisa lo."

"Kenapa cuma dua belas hari?"

Bara menatap Ara.

Padahal lebih dari dua belas hari pun aku mau terus ada di sisimu, Ra. Aku sebenarnya bahagia kalau kamu yang meminta langsung kepadaku seperti ini.

Ara terdiam sesaat.

"Gue mau pergi."

"Hah?"

Bara tampak terkejut.

"Pergi ke mana? Lo mau pindah kampus?"

"Iya."

Ara mengangguk.

"Gue mau pindah ke Aussie."

Bara membeku.

"Untuk saat ini, cuma lo yang gue kasih tahu."

Ara menatapnya serius.

"Jangan kasih tahu yang lain, terutama teman-teman terdekat gue di kelas."

Bara, maaf karena aku harus bohongin kamu. Aku cuma bisa pakai cara ini supaya aku bisa terus dekat sama kamu.

Bara akhirnya mengangguk.

"Ya udah."

Ia berusaha tersenyum. Namun, jauh di dalam hatinya, ada rasa sedih yang perlahan tumbuh. Jadi, setelah dua belas hari, Ara akan pergi meninggalkannya.

Bara tidak tahu bahwa kepergian itu hanyalah kebohongan kecil yang sengaja dibuat Ara demi satu tujuan. Gadis itu sedang berusaha mati-matian mengubah takdir hidupnya.

"Sebelum gue pergi," ujar Ara, "gue mau bikin kenangan yang indah sama lo selama dua belas hari ini."

Ia menatap Bara.

"Dan lo nggak boleh nolak."

Bara tersenyum tipis.

"Gue kira selama ini lo benci sama gue, Ra."

"Ya, emang gue benci."

Ara menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Benci banget, banget, banget sama lo."

Bara terkekeh.

"Makanya, gue mau menghapus semua rasa benci gue ke lo sebelum gue pergi."

Ara mengulurkan tangannya.

"Gimana? Setuju?"

Bara menatap tangan Ara beberapa saat sebelum akhirnya menyambutnya.

"Oke."

Ia tersenyum.

"Gue setuju."

Semoga penyakitku nggak kambuh sewaktu aku lagi bareng sama kamu, Ara. Intinya, aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Karena sepertinya, permintaanmu juga akan menjadi kenangan indah terakhirku bersamamu sebelum aku pergi.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!