NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Hari ini Wen Jin hendak mengajak Feng Wu pergi ke Perpustakaan kediaman Wen untuk memperdalam pengetahuan tentang ilmu pengobatan, Bagaimanapun kediaman Wen salah satu pemilik perpustakaan terlengkap setelah istana kekaisaran.

Setelah puas membaca buku pengobatan di perpustakaan kediaman Wen, Feng Wu duduk di tepi jendela sambil memutar-mutar cincin giok tua di jari manisnya, cincin yang diberikan kakek tua misterius sebelum ia masuk ke dunia ini. Selama ini ia hanya tahu cincin itu memiliki Ruangan Ajaib untuk menyimpan obat-obatan, namun tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benaknya.

"Apakah cincin ini hanya bisa menyimpan obat? Atau bisa menyimpan benda lain juga?" Batinnya.

Tanpa membuang waktu, ia mencoba. Ia memusatkan pikirannya pada sebuah vas bunga di meja, lalu membatin.

"Masuklah"

Seketika, vas itu lenyap dari tempatnya dan muncul di dalam ruangan luas di dalam cincin itu. Mata Feng Wu membelalak tak percaya. Ia mencoba lagi pada sebuah buku, sebuah kotak perhiasan, sebuah kursi. Semuanya masuk tanpa kesulitan. Dan ruangan itu... ternyata tak berdasar, luasnya tak terbayangkan.

"Bisa... ternyata bisa menyimpan apa saja!" serunya berbisik, takjub luar biasa.

Dan seketika, pikirannya langsung tertuju pada satu tempat yaitu kediaman Feng.

Malam itu juga, Feng Wu kembali menyusup ke kediaman Feng. Kali ini bukan untuk memberi pelajaran, melainkan untuk mengambil barang peninggalan ibunya. Ia berniat masuk ke paviliun tempat ibunya dulu tinggal, mengambil barang-barang Wen Ning sebagai kenang-kenangan.

Namun di perjalanan, ia melewati sayap barat kediaman itu, tempat yang dijaga ketat dan selalu dikunci rapat. Rasa penasaran tumbuh di hatinya.

"Apa yang disembunyikan di sana?" batinnya.

Dengan mudah ia membuka kunci gembok tua itu dan masuk. Ternyata, itu adalah gudang penyimpanan harta dan gudang pangan utama kediaman Feng.

Saat pintu terbuka, Feng Wu terpaku di tempatnya. Matanya membelalak melihat pemandangan di hadapannya.

Gudang itu begitu luas, menumpuk sampai ke langit-langit. Ada tumpukan beras, gandum, tepung yang tak terhitung jumlahnya, berkarung-karung emas dan perak, tumpukan kain sutra berwarna-warni, peti-peti perhiasan yang berkilauan, rempah-rempah langka yang berharga mahal, hingga anggur-anggur tua yang berumur puluhan tahun. Kediaman Feng begitu kaya, begitu berlimpah ruah kemewahan yang bahkan tak bisa dibayangkan oleh rakyat biasa.

Namun semakin ia melihat, semakin kuat rasa sakit dan amarah yang membakar dadanya. Ia teringat kembali...

Saat ia tinggal di gubuk terpencil, sendirian, kelaparan sampai perutnya perih. Saat ia terpaksa memakan sisa makanan yang dibuang pelayan, makanan yang sudah basi, berulat, dan tak layak konsumsi hanya agar ia tetap hidup. Saat ia gemetar kedinginan tanpa selimut, sementara di sini kain sutra menumpuk sampai membusuk karena terlalu banyak.

"Mereka punya segalanya... tapi membiarkan anak kandungnya kelaparan dan menderita, terlalu kejam" gumam Feng Wu.

Darah mendidih di tubuh Feng Wu. Dendam membara tak tertahankan lagi.

"Kalian menikmati makanan enak, tidur di kasur empuk, sementara aku... Putri sah kediaman ini... makan sisa sampah dan hampir mati kelaparan!" bisiknya bergetar, matanya memerah menahan amarah. "Kekayaan ini... makanan ini... semuanya berasal dari nama Ibu! Dan kalian berani membiarkan putrinya mati kelaparan?!"

Tanpa ragu sedetik pun, ia mengangkat tangannya, mengarahkan cincin itu ke seluruh gudang itu.

"Masuklah!"

Karung beras yang setinggi manusia lenyap seketika. Peti emas, kain sutra, anggur, rempah, gandum bahkan semuanya hilang satu per satu, tak bersisa. Ruangan yang tadi penuh sesak dengan kekayaan melimpah, perlahan menjadi kosong melompong, lantai batu yang dingin terlihat jelas tak ada satu pun barang yang tersisa.

Feng Wu tidak mengambilnya untuk dirinya sendiri, ia mengambilnya sebagai ganti atas penderitaan yang pernah ia alami. Dan ia berjanji dalam hatinya jika kekayaan ini akan digunakan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk memuaskan keserakahan orang-orang kejam itu.

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari gudang yang kini kosong itu. Di belakangnya, kediaman Feng kehilangan seluruh cadangan pangan dan harta bendanya. Dan besok pagi... saat mereka menemukannya, kepanikan itu baru saja dimulai.

*

*

*

Pagi ini kediaman Wen mendapatkan undangan dari Istana, kabarnya akan ada perayaan untuk ulang tahun selir agung.

Beberapa hari sebelum perayaan ulang tahun Selir Agung, Feng Wu mendatangi paviliun tempat Jenderal Wen biasa beristirahat. Kakeknya sedang duduk membaca laporan urusan perbatasan, namun segera meletakkan kertasnya begitu melihat cucunya datang.

"Wu'er, ada yang ingin kau bicarakan?" tanyanya lembut, menepuk kursi di hadapannya.

Feng Wu duduk dengan tenang, namun matanya memancarkan tekad yang kuat. "Kakek, aku mendengar bahwa Yang mulia Selir Agung akan merayakan ulang tahunnya di istana, dan seluruh pejabat tinggi serta bangsawan akan hadir. Aku ingin hadir di pesta itu."

Jenderal Wen terdiam sejenak, lalu mengernyit pelan. "Wu'er, kau yakin? Hadir di pesta istana berarti kau akan menampakkan diri kepada seluruh ibukota sekaligus. Banyak orang yang dulu mengenal Ibumu, dan tak sedikit yang masih mengira kau sudah tiada. Termasuk... orang-orang dari kediaman Feng. Kau tidak takut?"

"Aku tidak takut, Kakek," jawab Feng Wu mantap. "Justru ini saatnya. Selama ini aku bersembunyi karena belum siap. Tapi sekarang... aku sudah sangat siap. Aku ingin berdiri di hadapan mereka bukan sebagai anak yang dibuang, melainkan sebagai putri Wen Ning cucu dari keluarga Wen. Dan aku ingin memberikan hadiah tulus kepada Yang Mulia Selir Agung yang begitu baik padaku."

Jenderal Wen menatap wajah cucunya lekat-lekat. Ia melihat keberanian dan kedewasaan yang jauh melampaui usia lima belas tahun gadis itu. Namun kekhawatiran masih menyisakan ruang di hatinya.

"Wu'er, Kakek percaya pada kekuatanmu. Tapi ingat di pesta itu akan ada banyak orang, dan tidak semua berniat baik. Apakah kau benar-benar tidak akan menyesal menampakkan diri saat ini?"

Feng Wu tersenyum lembut namun tegas. "Kakek tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyesalinya."

Mendengar jawaban itu, Jenderal Wen perlahan tersenyum bangga. Ia berdiri dan meletakkan tangannya di atas kepala cucunya. "Kakek tidak akan melarangmu. Lakukan apa yang kau anggap benar. Dan ingat, apa pun yang terjadi, Kakek akan selalu berdiri di belakangmu. Tak ada yang berani menyakiti cucuku."

"Terima kasih, Kakek," ucap Feng Wu tulus, hatinya terasa semakin kuat.

Hari yang ditunggu pun tiba. Istana kekaisaran malam itu tampak bercahaya bagaikan bintang di langit. Pesta ulang tahun Selir Agung digelar dengan meriah di Paviliun Teratai, dihadiri oleh Kaisar Qinchuan, para pangeran, pejabat tinggi, serta keluarga besar Wen.

Suasana hangat dan penuh sukacita. Selir Agung mengenakan jubah indah berwarna ungu berhias benang emas, wajahnya berseri-seri menyambut para tamu.

Tepat saat suasana puncak, pintu utama terbuka perlahan. Diiringi pengumuman pelayan istana, Feng Wu melangkah masuk, berdampingan dengan Jendral Wen.

Setiap langkahnya memancarkan keanggunan dan ketegasan yang luar biasa. Ia mengenakan gaun berwarna merah muda dengan sulaman bunga peony berwarna perak, sederhana namun memancarkan cahaya yang menyilaukan. Wajahnya cantik jelita, dan siapa pun yang melihatnya seketika terpaku di tempat. Karena wajahnya itu... persis seperti mendiang ibunya, Wen Ning. Wanita tercantik di ibukota yang telah lama dirindukan semua orang.

Suasana aula perlahan hening. Para tamu saling berbisik, mata mereka membelalak tak percaya.

"Itu... siapa gadis itu?"

"Wajahnya... persis seperti mendiang Nona Wen Ning!"

"Tidak mungkin... bukankah putrinya sudah meninggal saat bayi?"

Feng Wu berhenti di tengah aula, tepat di hadapan Kaisar dan Selir Agung. Ia berlutut dengan hormat, suaranya jernih dan tegas hingga terdengar oleh semua orang.

"Feng Wu memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar, dan Yang Mulia Selir Agung. Selamat ulang tahun, Yang mulia Selir Agung. Semoga yang mulia panjang umur dan selalu bahagia."

Selir Agung yang sejak tadi terpaku, kini segera turun dari kursinya dan memeluk Feng Wu dengan penuh haru. "Feng Wu, terima kasih telah hadir, aku tidak menyangka jika kau akan datang."

Feng Wu tersenyum, lalu menyerahkan sebuah kotak kecil berukir indah. "Ini hadiah dariku untuk anda yang mulia selir agung. Bukan barang mewah, namun aku meraciknya sendiri, ini ramuan penenang dan penguat tubuh, agar yang mulia selalu sehat dan awet muda."

Kaisar Qinchuan menatap Feng Wu dengan kagum, matanya penuh pengakuan. "Kau tidak hanya mewarisi kecantikan ibumu, tapi juga kebijaksanaannya. Bangkitlah, Feng Wu. Di sini, tak ada yang berani meremehkanmu lagi."

Setelah Feng Wu duduk berdampingan dengan Jendral Wen, Menteri Feng datang bersama Selir Yu dan kedua putrinya.

Menteri Feng sangat terkejut melihat keberadaan seorang gadis muda yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.

"Ning'er" batin Menteri Feng.

Lalu, salah satu menteri yang duduk disebelah menteri Feng mengatakan sesuatu tentang Feng Wu.

"Hei, Menteri Feng. Mengapa kau membiarkan putrimu ikut bersama Jendral Wen?". Ujarnya.

Pertanyaan itu membuat Menteri Feng terkejut, ternyata gadis yang duduk disebelah Jendral Feng adalah putri kandungnya dengan Wen Ning.

"Diaa!!" seru Menteri Feng.

"Putrimu Feng Wu sangat luarbiasa, aku ingin menjodohkannya dengan putraku" kata salah satu menteri yang duduk disamping Menteri Feng.

"Apa!!Dia Feng Wu" jerit Selir Yu histeris, dibalik penutup wajah kain itu.

Menteri Feng tidak berhenti menatap Feng Wu, begitupun dengan Selir Yu yang nampak panik luarbiasa.

"Mengapa dia bisa bersama Jendral Wen? Apa yang terjadi padanya" gumam Menteri Feng.

1
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!