NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:61k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Tawaran Dari Melodi

Pintu ruangan UGD akhirnya terbuka.

Humaira dan ibunya yang sejak tadi menunggu dengan kecemasan luar biasa langsung berdiri dan berlari menghampiri Zidan.

"Bagaimana, Dokter? Bagaimana kondisi adik saya?" tanya Humaira memburu, matanya sembap.

"Ya, bagaimana keadaan Nabila, Dokter?" timpal Yanti tak kalah panik, dengan sisa air mata diwajahnya.

Zidan menghela, melihat Humaira dan ibunya bergantian. "Kondisi Nabila saat ini sangat kritis. Serangan Lupusnya kali ini dampaknya terlalu buruk karena perlahan mulai merusak organ dalam tubuhnya."

Zidan jeda sejenak.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kedua ginjal Nabila sudah mengalami kerusakan. Walau belum gagal total, tapi jika terus dibiarkan tanpa tindakan penanganan khusus, ini akan sangat membahayakan nyawanya."

Dada Humaira berdegup kencang, rasa takut membayangkan kehilangan sang adik membuatnya nekat. "Kalau memang kondisinya separah itu... periksa ginjal saya, Dokter! Kalau cocok, saya akan berikan satu ginjal saya untuk Nabila!

"Tidak bisa, Humaira!" potong Zidan tegas seraya menggelengkan kepala.

"Kenapa tidak bisa?! Saya kakaknya!" seru Humaira bersikeras. Ia bahkan lupa kalau saat ini kondisinya sedang hamil. Dan meskipun dia sehat, tetap saja wanita hamil tidak bisa memberikan ginjal kepada orang lain.

"Karena aku tahu kondisi tubuhmu!" Tolak Zidan tegas. "Sebagai rumah sakit yang mewajibkan seluruh perawatnya menjalani tes kesehatan rutin setiap setahun sekali, rekam medismu selama tiga tahun terakhir ada padaku. Dan catatan medis terakhirmu empat bulan lalu masih sama—satu ginjalmu memiliki kelainan bawaan dan bermasalah!"

"Selama ini kau bisa hidup normal murni karena bergantung pada satu ginjalmu yang sehat. Jika ginjal sehat itu diambil, akibatnya bisa sangat fatal untuk nyawamu sendiri! Dan aku tidak setuju, dan tidak akan pernah berani mengambil risiko itu, Humaira!" Tegas Zidan tidak mengizinkan istrinya.

"Apa...?" Yanti sebagai ibu Humaira jelas saja kaget tak percaya.

Terkejut luar biasa. "Ginjal kamu bermasalah, Nak? Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Ibu?!"

Humaira membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Zidan akan membongkar kondisi kesehatannya di depan sang ibu.

Melihat wajah ibunya yang makin pucat dan penuh kekhawatiran, Humaira panik dan berusaha keras mengalihkan pembicaraan.

"I-Ibu... itu tidak penting sekarang," potong Humaira terbata-bata, menghindari tatapan ibunya. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau kita masuk dan lihat kondisi Nabila dulu, Bu?"

Ternyata, selama bertahun-tahun ia berhasil menyembunyikan rahasia kelainan ginjalnya demi tidak menambah beban pikiran sang ibu, namun hari ini, suaminya sendiri yang membongkarnya.

Humaira meminta izin pada Zidan untuk menjenguk adiknya. Pria itu pun membenarkan, dan Humaira bersama ibunya segera masuk.

Humaira tak lama berada di dalam. Melihat kondisi adiknya yang sudah sedikit lebih baik. Ia pun berpamitan pada ibunya untuk keluar sebentar.

Tujuannya hanya satu: ruangan Zidan di lantai atas.

Langkahnya terasa berat saat menyusuri koridor rumah sakit yang mulai lengang. Tak lama ia tiba didepan pintu ruangan Zidan.

Tok... tok... tok...

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Humaira mendorong pintu itu dan berjalan pelan menghampiri meja kerja Zidan.

Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, sekilas melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Humaira.

"Dokter, bisa kita bicara sebentar," ujar Humaira.

"Tentu. Duduklah," jawab Zidan.

Lagi-lagi, pria itu memilih mengabaikan keretakan dan masalah di antara mereka berdua demi memberi ruang bagi Humaira.

Humaira menurut. Ia menarik kursi di depan meja kerja Zidan lalu duduk. Jika biasanya Humaira selalu membentengi dirinya dengan sikap dingin, cuek, dan tatapan datar setiap kali berhadapan dengan Zidan, kali ini pertahanan itu runtuh total.

Ia datang dengan wajah yang redup, penuh kelelahan emosional yang tak lagi sanggup disembunyikan.

"Dokter..." panggil Humaira lirih.

Zidan hanya bergeming, menunggu kalimat berikutnya keluar dari bibir wanita itu.

"Dokter pasti tahu kalau... saya tidak punya uang untuk membayar semua biaya rumah sakit adik saya," lanjut Humaira.

Jemarinya mencengkeram ujung bajunya.

Zidan masih diam, memperhatikan gestur frustrasi wanita di hadapannya tanpa menyela sedikit pun.

"Dokter bisa memotong gaji saya setiap bulan," lanjut Humaira, menatap Zidan dengan tatapan memohon. "Kalau Dokter mau memotong semuanya... tidak masalah. Saya tidak perlu menerima gaji tiap bulan juga tidak apa-apa. Yang penting tolong adik saya, Nabila butuh perawatan..."

Humaira buru-buru melempar pandangannya ke lain arah saat pertahanannya jebol.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Dengan kasar dan terburu-buru, ia menyeka jejak basah itu menggunakan punggung tangannya, berusaha keras mengembalikan kewarasaannya di hadapan Zidan.

"Saya..." Ucapannya terhenti mendadak. Bibirnya bergetar hebat, tak lagi sanggup melanjutkan kalimat yang tersangkut di tenggorokannya.

Melihat kekacauan di wajah wanita itu. Zidan akhirnya bersuara.

"Sudahlah, Humaira. Tidak usah dipikirkan," potong Zidan. "Biarkan adikmu tetap dirawat di sini. Kalau soal biaya, kau tidak usah memikirkannya. Aku tidak akan memotong gajimu sepeser pun. Kau bisa tetap menerima gajimu seperti biasa."

Zidan jeda sejenak, menatap mata Humaira yang masih basah.

"Kalau kau tetap bersikeras ingin membayar biaya rumah sakit adikmu, kau bisa menggunakan kartu yang pernah aku berikan padamu."

Humaira langsung menggeleng cepat, dan jelas menolak. "Tidak, Dokter. Itu sama saja saya menggunakan uang Anda, saya takut berutang."

"Tapi keadaan yang memaksamu untuk berutang, Humaira!" potong Zidan, lelah menghadapi sikap keras kepala wanita itu.

Sunyi...

Untuk beberapa saat, keduanya saling terdiam.

Zidan menghelah napas.

"Humaira... terkadang kita memang membutuhkan pertolongan orang lain. Anggap saja aku ini suamimu yang sedang membantumu" Zidan mengalihkan pandangannya sekilas, "Meskipun aku tahu, kamu tidak pernah menganggapku."

Melihat wanita di hadapannya yang hanya diam menunduk, Zidan memilih berdiri dari tempat duduknya, lalu mengaitkan kunci mobil di jemarinya.

"Ayo kita pulang. Kita butuh istirahat," ujar Zidan. "Soal adikmu, aku sudah meminta tim medis terbaik untuk menjaganya malam ini. Kau tidak perlu khawatir, semuanya akan ditangani dengan baik."

Zidan mulai melangkah melintasi mejanya, berjalan menuju pintu keluar ruangan.

Humaira yang tidak punya pilihan, hanya diam dan menurut.

_____

Awal pagi sekali. Melodi sudah ada di kediaman keluarga Zidan.

Wanita itu terlihat mengobrol santai dengan temannya Siska.

Humaira yang baru dari atas, melihat mereka berdua disana.

"Humaira! Kemari!" Panggil Melodi.

Dia sebenarnya malas meladeni. Tapi mau tidak mau dia terpaksa mendekat.

"Iya, Tante?"

"Aku dengar-dengar, adikmu masuk rumah sakit semalam?" Tanya Melodi.

Humaira mengangguk.

"Kau butuh uang, Bukan?"

"Iya."

Melodi menyodorkan selembar cek dengan jumlah uang yang sangat besar ke arah Humaira.

Humaira melirik cek dengan jumlah besar itu.

"Ambil ini, dan tinggalkan Zidan,"

Humaira terdiam. Jumlah cek tersebut sangat besar, dan tentu saja dia bisa memanfaatkan uang itu untuk pergi dari Zidan.

1
Jamayah Tambi
Kalah anak menteri
Jamayah Tambi
Penyesalan memangbterlambat.Tak bole diperbaiki lagi.Uruslah hidup masing2.
Jamayah Tambi
Kalau ada sambal ayam gepuk lagi bagus.Tenyeh ke mulutnya.
Jamayah Tambi
Baru kau tau.Sudah puas dihina selama 25 tahun. Sekarang giliran membalasnya.
Jamayah Tambi
Lelaki kalu terikat dgn masa lalu,memang menyakitkan hati.Ada berlian kau buang ,kau ambil kaca.Sekarangbrasakan.Bila Humaira suruh memilih kau tak reti nak pilih.Sekarang hadap je bini kau
Aysah Meta
Umakk aee..di gantungnya lagi kita😭
bunda Qamariah: emng belum kebuka sayng 🤣🤣🤣
total 3 replies
Jamayah Tambi
Keguguran ke Humaira
Jamayah Tambi
Kenapa tunggu 6 bulan
Syakirah Dzaky
Koq aku lama2 kasian sama Zidan yah . Smoga setelah semua terbukti kebenaran nya , prglah sejauh mungkin Zidan , smoga di tempat yg baru nanti kamu akan menemukan perempuan yg baik dan tulus
Ade Chubi: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
pasti hsil tes negatip kalau byi nya melodi bkn ank mu zidan
Jamayah Tambi
Nibyg susah ni.
Jamayah Tambi
Sah2 Pak Pengacara ni memang mencintai Humaira.Sebab itu dia mengutit
Jamayah Tambi
Bagus adubje ke Akva,ada KDRT oleh Dr Zidan.Lagi midah proses cerai.
Jamayah Tambi
Zidan toling buka CCTV di ruang kerja mu
Jamayah Tambi
kesian kau Zidan.Tak tau bini mengandung.Itu gara2 kau minim ubat perangsang
Jamayah Tambi
Haha, kesian kau Zidan.Nak marah pada Alvara tpnanak itubanak kau sendiri.Kesian sekali
Jamayah Tambi
Setelkan masah korang cepat.Pening aku
Jamayah Tambi
Cakap je Humaira
Jamayah Tambi
Lawan Humaira.Jangan diam saja
Jamayah Tambi
Berlakon terus Humaira.Kita tengok apa yg akan jadi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!