Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Musa berbalik dengan langkah berat dan mata yang menyala-nyala oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
Begitu tiba kembali di dalam ruko, ia langsung menerjang ke arah Musdalifah yang masih pura-pura menangis di pelukan Umi Mina.
Tanpa memedulikan tatapan ngeri dari para tamu dan keluarga, tangan kokoh Musa langsung mencengkeram kuat leher Musdalifah, mendorongnya hingga tersudut ke dinding.
Napas Musa memburu hebat, urat-urat di pelipisnya menonjol kaku.
"Jika terjadi sesuatu pada istriku. Aku sendiri yang akan membunuhmu, Musdalifah!" desis Musa dengan suara berat, rendah, namun sarat akan ancaman kematian yang begitu nyata.
"Musa! Astagfirullah! Lepaskan, Nak! Tenangkan dirimu!" bentak Kyai Adi dengan suara bergetar, segera menarik lengan Musa agar melepaskan cengkeramannya dari sang putri.
Musa melepas cengkeramannya dengan kasar, membuat Musdalifah terbatuk-batuk lemas di lantai, meski di balik sela-sela air matanya, sebuah senyum kemenangan beracun sempat tersungging tipis di bibir wanita itu.
Musa menoleh tajam ke arah Yusuf yang berdiri terpaku di dekat pintu.
"Yusuf!" teriak Musa penuh wibawa.
"Periksa semua CCTV di sudut ruko ini sekarang juga! Kita buktikan siapa dalang di balik semua sandiwara busuk ini agar semua orang tahu yang sebenarnya!"
Yusuf langsung mengangguk tegas. "Baik, Bos! Saya laksanakan!"
"Dan, dengar baik-baik," lanjut Musa menatap dingin ke arah Musdalifah dan Kyai Adi.
"Jangan biarkan Musdalifah melangkah keluar dari ruko ini sedetik pun sampai aku berhasil menemukan istriku!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Musa langsung berbalik dan berlari keluar menuju halaman.
Ia menyambar kunci mobil milik Kyai Adam yang terparkir di dekat pelataran, melompat ke kursi pengemudi, dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan riuhnya kerumunan klinik untuk mengejar dan mencari keberadaan Laila.
Ia menghubungi ponsel istrinya tetapi tidak diangkat oleh Laila.
"Sayang, kamu dimana?" gumam Musa.
Musa menghentikan mesin mobil Kyai Adam berdecit tajam saat Musa menginjak rem secara mendadak di pelataran parkir sebuah minimarket di pinggir jalan utama.
Dari kaca depan, mata Musa membelalak lega sekaligus dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.
Di sana, di atas kursi besi dingin di pelataran minimarket yang tenang, tampak Laila duduk menyendiri.
Sebuah cangkir kopi hangat tergenggam di kedua tangannya yang tertutup sarung tangan.
Tidak ada derai air mata yang meledak-ledak, tak ada kepanikan, hanya sosok sang istri yang duduk dalam keheningan mendalam.
Musa langsung mematikan mesin, melompat keluar dari mobil, dan berlari kencang menghampiri istrinya tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya.
"Sayang!" panggil Musa dengan suara serak dan napas memburu.
Ia berlutut di hadapan Laila, meraih jemari tangan istrinya dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
"Sayang, demi Allah. Aku bisa jelaskan semuanya. Itu fitnah! Musdalifah sengaja menjebakku di atas, aku tidak pernah melakukan hal keji itu!"
Laila mendongak pelan. Pendar matanya dari balik cadar memancarkan ketenangan yang teramat teduh, berbanding terbalik dengan badai emosi yang baru saja mengguncang ruko klinik mereka.
Bukannya menangis atau membentak, Laila justru mengulas senyum tipis dimana sebuah tawa kecil yang sangat lembut lolos dari bibirnya.
"Duduklah di sini dulu, Mas. Dan, minumlah segelas kopi ini. Napasmu sampai terengah-engah begitu," tutur Laila tenang sembari menyodorkan satu cup kopi hangat yang rupanya sudah ia belikan untuk suaminya.
Musa terpaku. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan duduk di kursi besi di samping Laila.
Ia menatap wajah istrinya dengan lekat, dipenuhi rasa tidak percaya dan keheranan yang membuncah.
"Sayang, kamu tidak marah padaku?" tanya Musa lirih, matanya menatap tajam mencari kebenaran di binar mata Laila.
Laila menggelengkan kepalanya dengan pelan dan mantap.
"Tidak, Musa. Aku tidak marah sama sekali.'
"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba lari dan kabur meninggalkan ruko begitu saja?" cecar Musa, rasa penasarannya tak lagi bisa ditahan.
Laila menghela napas panjang, menatap cangkir kopi di tangannya sebelum mengalihkan pandangan penuh kasih tepat ke dalam manik mata Musa.
"Musa, jika tadi aku tetap bertahan di sana di tengah teriakan histeris Musdalifah, apa yang akan terjadi?" ujar Laila dengan suara lembut namun sarat akan kedewasaan dan kebijaksanaan yang mendalam.
"Aku ini seorang dokter, Musa. Aku dididik untuk tetap tenang di bawah tekanan paling kritis sekalipun, dan aku mengenal suamiku melebihi siapa pun di dunia ini. Sejak awal, aku tahu Mbak Musdalifah datang membawa topeng penyesalan yang palsu. Aku melihat bagaimana matanya memperhatikan mu, dan aku tahu ada racun yang sedang ia siapkan. Jadi, saat dia berteriak histeris dengan skenario murahan seperti itu, apakah kamu pikir aku akan langsung percaya bahwa suamiku yang menjaga pandangannya, suamiku yang selalu membela kebenaran, mendadak berubah menjadi seorang penjahat?"
Laila meraih punggung tangan Musa, menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan kekuatan.
"Aku sengaja berlari keluar dan langsung pergi dari sana, Musa. Pertama, aku tahu jika aku tetap di tempat, emosimu akan meledak tanpa kendali di depan ratusan warga dan para tamu undangan. Kehadiranku yang tampak 'syok' justru menjadi alasan paling masuk akal bagimu untuk menyuruh Yusuf memeriksa CCTV dan mengepung Mbak Musdalifah di dalam ruko tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk melarikan diri."
Laila tersenyum manis, mengelus lembut jemari Musa yang kini mulai mereda getarannya.
"Kedua, aku butuh memutus panggung drama yang sedang dibangun oleh Musdalifah. Dia ingin melihat kita saling tuduh, dia ingin melihat aku menangis histeris menuduhmu, dan dia ingin membuat suasana begitu kacau hingga kamu terdesak dan terpaksa menuruti kemauannya. Dengan aku langsung pergi, seluruh skenario yang ia susun menjadi pincang. Fokus semua orang akan beralih pada pencarian kebenaran dan keberadaanku, bukan pada kebohongan yang ia teriakkan."
Laila menatap Musa penuh kepastian. "Dan yang paling penting, aku pergi ke sini karena aku tahu persis, suamiku yang hebat ini pasti akan menemukan keberadaanku dalam waktu singkat. Aku menunggu momen ini—momen di mana kita bisa bicara dengan kepala dingin, tanpa ada kebisingan fitnah dari wanita itu. Aku sangat mempercayaimu, Musa. Dari detik pertama hingga detik ini, tidak ada satu milidetik pun hatiku meragukan kesetiaan dan martabatmu."
Musa tertegun sejenak mendengarkan penjelasan panjang lebar yang begitu cerdas, tenang, dan penuh cinta dari istrinya.
Beban berat yang tadinya menghimpit dadanya seolah lenyap seketika, menguap digantikan oleh rasa kagum dan cinta yang teramat besar.
Seketika itu juga, bibir Musa mengulas senyum lebar. Ia menatap Laila dengan pendar mata yang jahil namun penuh kehangatan.
"Sayang, kamu nakal sekali, ya. Berani-beraninya membuat jantung suamimu ini nyaris copot gara-gara akting dramatis itu," bisik Musa gemas.
Ia mencondongkan tubuhnya, lalu mendaratkan kecupan penuh kasih tepat di pipi Laila.
"Tunggu hukumanku nanti malam, ya."
Laila hanya tersenyum simpul dari balik cadarnya, pipinya merona hangat mendengar godaan suaminya.
Musa kemudian meraih cup kopi hangat miliknya, menyeruputnya perlahan di samping Laila dalam keheningan pelataran minimarket yang kini terasa begitu damai.
Suasana tegang di klinik seolah jauh tertinggal, berganti dengan ketenangan batin yang luar biasa di antara mereka berdua.
Beberapa saat menikmati kopi bersama, pandangan Musa beralih ke etalase toko di sebelah kasir luar minimarket yang menampilkan berbagai hidangan manis.
"Sayang, mau kue keju?" tawar Musa lembut, menunjuk ke arah etalase kue.
Laila menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar kecil, menyambut tawaran manis itu.
"Baiklah, tunggu sebentar di sini, ya," ujar Musa.
Ia lantas bangkit dari kursi besi, melangkah masuk ke dalam minimarket, dan segera mengambil sepotong kue keju lembut favorit Laila untuk menemani sore tenang mereka sebelum kembali menyelesaikan sandiwara busuk yang telah ditinggalkan di ruko.
makasih buat cerita ny yx kak ,,
semoga ,,
lanjuuut kak ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁