Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Menjadi Putri Tunggal
Suara dentingan porselen beradu dengan sendok perak terdengar samar dari ruang makan utama rumah besar bergaya kolonial di kawasan Menteng. Ruangan tersebut sangat luas, diterangi oleh cahaya lampu gantung kristal bergaya Eropa yang memantulkan kemewahan zaman Hindia Belanda tahun 1928. Di ujung meja panjang berbahan kayu jati tua berukir halus, duduklah seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah yang tegas dan sorot mata setajam elang. Ia mengenakan setelan jas linen putih bersih dengan potongan rapi khas kaum elit Eropa, namun auranya memancarkan ketegasan absolut seorang pemimpin bawah tanah yang ditakuti di seluruh pelabuhan Batavia.
Pria itu adalah Liem Kian Ho—atau yang lebih dikenal oleh para pengusaha kolonial dan sindikat gelap sebagai Tuan Besar Ho, penguasa tunggal jaringan perdagangan ilegal, pelabuhan, dan kasino gelap di pesisir utara Jawa.
Pintu geser kayu jati di sisi ruang makan perlahan terbuka. Clara van der Berg, atau Liem Mei Yin, melangkah masuk dengan anggun. Gaun hijau zamrud yang membalut tubuh rampingnya bergesekan pelan, menciptakan bunyi gemerisik halus yang elegan. Rambut hitam legamnya disanggul rapi dengan tusuk konde mutiara, memperlihatkan leherjenjangnya yang bersih.
Tuan Besar Ho mendongak dari surat kabar berbahasa Belanda yang sedang dibacanya. Begitu melihat putrinya, garis-garis wajahnya yang kaku seketika melunak, menampilkan senyuman hangat seorang ayah yang sangat menyayangi belahan jiwanya satu-satunya.
"Ah, putri kesayanganku akhirnya turun juga," suara Tuan Besar Ho bergemuruh rendah namun penuh kelembutan. Ia merentangkan sebelah tangannya, menyambut Clara. "Kemari, Mei Yin. Duduklah di samping Ayah. Koki baru kita membuat hidangan sup ginseng hangat yang sangat cocok untuk udara malam Batavia."
Clara tersenyum tipis, menyembunyikan badai ingatan masa lalu yang masih bergemuruh di kepalanya. Ia berjalan mendekat, lalu mendaratkan ciuman singkat di pipi ayahnya sebelum menarik kursi dan duduk di sebelah pria paruh baya itu.
"Maafkan Mei Yin yang membuat Ayah menunggu," jawab Clara dengan suara lembutnya yang khas. "Tadi kepala agak pening sepulang dari perpustakaan kota, jadi aku sempat beristirahat sejenak."
Tuan Besar Ho langsung mengerutkan keningnya, ekspresi khawatir terpancar jelas di matanya. Ia meletakkan garpunya, lalu memegang punggung tangan Clara dengan telapak tangannya yang kasar bekas memegang senjata dan kendali bisnis gelap selama puluhan tahun.
"Kepala pening? Apakah dokter Belanda itu sudah memeriksa keadaanmu?" tanya Tuan Besar Ho dengan nada mendesak. "Jika kau merasa kurang sehat, tidak perlu memaksakan diri turun untuk perjamuan bisnis malam ini. Biar anak buahku yang mengurus para tamu dari kamar dagang."
Clara menggeleng pelan, menarik tangan ayahnya dengan gestur menenangkan. "Tidak apa-apa, Ayah. Sungguh. Ini hanya kelelahan biasa. Lagi pula, sebagai putri satu-satunya dari keluarga Liem, sudah menjadi tugasku untuk mendampingi Ayah menghadapi para relasi penting malam ini."
Mendengar jawaban itu, Tuan Besar Ho menghela napas bangga campur iba. Sebagai seorang penguasa sindikat yang dikelilingi oleh musuh bebuyutan, pengkhianat, dan para petinggi kolonial yang serakah, Clara adalah satu-satunya kelemahan sekaligus satu-satunya harta paling berharga di dunia baginya. Istrinya telah meninggal dunia saat melahirkan Clara di masa lalu, membuat Tuan Besar Ho mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk melindungi putrinya dari bahaya dunia hitam yang ia pimpin.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Mei Yin," gumam Tuan Besar Ho sambil menatap lekat-lekat mata legam putrinya. "Ingatlah, tidak peduli seberapa besar kekaisaran bisnis yang kubangun di Batavia ini, seluruh harta dan nyawaku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan keselamatanmu. Dunia luar sangat kejam, Nak. Terutama dengan ketegangan yang sedang terjadi antara sindikat kita dan keluarga besar Van Houten..."
Mendengar nama Van Houten disebut, tangan Clara yang sedang memegang cangkir teh mendadak terhenti di udara.
Di dalam benaknya, kepingan ingatan kehidupan pertamanya di Roma mendadak berpadu dengan realitas kehidupan keduanya saat ini. Keluarga Van Houten adalah faksi pedagang besar kolonial Belanda yang juga menguasai jalur impor ilegal di pelabuhan Sunda Kelapa—musuh bebuyutan mutlak dari sindikat yang dipimpin oleh ayahnya. Persaingan bisnis dan pertumpahan darah antara kedua keluarga ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, menciptakan dinding pemisah yang tebal bagai karang.
"Ayah..." Clara bersuara pelan, menatap lurus ke dalam mata ayahnya dengan keseriusan yang membuat Tuan Besar Ho tertegun sejenak. "Apakah permusuhan kita dengan keluarga Van Houten benar-benar tidak bisa diselesaikan secara damai?"
Tuan Besar Ho mendengus dingin, rahangnya mengeras seketika. "Damai? Dengan bajingan-bajingan kolonial serakah itu? Mereka mencoba merampas wilayah pelabuhan kita, Mei Yin. Dalam dunia kita, darah dibayar dengan darah. Tidak ada kata damai dengan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga kita."
Clara terdiam. Ia merasakan sensasi deja vu yang sangat menyesakkan dada. Di kehidupan pertamanya ribuan tahun lalu, ia dipisahkan oleh kasta istana dan Dewan Senat Roma. Di kehidupan keduanya saat ini, di bawah langit kolonial Batavia, takdir tampaknya kembali menyiapkan jerat yang sama: cinta dan kehidupan mereka dibatasi oleh tembok permusuhan darah antar keluarga besar.
Namun, di balik rasa sesak itu, sebuah tekad baja mulai mengeras di dalam jiwa Clara. Ia tidak akan membiarkan sejarah tragis di Roma terulang kembali. Jika semesta mempertemukannya kembali dengan pria yang menjadi belahan jiwanya di era ini, ia akan berjuang mati-matian—bahkan jika ia harus menentang sindikat ayahnya sendiri dan seluruh kekuasaan kolonial di Batavia.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*