Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Char tak sadar menggenggam erat tangan besar yang ada di dalam genggamannya. Suara Rudolph ternyata lebih berat dan jauh lebih memberi tekanan kepada lawan bicaranya.
“Kalian telat dua menit. Kau tahu berapa nilai dua menit dalam sebuah perjanjian kerja sama?” tanya pria beruban itu, menatap keduanya bergantian.
“Grandpa—”
“Sudah cukup!” potong Rudolph tajam, tak memberi kesempatan Alexander menjelaskan.
Mata kelabunya yang sedikit rabun akibat usia senja kemudian beralih kepada sosok kurus di sisi cucunya.
Tatapan itu membuat Alexander secara refleks menarik tubuh Char sedikit ke belakang tubuhnya.
“Siapa dia?” Rudolph menyipitkan mata. “Kekasih bayaranmu?”
"Calon istriku!" jawab Alexander tanpa beban.
"Cis ... Tak pernah menggandeng perempuan manapun. Tiba-tiba memperkenalkan calon istri?' decis Rudolph menyindir.
"Kau pikir aku sebodoh itu?" lanjutnya menatap Alexander sengit.
"Dia kupilih setelah banyak wanita, Grandpa. Dia satu-satunya yang cocok untuk jadi Nyonya rumah ...."
"Siapa namamu, Nak!" seru Rudolph bertanya pada Char dengan suara agak keras.
"Charoen. Namanya Charoen Elizabeth Torrer!" Alexander menjawab pertanyaan kakeknya.
"Apa dia bisu. Sampai-sampai kau yang harus menjawabnya?"
"Maaf Tuan ...."
Char keluar dari belakang tubuh Alexander. Tangannya masih menggenggam erat tangan pria itu. Jantungnya berdegup kencang, benar kata Alexander. Jika ia berhadapan dengan sosok yang tak pernah ada dalam bayangannya selama ini.
"Seperti kata Alex, nama saya Charoen Elizabeth Torrer. Anda bisa memanggil saya Char!" ujar gadis itu pelan tapi tegas.
Alis Rudolph terangkat, ia melihat bagaimana cucu kanebo keringnya itu memberi ketenangan melalui genggaman tangannya.
'Kukira kau belok, Cu,' gumamnya lega dalam hati.
Di balik pandangan sinisnya, ada kilat kepuasan yang tersembunyi. Alexander Philip Romanov—pria es tanpa simpati yang biasanya hanya bicara soal grafik saham dan bau mesiu—kini pasang badan menutupi seorang gadis mungil di belakang punggungnya.
"Charoen..." gumam Rudolph, mengeja nama itu dengan intonasi berat khasnya. "Nama yang lumayan. Tapi di rumah ini, ketegasan suaramu jauh lebih penting daripada namamu."
Rudolph mengetukkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan bunyi nyaring. Tuk!
"Masuk dan duduk!" perintah sang patriarch seraya berbalik menuju meja makan panjang berukir emas di ujung aula. "Kita lihat apakah caramu memegang pisau daging sama tegasnya dengan caramu menjawab pertanyaanku."
Alexander meremas pelan jemari Charoen, menyalurkan kehangatan yang seolah berbisik bahwa tahap pertama telah berhasil dilewati. Charoen menarik napas panjang, menguasai kembali detak jantungnya yang sempat berpacu. Ia menatap punggung tegap Alexander di sisinya, lalu menegakkan bahunya sempurna.
Ketika mereka melangkah menuju meja makan mewah yang sudah dipenuhi jajaran hidangan kelas atas, Charoen sadar bahwa keberadaannya di sini bukan lagi sekadar pelarian dari keluarga Torrer, melainkan awal dari permainan kekuasaan yang sesungguhnya.
Alexander menarik kursi makan untuk Charoen, walau sedikit kaget dan gugup. Char menatap pria itu dengan pandangan sopan.
"Terima kasih," ucapnya lembut lalu duduk sesuai table manner yang benar.
Alexander pun duduk di sisi Char dengan sedikit menggeser kursinya lebih dekat dengan sang gadis. Seakan-akan memastikan Char baik-baik saja di sini selama ada dia.
"Anak ini," decih Romanov tua itu dalam hati. Ia benar-benar kesal melihat betapa sang cucu melindungi gadisnya layaknya kaca porselen yang mahal.
Maid mulai melayani, tak seperti di rumah Alexander sebelumnya. Di mana para maid memamerkan harta majikannya di muka para tamu. Di sini, Char sedikit lebih tenang dalam makan. Walau perutnya lapar setengah mati karena belum sempat sarapan dan hanya makan kue kering di spa tadi pagi. Char tetap menjaga mannersnya di atas meja makan.
Ketika selesai, ia meletakkan serbet di atas piring yang kosong.
"Terima kasih, hidangannya lezat sekali!" pujinya tulus pada Rudolph.
Pria tua itu membusungkan dadanya, walau semua pujian pasti pernah ia dapatkan. Tetapi hal sederhana seperti ucapan terimakasih yang tulus. Rudolph jarang mendapatkannya.
Kini ketiganya berada di ruang teras samping rumah. Ratusan bunga mawar berbagai warna tersusun rapi. Mata Char berbinar saat menatap bunga-bunga itu. Ia suka sekali bunga, terlebih bunga mawar putih.
'Kau suka bunga?" tanya Alexander saat melihat sang gadis tak berpaling dari taman.
Char mengangguk antusias, "Ya ... aku pernah membayangkan menanam bunga mawar putih atau bunga lili bersama suami dan anak-anak tertawa ceria berlarian di halaman ...."
Deg!
Mata Char membulat, ia gegas menutup mulutnya yang sembarangan bicara dengan kedua tangannya.
Ia menatap Alexander, pria itu tak bergeming sama sekali, Alex seperti berada di dunia lain. Char sedikit lega karena jawabannya tak diperhatikan pria itu.
"Char!" panggil Rudolph.
"Saya?" sahut Char menoleh pada Rudolph yang duduk di kursi goyang.
"Apa kau bisa catur?" tanyanya.
"Hah?" Char menganga. 'pertanyaan apa ini?' pikirnya.
"Duduk dan lawan aku!' ujar pria itu lalu berdiri dan berjalan menuju kursi lain.
Entah sejak kapan ada papan catur bersama pionnya yang sudah tersusun di atas meja.
"Char?" Rudolph menatap Char yang masih duduk terpaku dengan mulut terbuka.
"Aku tak bisa ...."
"Ayo, sini lawan aku!" suruh Rudolph tak terima penolakan.
"Grandpa ... dia bilang tak bisa!" sahut Alex yang langsung jadi pembela Char.
"Char! Duduk dan lawan aku!" perintah Rudolph.
Char mau tak mau duduk di hadapan pria tua Romanov itu. Char membawa bidak putih. Hanya ada empat pion di sana, ia menatap pion-pion itu dengan tatapan tak percaya.
'Susunannya sengaja untuk kalah?' pikirnya lagi.
Ya, tentu saja, bidak milik Char hanya terdiri atas satu benteng, satu menteri, satu raja, dan satu pion.
Sementara bidak Rudolph, ada kuda, benteng, ratu dan raja yang sejajar dan sangat kuat pertahanan juga serangannya.
"Bahkan sebelum langkah pertama dimulai, papan ini sudah dirancang untuk mengeksekusi kematian," bisik Charoen pelan, menatap lurus buah catur yang tak seimbang itu.
Rudolph menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia bersedekah tangan, bersandar di kursi ukirnya dengan gaya penuh dominasi.
"Dunia ini tidak pernah memberi posisi yang seimbang, Charoen. Terutama bagi seseorang yang datang dari keluarga lemah seperti Torrer. Sekarang, gerakkan pionmu dan tunjukkan bagaimana caramu mati."
Alexander melangkah mendekat, berdiri tegap tepat di belakang kursi Charoen. Bayangan tubuh tingginya mengurung gadis itu, menyalurkan aura protektif yang begitu pekat. Jemari kokohnya menyentuh sandaran kursi Charoen.
" Grandpa, permainan ini tidak adil—"
Tetapi jemari lentik Charoen terulur. Tanpa ragu, ia memegang buah Menteri—satu-satunya perwira terkuat yang ia miliki—lalu menggesernya melintasi kotak kayu, menempatkannya tepat di posisi yang tampak sangat fatal dan terbuka bagi serangan Kuda Rudolph.
"Langkah bodoh," cibir Rudolph, langsung menggerakkan Kuda miliknya untuk memakan Menteri Charoen. "Kau menyerahkan pelindung terkuatmu begitu saja?"
Char tak menjawab perkataan Rudolph. Charoen meluncurkan Bentengnya tepat ke celah kosong yang ditinggalkan Kuda Rudolph, mengunci posisi Raja sang patriarch hingga tak memiliki ruang gerak sedikit pun.
"Skakmat," bisik Charoen halus.
Ruangan mendadak hening, Raph yang berdiri tak jauh nyaris melompat mendekat untuk melihat bagaimana tuan besarnya dikalahkan dalam pertarungan yang telah diatur sedemikian rupa. Sementara Alexander membeku di belakang tubuh sang gadis.
"Kamu curang!" teriak Rudolph tak terima.
"Hah?"
"Main lagi!" seru Rudolph lagi lalu merobohkan semua pion.
"Atur pion-pion itu! Aku mau yang putih!" perintahnya pada Char yang kembali menganga tak percaya.
"Cepat!" teriak Rudolph lagi dan Char harus menurut.
Pertandingan catur berlangsung empat kali. Keempat-empatnya sang kakek kalah telak.
"Katanya kau tak bisa catur ... hiks!" mata Rudolph berkaca-kaca.
"Grandpa...."
"Tuan ...."
Alexander menghela napas panjang, sementara Char duduk kaku melihat sang patriach merajuk.
"Tuan besar, sudah waktunya berisitirahat," ujar kepala pelayan memberitahu sambil membungkuk hormat.
Alexander mengamit tangan Char dan menuntunnya pada sang kakek. Keduanya membimbing Rudolph ke kamar pribadinya dan membaringkannya di sana.
Keduanya meninggalkan kakek tua itu. Rudolph menatap pintu yang ditutup pelan.
"Apapun rencanamu. Akan kupastikan Char jadi istrimu seumur hidup, Alex!" gumamnya bertekad.
Bersambung.
Huwwaa....
hayo loh Lex!
next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung