Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Di dalam kegelapan bagasi mobil yang sempit, sesak, dan pengap, Ruby terbaring lemas. Bau bensin dan kulit jok bercampur dengan aroma amis darah dari lukanya sendiri.
Setiap kali roda mobil menghantam lubang atau jalanan yang tidak rata, tubuhnya terhempas pelan, mengirimkan rasa sakit yang luar biasa melintasi tulang-tulang dan memar di sekujur badannya.
Namun, di tengah penderitaan fisik yang tak tertahankan itu, ada satu hembusan napas lega yang lolos dari bibirnya yang pecah.
*Aku sudah keluar...* bisik Ruby di dalam hatinya.
Ia tidak tahu mobil ini sedang membawanya ke mana. Ia tidak tahu apakah ia sedang menuju kebebasan atau justru ke dalam bahaya lain yang tak kalah mengerikan. Tapi satu hal yang pasti.ia telah lepas dari cengkeraman sang iblis, Kavano Benedict. Bagi Ruby saat ini, ke mana pun tujuannya, tidak ada yang bisa lebih buruk daripada neraka yang baru saja ia tinggalkan.
Waktu berjalan terasa amat lambat. Jam berganti jam, hingga hampir satu hari penuh Ruby terkurung di dalam ruang gelap itu. Tanpa air, tanpa makanan, dan dengan luka-luka kritis yang belum tersentuh pengobatan, kesadarannya mulai timbul tenggelam. Demam tinggi perlahan menggerogoti tubuhnya yang makin melemah
.
Sesekali mobil berhenti, terdengar samar suara percakapan pria bernada tegas dan dingin di luar, sebelum akhirnya kendaraan mewah itu kembali melaju membelah malam.
Di dalam kegelapan yang pekat, Ruby memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang hampir padam, membiarkan takdir membawanya pergi sejauh mungkin dari mansion yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Iring-iringan mobil akhirnya berhenti di pelataran kediaman pribadi sang penguasa bisnis. Mobil memasuki garasi bawah tanah yang tertutup rapat dan dijaga ketat oleh para pria bersenjata.
Tangan kanan pria itu melangkah keluar dari pintu kemudi, berjalan ke arah belakang untuk mengambil barang-barang penting yang tersimpan di bagasi. Namun, begitu ia menekan tombol dan pintu bagasi terangkat perlahan...
*Klik.*
Pria itu langsung membeku. Bau amis darah yang amat pekat menyengat hidungnya seketika. Di dalam ruang sempit itu, tergeletak tubuh seorang gadis muda yang kurus kering dan mengenaskan. Wajahnya bengkak kebiruan tak berupa, pakaiannya koyak berlumuran darah kering, dan napasnya terdengar amat pendek, terengah-engah di ambang kematian.
"Tuan," panggil sang asisten dengan nada terkejut yang tertahan, namun tetap sigap.
Sang penguasa misterius yang baru saja hendak melangkah menuju lift pribadi menghentikan geraknya. Ia memutar badan, menyipitkan mata, lalu berjalan mendekati bagasi mobilnya.
Sorot mata elangnya yang dingin menatap sosok Ruby yang terbaring hampir sekarat di sana. Tidak ada raut panik di wajah pria itu, melainkan kilat rasa heran dan analisis yang tajam.
"Siapa dia?" tanya pria itu dengan suara berat dan dalam.
"Saya tidak tahu, Tuan. Sepertinya dia menyelinap masuk saat kita berada di kediaman Tuan Kavano," jawab sang asisten cepat sambil memeriksa denyut nadi di leher Ruby yang terasa amat lemah. "Detak nadinya sangat kritis, Tuan. Dia mengalami pendarahan hebat dan demam tinggi. Kalau tidak segera ditangani, dia tidak akan bertahan sampai jam berikutnya."
Pria itu menatap lekuk luka lebam dan benturan di tubuh Ruby, pola siksaan yang sangat identik dengan kekejaman tanpa belas kasihan. Otaknya yang cerdas langsung menyambungkan titik-titik kejanggalan dari alibi Kavano tadi siang.
"Bawa dia ke dalam," perintah pria itu dingin namun tegas. "Panggil tim medis pribadi kita sekarang. Jangan sampai dia mati sebelum saya tahu alasan kenapa dia bisa ada di bagasi mobil saya."
"Baik, Tuan!"
Tanpa buang waktu, sang asisten merengkuh tubuh ringkih Ruby yang terasa panas membara akibat infeksi dan demam. Dengan sigap, ia memapah dan memindahkannya ke atas tandu darurat, membawanya masuk ke ruang medis rahasia yang terletak di dalam mansion megah tersebut. Tim dokter pribadi segera berdatangan memasang selang oksigen dan peralatan darurat, berjuang merawat tubuh Ruby yang telah hancur tepat di bawah naungan sang penguasa baru.