menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melenceng
Sambil menenteng beberapa plastik besar berisi kebutuhan sekolah yang baru mereka beli, langkah kaki Kenya tiba-tiba melambat saat mereka melewati area bioskop. Ia menoleh ke arah cowok jangkung di sebelahnya.
"Nonton yuk, Ar?" ajak Kenya tiba-tiba.
Archard menghentikan langkahnya, melirik kantong plastik di tangan mereka bergantian. "Kencan?" celetuk Archard spontan.
Bagi Archard, pergi ke bioskop berdua sepulang sekolah adalah hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.
Wajah Kenya sempat terlihat bingung selama beberapa detik mendapat pertanyaan frontal seperti itu. Namun, dasar Kenya, ia dengan cepat menguasai keadaan.
"Kalau mau kencan boleh, kok. Tapi, gue cuma ngajak lo nonton. Kalau lo maunya kencan, ya oke aja," ujar Kenya santai tanpa beban, seolah ajakan kencan itu bukan hal besar.
Archard mendengus tipis, langsung memalingkan wajahnya. "Gak ah, males. Gue mau pulang," jawabnya dingin lalu memutar tubuh, bersiap melangkah pergi.
Melihat si es batu mau kabur, Kenya langsung bergerak cepat menahan lengan jaket Archard. "Plis lah, Ar! Gue yang bayarin, deh. Kita baru sebentar banget di mall. Gue juga masih males ketemu macet di bawah jam segini," bujuk Kenya setengah memohon.
Archard menghentikan langkahnya. Ia menatap Kenya datar, lalu mengembuskan napas pasrah. "Ya udah, serah."
Kenya tersenyum penuh kemenangan. Sambil berjalan beriringan menuju loket tiket, jiwa usil Kenya kembali meronta. "Jadi, ini hitungannya kencan apa cuma nonton?" Iseng Kenya yang tiba-tiba mode cegil.
Archard meliriknya tajam dengan tatapan sedingin es. "Lo ngomong lagi, gue pergi."
"Iya, iya... sensi amat sih! Tunggu di sini, gue beli dulu tiketnya," tahan Kenya cepat-cepat sebelum cowok itu benar-benar berubah pikiran.
Di depan loket, karena tidak tahu film apa yang sedang bagus, Kenya asal memilih film hanya dengan mengikuti saran dari mbak kasir bioskop. Sialnya, pilihan asal-asalan itu ternyata jatuh pada film Keluarga Cemara.
Begitu mereka sudah duduk di dalam studio yang temaram dan film dimulai, Kenya baru menyadari bahwa film tersebut adalah bumerang bagi dirinya sendiri.
Alur cerita yang menampilkan kehangatan dan keutuhan sebuah keluarga langsung menghantam ulu hati Kenya. Film itu membuat ingatan tentang papa dan mamanya yang telah pergi bertubi-tubi kembali berputar di otaknya.
Dada Kenya berdenyut nyeri. Di dalam kegelapan bioskop, pertahanan Kenya perlahan runtuh. Air matanya lolos begitu saja, membanjiri pipinya dalam diam. Tubuhnya bergetar kecil menahan tangis yang menyesakkan dada.
Archard, yang sejak tadi menyadari perubahan atmosfer di sebelahnya, tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak melontarkan pertanyaan bodoh seperti 'lo kenapa?' atau 'kenapa nangis?'.
Cowok itu hanya merogoh saku jaketnya tanpa suara, mengeluarkan selembar tisu bersih, lalu menyodorkannya tepat di depan tangan Kenya.Kenya tersentak kecil melihat sodoran tisu itu. Tanpa menoleh karena terlanjur gengsi, ia mengambil tisu tersebut dan langsung menghapus air matanya cepat-cepat.
Setelah film selesai, keheningan menyelimuti mereka hingga mereka sudah kembali berada di dalam mobil membelah jalanan kota. Kenya duduk menyandarkan kepalanya, menatap kosong ke arah luar jendela kaca.
"Lo buru-buru pulang gak?" tanya Kenya lirih, matanya tetap menatap jalanan tanpa menengok ke arah Archard.
Archard yang sedang fokus menyetir langsung menyahut to the point. "Mau ke mana?"
"Kuburan. Gak lama, kok. Tapi, temenin beli bunga dulu, ya."
Archard tidak bertanya macam-macam. Ia langsung memutar kemudi menuju toko bunga terdekat, membiarkan Kenya membeli dua buket bunga, lalu melajukan mobilnya menuju area pemakaman yang sepi dan teduh.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang pemakaman, Kenya menoleh ke arah Archard. "Lo gak usah turun," ujar Kenya datar.
Kenya kemudian membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam area pemakaman sendirian sembari mendekap dua buket bunga di dadanya.
Meskipun sudah dilarang, Archard tetap membuka pintu mobilnya. Ia turun dari kendaraan, namun tetap menjaga batasan dengan tidak ikut melangkah masuk ke dalam area tanah pemakaman.
Archard memilih berdiri di dekat pembatas gerbang, menyandarkan tubuhnya, dan melipat kedua tangan di dada.
Dari kejauhan, manik mata Archard bergerak mengikuti punggung rapuh Kenya yang berjalan menyusuri gundukan tanah berumput, hingga gadis itu berlutut di antara dua makam yang berdampingan.
Di bawah langit sore yang mulai menggelap, kepala Archard mendadak dipenuhi oleh banyak tanda tanya tentang sosok wakil ketua kelasnya itu. Siapa sebenarnya cewek ini? Dan seberapa banyak luka yang dia sembunyikan di balik topeng bar-barnya selama ini?
Jiwa Archard yang biasanya sedingin es, entah kenapa perlahan mulai terusik oleh rasa penasaran yang pekat.
Sementara itu, di depan dua gundukan tanah yang membisu, Kenya duduk bersimpuh. Di atas hamparan rumput makam, pertahanan yang mati-matian ia bangun di sekolah runtuh total.
Ia memandang papan nisan di depannya dengan tatapan yang teramat sendu. Kesunyian area pemakaman seolah merebut paksa topeng angkuh yang selalu ia pakai.Kenya meletakkan buket bunga itu dengan tangan bergetar. "Ma... Pa... Kenya datang," bisiknya lirih, suaranya langsung tercekat di tenggorokan.
Ia mengusap permukaan nisan yang dingin itu bergantian. "Gimana keadaan kalian di sana?"
Jeda beberapa saat. Hanya ada suara gesekan daun yang tertiup angin sebagai jawaban atas pertanyaannya. Kenya menunduk dalam, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh bebas membasahi tanah makam.
"Kenya kesepian, Ma, Pa... Kenya selalu merasa sendiri di dunia ini, gak punya siapa-siapa," adu Kenya dengan suara yang mulai serak menahan tangis.
"Kenya kangen banget sama kalian. Kangen sampai rasanya dada Kenya sesak tiap malam."
"Kapan ya kita bisa ketemu lagi?" Kenya mengusap air matanya kasar, namun jejak basah itu kembali luruh tanpa permisi. "Tahun besok genap sepuluh tahun Papa pergi. Dan enam tahun Mama pergi. Sudah lama ya, Ma? Sudah lama banget Papa sama Mama ninggalin Kenya sendiri."
"Tapi... Kenya masih belum bisa nerima kenyataan ini, Ma, Pa. Kenya masih sering mendadak sedih, gak terima, bahkan marah sama takdir karena Kenya sudah gak punya kalian. Kenya iri setiap hari ngelihat anak-anak lain yang seumuran Kenya masih punya orang tua yang lengkap, yang bisa mereka ajak tertawa, yang bisa ngebela mereka kalau diganggu orang."
Kenya meremas jemarinya sendiri, meluapkan seluruh rasa sesak yang bergemuruh di ulu hatinya. "Kenya pengen banget ketemu kalian. Mungkin bisa lewat mimpi... tapi aneh, setiap kali Kenya mimpiin kalian, paginya Kenya justru merasa makin kangen dan makin hancur."
Suara tangis Kenya yang semula tertahan kini mulai pecah menjadi isakan kecil yang memilukan di tengah keheningan makam.
"Kadang... Kenya pengen sudahan aja, Pa. Kenya selalu merasa sendirian jalani hidup yang asing ini. Pengen udahan biar bisa langsung ikut dan ketemu kalian di sana."
Kenya menatap nisan itu dengan pandangan mengabur karena air mata. "Tapi... gak boleh ya, Ma? Gak boleh ya kalau Kenya menyerah sekarang?"
Sambil memeluk lututnya sendiri, tubuh Kenya bergetar hebat. Isak tangisnya terdengar begitu menyakitkan, beradu dengan sunyinya hamparan makam sore itu.
"Tapi Kenya beneran capek. Capek banget, Ma... capek, Pa... Kenya pengen dipeluk kalian lagi. Sekali aja..."
Di kejauhan, dari balik gerbang besi, Archard masih berdiri mematung. Meskipun ia tidak bisa mendengar dengan jelas rentetan kalimat pilu yang diucapkan Kenya dari jarak sejauh ini, Archard bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana bahu tegap gadis itu kini berguncang hebat di depan makam.
Untuk pertama kalinya, Archard menyaksikan si cewek bar-bar yang tadi pagi sanggup menjungkirbalikkan harga diri anak sultan dan menampar siswi lain di toilet tanpa rasa takut, kini berubah menjadi sosok gadis kecil yang tampak begitu rapuh, ringkih, dan hancur sendirian.
Ada secercah rasa tidak tega yang mendadak menyelusup ke dalam dada Archard, mengikis perlahan dinding pembatas es di hatinya. Rasa penasaran itu kini telah bergeser menjadi sesuatu yang lain: keinginan asing untuk melindungi punggung rapuh di depan sana.