"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. PRESENTASI RENOVASI ARSHAKA MALL
Bab 17
Jarum jam dinding menunjukkan waktu yang semakin larut. Kalandra merapikan meja dari piring-piring kotor, lalu menutup kotak P3K.
"Sudah malam."
Hagia ikut mengangkat pandangan.
"Masuk kamar dan istirahat."
Wanita itu mengangguk pelan, tetapi belum juga beranjak. Kalandra menangkap keraguan di wajahnya.
"Ada yang ingin kamu katakan?"
Hagia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara.
"Presentasi besok..."
Kalandra sudah lebih dulu menggeleng. "Kamu tidak perlu memikirkannya."
"Tapi presentasinya tidak mungkin dibatalkan begitu saja."
"Saya tahu."
"Kalau tiba-tiba dialihkan pada orang lain, hasilnya mungkin tidak maksimal." Hagia menatap Kalandra dengan sungguh-sungguh. "Rancangan itu mengalami banyak perubahan sampai kemarin sore. Orang lain belum tentu memahami alasan di balik setiap keputusan desainnya."
Kalandra mengembuskan napas pelan. "Itu yang sedang saya pikirkan." Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengakui kebimbangannya.
"Saya tidak bisa memintamu tetap bekerja setelah berjanji kepada dokter bahwa kamu harus beristirahat."
Hagia memahami maksud pria itu. Beberapa saat ia ikut terdiam sebelum sebuah gagasan muncul di benaknya.
"Kalau begitu..."
Kalandra menoleh.
"Bagaimana kalau besok Anda yang membawakan presentasinya?"
Sorot mata Kalandra berubah sedikit.
"Saya tetap datang ke kantor, tapi hanya mendampingi. Kalau ada pertanyaan teknis yang memang hanya saya yang tahu jawabannya, saya akan membantu menjelaskan. Selain itu, saya tidak akan mengambil pekerjaan lain."
Ruangan kembali sunyi beberapa saat. Kalandra mempertimbangkan usul tersebut dengan saksama. Ia memang telah mempelajari seluruh materi presentasi semalam. Membawakannya bukan persoalan besar. Yang menjadi masalah hanyalah kemungkinan muncul pertanyaan-pertanyaan teknis yang tidak tertulis di dalam laporan. Dengan adanya Hagia di ruangan, risiko itu dapat diatasi tanpa harus memaksanya bekerja sepanjang hari.
"Baik." Satu kata itu akhirnya keluar dari bibirnya. "Tapi setelah presentasi selesai, kamu langsung pulang."
Hagia tersenyum tipis. "Baik, Tuan."
"Dan ingat, mulai besok kamu tetap tidak menerima pekerjaan dari siapa pun kecuali saya."
Hagia mengangguk. "Saya mengerti."
"Kalau begitu..." Kalandra melirik jam dinding sekali lagi. "Benar-benar sudah waktunya tidur. Besok tidak boleh telat."
***
Pagi itu, Hagia keluar dari kamar ketika aroma roti panggang dan sup hangat memenuhi ruang makan penthouse. Langkahnya sempat terhenti. Di balik meja dapur, Kalandra masih mengenakan kemeja putih yang belum sepenuhnya dikancingkan. Lengan bajunya digulung hingga siku, sementara sebuah celemek hitam sederhana masih terikat di pinggangnya. Di atas kompor, sup sayuran masih mengepulkan uap tipis.
"Sudah bangun?"
Kalandra bahkan tidak menoleh. Tangannya tetap sibuk mematikan kompor sebelum menuangkan sup ke dalam dua mangkuk.
"Saya kira Anda sudah berangkat lebih dulu."
"Belum."
Ia meletakkan kedua mangkuk di atas meja.
"Duduk."
Hagia menurut tanpa banyak bertanya. Sarapan pagi itu sederhana. Sup hangat, roti panggang, telur dadar, dan segelas susu hangat telah tertata rapi.
"Kamu harus menghabiskannya."
Nada bicara Kalandra terdengar sama datarnya seperti biasa. Hagia hanya mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian mereka menikmati sarapan dalam suasana tenang. Sesekali Kalandra memperhatikan tangan kanan Hagia yang masih ditempeli plester kecil. Wanita itu kini sudah kembali menggunakan tangan kanannya meski gerakannya masih tampak hati-hati.
"Masih sakit?"
"Jauh lebih baik sekarang."
"Kebiasaanmu."
Hagia mengangkat kepala.
"Selalu bilang sudah baik-baik saja."
Kalimat itu membuat Hagia tersenyum tipis. "Saya memang sudah merasa lebih baik."
"Bagus." Kalandra menghabiskan sisa kopinya sambil terus memperhatikan Hagia. "Tak perlu terburu-buru."
Hagia mengangguk. Tak lama kemudian, keduanya telah bersiap meninggalkan penthouse. Begitu memasuki basement, Kalandra langsung membuka pintu penumpang lebih dulu.
"Silakan."
Hagia sedikit mengernyit. "Saya masih bisa membuka pintu sendiri."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa..."
"Saya sudah membukakannya."
Jawaban singkat itu membuat Hagia kehilangan kalimat berikutnya. Ia akhirnya masuk ke dalam mobil tanpa berdebat lagi.
Perjalanan menuju Arshaka Group berlangsung lebih lancar dibanding hari-hari sebelumnya. Beberapa kali Hagia membuka tablet berisi salinan presentasi yang telah disiapkan semalam. Kalandra melirik sekilas.
"Tidak perlu."
"Saya hanya ingin memastikan tidak ada yang terlewat."
"Saya sudah mempelajarinya."
"Tapi kalau nanti ada pertanyaan—"
"Saya ingat." Nada bicaranya tetap tenang. "Kamu lupa kesepakatan kita semalam?"
Hagia menoleh.
"Hari ini kamu hanya mendampingi."
Wanita itu menutup tabletnya perlahan. "Baik."
Mobil memasuki area parkir eksekutif beberapa menit kemudian. Belum sempat mereka keluar, ponsel Kalandra bergetar. Layar menampilkan nama sekretaris direksi. Kalandra menerima panggilan itu melalui pengeras suara.
"Pak, seluruh direksi sudah mulai berkumpul."
"Kami baru saja tiba."
"Baik, Pak."
Sambungan berakhir. Kalandra mematikan mesin mobil. Ia tidak langsung turun. Pandangannya beralih kepada Hagia yang duduk di sampingnya.
"Satu hal lagi."
Hagia menunggu.
"Kalau selama rapat kamu mulai merasa pusing atau tidak nyaman..." Ia berhenti sejenak. "jangan menunggu sampai saya bertanya."
"Saya akan memberi tahu."
"Bukan." Kalandra menggeleng pelan. "Kamu langsung keluar dari ruang rapat."
"Tapi presentasinya..."
"Saya bisa menyelesaikannya."
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk ditawar. Hagia akhirnya mengangguk.
"Baik."
Baru setelah mendengar jawaban itu, Kalandra membuka pintu mobil. Di luar, suasana lantai eksekutif sudah jauh lebih sibuk daripada biasanya. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik rapat direksi yang akan segera dimulai, ada seseorang yang sejak malam sebelumnya telah memutuskan untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Pintu ruang rapat direksi terbuka tepat ketika Kalandra dan Hagia memasuki lantai eksekutif.
Seluruh jajaran direksi telah duduk di tempat masing-masing. Beberapa kepala langsung menoleh ke arah pintu. Kehadiran Kalandra memang sudah biasa, tetapi kehadiran Hagia di sampingnya tetap menarik perhatian, terlebih setelah kabar mengenai insiden semalam mulai terdengar samar di kalangan internal perusahaan.
Vanessa yang telah lebih dulu berada di dalam ruangan sempat memandang Hagia beberapa saat. Wajah wanita itu terlihat jauh lebih baik dibanding kemarin, meski plester kecil di buku-buku jari kanannya masih belum terlepas.
Kalandra menarik kursinya di ujung meja.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
Semua orang kembali duduk.
Hagia menempati kursi di sisi kanan Kalandra, sedikit di belakang posisi utama presentasi. Di hadapannya hanya terdapat sebuah tablet, buku catatan, dan segelas air putih. Tidak ada laptop. Tidak ada tumpukan dokumen. Persis seperti kesepakatan mereka semalam. Kalandra berdiri.
"Agenda pertama hari ini adalah pembahasan final renovasi Arshaka Mall."
Layar besar di ujung ruangan mulai menampilkan gambar rancangan yang telah disiapkan.
"Selama beberapa minggu terakhir tim melakukan evaluasi terhadap tiga konsep sebelumnya. Setelah melalui berbagai penyempurnaan, kami menetapkan satu rancangan final yang akan menjadi dasar pelaksanaan proyek."
Presentasi berjalan tenang. Kalandra menjelaskan setiap tahapan dengan bahasa yang sederhana, tetapi mudah dipahami. Tidak terlalu teknis, namun cukup untuk menggambarkan alasan bisnis di balik setiap perubahan desain.
Hagia hanya mendengarkan. Sesekali ia membuka tablet untuk memastikan data yang ditampilkan telah sesuai. Sekitar tiga puluh menit kemudian, pemaparan utama selesai.
"Demikian presentasi saya."
Kalandra menutup berkas di hadapannya. "Selanjutnya, saya membuka sesi diskusi."
Suasana yang semula tenang perlahan berubah. Salah seorang direktur mengangkat tangan lebih dulu.
"Konsep ini memang terlihat lebih efisien. Tapi saya ingin tahu alasan perubahan jalur sirkulasi di area atrium utama."
Kalandra menjawab dengan tenang.
"Perubahan tersebut bertujuan meningkatkan pergerakan pengunjung menuju zona komersial."
Direktur itu mengangguk.
"Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap kepadatan saat akhir pekan?"
Kalandra sempat melihat sekilas gambar denah di layar. Sebelum ia membuka kembali dokumen pendukung, sebuah suara pelan terdengar dari sampingnya.
"Tuan."
Kalandra menoleh.
Hagia menunjuk salah satu bagian denah pada tabletnya.
"Kapasitas simulasi pejalan kaki."
Hanya empat kata. Namun, cukup membuat Kalandra memahami bagian yang dimaksud. Ia kembali menghadap para direksi.
"Berdasarkan simulasi kepadatan, jalur baru mampu meningkatkan kapasitas pergerakan pengunjung hampir dua puluh persen dibanding rancangan sebelumnya."
Direktur itu tampak puas.
Pertanyaan berikutnya datang dari sisi lain meja.
"Bagaimana dengan pencahayaan alami? Bukankah perubahan ini akan meningkatkan biaya konstruksi?"
Kali ini Kalandra tidak langsung menjawab. Ia kembali melihat ke arah Hagia. Wanita itu hanya membuka satu halaman pada tabletnya, lalu menggeser perangkat tersebut sedikit mendekat. Kalandra membaca angka yang tertera.
"Justru sebaliknya." Ia kembali menatap seluruh peserta rapat. "Biaya awal memang sedikit meningkat. Namun, konsumsi energi tahunan diproyeksikan turun sehingga nilai investasi jangka panjang menjadi lebih baik."
Beberapa direksi mulai saling bertukar pandang. Mereka menyadari setiap angka yang keluar dari mulut Kalandra selalu tepat, seolah seluruh data telah dihafalnya. Padahal, hanya Hagia yang mengetahui bahwa pria itu sesekali memperoleh pengingat singkat dari sampingnya.
Diskusi terus berlanjut. Hingga akhirnya Danu membuka map di depannya.
"Saya punya satu pertanyaan."
Ruangan kembali tenang.
Tatapan beberapa orang langsung beralih kepadanya. Danu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kalau terjadi perubahan struktur di tahap pelaksanaan nanti, apakah rancangan ini masih cukup fleksibel untuk disesuaikan tanpa mengubah keseluruhan konsep?"
Pertanyaan itu jauh lebih teknis dibanding sebelumnya. Kalandra terdiam beberapa detik. Ia mengetahui jawabannya secara umum. Namun, penjelasan rinci mengenai struktur merupakan bagian yang disusun langsung oleh Hagia. Perlahan, Kalandra menoleh ke samping. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Hanya sebuah anggukan kecil dari Kalandra. Isyarat yang telah mereka sepakati semalam.
Kini, untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Hagia meletakkan tabletnya di atas meja lalu mengangkat pandangan ke arah seluruh jajaran direksi.
"Tuan Danu."
Suasana rapat mendadak berubah hening. Semua orang menunggu penjelasan wanita yang sejak awal hanya duduk sebagai pendamping CEO itu.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻