Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Aku Nyasar ke Kamar Adik Sahabatku
Hal pertama yang kurasakan saat bangun adalah pegal di seluruh tubuh.
Hal kedua adalah lengan laki-laki yang melingkar di pinggangku.
Aku membuka mata pelan dan menemukan wajah Rangga hanya beberapa senti dari wajahku. Adik sahabatku itu sedang tidur tanpa baju, rambut hitamnya menutupi alis. Selimut berhenti di pinggangnya.
Aku mengenal Rangga sejak dia masih anak kurus yang berlari mengejar aku dan Rania di gang rumah keluarga Nugroho. Dulu tingginya hanya sampai bahuku dan kami menyuruhnya pulang setiap kali ingin ikut bermain. Setelah masuk SMP, tubuhnya tumbuh cepat, wajahnya menjadi terlalu tampan, dan senyum isengnya mulai membuat teman-teman Rania sengaja datang ke rumah.
Bagiku, dia tetap Angga yang tiga tahun lebih muda, anak tetangga yang pernah menangis karena layang-layangnya putus. Setidaknya begitu sampai pagi ini membuktikan bahwa otakku dan tubuhku memiliki pendapat berbeda.
Semoga aku masih bermimpi.
Rangga bergerak. Matanya terbuka, lalu senyum nakal muncul seolah pagi ini sama sekali tidak mengancam hidup kami.
"Pagi, Kak Wulan."
Aku menarik selimut sampai dagu. "Kenapa kamu ada di sini?"
"Ini kamarku."
"Kenapa aku ada di kamarmu?"
"Nah, itu pertanyaan bagus."
Dia bangun, mengambil handuk dari kursi, lalu berdiri dengan handuk melilit pinggang. Bekas merah samar di bahunya membuat ingatanku menyala sepotong demi sepotong.
Aku mencium dia.
Aku menarik kausnya.
Aku memanggil namanya.
Aku menutupi wajah dengan bantal. "Bunuh aku."
"Nggak bisa. Pelakunya harus tanggung jawab dulu."
"Pelaku apaan?"
Rangga menyandarkan punggung ke lemari, tangan terlipat di dada. "Kak, mau kabur dari tanggung jawab? Semalam kan Kakak yang nerkam aku."
"Aku salah kamar!"
"Salah kamar bisa. Salah cium sampai berkali-kali itu prestasi."
Bantal kedua melayang ke arahnya. Ia menangkapnya sambil tertawa.
Aku memaksa ingatanku kembali ke awal bencana.
Semalam aku pulang kerja lebih cepat karena ingin memberi kejutan kepada Yudha. Kami sudah berpacaran lebih dari tiga tahun. Belakangan kami membicarakan pernikahan, rumah sederhana, dan tabungan bersama. Kupikir membawa makan malam ke kantornya adalah tindakan manis.
Aku bahkan belum turun dari mobil sewaan ketika melihatnya di trotoar.
Yudha berdiri di bawah lampu toko, mencium seorang perempuan yang tidak kukenal. Tangannya berada di pinggang perempuan itu. Tidak ada jarak, tidak ada kemungkinan salah lihat.
Aku keluar sambil masih membawa kantong makanan.
"Wulan?" Wajahnya kehilangan warna. "Ini nggak seperti yang kamu pikir."
"Bibir lo nyasar?"
Perempuan itu melepaskan diri, masuk ke mobil, lalu pergi. Yudha mencoba memegang tanganku. Aku menamparnya satu kali, cukup keras untuk membuat telapak tanganku panas.
"Kita selesai. Jangan hubungi gue lagi."
Aku meninggalkannya sebelum dia sempat menyusun alasan.
Alih-alih pulang, aku pergi ke Kopi Larut. Tempat itu buka sampai dini hari dan menjual kopi, makanan ringan, serta beberapa minuman campuran. Aku memesan satu gelas, lalu membiarkannya mencair hampir satu jam. Yang membuat kepalaku kacau bukan alkohol ringan di dalamnya, melainkan tiga tahun rencana yang runtuh dalam satu ciuman di trotoar.
Aku menelepon Rania. Sahabatku sedang berada di luar kota untuk pekerjaan.
"Gue putus sama Yudha," kataku begitu dia menjawab.
"Apa yang terjadi? Lo di mana?"
Aku bercerita sambil menangis. Rania mengumpat panjang, lalu melarangku pulang sendirian dalam keadaan emosional.
"Tidur di apartemen gue. Password masih sama. Gue kirim lagi."
"Kamu nggak di sana."
"Makanya aman dan sepi. Gue coba telepon Rangga buat jemput, tapi bocah itu nggak angkat. Naik Grab, kirim pelat mobil ke gue, dan kabari begitu sampai."
Aku masih cukup sadar untuk mengikuti semua instruksinya. Aku membayar tagihan, memesan Grab, memeriksa pelat, dan mengirim lokasi perjalanan. Saat tiba di apartemen, aku memasukkan password tanpa salah. Aku tahu tata letak rumah Rania karena sering menginap di sana.
Masalahnya, malam itu aku membuka pintu yang keliru.
Kamar yang biasa kupakai berada di sisi kanan lorong. Aku masuk ke sisi kiri, ruangan yang kukira kosong karena Rangga lebih sering tinggal dekat kampus. Lampu mati. Pendingin ruangan dingin. Di atas ranjang ada sesuatu yang besar dan hangat.
"Kucing gede," gumamku.
Dulu Rania pernah memelihara kucing putih berbulu hitam. Entah bagaimana otakku yang lelah memutuskan bayangan manusia di ranjang adalah kucing itu. Aku memeluknya.
"Kak Wulan?"
Suara Rangga seharusnya menyadarkanku sepenuhnya. Aku justru menangis di dadanya.
"Semua laki-laki pembohong."
Rangga menyalakan lampu tidur. "Kakak habis minum?"
"Cuma satu. Aku tahu ini kamu, Rangga. Jangan anggap aku mabuk sampai nggak kenal orang."
Ia mengambil botol air dan menyuruhku minum. Aku menjelaskan tentang Yudha dengan kalimat patah-patah. Rangga diam, rahangnya mengeras, tetapi tidak memanfaatkan kemarahanku. Ia malah mencoba bangun.
"Kak Wulan tidur di kamar utama. Aku antar."
Aku menarik kausnya. "Jangan pergi."
"Aku nggak pergi. Aku pindahkan Kakak ke kamar sebelah."
Mungkin karena dikhianati, mungkin karena Rangga terlalu hangat, aku mendadak ingin membuktikan bahwa diriku masih bisa diinginkan. Aku menciumnya.
Rangga membeku, lalu mendorong bahuku perlahan hingga ada jarak.
"Lihat aku. Kakak tahu aku siapa?"
"Rangga Nugroho. Adiknya Rania. Lebih muda tiga tahun. Suka bikin kesal."
"Dan Kakak benar-benar sudah putus sama Yudha?"
"Sudah."
"Kalau aku minta berhenti sekarang?"
Aku menatapnya, mencoba memahami pertanyaan itu di tengah kepala yang berat. "Aku akan berhenti. Tapi aku nggak mau berhenti. Kamu sendiri mau?"
Rangga mengusap air mata di pipiku. "Aku mau. Bukan karena Kakak sedih, dan bukan buat balas dendam ke siapa pun."
"Aku juga mau karena ini kamu."
Barulah ia membalas ciumanku. Ia bertanya sekali lagi sebelum lampu dipadamkan, dan aku menjawab tanpa ragu. Malam menelan kelanjutan kami tanpa perlu menceritakannya kepada siapa pun.
Di sela ingatan yang kabur oleh lelah, ada beberapa bagian yang sangat jelas. Rangga menghentikan semuanya saat aku kembali menangis, memberiku air, dan menunggu sampai napasku tenang. Ia tidak pernah menyebut Yudha atau memakai kemarahanku untuk mendesak. Ketika aku memilih mendekat lagi, ia menyuruhku mengucapkan keinginanku dengan jelas.
Aku melakukannya.
Kesadaran itu tidak mengurangi rasa malu pagi ini, tetapi setidaknya aku tidak bisa menuduh Rangga mengambil keputusan untukku. Itu keputusan buruk yang kami buat bersama dalam keadaan sama-sama sadar siapa yang berada di hadapan kami.
Sekarang, di bawah cahaya pagi yang kejam, aku ingin menggugat diriku sendiri.
"Aku benar-benar menyebutmu kucing?" tanyaku dari balik bantal.
"Kucing gede. Lalu Kakak bilang buluku aneh."
"Aku pindah negara hari ini."
Ponsel Rangga berdering. Nama Rania muncul di layar. Aku langsung duduk, lupa bahwa selimut masih menjadi satu-satunya perlindunganku.
"Jangan angkat!"
Rangga menekan tombol jawab dan menyalakan pengeras suara.
"Angga, akhirnya! Lo semalam ke mana?" suara Rania memenuhi kamar.
"Nongkrong. Pulang telat, terus langsung tidur. Kenapa?"
"Wulan nginep di apartemen. Gue telepon nggak diangkat. Coba cek kamar utama."
Aku menatap Rangga dengan ancaman. Dia menahan tawa.
"Nanti aku cek. Mungkin Kak Wulan masih tidur."
"Jangan ganggu kalau dia belum bangun. Dia baru putus. Buatkan sarapan dan susu hangat."
"Siap, Kak Rania."
Setelah panggilan berakhir, aku memukul lengannya. "Kenapa pakai pengeras suara?"
"Biar Kakak tahu aku bisa bohong demi menyelamatkan nama baik Kakak."
"Nama baikku sudah meninggal di kamar ini."
"Belum. Kak Rania pikir Kakak tidur di kamar utama. Yang lucu, Kakak memang seharusnya masuk kamar utama. Kamar ini biasanya kosong. Jadi siapa yang sebenarnya nyasar mencari siapa?"
Aku menolak menjawab.
Ponselku tergeletak di lantai dekat ranjang. Begitu dinyalakan, dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari Yudha memenuhi layar, disusul pesan panjang yang berubah dari permintaan maaf menjadi tuduhan bahwa aku terlalu emosional.
Rangga membaca namanya dari kejauhan. Wajah jahilnya mengeras. "Blokir."
"Nanti. Aku perlu menyimpan pesannya kalau dia mengganggu lagi."
"Berarti kalian benar-benar putus."
"Kamu sudah menanyakan itu semalam."
"Aku mau dengar lagi saat Kakak sepenuhnya segar."
Aku menekan tombol tangkap layar, menyimpan semua pesan, lalu mematikan notifikasi Yudha. "Kami putus. Tapi itu tidak otomatis membuat kejadian semalam punya status."
"Belum punya," koreksinya. "Beda arti."
Aku pura-pura tidak mendengar, meski satu kata itu menetap di kepala lebih lama daripada seharusnya.
Rangga membuka lemari dan melemparkan kemeja biru kepadaku. "Pakai ini dulu. Baju Kakak kena air waktu tumpah semalam. Sudah aku masukkan mesin cuci."
Kemejanya jatuh sampai pertengahan pahaku. Aroma sabun dan parfumnya menempel di kain. Saat keluar kamar, kulihat pakaian kerjaku berputar di dalam mesin cuci, sementara Rangga menuangkan susu ke panci kecil.
"Kamu nggak perlu melayaniku."
"Kak Rania menyuruh."
"Jangan bawa nama kakakmu."
"Baik. Aku memang mau merawat Kak Wulan."
Ia memberikan segelas susu hangat, lalu berjongkok di depanku untuk memeriksa lecet kecil di lutut. Aku buru-buru merapatkan ujung kemeja.
Rangga mendongak, senyum nakalnya kembali.
"Kenapa malu sekarang?"
"Karena sekarang terang."
"Padahal semalam lampu sempat menyala."
"Rangga!"
Ia menahan tanganku sebelum pukulan berikutnya mendarat. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan lembut, bertolak belakang dengan tatapan jahilnya.
"Aku cuma penasaran," katanya. "Masih ada bagian tubuh Kakak yang belum aku lihat?"
Mulutku terbuka, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang berhasil keluar.