Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Di Balik Kesedihan
Hari-hari Bima dan Jingga tak lagi sekadar diwarnai pertengkaran. Setiap kata yang keluar dari mulut Jingga, setiap tangis yang ia tahan, dan setiap tatapan tak tenang yang melayang ke sudut ruangan, semua itu kini dicatat Bima dengan saksama, bukan untuk dimengerti, melainkan untuk dijadikan bukti. Di kepala pria itu, satu rencana telah matang, menyusup pelan di sela-sela amarah dan ketakutannya sendiri, hingga menjadi keputusan yang tak bisa digoyahkan lagi.
Saat Jingga sedang duduk memeluk lutut di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, Bima masuk ke kamar. Langkahnya pelan, wajahnya tak lagi terlihat marah seperti biasanya, melainkan dihiasi ekspresi yang seakan penuh kesedihan mendalam. Ia duduk di samping Jingga, mengusap punggung tangan sang istri dengan gerakan yang dibuat-buat lembut.
"Jingga..." panggil Bima, suaranya terdengar berat dan penuh keprihatinan. "Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik. Aku tidak tega melihatmu menderita seperti ini terus. Setiap hari semakin kurus, matamu tak pernah lelah menangis, tidurmu pun tak tenang."
Jingga menoleh perlahan, matanya bengkak dan kusam. "Kau mau melakukan apa, Mas?"
"Aku akan membawamu ke tempat di mana kau bisa tenang, di mana ada orang-orang yang merawatmu sepenuhnya," jawab Bima, menatap lurus ke manik mata sang istri.
"Rumah sakit jiwa."
Jingga tersentak mundur, tangannya ditarik paksa dari genggaman Bima. "Apa?! Rumah sakit jiwa? Kau gila ya, Mas? Aku tidak gila! Aku tidak butuh dikurung di tempat seperti itu!"
"Jingga, dengarkan aku," Bima mendekat kembali, suaranya tetap lembut namun matanya menatap tajam, menembus pertahanan wanita itu.
"Kau sendiri yang bilang tak bisa tidur, terus-menerus melihat hal yang tidak dilihat orang lain. Itu tanda pikiranmu sedang tidak sehat. Bukan salahmu, bukan keinginanmu. Itu karena kau terlalu sedih, terlalu berat menanggung duka yang datang bertubi-tubi."
"Duka apa?!" Jingga berdiri, suaranya meninggi bergetar.
"Semua itu bukan sekadar duka, Mas! Itu kenyataan pahit yang kau buat sendiri! Aku tidak gila, aku hanya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di jurang itu!"
Bima ikut berdiri, wajahnya berubah sedikit tegang, namun ia segera mengembalikan ekspresi prihatinnya. "Lihatlah, Jingga... kau terus bicara hal-hal yang membingungkan, menyalahkan diri sendiri, bahkan menuduh orang lain. Itulah kenapa kau butuh bantuan profesional. Dokter akan membantumu tenang, akan memberimu obat agar kau tidak lagi terbayang-bayang ketakutan itu."
"Ini bukan ketakutan yang tak berdasar!" Jingga mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
"Aku ada di sana, Mas! Aku melihatnya! Aku merasakannya! Dan sekarang kau ingin mengurungku supaya aku tak bisa bicara lagi, kan? Supaya rahasia kita tetap aman, dan kau bisa hidup tenang sendirian!"
"Kau bicara begitu karena pikiranmu sedang gelisah," Bima menggeleng pelan, seakan sungguh-sungguh kasihan.
"Semua orang akan mengerti. Mereka tahu betapa dekatnya kau dengan Ibu, betapa kau menyayangi Mawar. Kehilangan mereka dalam waktu yang begitu dekat... sungguh wajar jika hatimu tak sanggup menahannya."
"Mereka? Siapa yang akan mengerti?!" Jingga menatapnya tak percaya, air mata mulai menetes kembali. "Apa yang akan kau katakan pada mereka, Mas?"
Bima terdiam sejenak, lalu menatapnya lurus. "Aku akan bilang kau menderita depresi berat setelah kehilangan adik dan ibumu. Bahkan kau tak sanggup lagi membedakan kenyataan dan khayalan. Itulah yang akan kukatakan pada semua orang, dan mereka akan percaya, Jingga. Karena mereka sudah melihat perubahanmu, melihatmu murung, menangis tanpa sebab, berbicara sendiri."
Jingga ternganga, napasnya tertahan. "Kau... kau akan membuat semua orang menganggapku gila..."
"Bukan begitu, sayang," Bima mendekatkan wajahnya, suaranya melembut namun penuh tekanan. "Aku hanyalah suami yang berusaha sekuat tenaga menyelamatkan istrinya yang terpuruk dalam kesedihan. Tidak ada yang akan mencurigai apa-apa. Tidak ada yang akan bertanya. Dan kau... kau akan beristirahat, jauh dari sini, jauh dari semua yang menyakitimu."
"Itu bukan istirahat, itu penjara!" Jingga mendorong bahu pria itu sekuat tenaga. "Aku tidak mau pergi! Aku tidak mau!"
Namun tenaga Jingga tak sebanding dengan tekad Bima. Pria itu menahan kedua tangan istrinya dengan lembut namun kuat, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ditawar.
"Maafkan aku, Jingga. Aku melakukan ini demi kebaikanmu," ucap Bima pelan, namun tak ada penyesalan sedikit pun di matanya. "Semakin lama kau di sini, semakin berat bebanmu. Dokter akan merawatmu sampai pulih sepenuhnya."
"Jangan, Mas... kumohon... Jangan kirim aku ke sana. Aku janji akan diam, tidak akan bicara pada siapa pun. Kumohon..." Jingga melemah, kakinya tak sanggup menopang tubuhnya.
Bima menghela napas panjang, lalu melepaskan tangannya. Ia berbalik badan, berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi. "Sudah diputuskan. Besok pagi dokter akan datang menjemputmu."
***
Keesokan harinya, suasana rumah itu dipenuhi keramaian yang terasa menyakitkan. Beberapa kerabat dan tetangga datang, mendengar kabar yang disebarkan Bima tentang kondisi Jingga. Di hadapan mereka, Bima tampak sungguh-sungguh berduka. Matanya sembab, suaranya pelan dan serak, langkahnya tertunduk seakan tak sanggup menanggung beban itu sendirian.
"Terima kasih sudah datang..." ucap Bima kepada kerabat yang berdiri di ruang tamu, tangannya mencengkeram sapu tangan yang sesekali diusapkannya ke sudut mata. "Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jingga... dia semakin hari semakin tak seperti dirinya. Kehilangan Ibu dan Mawar begitu cepat... hatinya tak sanggup menerima kenyataan itu."
"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin, Bima. Kamu suami yang baik. Tidak banyak pria yang setia merawat istrinya dalam keadaan seperti ini." ucap salah satu kerabat dengan nada iba.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkannya?" Bima tersenyum getir, menundukkan wajahnya.
"Jingga segalanya bagiku. Aku hanya ingin dia sembuh, ingin dia kembali ceria seperti dulu. Jika harus menempuh jalan ini, aku akan ikhlas melakukannya, apa pun yang orang katakan."
Di ruang tengah itu, tak ada satu pun yang menyadari bahwa di balik kesedihan yang dipamerkan Bima, tersembunyi kelegaan yang tumbuh subur di hati pria itu. Semua orang justru memujinya, mengangguk-angguk penuh rasa hormat, berbisik-bisik betapa beruntungnya Jingga memiliki suami yang begitu pengertian dan setia.
Sementara itu, di kamar, Jingga duduk di tepi ranjang, dikelilingi oleh dua orang perawat yang menunggunya bersiap berangkat. Ia menatap pintu yang terbuka, berharap ada seseorang yang masuk, seseorang yang percaya padanya, yang mendengarkan ceritanya. Namun tak ada satu pun yang datang. Hanya suara Bima di luar, yang dengan lihainya mengubah kebenaran menjadi kebohongan yang dipercaya semua orang.
Ketika Bima akhirnya masuk ke kamar, pintu ditutup rapat di belakangnya. Wajahnya yang tadi penuh kesedihan perlahan berubah. Sapu tangan yang tadi digenggam erat kini diletakkan di meja, dan di bibirnya muncul senyuman tipis, dingin, namun tak bisa disembunyikan lagi.
"Kau..." Jingga menatapnya dengan mata yang masih berharap, meski hatinya sudah hancur berkeping-keping. "Apakah kau benar-benar akan melakukan ini padaku, Mas?"
Bima melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Jingga, namun tak ada kasih sayang yang tersisa di tatapannya. "Sudah kubilang, Jingga. Tidak ada yang boleh tahu. Tidak ada yang boleh membocorkan rahasia itu. Dan kau... kau hampir saja menghancurkan semuanya."
"Aku tidak akan bicara..." bisik Jingga lemah. "Kau bisa mengawasiku di sini..."
"Terlalu berisiko," potong Bima tenang. "Selama kau ada di sini, setiap orang yang menemuimu bisa mendengar ucapanmu. Di tempat yang akan kau tuju, tidak ada yang akan mendengarkan ucapan wanita yang dianggap sakit jiwa. Semua akan menganggapnya sebagai delirium semata."
Jingga terdiam, air matanya berhenti menetes, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. "Jadi... semua ini hanya untuk menyingkirkanku?"
Bima tersenyum lebih lebar, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku melindungi diri kita, Jingga. Sekarang, dengan kau pergi, aku bisa kembali hidup tenang."
"Bagaimana kau bisa tenang?" tanya Jingga lirih, suaranya nyaris tak terdengar. "Setiap kali menutup mata, kau akan melihat Mereka?"
Bima tertawa pelan, seakan mendengar hal yang lucu. "Aku tidak lemah sepertimu, Jingga. Aku tahu cara membedakan apa yang nyata dan apa yang sebaiknya dilupakan. Sekarang, bersiaplah. Mereka sudah menunggu."
Bima berbalik menuju pintu, lalu berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan wajah yang kembali berubah menjadi pria yang penuh duka, topengnya sudah terpasang rapi kembali.
"Pergilah dengan tenang, sayangku. Aku akan mengunjungimu... sesekali," ucapnya manis, lalu membuka pintu lebar-lebar, menyambut orang-orang di luar dengan wajah yang kembali menangis.
Jingga dipapah keluar dari rumah itu, diiringi tatapan iba semua orang. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa di balik jendela mobil yang membawanya pergi, ia menatap rumah itu dengan mata yang jernih, sadar sepenuhnya bahwa satu-satunya kebenaran kini akan terkunci rapat, bersama dirinya di tempat yang jauh.
Dan di depan pintu rumah itu, Bima berdiri tegak, melambaikan tangan hingga mobil itu hilang dari pandangan. Tak lama kemudian, senyum licik itu kembali muncul di wajahnya, mekar perlahan, seolah beban terberat di pundaknya baru saja diangkat pergi. Ia masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan untuk pertama kalinya sejak hari kelam itu, menghela napas panjang yang terasa benar-benar lega.
Bersambung...