NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Bibit-Bebet-Bobot

Nara

Sekar berbohong di telepon, jadi aku pulang satu hari lebih cepat.

Bayu mengirim tangkapan layar grup WhatsApp sebelum pesawat mendarat. Foto payung. Foto di gang yang dipotong. Komentar tentang pembantu yang mencari jalan naik kelas. Satu pesan dari nomor yang terhubung dengan teman arisan Ratih.

Aku membaca semuanya di mobil dari bandara.

Satu akun menyebut Sekar sengaja memakai aroma untuk memikat. Aku menyimpan tangkapan layarnya, bukan karena berniat membalas gosip dengan ancaman, tetapi karena orang itu nyaris menyentuh rahasia yang harus tetap tertutup. Bayu akan melacak apakah kalimat tersebut hanya tebakan Ratih atau ada kebocoran dari rumah.

"Jangan hubungi pengirim secara pribadi," kata Bayu. "Klarifikasi cukup melalui admin. Kalau ditekan langsung oleh keluarga kita, mereka akan mengaku korban."

"Lakukan lewat prosedur. Dan audit siapa saja yang tahu jadwal makan Sekar."

"Hanya pekerja rumah. Belum ada yang tahu mekanismenya."

Aku bersandar, sedikit lega. Nama baik bisa diperbaiki dengan fakta. Rahasia yang terbuka tidak bisa dimasukkan kembali.

"Jangan bertindak sebelum cek sumber," kata Bayu yang duduk di depan.

"Saya tahu."

"Wajah Bapak tidak menunjukkan itu."

Aku menutup ponsel. "Ibu sudah membuat klarifikasi?"

"Admin grup menghapus unggahan utama dan menjelaskan foto gang terkait laporan polisi. Tapi tangkapan layar sudah keluar."

"Sekar?"

"Masih di rumah. Bu Nah bersamanya. Ibu meminta dia menjaga jarak dari Bapak."

Rahangku mengeras.

Bayu menoleh. "Ibu tidak mengusir. Beliau khawatir akibat sosial jatuh ke Sekar."

"Dan solusinya perjodohan?"

"Makan malam keluarga malam ini. Bapak juga pulang untuk itu."

Aku melihat lampu Surabaya melewati jendela. Sepanjang hidup, keluarga menganggap pernikahan sebagai keputusan yang bisa disusun seperti portofolio. Bibit, bebet, bobot. Asal-usul, keadaan, kualitas. Prinsip itu tidak selalu buruk jika dipakai untuk mengenal pasangan. Di tangan orang yang takut kehilangan status, ia berubah menjadi pagar.

Sekar ditempatkan di luar pagar sebelum diberi kesempatan berdiri.

***

Dia berada di kamar bayi ketika aku tiba. Arka tertidur di ranjang. Pintu terbuka, Bu Nah melipat pakaian di dalam.

Sekar menatapku seolah tidak menyangka aku benar-benar pulang.

"Den bilang besok."

"Rapat selesai."

"Atau Den tahu grup WA?"

"Keduanya."

Bu Nah mengangkat tumpukan pakaian. "Saya antar ke laundry dulu. Pintu tetap terbuka."

Sekar langsung menahannya. "Bu tetap di sini."

Permintaan itu menusuk, tetapi masuk akal. Dia sedang mematuhi batas setelah namanya diseret.

"Tidak apa-apa," kataku. "Saya hanya ingin memastikan kau tidak pergi."

"Kalau saya ingin pergi?"

"Saya akan bertanya alasan, bukan mengunci gerbang."

"Ibu bilang perhatian Den membuat saya menanggung omongan."

"Ibu benar soal akibatnya. Bukan berarti solusinya membuatmu menghilang."

"Den akan dijodohkan."

"Saya tahu."

Wajahnya memucat sedikit. "Den tidak keberatan?"

"Saya belum bicara dengan keluarga."

"Itu bukan jawaban."

Sekar belajar terlalu baik dariku.

"Datang ke ruang makan malam ini," kataku. "Kau akan mendengar jawabannya bersama semua orang."

"Saya hanya pekerja."

"Kau bertugas menyajikan makan malam seperti biasa. Saya tidak meminta kau duduk dalam rapat keluarga. Saya hanya tidak ingin jawaban saya dipelintir dan sampai kepadamu lewat orang lain."

Dia menatapku lama. "Den, jangan melawan keluarga hanya karena kasihan."

"Saya tidak pernah kasihan."

"Lalu apa?"

Bu Nah pura-pura sibuk dengan pakaian, tetapi telinganya jelas mendengar.

Aku hampir menjawab. Waktu dan tempatnya salah. Perasaan yang belum disusun tidak pantas dilemparkan di kamar bayi sebagai reaksi terhadap gosip.

"Malam ini saya menolak perjodohan," kataku. "Untuk jawaban lain, beri saya waktu agar saya bisa mengatakannya dengan benar."

"Kalau jawaban lain itu membuat Den kehilangan keluarga?"

"Saya tidak sedang memilih antara kau dan keluarga. Saya meminta keluarga menghormati keputusan hidup saya."

"Mereka akan bilang saya penyebabnya."

"Karena itu saya tidak akan menyebut namamu sebagai alasan tunggal. Saya menolak karena tidak mau mempermainkan calon mana pun dan tidak mau pernikahan dipakai sebagai pemadam gosip. Itu keputusan saya."

Sekar memandang Arka yang tidur. "Saya takut Den membuat keputusan besar saat marah."

"Saya juga. Makanya saya menunggu sampai makan malam, bukan menelepon dari bandara."

Bu Nah mengangguk puas dari belakang pakaian. "Bagus. Setidaknya Den belajar menahan lima jam."

Aku menatapnya. Sekar menutup senyum.

Sekar tidak tersenyum, tetapi bahunya sedikit turun.

***

Makan malam dimulai pukul tujuh tepat.

Bapak duduk di kepala meja. Ibu membawa map tipis berisi profil calon. Mas Bagas dan Ratih hadir sebagai keluarga. Sekar berdiri di sisi meja bersama Bu Nah, menyajikan sup buntut dan nasi.

Aku duduk berhadapan dengan kursi kosong yang seolah sudah disiapkan untuk perempuan dari keluarga terpilih.

"Kita bicara langsung," kata Bapak. "Kau tiga puluh dua tahun. Sudah waktunya membangun keluarga."

"Saya tidak menolak pernikahan."

Ibu tampak sedikit lega. "Bagus. Kami sudah menyaring beberapa nama. Tidak ada paksaan memilih satu malam ini. Kau bertemu dulu."

Dia membuka map. Putri pemilik grup distribusi. Pengacara dari keluarga pejabat. Dokter yang baru kembali dari Singapura. Semua berpendidikan, terhormat, dan mungkin perempuan baik.

Masalahnya bukan mereka.

Masalahnya adalah seluruh proses disusun untuk membuktikan bahwa perempuan seperti Sekar tidak mungkin masuk perhitungan.

Bapak berbicara tentang bibit. Keluarga tanpa catatan memalukan, orang tua jelas, lingkungan terjaga.

Dia menyebut keluarga pengusaha distribusi yang sudah tiga generasi berbisnis tanpa perkara hukum besar. Pernikahan, menurutnya, membawa dua reputasi ke satu meja. Jika satu keluarga punya utang, konflik, atau skandal, pasangan akan ikut menanggung.

Ibu menambahkan bebet. Pendidikan, kemampuan membawa diri, jaringan sosial.

Dia menjelaskan perempuan yang biasa hadir di acara resmi tidak akan canggung menghadapi mitra bisnis, arisan sosial, atau keluarga besar Solo. Semua hal yang tidak pernah punya kesempatan dipelajari Sekar karena hidupnya dihabiskan untuk bertahan.

Ratih menyebut bobot. Paras, kecakapan, dan kemampuan mendukung suami.

"Dan setidaknya bukan orang yang bergantung pada gaji rumah ini," tambahnya.

Sekar menuang air tanpa mengangkat muka. Satu tetes jatuh di luar gelas.

"Kemandirian tidak ditentukan oleh saldo awal," kataku. "Ada orang lahir kaya lalu memakai kuasa untuk memfitnah. Ada orang datang dengan satu tas dan bekerja membangun hidupnya."

Ratih memucat. Mas Bagas menyembunyikan reaksi dengan mengambil air.

"Kalau semua dinilai dari keluarga," kata Mas Bagas, "orang tidak punya kesempatan menjadi lebih baik dari tempat lahirnya."

Bapak menatapnya. "Asal bukan satu-satunya, tapi tetap penting. Kita tidak hidup sendiri."

"Betul," jawabku. "Karena itu karakter seseorang harus dinilai dari tindakannya, bukan utang ayahnya atau pekerjaannya hari ini."

Tangan Sekar yang memegang teko air berhenti sesaat.

Ibu menangkap arah kalimatku. "Nara, jangan campurkan pembicaraan ini dengan gosip."

"Gosip dibuat karena keluarga tidak menjelaskan batas dengan benar."

Ratih mendengus. "Jadi kau mau mengakui pembantu itu pilihanmu?"

Sekar menunduk. Bu Nah berdiri lebih dekat kepadanya.

"Saya belum membicarakan Sekar sebagai pilihan pernikahan," jawabku. "Saya sedang mengatakan cara kalian menyebut latar belakangnya seolah aib adalah salah."

"Kau membela terlalu jauh," kata Bapak.

"Karena tuduhannya juga terlalu jauh."

Ibu menutup map. "Baik. Kita pisahkan Sekar dari pembicaraan. Sekarang jawab sebagai anak kami. Bersediakah kau bertemu calon yang kami pilih?"

Itulah pertanyaan sebenarnya.

Aku melihat profil di atas meja. Dalam keadaan lain, aku mungkin menerima pertemuan demi kesopanan, lalu menolak pelan. Itulah cara yang diharapkan keluarga: tidak membuat gelombang, menjaga wajah semua orang.

Namun menerima sekarang akan menjadikan Sekar harga yang dibayar untuk memadamkan gosip. Itu akan mengajarinya bahwa keluarga bisa mendorongnya kembali ke tempat kecil setiap kali omongan muncul.

Lebih buruk lagi, aku akan menyakiti perempuan-perempuan dalam daftar yang datang dengan niat baik. Mereka pantas bertemu lelaki yang benar-benar terbuka, bukan seseorang yang pikirannya terus kembali pada pengasuh di rumah. Kesopanan palsu bukan kebajikan.

Aku melihat ke arahnya.

Dia tidak berani mengangkat kepala. Jarinya mencengkeram teko. Tubuhnya terlihat siap menerima jawaban yang akan melukainya tanpa membuat satu suara pun.

Tiba-tiba aku memahami sumber kemarahanku.

Selama ini aku mengira perlindungan berarti menutup gerbang, menyimpan bukti, dan memastikan Sekar makan. Malam ini perlindungan berarti menerima bahwa tindakanku sendiri harus punya konsekuensi. Aku tidak bisa terus memberinya perhatian istimewa lalu bersembunyi di balik status majikan saat keluarga menekan.

Aku belum siap menyebutnya calon istri. Kami belum saling berjanji. Tetapi aku siap berhenti membiarkan orang lain menyusun hidupku dengan cara yang menjadikan dirinya korban sampingan.

Aku tidak menolak pernikahan. Aku menolak dunia yang menyuruhku memilih perempuan berdasarkan daftar sambil mengabaikan satu-satunya orang yang mampu mengacaukan seluruh ketenanganku.

Orang yang ingin kujaga bukan nama dalam map.

Dia berdiri di sisi meja, dikeluarkan dari standar sebelum pernah dinilai.

Aku meletakkan sendok.

Bunyi logam menyentuh piring membuat semua orang diam.

"Saya tidak mau bertemu mereka," kataku.

Wajah Bapak mengeras. "Pikirkan sebelum menjawab."

"Saya sudah berpikir."

Ibu memegang map. "Nara, satu pertemuan bukan akad."

"Tetap memberi harapan yang tidak akan saya penuhi."

"Karena siapa?" tanya Ratih.

Aku tidak memberinya kepuasan mengubah Sekar menjadi sasaran malam ini. Belum ada janji antara kami. Melindungi bukan berarti mengumumkan hubungan yang belum dia setujui.

Aku menatap Bapak dan Ibu.

"Aku tak mau dijodohkan."

Kalimat itu jatuh di tengah meja.

Map di tangan Ibu membeku. Bapak menatapku dengan kemarahan yang perlahan naik. Mas Bagas berhenti bernapas, Ratih membuka mulut, dan teko di tangan Sekar bergetar.

Tak seorang pun sempat mengucapkan kata berikutnya.

Untuk pertama kali, demi perempuan yang berdiri di luar pagar keluarga, aku menantang aturan rumah ini di depan semua orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!