NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 JANJI DI BAWAH SINAR PURNAMA

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

Di malam berikutnya...

Malam beranjak semakin larut, memamerkan keagungannya lewat piringan bulan purnama yang menggantung sempurna di tengah kanvas langit hitam

Cahaya berwarna sedikit keperakan dari rembulan memancar tanpa halangan awan, menyirami hamparan perbukitan dan atap-atap rumah desa dengan pendaran perak yang mistis namun teramat indah.

Di teras rumahnya, Zaki duduk di atas kursi kayu panjang.

Di sebelahnya, dengan jarak yang dijaga oleh norma namun disatukan oleh getaran hati yang sama, duduklah Dek Wiwi.

Gadis itu mengenakan gamis sederhana berwarna merah marun dan pashmina hitam yang membingkai wajah kuning langsatnya, membuatnya tampak begitu anggun di bawah cahaya bulan.

Mereka baru saja selesai menghadiri acara syukuran kecil-kecilan di mushala desa.

Alih-alih langsung pulang, Wiwi menyanggupi permintaan Zaki untuk mampir sejenak di teras rumah pemuda itu.

Suasana terasa sangat intim dan magis.

Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi bunga melati dari pekarangan sebelah. Dua gelas teh manis panas yang uapnya kian menipis tergeletak di atas meja kayu di hadapan mereka, belum tersentuh sama sekali.

Zaki menoleh menatap Wiwi. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti ritme saat ia berhadapan dengan Pak Doyo pagi tadi. Namun kali ini, rasa gugupnya bercampur dengan sebuah euforia kebahagiaan yang meluap-luap tak terkendali.

"Dek Wiwi," panggil Zaki dengan suara rendah dan serak, memecah simfoni jangkrik malam itu.

Wiwi menoleh. Matanya yang bulat bening memantulkan cahaya pudar dari rembulan, menatap Zaki dengan kepolosan yang selalu berhasil meluluhkan seluruh pertahanan batin pemuda tersebut.

"Inggih, Mas Zaki?" (Iya, Mas Zaki?) sahut Wiwi lembut.

Zaki menarik napas panjang. Ia memajukan sedikit posisi duduknya.

"Kemarin pagi... saya pakai baju rapi banget. Pakai batik, pakai pantofel. Dek Wiwi sempat lihat, kan, waktu saya jalan lewat depan dapur rumah Dek Wiwi?" tanya Zaki memulai percakapan, mencoba mengurai ketegangan.

Wiwi menunduk malu, menganggukkan kepalanya pelan. "Inggih, Mas. Kulo ningali saking jendhelo dapur. Kulo kinten Mas Zaki badhe tindak kondangan teng desa sebelah," (Iya, Mas. Saya melihat dari jendela dapur. Saya kira Mas Zaki mau pergi kondangan ke desa sebelah).

Zaki terkekeh pelan. "Bukan, Dek. Saya nggak pergi kondangan." Zaki memberi jeda, membiarkan keheningan mengambil alih selama beberapa detik untuk membangun keseriusan.

"Saya pergi ke teras rumah Dek Wiwi. Nemuin Pak Doyo." tambah Zaki.

Mendengar nama bapaknya disebut, Wiwi sontak mengangkat wajahnya. Keningnya berkerut bingung. "Wonten kaperluan nopo, Mas, kok ngantos dandan rapi sanget namung panggih Bapak teng teras?" (Ada keperluan apa, Mas, kok sampai dandan rapi sekali cuma ketemu Bapak di teras?) tanya Wiwi, yang ternyata dirinya belum diberitahu oleh Bapaknya sendiri. Membiarkan Zaki yang mengatakan sejujurnya kepada Wiwi.

Zaki menatap lurus ke dalam bola mata Wiwi. Sorot matanya kini berubah menjadi sangat intens, mengunci seluruh atensi gadis di hadapannya.

"Saya datang nemuin Pak Doyo... buat minta restu, Dek."

Napas Wiwi tercekat.

Gadis itu terdiam membeku, seolah waktu di sekitarnya mendadak berhenti berputar.

Mulutnya sedikit terbuka, namun pita suaranya kehilangan fungsi untuk mengeluarkan suara sekecil apa pun.

Ia menatap Zaki dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencerna rentetan kata yang baru saja diucapkan oleh laki-laki yang diam-diam telah menguasai relung hatinya selama berbulan-bulan ini.

"Saya sudah minta izin sama bapak kamu, Dek," lanjut Zaki, suaranya kini terdengar bergetar menahan luapan emosi.

"Saya minta izin untuk menjaga kamu. Untuk mengambil alih tanggung jawab bapak kamu. Untuk membimbing kamu di dunia dan di akhirat." tambah Zaki dengan suara yang terdengar amat gentleman.

Zaki menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, tak memedulikan apa pun lagi selain perempuan yang kini mulai meneteskan air mata di hadapannya.

"Dek Wiwi..." panggil Zaki, kali ini menyebut namanya dengan nada yang teramat dalam dan penuh permohonan.

"Saya bukan laki-laki sempurna. Masa lalu saya berantakan. Tapi sejak ada kamu, hidup saya rasanya utuh kembali. Kamu adalah ketenangan yang selalu saya cari." tambah Zaki.

Zaki mengangkat tangan kanannya, ragu sejenak, namun akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh ujung tangan kanan Wiwi, sebuah sentuhan yang sangat sopan namun penuh makna.

"Maukah kamu... nemenin saya selamanya? Jadi istri saya? Mengabdi sama Sang Pencipta bareng-bareng sama saya di desa ini?"

Pertanyaan itu akhirnya meluncur bebas, membelah keheningan malam purnama dengan kekuatan cinta yang tak terbantahkan.

Wiwi tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya.

Tangis bahagianya pecah.

Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar. Bahunya naik turun seiring dengan isak tangis yang terdengar begitu pilu namun sarat akan kelegaan.

Berbulan-bulan ia memendam perasaannya, takut berharap terlalu tinggi pada pemuda tampan dari ibu kota, dan malam ini... pemuda itu membuktikan bahwa cintanya bukanlah ilusi semata.

"Mas Zaki..." isak Wiwi pelan, berusaha merangkai kata di tengah tangisannya. Ia perlahan menurunkan tangannya, menatap Zaki dengan wajah yang basah oleh air mata namun dihiasi oleh senyuman yang teramat mempesona.

"Menawi Bapak sampun ridho... menawi Gusti Allah sampun ngidini... Kulo purun, Mas. Kulo purun dados garwane panjenengan..." (Kalau Bapak sudah ridha... kalau Allah sudah mengizinkan... Saya mau, Mas. Saya mau jadi istri Mas...).

Jawaban itu menghantam relung dada Zaki dengan ledakan kebahagiaan berskala dahsyat.

Rasanya seperti ada kembang api yang meledak-ledak di dalam kepalanya.

Zaki mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mengucapkan "Alhamdulillah" berkali-kali dengan suara parau.

Ia tak memeluk Wiwi, menjaga kesucian janjinya hingga hari akad tiba, namun tatapan matanya menyiratkan sebuah pelukan batin yang luar biasa erat.

Mereka berdua terdiam, membiarkan derai air mata kebahagiaan dan senyuman menjadi bahasa yang mengutarakan seluruh isi hati. Tak ada lagi kata-kata yang diperlukan.

Malam itu, di bawah siraman cahaya bulan purnama yang benderang, sebuah janji suci telah terikat kuat.

Zaki menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menengadahkan wajahnya, menatap bulatnya bulan purnama di langit malam.

Dalam batinnya, sebuah monolog kemenangan bergema dengan sangat angkuh.

"Aku telah menang," batin Zaki, tersenyum bangga pada semesta.

"Aku telah mengalahkan kutukan duniaku sendiri. Aku telah memutus benang merah gaib yang membelengguku pada masa lalu. Dan malam ini... pelabuhanku telah kutemukan. Takdirku adalah Wiwi. Bukan Nisa, bukan Dayang Putri, bukan Sekar Mayang, dan bukan siapa pun lagi. Aku adalah penulis takdirku sendiri."

Zaki merasa sangat aman.

Sangat tenang.

Sangat sempurna.

Ia tak pernah tahu, dan tak akan pernah menyadari, bahwa di belahan ruang dan waktu yang lain, putaran roda takdir yang sesungguhnya baru saja bergeser.

Di ujung kebahagiaan tertingginya ini, semesta sedang mempersiapkan sebuah ironi yang teramat kejam.

Menertawakan kenaifan seorang manusia yang berpikir bahwa ia bisa berlari menghindar dari garis nasib yang telah ditulis jauh sebelum ia dilahirkan.

Bulan purnama terus bersinar terang...

Menyimpan rapat-rapat rahasia tentang...

BADAI YANG AKAN SEGERA MENGHANTAM DENGAN SANGAT BRUTAL TAK BERPERASAAN!

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!