Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Yang Pulang Setelah Tiga Tahun
Baskara berjalan melewati gerbang tanpa menoleh kepada satu pun kamera.
Setiap langkahnya membuat halaman yang gaduh semakin sunyi. Para pengawal bersetelan gelap menyebar di belakangnya, tidak mengangkat senjata, tetapi kehadiran mereka cukup untuk memaksa wartawan mundur dari pagar.
Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun mengikuti setengah langkah di belakang. Setelannya sederhana, gerakannya nyaris tak bersuara.
"Amankan batas rumah, Panji," kata Baskara.
"Baik, Ndoro."
Satu perintah pendek mengubah susunan seluruh halaman. Personel tanpa lambang yang tadi mengarahkan senapan kepada Ratri bergeser ke perimeter luar. Polisi yang hendak memasang borgol ikut berhenti, seolah baru menyadari bahwa pasukan itu tidak pernah datang untuk menangkap siapa pun.
Mereka datang untuk melindungi Baskara.
Ratri memandang lelaki yang tiga tahun menghilang dari hidupnya.
Wajah itu masih sama, tetapi sekaligus berbeda. Baskara lebih kurus. Tulang pipinya lebih tegas, kulitnya pucat, dan sorot matanya membawa kelelahan yang tidak pernah ada pada malam akad nikah mereka.
Ia hidup.
Ratri tidak terkejut. Jauh di dalam dirinya, ia selalu tahu lelaki itu belum mati. Tidak ada bukti yang bisa ia tunjukkan, hanya keyakinan keras kepala yang bertahan di antara semua berita kematian.
Yang tidak pernah ia ketahui adalah tempat persembunyiannya.
Atau alasan ia baru pulang malam ini.
Baskara berhenti beberapa langkah di depan Ratri. Tatapannya turun sepersekian detik ke darah di belakang kepala dan tangan perempuan itu, lalu kembali ke wajahnya.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pertanyaan apakah ia baik-baik saja.
Hanya sesuatu yang bergerak singkat di mata Baskara sebelum wajahnya kembali sedingin batu.
Ratri mengencangkan genggaman pada belati.
"Serahkan pisaunya," kata Baskara.
Itulah kalimat pertama yang ia tujukan langsung kepada istrinya setelah tiga tahun.
Bukan maaf. Bukan aku pulang. Bukan pula bagaimana lukamu.
Ratri mengangkat sebelah alis. "Khawatir saya melukai keluarga Anda lagi?"
"Tanganmu gemetar."
"Bukan urusan Anda."
Baskara mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas. "Ratri."
Cara lelaki itu menyebut namanya membuat sesuatu di dada Ratri berdenyut keras. Ia membencinya. Bukan karena kasar, melainkan karena terlalu akrab, seolah tiga tahun kosong di antara mereka tidak pernah ada.
Ratri membalik belati dan menyerahkan gagangnya kepada Wira, bukan kepada Baskara.
"Simpan."
"Baik, Nyai."
Mata Baskara berpindah kepada Wira. Pengawal itu menegakkan bahu, siap menerima apa pun. Tidak ada kecemburuan di wajah Baskara, hanya penilaian dingin terhadap seorang asing yang berdiri lebih dekat kepada istrinya daripada dirinya sendiri.
"Panggil dokter saya," kata Baskara kepada Panji.
"Tidak perlu," potong Ratri.
"Kepalamu terluka."
"Saya punya mata."
"Kau kehilangan banyak darah."
"Dan saya masih berdiri tanpa bantuan Anda. Seperti tiga tahun terakhir."
Kalimat itu tidak diucapkan keras. Namun, Panji menunduk, sementara rahang Baskara mengeras.
"Dokter tetap masuk," katanya.
"Kalau orang Anda menyentuh saya sebelum polisi mengamankan kamar dan barang bukti, saya anggap dia bagian dari upaya menghilangkan bukti."
Baskara menatapnya lama. Dulu Ratri akan mengangguk pada hampir semua yang ia katakan. Perempuan di hadapannya sekarang menyusun batas seperti tembok, satu kalimat untuk setiap batu.
"Baik," jawabnya akhirnya. "Tidak ada yang menyentuhmu sebelum tempat kejadian diamankan. Setelah itu, kau diperiksa."
"Anda tidak berhak mengatur saya."
"Kalau begitu anggap saya sedang membuat permintaan."
Ratri tersenyum dingin. "Permintaan Anda terlambat tiga tahun."
Untuk pertama kalinya, ketenangan di mata Baskara retak. Sangat singkat, tetapi cukup dilihat Panji.
Di luar gerbang, wartawan terus meneriakkan nama mereka. Kepulangan Baskara dan penolakan Ratri berdiri bersebelahan dalam satu siaran langsung. Dalam hitungan menit, potongan video bertuliskan `SUAMI YANG HILANG PULANG SAAT ISTRI HENDAK DITANGKAP` sudah menyebar ke ribuan akun.
Baskara membiarkannya. Malam ini, dunia harus melihat dua hal. Ia masih hidup, dan Ratri tidak akan dibawa pergi tanpa perlindungan hukum.
"Siapa yang memimpin?" tanya Baskara.
Perwira polisi maju. "Saya. Kami datang berdasarkan laporan penganiayaan berat dan percobaan pembunuhan."
Baskara akhirnya mengalihkan perhatian dari Ratri. "Di rumah saya?"
"Ya. Terlapor adalah Bu Ratri Kusuma."
"Saya dengar." Nada Baskara datar. "Siapa pelapornya?"
Suryani mengangkat tangan dari dekat ambulans. "Saya! Baskara, lihat apa yang dilakukan istrimu. Dia mencambuk saya dan hampir membunuh adikmu."
Baskara memandang luka di bahunya, lalu Bimo yang berdiri dengan tubuh oleng.
"Kami perlu membawa Bu Ratri untuk diperiksa," lanjut perwira itu. "Dia juga mengeluarkan senjata dan menolak perintah petugas."
"Apakah dia menyerang Anda?"
"Belum, tetapi..."
"Apakah senjatanya mengarah kepada Anda?"
Perwira itu terdiam. Belati Ratri masih menunjuk tanah.
"Kami harus mencegah risiko."
"Bagus. Cegah dengan prosedur yang benar."
Baskara mengulurkan tangan. Panji segera memberinya sebuah telepon. Ia tidak mencari nomor, hanya menyentuh layar sekali lalu menyerahkannya kepada perwira itu.
"Atasan Anda."
Lelaki tersebut tidak langsung menerima. "Maaf?"
"Anda datang membawa personel, kejaksaan, ambulans, dan media sebelum mengamankan tempat kejadian. Saya ingin tahu apakah atasan Anda menyetujui cara kerja seperti ini."
Telepon di tangan Baskara berdering.
Perwira itu menatap layar. Hanya satu baris jabatan yang muncul, tetapi cukup untuk membuat bahunya kaku. Ia menerima perangkat tersebut dengan kedua tangan.
"Selamat malam, Pak."
Jawaban dari seberang tidak terdengar oleh orang lain. Wajah perwira itu berubah dalam beberapa detik.
"Siap. Kami akan amankan barang bukti terlebih dahulu. Ya, Pak. Pemeriksaan terjadwal. Tidak ada tindakan paksa tanpa dasar tambahan. Siap."
Ia mengembalikan telepon kepada Baskara.
"Kami akan menyegel kamar dan mengambil rekaman. Bu Ratri tetap harus memberikan keterangan."
"Pengacara kami akan mengatur waktunya setelah lukanya dirawat," kata Baskara. "Saya menjamin dia tidak meninggalkan Jakarta."
"Baik."
Suryani melangkah maju dengan marah. "Apa maksudnya baik? Dia penjahat! Tangkap sekarang!"
Perwira itu menahan napas. "Bu Suryani, laporan tetap diproses. Semua pihak akan diperiksa, termasuk Den Bimo."
"Bimo korban!"
"Ada dugaan obat dalam minuman dan kekerasan di kamar Bu Ratri. Kami harus memeriksa semuanya."
Bimo menggeleng cepat. "Itu fitnah."
"Kalau begitu, hasil laboratorium akan membersihkan nama Anda."
Kali ini Bimo tidak menjawab.
Baskara menoleh kepada Panji. "Pastikan semua rekaman asli diserahkan dengan salinan berita acara. Tidak ada yang hilang."
"Sudah, Ndoro. Tim kami sedang mendampingi penyidik."
Perwira polisi mendengar jawaban itu dan kembali menatap Panji. Tim Baskara sudah bergerak bahkan sebelum ia memberi perintah. Tidak ada kepanikan, tidak ada suara keras. Hanya orang-orang yang tahu persis siapa harus melakukan apa.
"Wartawan?" tanya Baskara.
"Sudah berada di luar garis rumah. Siaran mereka tetap berjalan dari jalan umum."
"Biarkan. Mereka perlu merekam bahwa saya masih hidup."
Kalimat itu jatuh begitu saja, tetapi efeknya terasa sampai luar pagar.
Tuduhan bahwa Ratri membunuh suaminya baru saja kehilangan korban.
Suryani juga menyadarinya. Ia buru-buru mengubah arah serangan.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi selama kau pergi, Baskara. Perempuan ini mengambil alih rumah, membawa puluhan lelaki, dan mempermalukan nama Adiningrat. Malam ini dia memancing Bimo ke kamarnya. Ketika Bimo menolak, dia mengamuk."
Bimo mengangguk. "Benar, Mas Baskara. Aku cuma mau menolong. Dia mengirim pesan menyuruhku datang diam-diam."
Baskara menatap adik seayahnya untuk pertama kali.
Bimo yang tadi berani menantang satu halaman penuh pengawal langsung menundukkan kepala.
"Kemarilah," kata Baskara.
Bimo melangkah terpincang. Ia sengaja berdiri di sisi bahunya yang terluka agar perban merah terlihat jelas.
"Lihat, Mas. Dia menusukku. Orang-orangnya juga memukulku sampai begini. Kalau Mama terlambat datang, mungkin aku sudah mati."
Baskara tidak melihat perbannya.
"Kau masuk lewat mana?"
"Apa?"
"Kamar itu berada di sayap dalam. Tiga pintu akses memakai sidik jari. Kau masuk lewat mana?"
Bimo membuka mulut, lalu melirik Suryani.
"Aku... pintunya terbuka."
"Pintu yang mana?"
"Pintu lorong."
"Lorong dalam tidak terhubung dengan kediaman Mama Suryani."
Baskara mengambil satu langkah mendekat.
"Rumah ini dibangun sebagai rumah pernikahan saya dan Ratri. Keluarga lain tinggal di paviliun terpisah. Jadi, Bimo, apa yang kau lakukan di kamar istri saya lewat tengah malam?"
Keringat muncul di dahi Bimo.
"Dia yang memanggilku."
"Pesannya mana?"
"Sudah dihapus."
"Nyaman sekali."
Ratri mendengar sindiran itu tanpa mengubah wajah. Tiga tahun lalu, Baskara juga berbicara dengan nada pendek seperti ini. Namun, saat itu ia selalu menjaga jarak, seakan Ratri adalah tanggung jawab yang tidak pernah ia minta.
Sekarang tatapan lelaki itu terasa lebih gelap.
Lebih berbahaya.
"Baskara," potong Suryani, "jangan biarkan dia membalik keadaan. Kau baru pulang dan belum tahu betapa kotornya perempuan ini. Semua pengawal di rumah ini sudah tidur dengannya. Mungkin Wira juga. Bimo masih muda dan punya prinsip. Kalau dia benar-benar berniat buruk, untuk apa menolak saat Ratri menawarkan diri?"
Wira mengumpat pelan.
Para pengawal Ratri menatap Suryani dengan wajah dingin. Polisi yang sedang mengambil foto bukti pun berhenti sesaat karena jijik.
Baskara justru memandang Ratri.
Belati masih di tangannya. Darah masih mengalir. Namun, perempuan itu tidak membela diri. Matanya hanya menyimpan kebencian yang tenang, seolah apa pun yang dipilih Baskara malam ini tidak akan lagi mampu melukainya.
Itulah tatapan yang paling tidak sanggup ia terima.
"Jadi," kata Baskara perlahan, "selama saya pergi, kalian memperlakukan istri saya seperti ini?"
Suryani tidak menangkap perubahan pada kalimat tersebut. Ia mengira lelaki itu sedang menuntut penjelasan dari Ratri.
"Dia pantas menerimanya. Perempuan tanpa didikan, sama seperti ibunya. Kalau kau masih punya harga diri, usir dia malam ini. Bimo dan saya akan menjadi saksi."
"Saksi?"
"Tentu. Bimo adalah korban."
Baskara menoleh lagi kepada Bimo. Tatapannya turun ke darah di perban, memeriksa setiap luka tanpa belas kasihan.
"Baik," katanya.
Suryani mengembuskan napas lega. Senyum kemenangan mulai muncul di wajahnya.
Ratri tidak bergerak.
Baskara menyerahkan telepon kepada Panji, lalu membuka kancing mansetnya dengan gerakan tenang.
"Panggil orang-orang kita."
Empat lelaki bertubuh besar maju dari belakang barisan.