NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Terlepas di Balik Semak Pinus

Jalur setapak di antara pepohonan pinus terasa makin sepi dan dingin. Suara keriuhan anak-anak yang sedang piknik perlahan memudar, berganti dengan siulan angin malam yang menerobos rindangnya dedaunan.

Bu Siska menghentikan langkahnya di balik sebuah pohon pinus raksasa yang berada di area blind spot—zona tanpa sinyal radio maupun pemantauan kamera pengawas. Ia melepaskan pegangan tangannya, lalu berbalik menatap Lala.

Seketika itu juga, raut wajah hangat seorang guru TK sirna sepenuhnya. Mata Bu Siska menyipit tajam, memancarkan kejamnya seorang agen senior dari Arachne—organisasi rahasia internasional yang sudah bertahun-tahun berburu aset eksperimen genetik.

"Tidak ada tenda mewarnai, Subject 04," ucap Bu Siska dengan suara dingin yang menusuk. "Piknik konyol ini sudah selesai."

Lala mengerjap-kerjakan mata bulatnya, memiringkan kepala dengan bando telinga pandanya yang ikut terkulai. "Subject 04? Nama Lala kan Lala Leonhart, Bu Guru! Nama pahlawan panda!"

Bu Siska terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Lala Leonhart? Jangan konyol. Kamu itu cuma produk laboratorium bernilai miliaran dolar yang dipungut oleh dua orang biasa."

Dari balik lipatan gaun kremnya, Bu Siska menarik keluar sebilah jarum suntik berisikan cairan penenang dosis tinggi.

"Dua orang tua angkatmu itu... si pegawai kantor penakut Chiko dan ibu rumah tangga lemah Mila... mereka sama sekali tidak tahu apa-apa," lanjut Bu Siska dengan senyuman culas. "Begitu kamu pingsan dan kubawa pergi, orang tuamu yang malang itu cuma bisa menangis bingung tanpa tahu siapa yang mengambilmu."

Bagi anak empat tahun biasa, ancaman dan jarum suntik itu pasti akan membuat mereka menangis histeris. Namun, Lala justru menghembuskan napas panjang, menepuk-nepuk jidat mungilnya dengan telapak tangan kecilnya.

"Hah... Paman dan Bibi penjahat itu memang sama saja ya," gumam Lala dengan raut wajah sangat gersang. "Suka sekali banyak bicara sebelum bertindak. Padahal Lala sudah haus mau minum es teh manis."

Bu Siska menegang. "Apa kamu bilang?!"

Lala menatap lurus ke arah mata Bu Siska. Binar kepolosan di mata bulatnya seketika meredup, berganti menjadi sorot kejeniusan mutlak yang sangat dingin.

"Ibu Guru Siska... atau lebih tepatnya Agen Kobra dari Sindikat Arachne," panggil Lala dengan nada suara yang amat tenang. "Ibu Guru pikir, kenapa Lala mau-mau saja diajak jalan ke tempat sepi begini?"

Bu Siska tersentak kaget. Bagaimana anak ini bisa tahu nama sandiku?!

"Satu," Lala mengangkat satu jari mungilnya. "Supaya Papa dan Bunda tidak panik melihat Lala hilang di depan umum."

"Dua," Lala mengangkat jari keduanya. "Supaya Lala bisa meretas seluruh data bank sandi Arachne dari jam tangan pintar Ibu Guru."

Lala mengetuk tombol di kotak pensil panda raksasa yang digendongnya. KLIK. Sebuah proyeksi hologram mikro berwarna biru muncul di udara, menampilkan seluruh daftar nama anggota dan peta markas rahasia Arachne di Asia Tenggara.

"Tiga..." Lala menyunggingkan senyuman paling manis namun mematikan. "Supaya Lala bisa coba tombol kejutan baru di kotak pensil ini!"

"Bocah sialan!" teriak Bu Siska murka. Ia melangkah maju dengan kecepatan kilat, menghantamkan jarum suntiknya ke arah leher Lala!

Namun, sebelum ujung jarum itu menyentuh kulit Lala...

BZZZZZT—BOOM!

Sebuah gelombang kejut kejutan listrik berdaya 50.000 volt menyembur keluar dari telinga panda pada kotak pensil Lala! Gelombang itu menghantam dada Bu Siska dengan sangat telak.

"AAARRGGHH!"

Tubuh Bu Siska terpental tiga meter ke belakang, menghantam batang pohon pinus dengan keras sebelum jatuh terjerembap ke atas tanah. Jarum suntiknya pecah berkeping-keping, dan pakaian taktisnya mengeluarkan asap tipis.

Bu Siska terengah-engah, memegangi dadanya yang terasa terbakar, menatap anak empat tahun di depannya dengan rasa horor yang amat sangat. Anak ini... dia bukan sekadar genius... dia monster!

"Aduh, maaf ya Bu Guru Siska," ujar Lala polos, kembali memoles suara anak-anaknya yang menggemaskan sambil berjalan mendekat. Puk-puk-puk. "Tombolnya agak sensitif, jadi kejutannya agak kencang sedikit!"

Tiba-tiba, dari arah semak-semak sebelah kiri, sebuah sensor peretas mikro pelumpuh saraf meluncur deras dan menancap tepat di leher belakang Bu Siska, menyetrum seluruh jaringan sarafnya hingga wanita itu pingsan seketika!

Bzzzt... pfft.

Lala melirik ke arah semak-semak kiri melalui lensa pintarnya. Di sana, Chiko sedang mengintip dari balik pohon besar dengan konsol jam tangan Pentagon di tangannya.

‘Wah, Papa menyetrum Bu Siska dari jauh!’ batin Lala gembira.

Di saat bersamaan, dari arah dahan pohon sebelah kanan, sebuah pisau lempar titanium meluncur kilat, menancap tepat di lengan gaun Bu Siska hingga menguncinya kaku ke tanah!

Lala melirik ke dahan pohon sebelah kanan. Di sana, Mila sedang berdiri anggun di atas dahan dengan pisau lempar di jarinya.

‘Wah, Bunda juga melempar pisau dari atas pohon!’ batin Lala makin bersemangat.

Baik Chiko maupun Mila yang bertindak dari dua posisi berlawanan, sama-sama yakin bahwa merekalah satu-satunya yang baru saja melumpuhkan Bu Siska demi menyelamatkan Lala dari jauh!

Chiko yang melihat Bu Siska sudah pingsan dan 'aman', langsung menyimpan konsol jam tangannya, lalu buru-buru berlari keluar dari semak-semak sambil memoles wajah penakutnya.

"Lala! Lala sayang!" teriak Chiko panik berpura-pura kaget.

Di saat yang sama, Mila melompat turun dari dahan pohon di area belakang, menyelipkan pisau-pisaunya kembali ke balik gaun, lalu ikut berlari menghampiri dari sudut lain.

"Lala! Kamu tidak apa-apa?!" seru Mila dengan wajah panik seorang ibu rumah tangga.

Chiko dan Mila sampai di depan Lala secara bersamaan. Keduanya langsung berlutut dan memeluk Lala erat-erat.

"Papa takut sekali... tadi Papa dengar ada suara gaduh!" Chiko mengelus kepala Lala, melirik Bu Siska yang terkapar di tanah. 'Untung sensor peretasku langsung melumpuhkannya sebelum dia menyentuh Lala.'

"Bunda juga panik sekali, Sayang!" Mila memeriksa seluruh tubuh Lala. 'Beruntung lemparan pisauku tepat sasaran mengunci wanita jahat ini dari dahan.'

Lala yang berada di dalam pelukan kedua orang tuanya menyandarkan kepalanya di bahu Chiko dan Mila, menahan tawa bahagia di dalam hatinya.

‘Papa pikir Papa yang melumpuhkan Bu Siska... Bunda pikir Bunda yang melumpuhkan Bu Siska... Padahal Bu Siska sudah pingsan duluan kena kejutan listrik kotak pensil Lala!’ batin Lala riang luar biasa.

Lala mendongak, menyunggingkan senyuman paling manis dan polos.

"Lala tidak apa-apa, Papa! Bunda!" kata Lala riang. "Tadi Bu Siska tiba-tiba tersandung akar pohon, terus ketimpuk ranting jatuh sampai pingsan!"

Chiko dan Mila saling pandang, lalu menghembuskan napas lega yang amat panjang. Penyamaran mereka berdua tetap aman seratus persen, rahasia besar keluarga masih terjaga rapat, dan putri tercinta mereka kembali berada di dalam pelukan yang hangat.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!