"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer
"Dia ngomong apa sih, Carlo?" bisik Frans bertanya pada asisten di sampingnya.
"Ngomong kolol molol, Tuan Frans." ucap Carlo dengan polosnya.
"Iya tahu. Kolol molol tuh apa?" tanya Frans lagi.
"Nggak tahu, Tuan Frans. Kerjaanku hanya menjadi asisten Tuan, bukan penerjemah bahasanya Arka." jawab Carlo sambil mengedikkan bahunya acuh.
Frans menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bisa-bisanya asistennya itu membuat dia bertambah kebingungan. Namun raut wajah Frans tetap datar seakan ingin mengintimidasi bocah cilik yang baru saja datang. Apalagi dia sudah mengetahui tentang bagaimana Arka diledek tidak punya Papa oleh Ichal. Azura berdiri di belakang Arka karena dia takut jika tiba-tiba terkena tonjokan maut.
Srottt...
"Ichal yang kololnya molol jolok," seru Arka saat melihat Ichal menyedot kembali ingusnya.
"Sana pakai tisue atau bajumu itu buat belsihkan ingus," lanjutnya sambil bergidik ngeri.
"Ini baju mahal, ndak boleh kena ingus. Pakai bajumu aja sini, bial buat belsihin ingus Ichal." ucap Ichal membuat Arka menatapnya horor.
"Enggak ya, enak aja. Masa baju olang mau diminta buat belsihkan ingus situ," seru Arka dengan tatapan sinisnya.
"Siapa itu? Apa pinjam jasnya Om ini aja buat belsihkan ingus Ichal?" tanya Ichal pada Frans dan Carlo.
Seketika saja keduanya mundur menjauh dari Ichal. Tatapan keduanya berubah kesal karena ucapan bocah itu. Frans yang tadinya menampakkan raut wajah datarnya, malah sekarang terlihat geli. Dia bersembunyi di belakang Carlo agar asistennya itu saja yang mengurus.
"Kamu yang suka hina Arka ya? Nggak boleh gitu sama temannya, tidak baik." ucap Carlo berusaha menegur Ichal.
"Ichal ndak pelnah hina Alka. Olang apa yang Ichal omongin itu benal kok. Ichal dapat infolmasinya dali Ibu-Ibu," ucap Ichal tak mau kalah.
"Ichal ndak benal itu. Lihat nih Papanya Alka dan Azula sudah pulang. Jadi kalian ndak boleh ledek aku lagi," seru Arka yang kemudian menarik tangan Frans. Salah satu tujuan Arka membawa Frans untuk jajan ke taman adalah memperkenalkan Papanya pada semua orang yang pernah menghinanya.
"Masa sih ini Papa kamu? Ini kayanya olang kaya, kamu kan kele." ucap Ichal dengan ucapan pedasnya.
"Kamu kulang ajal sekali, Ichal. Mulutnya emang minta di..."
Eh...
Tiba-tiba saja Arka hendak maju dan menonjok Ichal. Tentu saja Frans langsung menggendong Arka. Bahkan Arka memberontak minta diturunkan agar bisa menonjok Ichal. Dia tak terima dihina seperti itu. Frans dan Carlo merasa bahwa anak di depannya ini sudah dipengaruhi oleh orang dewasa atau sekitarnya. Sehingga sangat susah untuk mengubah pola pikirnya. Memang nanti sebaiknya orang dewasa yang seharusnya ditegur.
"Begini..." Frans pun berjongkok sambil membawa Arka dalam gendongannya. Sedangkan Azura saat ini berada di dalam gendongan Carlo karena takut.
"Kalian ini teman, tidak boleh saling ejek." ucap Frans tapi Arka dan Ichal langsung melengoskan wajahnya. Frans sampai menghela nafasnya berulangkali karena baru kali ini menghadapi dua anak kecil yang tantrum. Mana Arka adalah duplikat dirinya yang keras kepala.
"Ichal ya namanya? Ichal, Arka ini punya Papa. Kebetulan Papanya ini adalah Om yang baru pulang dari luar negeri. Jadi ucapan Ibu-Ibu itu tidak benar kalau Arka nggak punya Papa. Jangan semua ucapan orang dewasa itu kamu percaya," ucap Frans memberitahu dengan pelan.
"Tapi kata Mamaku..."
"Mamamu salah, Nak. Dia tidak tahu kehidupannya Arka. Kalau kamu begini terus sama teman-temanmu, nanti Ichal nggak ada teman main lho. Emangnya Ichal mau main sendirian? Atau ditemani Mbak kunti?" sela Frans lagi.
"Ya ndak mau lah. Gimana sih Om ini?" gerutu Ichal tak suka.
"Makanya tidak boleh mengejek oranglain," ucap Frans yang sudah geregetan dalam hal ini.
"Tapi Alka juga seling ejek Ichal kalau kololnya molol," seru Ichal tak terima sambil menunjukkan celana kolornya yang memang molor.
Frans dan Carlo sampai tersedak air ludahnya sendiri melihat apa yang diperlihatkan oleh Ichal. Ternyata kolol molol itu adalah celananya molor sehingga hampir melorot. Astaga... Keduanya ingin tertawa sekaligus miris. Menyetujui apa yang diucapkan oleh Arka tapi kok kasihan juga pada Ichal. Apalagi tadi dia sudah mengajarkan untuk tidak saling mengejek.
"Arka juga nggak boleh begitu sama temannya. Masa mengejek kolornya molor walaupun faktanya sih iya," ucap Frans dengan kalimat terakhir yang ucapannya dipelankan.
"Ayo saling minta maaf," lanjutnya mencoba menyodorkan tangan Arka di depan Ichal.
"Sebental. Jadi Om benelan Papanya Alka? Belalti Azula ndak..."
"Ini juga Papanya Azura. Ingat ya, nggak boleh mengejek atau membahas urusan orang dewasa," sela Frans yang sekarang malah ingin membuat gosip tentang Azura.
"Oke, Om. Galak amat Omnya. Olang cuma mau tanya," ucap Ichal sambil menyodorkan tangannya di depan Arka.
"Papa, itu tadi tangan Ichal habis buat hapus ingus lho." Arka menatap horor tangan Ichal yang ada di depannya. Begitu juga dengan Frans yang tadi melihat bagaimana Ichal menggunakan tangannya.
"Om calo tiket, wakilin Alka buat maapan sama Ichal." seru Arka sambil bergidik geli.
"Eh... Nggak ya, Om lagi tidak boleh pegang tangan oranglain. Nanti alergi," ucap Carlo saat melihat tangan Ichal.
Raut wajah Carlo tampak panik saat disuruh oleh Arka menggantikannya berjabat tangan dengan Ichal. Baru juga dia ingin tertawa melihat raut wajah pias dari Frans dan Arka, malah semua berbalik kepada dirinya. Bahkan Carlo langsung pergi membawa Azura membeli jajanan. Tampaknya bocah cilik itu juga kesal karena tadi hampir diejek oleh Ichal. Beruntung Frans bisa langsung menepis semua rasa penasaran Ichal.
"Om calo tiket, bagaimana ini? Kok malah kabul sih?" seru Arka tak terima melihat Carlo pergi.
"Carlo, aku potong gajimu ya." seru Frans memberikan ancaman.
"Bodo amat. Potong gaji juga nggak papa. Ini ATM Tuan Frans ada di tanganku, mau aku kuras dulu sebelum anda memotong gaji." ucap Carlo dengan santainya.
Bye bye, Papa dan Alka.
Azula mau jajan dulu,
Azura malah senang dibawa pergi oleh Carlo kemudian melambaikan tangan ke arah Arka dan Frans. Sedangkan sepasang Papa dan anak itu masih harus menghadapi Ichal. Apalagi tadi Frans yang meminta Arka untuk berjabat tangan dengan Ichal. Teman-teman Ichal pun tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Lama amat ini. Kebulu pegal tangan Ichal," seru Ichal dengan raut wajah kesalnya.
"Kita lagi jaga jalak, Ichal. Kita lupa kalau ndak boleh salaman. Anggap saja kita sudah maapan. Iya kan, Pa?" ucap Arka minta persetujuan pada Frans.
"Benar. Anggap saja sudah saling memaafkan dan kalian berteman," ucap Frans dengan cepat.
Ya sudah. Bukan salah Ichal lho kalau ndak mau salaman. Nanti kalian menyesal ndak mau salaman sama altis ini,
Eh...