NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Narendra melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya.

Jarum jam menunjukkan bahwa waktu terus berjalan.

"Sudah lima belas menit Tiyas di kamar mandi," gumam Naren seraya mengernyitkan dahi. Perasaan tak tenang mendadak menyusup di relung dadanya.

"Kenapa dia lama banget, ya?"

Imelda yang mendengarnya ikut menoleh ke arah lorong.

"Mungkin lagi benerin makeup atau baju kali, Ren. Tapi ya udah, coba aku cek dulu ya."

Imelda bangkit dan menuju ke kamar mandi dengan langkah santai.

Sesampainya di depan pintu yang tertutup rapat, ia menggetuknya perlahan.

Tok, tok, tok!

"Tiyas, kamu baik-baik saja?" panggil Imelda. Hening. Tak ada sahutan sedikit pun dari dalam.

Imelda menggetuk pintu lebih keras dengan raut wajah mulai cemas.

"Tiyas?"

Perasaan ganjil yang makin kuat membuat Narendra tidak bisa lagi duduk diam.

Pria itu menyusul ke belakang dan berdiri tepat di samping Imelda. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang membuncah.

Ia mengetuk pintu kayu itu dengan panik. "Sayang, buka pintunya. Tiyas! Kamu dengar aku?"

Masih tidak ada jawaban. Keheningan dingin dari dalam kamar mandi membuat dada Naren bergemuruh hebat.

Tanpa berpikir panjang lagi, Naren mundur satu langkah, memasang posisi tegak, dan mengerahkan seluruh tenaganya.

BRAAKK!

Pintu kamar mandi itu terdorong paksa dalam sekali dobrakan keras hingga engselnya terlepas.

Mata Narendra membelalak sempurna, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.

Di atas lantai keramik dingin, tampak Tiyas yang tergeletak pucat tak berdaya dengan pakaian yang basah akibat guyuran air dari kran yang meluap.

"TIYAS!" jerit Narendra histeris, langsung berlutut dan merengkuh tubuh dingin Tiyas ke dalam pelukannya tanpa peduli pakaian mewahnya kini ikut basah kuyup.

"Tiyas! Tiyas, bangun, sayang!" jerit Narendra panik, menepuk-nepuk pelan pipi Tiyas yang terasa sangat dingin dan pucat pasi.

Tubuh wanita itu terkulai lemas tanpa respon, napasnya terdengar amat tipis dan memburu.

Imelda menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menjerit kaget melihat kondisi sahabatnya.

"Ya Tuhan, Tiyas! Kenapa bisa gini?!"

Robby yang mendengar kegaduhan itu langsung berlari menyusul ke lorong.

Matanya membelalak melihat Naren merengkuh tubuh Tiyas yang basah kuyup di lantai keramik.

"Astaga! Robby, buru-buru bantu Naren!" seru Imelda histeris.

Tanpa membuang waktu, Narendra langsung membopong tubuh Tiyas ke dalam dekapannya, mengabaikan pakaian kemejanya yang ikut basah basah.

Wajah pria itu mengeras, diliputi rasa panik dan takut luar biasa yang mencengkeram dadanya.

Cincin berlian yang baru beberapa jam lalu ia sematkan di jari manis Tiyas tampak berkilau redup di antara jemari wanita itu yang terkulai lemas.

"Buka jalan! Robby, tolong ambilkan kunci mobilku!" teriak Naren dengan suara gemetar saat ia berlari membawa Tiyas keluar dari area kamar mandi, melintasi restoran yang mendadak hening menyaksikan momen menegangkan itu.

"Biar aku yang setir mobil kamu, Ren! Kamu fokus jaga Tiyas di belakang!" seru Robby sigap menyambar kunci mobil dari saku Naren, lalu berlari lebih dulu membukakan pintu mobil.

Imelda mengikuti dari belakang dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

"Aku ikut! Kita ke rumah sakit terdekat sekarang!"

Narendra memangku kepala Tiyas di kursi belakang mobil, terus-terusan mengusap kening wanita itu yang dibasahi keringat dingin dan sisa air.

Tangannya menggenggam erat jemari Tiyas, membawa tangan wanita itu ke bibirnya seraya memanjatkan doa penuh keputusasaan.

"Tolong bertahan, Tiyas. Tolong, jangan kenapa-kenapa." bisik Naren parau di dekat telinga Tiyas, matanya berkaca-kaca menatap wajah pucat wanita yang baru saja berjanji akan menjadi masa depannya.

Mobil melaju kencang membelah jalanan kota, membelah garis antara kebahagiaan yang baru saja mereka genggam dan ancaman takdir yang kembali menguji cinta mereka.

Sesampainya di rumah sakit, suasana mendadak mencekam.

Para perawat dengan sigap mendorong brankar ke arah mobil Narendra.

Dengan hati-hati namun cepat, Naren memindahkan tubuh Tiyas yang lemas ke atas brankar, lalu membiarkan para petugas medis membawanya meluncur cepat masuk ke dalam ruang UGD.

Narendra berdiri terpaku di depan pintu kaca UGD yang tertutup rapat, napasnya masih tersengal-sengal dan kemejanya setengah basah.

Tak berselang lama, Imelda yang datang menyusul bersama Robby berlari menghampirinya dengan raut wajah yang sama cemasnya.

"Gimana Tiyas, Naren?" tanya Imelda panik seraya mengusap keringat di dahi.

Sebelum Naren sempat menjawab, pintu ruang UGD terbuka.

Tak berselang lama dokter keluar dari ruang UGD seraya melepas sarung tangannya.

Narendra langsung melangkah maju, memburu dokter itu dengan mata berbinar cemas.

"Dok, bagaimana keadaannya?"

Dokter menyunggingkan senyum menenangkan, memberi isyarat agar mereka bertiga bisa bernapas lega.

"Kondisi Bu Tiyas sudah stabil dan kesadarannya mulai pulih," ujar Dokter mengawali penjelasannya.

"Setelah kami periksa secara menyeluruh, penurunan kesadaran tadi disebabkan oleh tekanan darahnya yang mendadak anjlok cukup drastis atau hipotensi. Ditambah lagi dengan faktor kelelahan fisik yang menumpuk serta stres emosional yang lumayan berat dalam beberapa hari terakhir. Ketika seseorang berada di bawah tekanan tinggi lalu tiba-tiba merasa sangat lega, rileksasi pembuluh darah secara mendadak bisa membuat suplai oksigen ke otak berkurang sementara, sehingga memicu pingsan."

Dokter menatap Narendra dan Imelda bergantian sebelum melanjutkan, "Kondisi tubuhnya semakin lemas. Tapi tenang saja, tidak ada benturan berbahaya di kepalanya dan organ vital lainnya dalam keadaan baik. Kami sudah berikan cairan infus serta vitamin untuk menaikkan kembali tekanan darah dan memulihkan tenaganya."

"Apakah harus dirawat, Dok?" tanya Robby menimpali.

"Tidak perlu rawat inap," jawab Dokter ramah. "Setelah cairan infusnya habis dan tekanan darahnya kembali normal, Bu Tiyas sudah diperbolehkan pulang sore ini. Yang paling penting setelah ini adalah istirahat total selama dua hingga tiga hari ke depan, makan tepat waktu dengan nutrisi seimbang, minum air putih yang cukup, dan hindari dulu kegiatan yang memicu stres atau kelelahan berlebih."

Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Narendra mengembuskan napas panjang, meresapi rasa lega yang membuncah luar biasa di dadanya.

Ia menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya, mengucap syukur tiada henti atas keselamatan wanita tercintanya.

Narendra masuk ke ruang UGD dengan langkah pelan.

Ketegangan yang tadi membungkus wajahnya perlahan mencair begitu melihat Tiyas yang sudah bersandar lemah di atas tempat tidur, lengkap dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya.

Melihat kehadiran pria itu, Tiyas tersenyum tipis. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi binar di matanya sudah kembali.

"Maaf ya, sudah bikin kamu khawatir." bisik Tiyas lembut, merasa bersalah karena telah merusak momen bahagia mereka.

Narendra menghela napas panjang—sebuah helaan napas lega yang begitu dalam, seolah menghempaskan seluruh ketakutan yang sempat meremukkan dadanya beberapa saat lalu.

Ia melangkah makin mendekat, lalu duduk di kursi plastik tepat di samping brankar Tiyas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Naren meraih tangan kiri Tiyas yang bebas dari infus, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya, lalu membawa jemari wanita itu ke bibirnya.

Ia mencium punggung tangan Tiyas lama sekali, membiarkan kehangatan kulit Tiyas menenangkan detak jantungnya yang masih bergemuruh.

"Jangan minta maaf," ujar Naren parau saat melepaskan ciumannya, menatap lurus ke dalam mata Tiyas dengan sorot mata yang sarat akan rasa sayang dan kecemasan yang tersisa.

"Aku yang harusnya minta maaf karena kurang sigap menjaga kamu. Aku nggak peduli soal acaranya, Tiyas, yang penting kamu selamat dan baik-baik saja."

Naren mengusap lembut kening Tiyas, merapikan anak rambut yang menyentuh pipi wanita itu.

"Dokter bilang kamu cuma kelelahan dan tekanan darah kamu drop," lanjut Naren seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat hangat.

"Jadi, mulai hari ini, tidak ada bantahan: Kamu harus istirahat total. Biar aku yang urus dan rawat kamu sampai sembuh."

"Tapi besok aku harus mulai kerja lagi," sanggah Tiyas pelan, mencoba menawar dengan raut wajah memohon.

"No, no, no! Tidak ada kerja-kerja besok!" potong Narendra cepat, menggelengkan kepalanya tegas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah dibuat bersungut-sungut.

Tiyas menghela napas, menatap pria di sampingnya itu dengan tatapan memelas.

"Naren, berkas di kantor masih banyak. Aku cuma pingsan sebentar, sekarang juga udah mendingan—"

"Tiyas," panggil Naren lembut namun tak menerima bantahan. Ia kembali menggenggam jemari Tiyas, menatapnya dalam-dalam.

"Dokter bilang kamu harus istirahat total minimal dua hari. Kamu baru lepas dari beban masa lalu kamu, tubuh kamu itu menjerit minta istirahat. Tolong dengerin aku kali ini, ya?"

Tiyas terpaku menatap kesungguhan di mata Naren. Ada ketegasan, tetapi dibungkus oleh rasa kasih sayang yang begitu melimpah.

"Soal pekerjaan kamu, nanti aku yang bakal minta izin langsung ke atasan atau sekretaris kamu," lanjut Naren penuh komitmen.

"Tugas kamu sekarang cuma satu: makan yang banyak, minum obat, terus tidur yang nyenyak. Biar aku yang urus semuanya."

Mendengar perhatian yang begitu protektif dan tulus dari calon suaminya, benteng pertahanan Tiyas akhirnya runtuh.

Ia tak sanggup lagi menyembunyikan senyum hangat yang mekar di bibirnya.

"Iya, iya. Mas Narendra yang posesif," goda Tiyas pelan seraya terkekeh kecil, akhirnya menyerah kalah.

"Biarin protektif, yang penting calon istri aku sehat walafiat," balas Naren terkekeh lega, mengacak pelan rambut Tiyas dengan penuh gemas.

1
Noey Aprilia
Suami spupunya aja dia rbut,aws aja kl suami kknya jg d rebut....🙄🙄🙄....
Noey Aprilia
Gmana ga ngsih rstu....naren bnr2 clon suami plus clon mntu idaman...
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
Noey Aprilia
Stlh psah sm suami durjana,tiyas dptn clon suami idaman....sng mntan pst nysel krna akhrnya hdp mndrta..
sokooorrr.....😛😛😛
Noey Aprilia
Tuuhhh....
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
sunaryati jarum
Akhirnya dapat restu dari orang tua
Ariany Sudjana
Tyas masih juga memikirkan pekerjaan, yang penting kamu sehat dulu. dokter sudah minta kamu istirahat, patuhi nasehat dokter
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
owh ternyata prank 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
so sweet banget Naren ngeprank kamu
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Emak suka ceritanya tidak muter dan bertele-tele
sunaryati jarum
Baru mampir
my name is pho: Selamat membaca kak 🥰🙏
total 1 replies
Heny
Bearti yg kaya Tyas dan Naren gio dan mia benalu
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
harusnya Tyas kasih jawaban tunggu sampai putusan pengadilan keluar, kalau pas baru mediasi sudah ada jawaban dari Tyas, bisa jadi senjata untuk gio dan Mia, mereka nanti berpikir Tyas dan Narendra juga selingkuh di belakang mereka
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai Mia, kan pilihan kamu sendiri untuk selingkuh dari Narendra demi seorang gio, jadi jalani saja yah 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
pertimbangkan baik-baik lamaran Narendra tadi Tyas,betul kamu masih terluka, tapi tetap kamu perlu seorang yang bisa melindungi kamu
Ariany Sudjana
bodoh kamu Tyas, sama saja kamu itu sampah seperti Mia, kamu menghancurkan diri kamu sendiri dengan mabuk alkohol
Ariany Sudjana
bagus Tyas dan Narendra, kalian berdua sudah tegas terhadap pasangan pengkhianat tersebut, dan tinggal tunggu sidang saja 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar suami bodoh kamu gio, kamu merasa insecure terhadap Tyas, terus apa itu bisa jadi alasan untuk kamu selingkuh ? dasar laki-laki pengecut kamu gio, kamu memilih mengkhianati perempuan hebat seperti Tyas, demi seorang pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
bagus Imelda ngomong gitu ke Tyas, biar sadar belum berjuang kok sudah tumbang, karena kesehatan tidak mendukung dan juga ga perlu sok kuat, kamu juga perlu orang untuk berbagi, dan sekarang kamu buat semua orang sibuk Tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!