Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan
Sreettt...
Eh...
"Diam dulu, Aruna. Lihat itu suamimu sama si Silvy setan. Kayanya kita bakalan melihat drama percintaan ala gen jahat," ucap Luna yang menarik tangan Aruna agar bersembunyi di belakangnya.
"Ponselmu, Lun." Aruna meminta agar Luna mengeluarkan ponselnya untuk merekam interaksi antara Kafka dan Silvy. Hal ini bisa dia jadikan bukti tambahan untuk proses perceraiannya. Dia sendiri lupa tidak membawa ponsel karena tadi terburu-buru.
Luna pun mengeluarkan ponselnya kemudian merekam interaksi keduanya. Terlihat sekali jika mereka sedang ribut di samping gedung kantor. Rencananya Luna dan Aruna akan pergi makan siang keluar kantor. Namun malah mendengar ada suara keributan yang ternyata berasal dari samping gedung perusahaan. Saat melihat adanya Kafka dan Silvy, Luna langsung menarik tangan Aruna agar bersembunyi. Mereka ingin melihat apa yang terjadi di antara keduanya. Syukur-syukur bisa mendapatkan informasi penting.
"Ya aku harus gimana dong beli makannya, Mas Kafka sayang? Satu juta aja sih. Jangan pelit-pelit," rengek Silvy membuat Aruna dan Luna rasanya ingin muntah.
"Jangankan satu juta, seratus ribu aja aku udah nggak ada. Lagian kamu mau beli makanan apa sampai sejuta begitu? Kamu kan kemarin masih ada gaji dan pesangon. Gunakan dong uang kamu itu. Jangan minta aku terus. Dikira aku ada uang terus," seru Kafka tak terima karena Silvy yang seperti memanfaatkannya.
"Aku belum ambil. Kemarin ada di mejanya HRD," ucap Silvy lagi berusaha menahan kekesalan karena Kafka tidak mau memberikan uangnya.
"Itu salahmu sendiri. Ngapain juga nggak ambil itu duit, baru pergi." ucap Kafka menyalahkan Silvy.
"Besok aku ganti, Mas Kafka. Satu ju..."
"Nggak bisa. Besok aku harus bayar cicilan mobil. Yang ada, mobilku bisa ditarik kalau sampai telat pembayarannya." sela Kafka merasa bodo amat dengan Silvy yang tidak punya uang.
Mas Kafka...
Ihhh...
Bahkan Kafka langsung pergi begitu saja dari hadapan Silvy. Silvy sampai kesal karena keinginannya tak dituruti oleh Kafka. Ternyata Silvy ingin meminta uang satu juta kepada Kafka dengan alasan untuk makan. Namun Kafka tidak memberikan karena uangnya untuk membayar cicilan mobil. Apalagi dia saat ini sedang bingung harus tinggal dimana setelah nanti bercerai. Otomatis dia berpikir bagaimana mengelola uang dengan baik. Dimulai dari kontrakan atau beli rumah, cicilan mobil, dan biaya hidup sehari-hari.
"Matre abis itu orang. Padahal uang gaji dan pesangonnya dia udah ditransfer sama anak keuangan," ucap Aruna sambil menggelengkan kepalanya. Dia tahu karena sudah mendapatkan bukti transfer untuk gaji dan pesangon semua pegawai yang dipecat.
"Namanya juga pengennya dapat double. Dari gaji kantor, iya. Kemudian mintanya sama suami orang juga," ucap Luna sambil terkekeh pelan.
"Jadi perempuan jangan begitu ya, Luna. Jangan murahan, apalagi minta sama suami orang. Kasihan anak dan istrinya di rumah. Kalau dibalik, kamu diperlakukan seperti itu pasti juga tidak akan mau." ucap Aruna memberikan pesan pada sahabatnya.
"Jelas dong. Kaya kekurangan cowok aja di dunia ini dengan gebet suami orang," ucap Luna dengan yakin.
Luna tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan dan menyakiti oranglain. Ada keluarganya yang harus dia beri nafkah dengan rejeki halal. Sehingga takkan dia biarkan keluarganya makan dengan uang yang tidak halal. Silvy pun hendak meninggalkan halaman samping gedung perusahaan, tapi melihat adanya Aruna dan Luna. Terlihat sekali jika Silvy terkejut melihat keduanya.
"Kalian nguping ya?" seru Silvy dengan tuduhannya.
"Nggak. Kita lagi melotot," Luna malah memelototkan matanya ke arah Silvy karena dituduh. Walaupun memang benar adanya kalau mereka tengah menguping.
"Nyebelin banget sih. Dasar pegawai rendahan yang menyebalkan," seru Silvy dengan menghina Luna.
"Nggak papa rendahan, yang penting kerja benar dan duit halal. Daripada kamu? Yang katanya pegawai dengan gaji selangit, tahunya duit dari minta suami orang." seru Luna dengan sindiran pedasnya.
"Aku tidak pernah meminta. Kafka saja yang terlalu cinta dan royal sama aku sehingga selalu kasih duit," ucap Silvy dengan bangganya.
Prettt...
Luna dan Aruna tidak percaya dengan ucapan Silvy. Mereka berdua saja melihat bagaimana Kafka juga tidak begitu royal pada Silvy. Mungkin jika dulu belum ketahuan oleh Aruna, maka Silvy bisa seenaknya saja minta uang. Namun ketika sudah ketahuan, maka Aruna takkan membiarkan Kafka hidup tenang. Apalagi untuk Silvy yang sudah membuat Kafka berubah menjadi pelit sepelit-pelitnya.
"Kita tadi lihat kamu minta duit sama Kafka tapi nggak dikasih. Kerja, Mbak. Masa minta-minta terus sama laki orang," ucap Luna dengan ucapan pedasnya.
"Kalau mau minta-minta, bisa di perempatan lampu merah." tambah Aruna dengan sinisnya.
"Kur..."
"Ingat ya, Silvy. Aku takkan membiarkanmu hidup tenang dan bahagia bersama Mas Kafka. Kamu tidak tahu saja bahwa setelah ini Mas Kafka juga akan hancur karena menyakiti istri dan anaknya," sela Aruna sambil mendekat ke arah Silvy.
"Jadi kalau mau kamu ambil Mas Kafka, silahkan. Semoga kamu bisa menerima kehidupannya yang hancur itu," lanjut Aruna yang kemudian merangkul bahu Luna untuk mengajaknya pergi.
Hahaha...
Aruna dan Luna tertawa melihat raut wajah Silvy tampak pias. Sepertinya Silvy mulai membayangkan bagaimana hidupnya akan jatuh ketika Kafka juga hancur. Silvy yakin kalau Kafka pasti akan diusut mengenai pekerjaannya. Jika nanti Kafka dipecat dan ketahuan berselingkuh dengan teman satu kantornya, habis sudah riwayat pekerjaan kekasihnya itu. Dalam pikiran Silvy, sudah terbayang hidupnya akan carut marut bersama Kafka.
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus bisa menyingkirkan Aruna dan anaknya agar rumah itu jatuh ke tangan Kafka. Setidaknya Kafka masih bisa menguasai rumah ketika nanti sudah tidak bekerja di perusahaan ini," gumam Silvy sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Aku harus ke sekolahnya anak Aruna dan Mas Kafka. Aku harus bisa menyingkirkan dia dulu. Baru lah nanti kalau Aruna lengah, giliran dia." lanjutnya yang kemudian pergi dari perusahaan tempat dulu dia bekerja.
"Udah pergi itu Nenek lampir," ucap Luna saat melihat Silvy keluar dari halaman perusahaan. Luna dan Aruna berada di cafe depan perusahaan untuk sekedar makan siang.
"Kaya terburu-buru dia," lanjutnya.
Aruna memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar tak karuan. Luna yang melihat itu langsung menggenggam sebelah tangan Aruna. Bahkan kepala Aruna sedikit pusing. Entah apa yang dipikirkannya karena semua terjadi tiba-tiba. Padahal tadi dia merasa semuanya baik-baik saja dan sehat.
"Kamu kenapa, Aruna?" tanya Luna dengan raut wajah khawatirnya.
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan ingat Nasya. Jantungku juga berdebar tak karuan. Perasaanku tidak enak tentang Nasya," ucap Aruna sambil menghela nafasnya pelan.
Jangan-jangan... Silvy tadi...
Nasya...
lanjutttt😍💪
gavin ya thor😄💪
plong banget si kafka udh pergiii ,, akhirnya ny dy mikir juga buat cari kerjaa ,, kalo gx d usiiir pastii msh jd pengangguran truss Dy ,, 😂😂
emnk tuh si kafka harus d ruqyah dluu ,,
trus d retur aj Nasya bpa mu tu ,,
tuker tambah ma yg baru🤭😉