Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. RENCANA
Pintu kayu jati ruang kerja pribadi Duke Kael Dravenhart tertutup rapat, mengunci segala suara dari dunia luar. Ruangan yang biasanya menjadi tempat merumuskan strategi militer perbatasan utara itu kini berubah menjadi pusat komando rahasia revolusi.
Di hadapan meja peta yang luas, Virelia duduk di atas kursi berlapis kulit dengan posisi tegak, didampingi oleh Johan dan Lila yang berdiri siaga di kedua sisinya. Sementara itu, Kael berdiri tegak di balik meja, dan Julian berdiri tepat di samping atasannya dengan buku catatan siap sedia di tangan.
Suasana di dalam ruangan terasa sangat pekat dan menyesakkan. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik pertama, hingga Lila melangkah maju meletakkan beberapa dokumen tambahan di atas meja, berkas-berkas rahasia yang dikumpulkan oleh jaringan Black Dawn selama bertahun-tahun.
"Ini adalah bukti-bukti transaksi gelap yang dilakukan langsung oleh Raja Lucien, Yang Mulia Duke. Bukan sekadar korupsi pajak atau penggelapan anggaran pertahanan. Apa yang dilakukan Raja jauh melampaui batas kemanusiaan," ucap Lila dengan suara bergetar pelan, menatap Kael penuh keseriusan.
Kael mengulurkan tangannya, membuka lembaran perkamen pertama. Sepasang mata birunya mulai menelusuri baris demi baris tulisan tangan dan cap meterai kerajaan yang tertera di sana.
Semakin jauh Kael membaca, semakin lambat gerakannya. Alis tebal panglima perang itu bertaut sangat tajam, menciptakan garis-garis kerutan yang dalam di dahinya. Rahangnya mengetat hingga otot-otot di wajahnya berkedut keras.
"Apa ini? Pengiriman tahanan politik ke perbatasan timur bukan untuk kerja paksa militer?" tanya Kael berat, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan.
"Bukan, Yang Mulia. Mereka dijual. Raja Lucien bekerja sama dengan sindikat pedagang budak lintas kerajaan. Para tahanan politik, rakyat jelata yang gagal membayar pajak, bahkan wanita dan anak-anak dari desa yang membangkang, mereka dikemas seperti barang dagangan dan dijual ke kerajaan seberang untuk dijadikan budak seks dan pekerja kasar," sahut Johan dengan suara berat penuh kemarahan tertahan.
Kael terperanjat. Ia meletakkan lembaran itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Sebagai seorang ksatria yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melindungi Valdoria dari ancaman luar, kenyataan bahwa pemimpin tertinggi yang ia junjung tinggi justru memerdagangkan rakyatnya sendiri, jelas itu bagaikan hantaman palu godam di dadanya.
"Tidak hanya itu. Selama bertahun-tahun, siapa pun bangsawan, jenderal, atau menteri yang mulai mencurigai transaksi busuk ini akan lenyap secara misterius di tengah malam. Raja menyebutnya sebagai 'pembersihan pengkhianat negara', padahal mereka dibunuh karena ingin membongkar kebejatan istana," sambung Virelia lirih, menatap suaminya dengan sorot mata yang dipenuhi luka masa lalu.
Julian, yang berdiri di samping Kael, ikut membaca lembaran-lembaran dokumen tersebut. Sontak, darah di kepala Julian mendesak naik. Pria berkacamata itu membelalakkan matanya, napasnya memburu, dan tangannya yang memegang buku catatan mencengkeram kertas itu hingga hampir robek.
"I-ini gila. Dokumen ini menyebutkan kematian Ratu pertama ibu kandung Yang Mulia Duchess Virelia bukan karena demam atau sakit parah seperti pengumuman resmi istana sepuluh tahun lalu ... " cicit Julian terbata-bata, wajahnya pucat pasi membaca paragraf berikutnya.
Virelia mengerutkan dahi saat hal itu dibicarakan lagi.
"Beliau diracuni secara perlahan menggunakan racun bunga lili hitam oleh Ratu saat ini atas persetujuan langsung dari Raja Lucien, hanya untuk memuluskan jalan pengangkatan ratu baru!" seru Julian murka, karen Julian tahu betapa baik dan penuh kasihnya sang Ratu pertama terhadap rakyat Valdoria.
BRAK!
Suara hantaman keras menggema di dalam ruangan. Kael memukul meja kayu jati itu dengan kepalan tangan kanannya hingga seluruh perkamen di atas meja berhamburan.
"Keparat ..." desis ris Kael pelan. Suaranya bukan lagi suara manusia yang tenang; itu adalah lolongan kemarahan murni dari seekor singa yang terluka.
Johan menelan ludah gugup, lalu membuka lembaran terakhir dokumen paling rahasia.
"Masih ada yang lebih buruk, Yang Mulia. Dari catatan rahasia mendiang kepala pelayan istana yang berhasil kami curi, kematian Raja sebelumnya yang tak lain adalah paman kandung Raja Lucien ternyata dibunuh secara terencana oleh Raja Lucien sendiri melalui racun di cangkir teh penobatannya. Dan bukan itu saja, beberapa pangeran pewaris takhta sah yang berada di urutan lebih atas dari Raja Lucien tewas dalam 'kecelakaan beruntun' yang janggal di masa lalu. Raja Lucien merebut takhta itu di atas genangan darah keluarganya sendiri!" kata Johan dengan suara berbisik gemetar.
Keheningan yang mematikan langsung mencengkeram ruang kerja tersebut.
Julian mundur selangkah karena shock luar biasa. Kakinya terasa lemas. Selama bertahun-tahun ia mengabdikan diri di pusat pemerintahan, mengira ia melayani seorang raja yang tegas meskipun keras, ternyata ia selama ini berdiri di bawah bayang-bayang seorang pembunuh berdarah dingin yang memeralat seluruh kerajaan demi keserakahannya.
Sementara itu, Kael berdiri mematung. Wajahnya memerah padam, urat-urat di leher dan pelipisnya tampak menonjol keluar menahan gejolak amarah yang mendidih luar biasa.
Selama bertahun-tahun, Kael dan para prajurit setianya memertaruhkan nyawa di garis depan perbatasan utara, berperang melawan monster es, kehilangan ratusan prajurit muda demi memertahankan kedamaian dan kehormatan Kerajaan Valdoria. Mereka percaya bahwa darah yang mereka tumpahkan adalah demi melindungi rakyat dan singgasananya.
Namun hari ini, kebenaran itu terungkap dengan cara yang paling memuakkan: pahlawan yang mereka banggakan di medan perang ternyata berjuang demi memertahankan seorang monster bertopeng raja.
"Kami ... kami membantai ribuan monster es di utara. Kami membiarkan para prajurit muda mati di pangkuanku dengan luka menganga sementara bajingan di atas singgasana emas itu duduk santai menjual anak-anak rakyat kami dan meracuni keluarganya sendiri?!" ujar Kael, suaranya bergetar hebat penuh kepedihan dan murka yang meluap-luap.
Kael mengangkat wajahnya. Sepasang mata birunya menyala bagaikan bara api dari neraka. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi sisa kesetiaan kepada mahkota.
Virelia, Johan, dan Lila tertegun menatap transformasi mengerikan pada diri sang panglima perang. Aura membunuh yang dipancarkan Kael begitu kuat hingga membuat udara di dalam ruangan terasa berat untuk dihirup.
Tiba-tiba, Kael menoleh tajam ke arah Julian.
"Julian!" panggil Kael dengan suara menggelegar yang membuat seisi ruangan bergetar.
"S-Siap, Yang Mulia!" jawab Julian tergagap, menegakkan tubuhnya dengan cepat.
"Dengar dan catat baik-baik perintahku! Hubungi segera faksi para bangsawan senior dari lima wilayah besar yang selama ini bersimpati kepada garis keturunan mendiang raja sebelumnya, Marquis Vane di utara, Duke Oakhaven di timur, dan Count Sterling di barat. Kirim surat sandi militer tingkat tinggi malam ini juga!" seru Kael tanpa jeda, setiap kalimatnya diucapkan dengan presisi militer yang mutlak dan mematikan.
"Baik, Yang Mulia! Apa isi pesannya?"
"Katakan kepada mereka bahwa Panglima Perang Kael Dravenhart secara resmi menarik dukungannya dari rezim Raja Lucien. Undang mereka secara diam-diam ke kediaman kita secepatnya untuk merancang strategi kudeta skala besar guna menggulingkan takhta dan menyeret si tiran ke pengadilan rakyat!" perintah Kael dengan nada otoritatif yang tidak terbantahkan.
Mendengar instruksi itu, Virelia, Johan, dan Lila spontan terperanjat dari kursi mereka.
Ketiga anggota Black Dawn tersebut saling berpandangan dengan mata membelalak lebar. Mereka tadinya datang ke Kediaman Duke hanya untuk berkoordinasi secara perlahan, menyusun rencana pemberontakan bawah tanah yang mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Namun, tanpa perlu diajak dua kali atau dibujuk, Duke Kael Dravenhart, sang pahlawan kerajaan justru mengambil alih kendali penuh, merumuskan rencana kudeta militer skala besar dengan presisi dan kecepatan yang membuat para pemberontak profesional terpesona.
"Y-Yang Mulia Duke. Anda ... Anda langsung memutuskan untuk melakukan kudeta total tanpa ragu sedikit pun?" cicit Lila tak percaya, menatap Kael dengan mulut sedikit terbuka.
Kael mengalihkan pandangannya dari Julian, menatap lurus ke arah Virelia. Kemarahan di matanya perlahan mencair, digantikan oleh tekad yang membaja dan kehangatan yang mendalam khusus untuk sang istri.
Kael melangkah cepat menghampiri Virelia, lalu menjatuhkan satu lututnya di hadapan kursi istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Virelia erat-erat.
"Kau menderita dalam kesendirian selama bertahun-tahun, menyembunyikan identitasmu, dan hampir kehilangan nyawamu karena kebusukan mereka. Sudah waktunya mimpi buruk ini berakhir," ucap Kael dengan suara berat namun lembut, menatap lurus ke dalam manik mata perak sang gadis.
Virelia menatap Kael. Selama bertahun-tahun ia berjalan di jalan yang penuh darah seorang diri, memikul beban kehancuran kerajaan di pundaknya. Dan kini, pria terkuat di Valdoria berdiri di sisinya, mengambil alih beban itu, dan mendeklarasikan perang demi keadilan ibunya dan seluruh rakyat yang tertindas.
Virelia mengangguk perlahan, senyuman terindah terukir di bibirnya.
"Ya, Kael. Mari kita runtuhkan singgasana itu bersama-sama," ujar Virelia tanpa ragu.
Julian, yang telah selesai mencatat seluruh instruksi militer di buku catatannya, menutup buku itu dengan mantap. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Kael dan Virelia dengan senyuman penuh kesiapan.
"Surat sandi militer akan dikirimkan sebelum fajar, Yang Mulia," lapor Julian tegas.
"Bersiap. Dan jangan sampai ada pihak yang tahu," kata Kael.
Walau rencana tentu tidak akan pernah sesuai dengan yang diinginkan. Karena sang raja tiran tidak mungkin bisa duduk di singgasana dalam waktu lama jika ia tidak selicik ular.
masuk akal si
tapi...aku sama anakku suka ngakak
kalau cerita jaman dulu banyak yg menuliskan.
kalau nanya alamat rumah
" kisanak,apakah rumah mu masih jauh?
dijawab nya
tidak kisanak,hanya dibalik bukit ini
palingan membutuhkan 2-3 hari lagi
🫣🫣🤣🤣🤣
helooo..itu bukan bukit,itu gunung
kita kepuncak aja butuh belasan jam ke puncak dr jakarta
apalagi anda jalan hai para kisanak 🤣🤣🤣
jadi....tau kan kenapa orang jaman dulu jarang ada yg stroke di masa muda🫣🤣🤣🤣
cekep amet bahasamu Thor
4 jempol dr akyuuuu😍😍
ketemu mantan tersayang nya kah??🥹🥹
negaraku
kaya gini🫣🤣🤣🤣
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣