NovelToon NovelToon
Veterinary Love

Veterinary Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Inayusrina

Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).

​Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.

​Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam pesta kelulusan (prom night) di ballroom hotel bintang lima itu tampak begitu megah dan berkilau. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan yang dipenuhi siswa-siswi berjas rapi dan gaun malam yang anggun.

​Di depan pintu masuk utama, langkah Barra dan Farra seketika menarik perhatian banyak pasang mata. Mereka datang berdampingan dengan balutan busana matching berwarna navy elegan beraksen silver. Barra tampak sangat karismatik dalam balutan jas formal yang membungkus tubuh tegapnya, sementara Farra terlihat memesona mengenakan gaun panjang berpotongan A-line yang longgar di bagian perut untuk menyamarkan kehamilannya, ditemani sepatu flat shoes modis sesuai syarat dari sang suami.

​Sesuai janjinya, Barra berjalan tepat di samping Farra, sebelah tangannya melingkar posesif di pinggang ramping istrinya untuk memastikan tidak ada orang yang menyenggol atau membuat Farra kelelahan.

​Belum sempat mereka melangkah jauh ke dalam area pesta, Gabriella dan Amelia yang mengenakan gaun malam berwarna pastel langsung berlari kecil menyergap Farra.

​"Farra! Ya ampun, akhirnya dateng juga!" seru Gabriella antusias, lalu memeluk sahabatnya hati-hati.

​Amelia langsung memasang wajah penuh selidik, melipat tangan di dada sambil memindai penampilan Farra dari atas ke bawah. "Nah, kan! Betul dugaanku. Kemarin pas pulang sekolah kamu mendadak muntah-muntah bau parfum, terus langsung digendong sama si ketua OSIS galak ini ke rumah sakit. Hayo ngaku... sebenarnya kemarin itu kamu kenapa, Far?" cecar Amelia dengan nada penasaran tingkat tinggi.

​Beberapa teman dekat mereka yang ikut mendekat, termasuk Ben dan Farraz, langsung ikut nimbrung mendengarkan dengan tatapan penasaran.

​Farra sempat salah tingkah, melirik sekilas ke arah Barra yang berdiri disampingnya dengan wajah sedingin es namun waspada. Farra buru-buru menarik napas dan tersenyum canggung untuk menutupi kepanikannya.

​"Eh? Oh... soal kemarin itu, aku beneran cuma masuk angin parah kok, Mel," dalih Farra cepat dengan ekspresi senatural mungkin. "Ditambah asam lambungku kambuh gara-gara kemarin telat makan siang waktu persiapan ujian. Jadi pas cium parfum kamu yang terlalu menyengat, perutku langsung mual."

​Gabriella mengerutkan kening, tampak setengah percaya. "Masuk angin sampai pingsan-pingsan dan digendong ala prince charming sama Barra? Yakin cuma asam lambung?"

​"Iya, benar! Kalau nggak percaya, tanyain aja sama Barra," kilah Farra sambil menyenggol pelan lengan suaminya.

​Barra yang dimintai tolong langsung mengangguk dingin dengan ekspresi datar andalannya. "Istri saya cuma kecapekan akibat stres ujian. Jadi tolong jangan dicecar terus, dia butuh istirahat."

​Mendengar nada bicara Barra yang mulai serius dan intimidatif, Gabriella dan Amelia akhirnya menyerah sambil tertawa geli. "Iya deh, iya! Ampun, Pak Ketos galak. Jangan galak-galak amat, takut nanti cantiknya ilang," gurau Gabriella, membuat suasana kembali cair.

​Meski berhasil mengelabui teman-temannya untuk sementara waktu, Barra tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia terus merangkul erat Farra, memastikan istrinya menikmati malam kelulusan itu dengan aman dan nyaman tanpa gangguan berarti.

Di sudut ruangan ballroom, sepasang mata tajam menatap tajam ke arah kemesraan Barra dan Farra dengan dada yang bergemuruh penuh amarah dan kebencian. Vanessa. Mengenakan gaun malam merah mencolok, ia mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.

​Melihat Barra selalu siaga dan menempel ketat pada Farra membuat Vanessa tahu ia tidak bisa mendekati cowok itu secara terang-terangan. Namun, Vanessa sudah menyiapkan sebuah rencana licik yang tidak boleh gagal.

​Saat Barra beranjak sebentar untuk mengambilkan segelas air mineral bagi Farra di meja catering, Vanessa memanfaatkan kesempatan emas itu. Ia mendekati seorang pelayan pria, menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah ke saku sang pelayan, lalu berbisik tajam. "Tolong berikan gelas khusus ini langsung ke Barra Saputra. Katakan itu minuman spesial dari panitia."

​Pelayan yang tergiur oleh nominal uang tersebut menuruti perintah Vanessa tanpa curiga. Ia mengantarkan gelas berisi jus yang telah dicampur obat perangsang dosis tinggi langsung kepada Barra. Barra yang mengira itu adalah minuman penyegar biasa dari pihak hotel langsung meneguknya hingga tandas, sebelum kembali menghampiri Farra di sudut ruangan.

​Tak lama berselang, efek obat tersebut mulai bereaksi cepat di dalam tubuh Barra. Suhu tubuhnya mendadak naik drastis, napasnya memburu, dan pandangannya mengabur, dipenuhi oleh gelora hasrat yang tak wajar.

​Sementara itu, Vanessa yang melihat Barra mulai sempoyongan segera mendekati mereka dengan senyum penuh kemenangan. "Barra? Kamu nggak apa-apa? Kayaknya kamu sakit, yuk aku antar ke kamar hotel di atas buat istirahat," bujuk Vanessa dengan suara manja, berusaha meraih lengan Barra.

​Namun, Barra yang masih memiliki sisa kesadaran langsung menepis tangan Vanessa dengan kasar. Matanya yang memerah menatap tajam penuh kebencian ke arah Vanessa. "Jangan sentuh aku! Pergi kamu!" bentak Barra serak, berusaha menahan efek obat yang terus menggerogoti kesadarannya.

​Menyadari situasi makin berbahaya dan tidak terkendali, Barra tidak memedulikan tatapan orang sekitar. Ia langsung menyambar pergelangan tangan Farra dengan kuat.

​"Barra? Kamu kenapa? Panas banget..." panik Farra saat merasakan genggaman tangan suaminya begitu erat dan gemetar.

​"Kita pergi dari sini sekarang," ucap Barra dengan suara tertahan penuh penekanan.

​Barra menarik Farra setengah berlari meninggalkan ballroom menuju lift pribadi hotel. Beruntung bagi mereka, hotel megah tempat pesta itu berlangsung adalah salah satu unit bisnis milik Saputra Corp—keluarga Barra sendiri. Sebagai pewaris tunggal, Barra memiliki akses penuh ke Penthouse Suite khusus CEO di lantai paling atas yang dirancang privat dan dilengkapi smart lock tingkat tinggi, jauh dari jangkauan siapa pun.

​Begitu pintu lift tertutup rapat dan mereka tiba di lantai penthouse, Barra langsung menyeret Farra masuk ke dalam kamar mewah CEO, membanting pintu, dan menguncinya rapat-rapat dari dalam, meninggalkan Vanessa yang gigit jari di lantai bawah karena rencana busuknya gagal total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!