Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Dewa?
Violet merasa sedih melihat pakaian Dilan yang kebesaran. Meski terbuat dari kulit tebal yang cukup menghangatkan, pakaian itu jelas bukan miliknya. Sepertinya, pakaian itu merupakan pemberian dari orang lain.
Violet kemudian melepas syal yang melingkar di lehernya dan mengenakannya pada Dilan. Baru saja syal itu melilit lehernya, wajah Dilan sudah memerah. Rupanya, sedikit kehangatan saja sudah membuatnya merasa lebih nyaman.
“Hangat, kan?”
Dilan yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya mengangguk. Senyum Violet membuat wajahnya semakin memerah. Ia pun terus menatap Violet untuk beberapa saat.
“Violet.”
“Hmm?”
“Maaf karena dulu aku sering mengganggumu.”
Dilan mengucapkannya dengan terbata-bata.
Mendengar permintaan maaf itu, hati Violet terasa hangat. Ia sudah lama melupakan semua perlakuan buruk Dilan. Kini, ia justru merasa senang setiap kali bertemu dengannya. Karena itu, mendengar Dilan meminta maaf membuat Violet semakin bahagia.
Kini, Violet tak punya alasan lagi untuk membencinya.
......................
“Beberapa hari ini, saya tidak pernah melihat syal milik Nona. Apa Nona tahu syal itu ada di mana?”
Pertanyaan Meirra seketika membuat Violet tersentak.
“Su-sudah... kubuang,” jawabnya terbata-bata.
“Hmm.”
Meirra menyipitkan mata sambil merapikan tempat tidur. Sepertinya, jawaban Violet masih membuatnya penasaran. Ia kemudian bertanya, “Saya dengar Nona sudah berteman dengan anak penjaga kandang.”
Senyum canggung di wajah Violet seketika menghilang.
“Dia teman Nona dari kampung halaman, bukan?”
Violet tidak menjawab. Ia hanya menatap Meirra dengan gelisah.
“Bagaimanapun, Nona akan kembali ke ibu kota nanti. Mana mungkin saya melarang Nona melakukan sesuatu yang membuat Nona bahagia?”
“Sungguh?”
“Meski begitu, sebaiknya Nona tetap memikirkan pandangan orang lain. Soalnya, bagaimanapun juga...”
Meirra kembali menghela napas. Ia tampak ragu untuk melanjutkan.
Violet mencoba memahami maksud Meirra, hingga akhirnya ia menyadari arah pembicaraan itu.
“Kalau aku dekat dengannya, mereka akan mencibirku lagi karena aku rakyat jelata, begitu?”
Nada suara Violet terdengar tajam. Jelas sekali ia sedang marah.
Meirra tidak menyangkal pertanyaannya. Apa yang dikatakan Violet memang ada benarnya. Hanya saja, Meirra tidak ingin mendengar Violet berkata seperti itu.
Bagaimanapun, Violet tetap berasal dari kalangan rendah. Sebaik apa pun Dilan memuji dan menganggapnya seperti seorang nona bangsawan, asal-usul itu tidak akan berubah.
Meirra sadar dirinya telah salah bicara.
Namun, kali ini Violet benar-benar merasa sedih.
Dilan adalah teman dari kampung halamannya. Sudah hampir empat tahun mereka tidak bertemu.
Tiba-tiba, rasa tidak adil memenuhi hati Violet.
Selama ini, ia hidup tanpa seorang pun teman. Sekarang, ketika akhirnya bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, ia justru diminta untuk menjaga jarak karena orang-orang akan mencibirnya kembali sebagai rakyat jelata.
Bukankah ini terlalu berlebihan?
“Tidak adil,” ucap Violet pelan.
Meirra terlihat bingung. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur Violet, tetapi ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Melihat wajah Violet yang semakin murung, ia pun merasa bersalah.
“Benar-benar tidak adil, Meirra.”
Meski begitu, Violet tidak benar-benar marah kepada Meirra. Ia hanya menggerutu seperti anak yang sedang merajuk, lalu terdiam.
Meirra tidak memaksanya untuk bicara. Ia hanya diam-diam memperhatikan Violet, khawatir jika terus mendesaknya justru akan membuat suasana hatinya semakin buruk.
Violet bisa merasakan tatapan Meirra, tetapi ia tetap keras kepala dan enggan menoleh.
Sebenarnya, ia bukan tidak mau bicara karena marah. Jantungnya justru berdebar kencang karena takut telah membuat Meirra kecewa. Karena itulah ia tidak berani menatap wajahnya.
“Aku ingin tidur,” ucap Violet lirih.
Meirra tidak menjawab. Ia hanya mematikan lampu, lalu meninggalkan kamar.
Bagaimana ini? Aku tadi marah kepada Meirra.
Setelah meluapkan perasaannya, Violet justru merasa gelisah. Ia terus berguling-guling di atas tempat tidur hingga akhirnya tertidur.
.......................
“Meirra keterlaluan.”
Mendengar keluhan Violet, wanita cantik itu tersenyum dengan mata terpejam.
Ini adalah pertemuan mereka yang kedua. Kali ini, Violet mendekatinya dengan lebih santai daripada sebelumnya. Wanita itu pun menyambutnya dengan senyum cerah yang menunjukkan kegembiraannya.
Menyadari ada kesedihan dalam nada suara Violet, wanita itu menanyakan apa yang terjadi. Violet sempat ragu, tetapi akhirnya menceritakan tentang Meirra.
Wanita yang terasa begitu akrab itu terkadang tersenyum, terkadang hanya diam mendengarkan cerita Violet.
Setelah Violet selesai bercerita, wanita itu berkata, “Tapi pelayan itu juga mengatakan hal tersebut karena memikirkanmu. Dia tahu lebih baik daripada siapa pun bahwa kau bisa terluka.”
“.....”
“Bukankah sebenarnya kau juga tahu? Meirra berkata begitu karena dia mengkhawatirkanmu.”
Violet menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Meski matanya tetap terpejam, wanita itu seolah bisa melihat wajah Violet dengan jelas.
“Aduh, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu menangis.”
Dengan suara lembut, wanita itu mengusap kepala Violet.
“Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya dirimu?”
Violet baru menyadari sesuatu, selama ini ia belum pernah mempertanyakan hal yang paling mendasar tentang wanita itu.
“Hmm, mau coba menebaknya?”
Wanita itu tersenyum, seolah pertanyaan Violet cukup menghiburnya.
Violet memutar matanya dan mencoba menebak.
Wanita yang selalu muncul dalam mimpinya, mengajarinya cara menggunakan kekuatan suci, sekaligus diam-diam menjaganya dengan penuh kehangatan.
Kalau begitu, hanya ada satu jawaban yang mungkin.
“Apakah Anda seorang Dewa?”
Mendengar itu, wanita tersebut langsung tersenyum lebar.
“Dewa? Jawaban yang menarik. Dulu aku juga berpikir begitu. Tapi kau adalah dewaku. Dan aku pun pernah menjadi dewa bagi seseorang.”
Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.
Violet ingin bertanya, tetapi mengurungkan niatnya.
Sejak pertemuan pertama, wanita itu memang selalu membicarakan hal-hal yang sulit dipahami. Sekarang pun ia masih mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti Violet.
Melihat wajah Violet yang kebingungan, wanita itu tertawa kecil.
“Pikirkan saja sesukamu. Kalau kau ingin memanggilku Dewa, tidak masalah. Suatu hari nanti, kau pasti akan mengerti.”
Wanita itu tersenyum indah.
Entah kenapa, senyum itu mengingatkan Violet pada seseorang. Tiba-tiba, ia teringat pada pendeta muda berambut putih yang pernah ditemuinya.
Tanpa sadar, Violet berkata, “Oh, aku pernah bertemu seseorang yang menurutku mungkin seorang dewa.”
“Benarkah?”
“Rambutnya putih keperakan, sama seperti rambutku, dan matanya berwarna emas.”
“Jadi, kau sudah bertemu anak itu.”
Ekspresi wanita itu sempat berubah menjadi getir.
Ketika Violet bertanya apakah ia mengenal anak tersebut, wanita itu hanya tersenyum.
Sepertinya, bertanya lebih jauh pun tidak akan memberinya jawaban. Lagi pula, Violet tidak terlalu penasaran. Ia pun memilih untuk tidak bertanya lagi.
“Kau masih punya banyak hal yang harus kau lalui.”
“.....”
“Dan pelayanmu itu pasti akan selalu berada di pihakmu.”
“Kalau begitu, apa aku harus meminta maaf?”
“Entahlah. Tapi kalau kau memang mau, silakan saja.”
Wanita itu tersenyum jahil.
Melihat senyum tersebut, Violet memanyunkan bibirnya. Rasanya, ia juga ingin merajuk kepada wanita itu.
......................
Sinar matahari yang hangat masuk melalui jendela dan membangunkan Violet dari tidurnya. Saat melihat jam, ia baru sadar bahwa dirinya bangun lebih siang dari biasanya. Namun, sebenarnya tidak ada seorang pun yang memaksanya untuk bangun pada waktu tertentu.
Begitu Violet bangun, Meirra langsung membawakan air untuk mencuci muka tanpa berkata apa pun. Violet pun membasuh wajahnya.
Setelah itu, suasana di antara mereka tetap hening.
Alih-alih keluar, Violet mengambil sebuah buku dan membacanya dalam diam. Buku itu adalah sejarah Asteria yang sudah berkali-kali ia baca sampai lusuh.
Di dalamnya tercatat berbagai pencapaian tiga puluh tiga Saintess terdahulu, mulai dari Saintess Asteria, Mirailla, Lyssia, Amelisse, dan yang lainnya. Mereka pernah menyelamatkan orang-orang yang berada di ambang kematian, menyembuhkan penyakit, menghidupkan kembali sungai yang mengering, hingga mencegah terjadinya perang dengan kaum Vaelith yang dianggap sesat.
Dan semuanya memiliki satu kesamaan: mereka membasmi Abyss.
Namun, buku itu hanya mencatat pencapaian mereka. Tidak ada penjelasan tentang bagaimana mereka menggunakan kekuatan suci.
Violet menghela napas frustrasi.
Dari sampingnya, ia mendengar Meirra menghela napas. Suasana kembali terasa canggung.
Baru saat itu Violet menyadari bahwa ia dan Meirra berada di ruangan yang sama. Kalau dipikir-pikir, selama pergi menemui Dilan kemarin, ia tidak mengajak Meirra bersamanya. Bahkan ketika Meirra hendak ikut, Violet menolaknya.
Mungkin justru Meirra yang marah kepadaku.
Violet merapatkan bibirnya dan kembali memusatkan perhatian pada buku. Kali ini, ia menemukan bagian yang membahas pencapaian Paus.
Sebagai pemimpin agama, Paus dipilih melalui pemungutan suara oleh sepuluh Uskup Agung. Untuk terpilih, seorang kandidat harus mendapatkan dukungan, setidaknya enam suara. Namun, Caelum, yang saat ini menjabat sebagai Paus, terpilih dengan suara penuh karena seluruh Uskup Agung memberikan suara kepadanya.
Kabarnya, ia bahkan belum pernah menampakkan diri di hadapan publik secara resmi.
Akankah aku bisa bertemu dengannya suatu hari nanti?
Meirra kemudian menyuguhkan teh di sampingnya.
Begitu menyesapnya, aroma kelopak bunga stevia yang telah dikeringkan langsung memenuhi indera penciumannya. Teh bunga manis itu merupakan minuman yang paling disukai Violet.
Violet meletakkan cangkirnya.
Entah kenapa, matanya tiba-tiba terasa panas dan mulai berkaca-kaca.
Selama ini, Meirra selalu memperhatikannya dengan tulus. Namun, Violet justru sering melampiaskan amarahnya kepada Meirra. Padahal, di saat semua orang menjauh, Meirra adalah orang yang selalu berada di sisinya.
Ternyata ucapan wanita dalam mimpinya itu benar.
Violet menutup bukunya, perlahan ia turun dari kursi, lalu bertanya kepada Meirra.
“Aku mau keluar sekarang. Apa kamu ingin ikut?”
“Kalau Nona tidak menginginkan saya ikut, saya tidak akan ikut.”
Meirra menjawab pelan.
Alih-alih menjawab, Violet justru meraih tangan Meirra dan menariknya untuk pergi.
Angin musim dingin terasa menusuk, tetapi Meirra dan Violet tetap berjalan di luar tanpa mengeluhkan hawa dingin sedikit pun.
“Meirra, katanya ibumu ingin melihat bunga yang tumbuh di pohon ini, kan?”
Meirra mendongak dan menatap pohon itu sebelum menjawab.
“Iya, benar. Sayangnya, pohon itu sudah tua dan tidak lagi berbunga. Seharusnya bunga itu mekar setiap lima tahun sekali, tetapi sudah sepuluh tahun berlalu dan bunga itu belum juga mekar."
Mendengar jawaban Meirra, Violet tersenyum.
“Aku akan membantumu.”
“Apa?.”
Violet berlari kecil menghampiri pohon itu lalu mengulurkan tangannya.
Perlahan, cahaya keperakan mengalir dari telapak tangannya dan menjalar hingga ke tanah. Dalam sekejap, cahaya itu menyelimuti seluruh pohon. Ranting-ranting kering yang sebelumnya tampak mati perlahan menghijau.
Sesaat kemudian, tunas-tunas kecil bermunculan di antara ranting. Daun-daun hijau tumbuh satu demi satu, disusul bunga-bunga yang mulai merekah.
Meirra terpaku.
Bunga itu.
Bunga yang terakhir kali dilihatnya saat masih kecil. Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa mengingatnya dari kenangan yang samar.
Namun kini, bunga itu benar-benar ada di hadapannya.
Kelopaknya berwarna kuning muda, sama lembutnya seperti yang ia ingat. Aroma yang telah lama terkubur dalam ingatannya pun kembali memenuhi udara.
Anehnya, udara yang menyelimuti Violet terasa semakin hangat.
Meirra sebenarnya sudah tahu bahwa Violet memiliki kemampuan seperti ini. Namun, baru kali ini ia menyaksikan keajaiban itu dengan mata kepalanya sendiri.
Gadis yang selama ini ia anggap masih terlalu muda, rapuh, dan menyedihkan ternyata memiliki kekuatan sebesar ini.
Saat itu, Meirra benar-benar menyadari bahwa Violet bukanlah gadis biasa.
“Terima kasih, Nona.”
Hanya karena sempat membuat Meirra kecewa, Violet sudah merasa bersalah sampai tidak tahu harus berbuat apa.
Meirra pun tahu bahwa bunga yang kembali mekar itu adalah bentuk permintaan maaf Violet kepadanya.
Melihat betapa tulusnya Violet, hati Meirra terasa menghangat. Gadis itu benar-benar terlalu manis untuk tidak disayangi.
Mungkin, bukan hanya Meirra yang merasakan hal itu. Ketulusan Violet perlahan juga mampu meluluhkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan Marquis yang awalnya bersikap canggung pun mulai menunjukkan kasih sayangnya kepada Violet.
......................
“Nenekku sedang sakit parah sampai harus terbaring di tempat tidur,” Dilan berkata dengan lesu.
Melihat wajahnya yang murung, Violet ikut merasa iba.
Sebenarnya, nenek Dilan bukanlah orang yang begitu baik kepada Violet saat ia masih tinggal di desa. Meski begitu, mendengar kabar bahwa wanita itu sakit tetap membuat Violet merasa sedih.
“Kenapa kamu tidak memanggil tabib?”
“Kau tahu sendiri, kan? Kami tidak punya uang.”
Dilan menggerutu. Violet bisa merasakan tatapan penuh harap yang diarahkan kepadanya. Namun, kenyataannya, ia sendiri tidak punya apa-apa untuk diberikan.
Menyadari bahwa ia tidak bisa membantu, Violet semakin sulit menatap wajah Dilan.
Belakangan ini, setiap kali mereka bertemu, Dilan sering mengeluhkan nasibnya. Meirra tampaknya tidak menyukai kebiasaan itu. Namun, sejak Violet pernah marah kepadanya karena masalah Dilan, ia memilih menahan diri dan tidak banyak berkomentar.
Lama-kelamaan, Violet merasa semakin berat setiap kali harus bertemu dengan Dilan.
Violet tahu apa yang sebenarnya diharapkan Dilan darinya. Dalam menghadapi situasi seperti ini, Violet memang cukup peka.
Namun, Dilan juga sama pekanya. Ia pun bisa menyadari bahwa Violet tidak mampu memenuhi harapannya.
“Akhir-akhir ini kau juga jarang sekali menemuiku, ya?” sindir Dilan.
Mendengar itu, Violet merasa bersalah.
Beberapa waktu lalu, ia memang merasa kewalahan menghadapi Dilan yang terus mengeluhkan nasibnya. Jadi, ia tidak bisa menyangkal perkataan Dilan.
Dilan membiarkannya berdiri di sana tanpa berkata apa-apa.
Akhirnya, Violet mengeluarkan boneka beruang yang dibawanya dan menyodorkannya kepada Dilan.
Itu boneka yang sangat aku sukai... Jika dia menjual permata yang ada di boneka, dia bisa memanggil tabib.
Namun, bukannya menerima, Dilan justru tampak semakin kesal. Ia menepis tangan Violet dengan kasar.
“Memangnya benda seperti ini bisa membantu apa, Violet!” Dilan membentaknya.
“Kau selalu memakai pakaian bagus dan makan makanan enak. Memangnya kau tahu apa tentang hidupku?! Kau bahkan tidak punya siapa-siapa untuk kau urus!”
Dilan berteriak. Violet hanya terdiam menatap boneka beruang yang tergeletak di lumpur. Boneka itu adalah pemberian dari Count Loraine. Boneka yang sangat ia sayangi.
Namun, Violet bukan bermaksud memikirkan dirinya sendiri. Mata dan hidung boneka itu terbuat dari permata. Jika dijual, setidaknya Dilan bisa menggunakan uangnya untuk memanggil tabib. Itulah sebabnya Violet rela memberikan boneka kesayangannya.
Melihat hadiah kesayangannya kini kotor, emosi Violet pun meledak.
“Justru kau yang tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu bagaimana aku hidup selama ini. Orangtuaku sudah meninggal!”
Air mata mengalir di pipinya.
“Kau juga tidak tahu di mana dan bagaimana aku dibesarkan. Aku justru berharap punya keluarga yang harus kuurus. Aku tidak punya siapa-siapa! Aku juga merasa kesulitan!”
Mendengar teriakan Violet yang bercampur tangis, Dilan tampak kebingungan. Namun, Violet sama sekali tidak berniat menghentikan tangisnya.
“Aku sangat menyayangi boneka ini.”
Sambil berkata begitu, Violet memungut boneka beruang tersebut.
Lumpur yang bercampur kotoran kuda menempel di tubuhnya dan menimbulkan bau menyengat, tetapi Violet tidak memedulikannya.
Ia bahkan tidak sanggup jika harus membuang boneka berharga yang diberikan untuknya.
“Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Dilan.”
......................
Sesampainya di kastel, Violet segera pergi menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, Meirra menyusul ke kamar Violet. Begitu masuk, ia sempat kehilangan kata-kata. Di dalam kamar yang gelap itu, hanya ada satu lilin yang menyala, sementara bau kotoran kuda tercium sangat menyengat. Di tengah ruangan, Violet duduk berjongkok sambil mencuci boneka kesayangannya.
“Nona, apa yang sedang Anda lakukan?!”
Violet mendongak menatap Meirra. Wajahnya memerah karena terlalu banyak menangis.
Meirra menghela napas. Ia bisa menebak apa yang kira-kira telah terjadi.
Melihat Violet masih berusaha mencuci bonekanya sendiri, Meirra segera mengambil boneka itu dari tangannya.
“Berikan pada saya. Biar saya yang mencucinya sampai bersih.”
“Tidak. Meirra tidak perlu melakukannya.”
Violet menolak dan kembali mencuci boneka itu.
Meirra diam-diam mengepalkan tangannya. Apa yang dilakukan para pelayan lain sampai Violet harus mengambil air sendiri?
Mungkin karena latar belakang Violet, Meirra adalah orang yang paling memperhatikannya di tempat ini. Untungnya, setelah kejadian dengan Seina, Marquis memberikan hukuman berat sebagai peringatan bagi yang lain. Sejak saat itu, para penghuni kediaman tidak lagi lalai dalam melayani Violet.
Bukan berarti mereka tidak menyayangi Violet. Banyak di antara mereka yang mulai menyukai dirinya, terutama Franc, sang koki.
Hanya saja, karena tinggal di daerah terpencil, mereka cenderung lebih konservatif dalam memandang status sosial.
“Nona, tidak apa-apa. Ini memang pekerjaan saya.”
Meirra mengambil kembali boneka beruang itu.
Melihat wajah Violet yang dipenuhi air mata, ia jadi merasa kesal kepada anak laki-laki bernama Dilan itu. Ia berpikir untuk melaporkan kejadian hari ini.
“Apa Nona masih merasa sedih?”
Violet mengangguk. Begitu melihat wajah Meirra, kesedihan yang tadi ia tahan kembali pecah. Dengan suara yang berusaha menahan tangis, Violet berkata,
“Aku tidak punya Ibu dan Ayah. Tapi dia terus memarahiku.”
“.....”
“Apakah semua ini terjadi karena aku yang salah, Meirra?”
Meirra menggeleng mendengar pertanyaan Violet.
“Bagaimana mungkin itu salah Nona?”
Meirra meletakkan boneka beruang itu, lalu memeluk Violet erat-erat. Pada akhirnya, Violet pun menangis sejadi-jadinya.
......................
Sejak kejadian itu, Violet tampak semakin murung. Ia jarang keluar kamar dan lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
Dalam keadaan seperti itu, Meirra selalu berusaha menemani dan menghiburnya. Namun, suatu hari, Meirra mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit.
Awalnya, Meirra berniat menyembunyikan kabar itu dari Violet. Sayangnya, rencananya tidak berjalan mulus. Saat hendak menuju perpustakaan, Violet tanpa sengaja mendengar percakapan para pelayan yang sedang membicarakan kondisi ayah Meirra.
Setelah memikirkannya cukup lama, Violet pun memutuskan untuk menyuruh Meirra pergi ke ibu kota.
-
“Nona yakin tidak apa-apa?”
“Iya. Lagi pula, kau hanya pergi sekitar seminggu, kan?”
Bagaimanapun juga, jalan menuju ibu kota dari wilayah ini cukup baik. Perjalanan hanya memakan waktu setengah hari jika ditempuh dengan cepat, atau sekitar sehari jika berjalan santai. Jaraknya tidak terlalu jauh, dan Meirra juga akan ditemani beberapa pengawal. Seharusnya, tidak ada alasan untuk terlalu mencemaskan kepergiannya.
Namun, gadis kecil ini memasang wajah sedih, seolah-olah Meirra hendak pergi ke wilayah terpencil yang jauh dari perbatasan.
Meirra mengkhawatirkan ayahnya. Namun, ia juga mengkhawatirkan gadis kecil di hadapannya. Pergi ke ibu kota mungkin saja merupakan pilihan egois yang berarti harus meninggalkan Violet sendirian.
Akan tetapi, setelah Violet mengetahui keadaan ayahnya, Meirra tahu Violet akan terus merasa bersalah jika dirinya tidak pergi. Karena itu, Meirra akhirnya memutuskan untuk pergi ke ibu kota.
“Apa Nona akan baik-baik saja tanpa saya?”
“Tentu. Kau harus pergi dan merawat ayahmu!”
Meirra membungkukkan tubuh, lalu mengecup pipi Violet.
“Nona sungguh baik.”
Kedua pipi Violet langsung merona mendengar pujian itu.
“Jangan lupa sampaikan suratku kepada Ledian.”
“Baiklah. Ngomong-ngomong, apa Nona tidak menulis surat untuk Marquis?”