Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Cemburu?
Biyakta baru saja selesai keluar dari kamar mandi, dia mengambil buku—berniat untuk membaca sambil duduk di ranjang. Saat pantatnya baru saja melandas, tiba-tiba Diyah yang ada di sampingnya bergeser, wajahnya pun berpaling seolah tak sudi melihat suaminya.
Pria itu melirik bingung, tetapi tak terlalu mempermasalahkan, jadi dia membuka buku untuk melanjutkan bacaan. Namun, tak berapa lama kemudian Diyah meletakkan bantal guling di tengah-tengah mereka. Tujuannya apa? Jelas Biyakta tidak tahu.
"Aku belum minum susu," celetuk Biyakta yang membuat perhatian Diyah sedikit teralihkan.
Tanpa bicara Diyah mengambil telepon di atas nakas. Saat panggilan tersambung Diyah langsung bicara. "Mbok, Mas Biya mau susu."
"Baik, Non," jawab Mbok Sum di ujung sana. Setelah itu Diyah langsung meletakkan kembali telepon tersebut, kembali ke posisi semula.
Kernyitan di dahi Biyakta makin kentara, karena biasanya Diyah akan memilih turun ke dapur dan membuatnya sendiri. Malam ini berbeda, ada apa dengan istrinya.
"Badanku juga pegal-pegal, sepertinya butuh dipijat," ujar Biyakta lagi mencari perhatian Diyah.
Wanita itu menghela napas, tanpa bicara dia duduk, lalu mulai memijat bahu Biyakta. Dia sama sekali tak menatap, entah pandangannya ke mana. Hingga akhirnya Biyakta meletakkan kembali bukunya, dia tidak jadi membaca karena istrinya mendadak uring-uringan tidak jelas dan dia harus tahu penyebabnya.
"Kamu marah padaku?" tanya Biyakta sambil meraih tangan Diyah yang menekan-nekan bahunya dengan kuat, seperti sedang melampiaskan amarah.
Diyah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Terus kenapa? Dari tadi aku perhatikan sikapmu berbeda sejak aku pulang. Padahal pagi masih baik-baik saja," papar Biyakta yang tak menyukai situasi ini.
Diyah menggigit bibirnya, dia menatap mata Biyakta berulang kali, seakan bingung untuk bercerita atau tidak tentang kejadian tadi pagi. Sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba memanas, apakah mungkin ini yang dinamakan cemburu? Ditambah dia sedang datang bulan, lengkap sudah tingkat emosionalnya.
"Aku—"
Tok ... Tok ... Tok ....
Tiba-tiba pintu diketuk, Mbok Sum datang dengan segelas susu hangat yang dicampur madu, minuman kesukaan Biyakta sebelum tidur. Diyah langsung melepaskan tangannya dari genggaman Biyakta, lalu turun dari ranjang.
"Terima kasih, Mbok," ucap Diyah, Mbok Sum hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian dengan cepat menghilang dari pandangan Diyah.
"Diminum dulu mumpung masih hangat," ucap Diyah pada Biyakta. Namun, pria itu menggeleng, dia meraih kembali tangan istrinya dan meminta Diyah untuk duduk.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku."
Diyah menatap ke sembarang arah. Sedangkan ingatannya melambung ke pertemuannya dengan Sarah.
"Mas kenal yang namanya Sarah?" tanya Diyah.
Mendengar itu Biyakta langsung menautkan kedua alisnya. "Sarah? Siapa itu?"
"Aku kan tanya, kenapa Mas malah tanya balik? Mas kenal tidak? Sarah itu wanita yang hidungnya mancung, rambutnya lurus, tingginya semampai, kulitnya putih dan sangat mulus, pokoknya cantik, pendidikan juga baik, masih muda, dari keluarga terpandang, Sarah juga—"
"Tidak. Aku tidak kenal!" Biyakta segera memotong ocehan Diyah yang sedang memaparkan seorang wanita yang entah siapa. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu.
Diyah menatap mata Biyakta lebih dalam untuk mencari kejujuran pria itu. Dan ternyata benar Biyakta tidak bohong, karena tak ada keraguan di dalamnya. Saat itu juga Diyah langsung menghela napas panjang, seperti menemukan kelegaan.
"Oh," jawab Diyah dengan singkat sekaligus merasa malu sendiri.
"Oh saja? Kamu tidak mau menjelaskan apa maksudmu barusan?" tanya Biyakta dengan sorot mata menuntut. "Atau kamu mau aku mencari tahu sendiri?" lanjutnya, yang lebih terdengar seperti ancaman.
Kalau sudah begini Diyah tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi dari suaminya. Akhirnya dia bercerita tentang kedatangan Sarah dan ibunya, juga tentang wanita itu yang tadinya ingin dijodohkan dengan Biyakta.
Sepintas Diyah melihat bibir Biyakta menampakan senyum kecil. Apa artinya itu semua? Apakah suaminya senang banyak wanita menyukainya.
"Kamu cemburu?" tanya Biyakta yang lantas membuat Diyah gelagapan dan bersemu merah.
"Tidak, mana mungkin cemburu," jawab Diyah sambil menggelengkan kepala dan berpaling dari Biyakta.
"Lalu kenapa kamu sepenasaran itu dengan wanita bernama Sarah?" tanya Biyakta lagi dengan satu alis terangkat, terlihat senang menggoda istrinya.
"Cuma mau tahu," jawab Diyah gagap, lalu dengan cepat berbaring memunggungi Biyakta. Pria itu menyeringai lebar.
"Aku pernah membaca dosa istri memunggungi suaminya—" Belum selesai Biyakta bicara, Diyah sudah membalik badan, tetapi kali ini dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
'Cemburu? Nggak mungkinlah.' batinnya.
Sedangkan Biyakta hanya tersenyum miring melihat tingkah Diyah. Karena tak ada pergerakan lagi akhirnya Biyakta lanjut membaca. Hingga tak berapa lama kemudian mulai terdengar dengkuran halus, Biyakta menoleh lagi dan menyibak selimut sedikit demi sedikit untuk mengintip.
Diyah benar-benar sudah tidur, Biyakta menatap wajah Diyah yang tenang cukup lama, dan entah dorongan dari mana Biyakta mencondongkan tubuhnya, memberikan kecupan singkat di dahi. Lalu bingung sendiri.
'Eh' Dia langsung melipat bibirnya ke dalam.
*****
Hari itu Januar sedang mengobrol santai di ruangan ayahnya. Namun, tiba-tiba saja sang kakak masuk dan ikut bergabung. Dari gelagatnya Januar melihat bahwa Biyakta ingin menyampaikan sesuatu yang penting, bukan sekedar ngobrol biasa.
"Pak, ada yang ingin Biyakta bicarakan," ujar Biyakta yang langsung membuat Januar mengalihkan perhatian.
'Benar 'kan apa kataku?'
"Apa aku perlu pergi?" tanya Januar, takut mengganggu pembicaraan keduanya. Meski sebenarnya dia juga sangat penasaran.
"Tidak perlu, Jan," jawab Biyakta, membiarkan adiknya tetap tinggal.
"Memangnya ada apa, Nak?" tanya Juragan Marta dengan alis yang terangkat.
"Aku sudah mengundurkan diri dari KUA, mulai sekarang aku akan fokus mengurus sawah dan kebun milik Bapak," jawab Biyakta menjelaskan. Sesuatu yang membuat pikiran Januar kembali terusik.
'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba berhenti kerja?' Dia membatin dan kembali teringat dengan ucapan Laksmi. 'Apakah kamu benar-benar ingin menguasai semua harta Bapak?'
Mendengar itu, Juragan Marta justru sangat senang, karena akhirnya Biyakta hanya fokus pada usaha keluarga.
"Bagus sekali, Nak, Bapak sangat mendukungmu. Bahkan Bapak menunggu saat-saat ini, supaya usaha keluarga kita bisa semakin berkembang," ujar Juragan Marta dengan wajah sumringah. Hal yang membuat Biyakta jadi tersenyum lega, karena ternyata keputusannya tidak salah.
"Syukurlah kalau Bapak tidak marah," balas Biyakta.
"Marah untuk apa? Wong kerjaan Bapak dibantu, ya Bapak malah senanglah. Ayo buat Putra Makmur Group semakin berjaya, Bapak yakin di tanganmu kita akan semakin sukses!" ujar Juragan Marta dengan penuh semangat. Biyakta lantas merangkul Januar, dia pikir adiknya juga senang mendengar kalimat itu, tetapi ternyata ada kecemburuan yang mulai menjalar, membuat senyum itu menjadi semakin palsu.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh