Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Tuyakra
Secarik kertas misi bernoda darah terpampang di papan Balai Desa, warnanya yang seharusnya putih kini bercampur bercak coklat kemerahan yang sudah mengering di beberapa sudut. Mata tajam Sekar langsung tertuju ke sana begitu mereka bertiga melangkah masuk pagi itu, jauh lebih cepat menangkapnya dibanding lembaran misi lain yang tertempel rapi di sekitarnya.
Balai Desa pagi itu dipenuhi kerumunan warga yang tidak biasa, jauh dari suasana normal para pemburu yang biasa mengantre mengambil misi harian. Suara bisik-bisik cemas bersahutan di antara mereka, wajah-wajah tegang saling bertukar cerita tentang kejadian semalam. Beberapa ibu-ibu menggendong anak kecil sambil menangis pelan, sementara para lelaki desa berkumpul dalam kelompok kecil membahas rencana penjagaan tambahan.
"Empat petani hilang," seorang wanita paruh baya berbicara panik kepada tetangganya, suaranya bergetar menahan tangis. "Ladang milik Pak Karto rusak parah, gubuknya hancur berantakan tidak bersisa."
"Katanya jejaknya seperti Tuyakra, tapi jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya," timpal pria lain di sampingnya, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang cangkir kopi yang sudah dingin.
Sekar melangkah mendekati papan pengumuman, mencabut kertas misi bernoda darah itu tanpa ragu sedikit pun, matanya membaca cepat detail yang tertulis di sana. Galih dan Larasati mendekat, ikut membaca dari balik bahu Sekar.
"Serangan Tuyakra di perbatasan desa sisi selatan," gumam Sekar, membacakan isi kertas itu keras-keras. "Empat petani dilaporkan hilang, satu terluka parah. Diminta bantuan segera dari pemburu berpengalaman. Ditulis dengan tergesa, hurufnya bahkan ada yang tercoret."
"Ini bahaya, Sekar," Larasati berbisik, nadanya khawatir. "Kalau jumlahnya sebanyak yang dikatakan warga tadi, ini bukan sekadar serangan Tuyakra biasa. Kita perlu berhati-hati sekali kali ini."
Sekar mengangkat wajahnya, matanya menyala penuh tekad. "Justru karena itu kita harus bergerak sekarang. Petani-petani itu tidak bisa menunggu pemburu senior yang mungkin masih sibuk dengan misi lain di tempat jauh."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Sekar melangkah cepat menuju meja registrasi, menyerahkan kertas misi itu kepada petugas yang tampak lega melihat ada kelompok yang bersedia mengambilnya secepat ini.
"Laskar Cakra mengambil misi ini," kata Sekar tegas, menandatangani lembar penerimaan misi itu dengan cepat.
Petugas itu mengangguk cepat, mencatat nama kelompok mereka. "Hati-hati di sana. Beberapa warga bilang mereka melihat lebih dari selusin Tuyakra bergerak bersamaan, sesuatu yang tidak biasa untuk monster level rendah macam itu. Biasanya mereka menyebar sendiri-sendiri, bukan berkelompok sebanyak ini."
Galih merasakan perutnya mulas mendengar penjelasan itu. Ia teringat pengalaman pertamanya di dunia ini, dikejar kawanan Tuyakra hingga hampir tewas sebelum diselamatkan Ki Wira. Bayangan cakar tajam yang nyaris merobek wajahnya waktu itu kembali segar dalam ingatannya, membuat tangannya secara refleks meraih gagang keris kecil yang tersampir di pinggangnya, senjata sederhana yang mulai ia bawa sejak resmi terdaftar sebagai pemburu, meski ia sendiri belum sepenuhnya yakin dengan kemampuannya menggunakannya dalam pertarungan sungguhan.
Mereka bergegas keluar dari Balai Desa, berjalan cepat menuju batas desa sisi selatan yang ditunjukkan dalam lembar misi. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu setengah jam mereka tempuh dalam waktu lebih singkat, didorong urgensi yang tidak bisa mereka abaikan. Sepanjang jalan, beberapa warga yang mereka lewati memberikan tatapan penuh harap, seolah keberadaan tiga pemburu muda ini adalah satu-satunya harapan yang tersisa bagi keselamatan ladang mereka.
Begitu tiba di lokasi, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.
Beberapa gubuk petani sederhana sudah hancur berantakan, atap jerami berserakan bercampur pecahan kayu, ladang jagung yang tadinya rapi kini terinjak-injak dan porak-poranda. Jejak cakar besar tercetak jelas di tanah lembap, beberapa di antaranya bahkan menembus dinding kayu gubuk yang cukup tebal. Sebuah ember logam tergeletak penyok tidak jauh dari sana, bekas perkakas dapur yang tidak sempat diselamatkan pemiliknya.
"Ini bukan serangan biasa," gumam Sekar, berjongkok memeriksa salah satu jejak cakar dengan seksama. Alisnya berkerut dalam, mencoba mencerna pola yang ia lihat, jari-jarinya mengukur lebar jejak yang jauh melebihi ukuran normal.
Larasati memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan gejolak energi di sekitar lokasi seperti yang biasa ia lakukan. "Aku merasakan banyak sekali titik energi kecil, tersebar merata di area ini. Terlalu terkoordinasi untuk sekadar kawanan monster yang kelaparan mencari makanan." Ia membuka matanya kembali, wajahnya pucat menahan kekhawatiran yang tidak biasa ia tunjukkan.
Galih mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat sisa-sisa kekacauan yang jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan dari serangan Tuyakra biasa. Skala kerusakan ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang terorganisir dengan cara yang tidak wajar bagi monster level rendah yang biasanya hanya bergerak berdasarkan insting sederhana. Ia menghitung dalam hati berapa banyak jejak kaki berbeda yang bisa ia identifikasi, dan jumlahnya jauh lebih banyak dari yang pernah ia hadapi sendirian di hutan dulu.
"Kalian pikir ada yang mengendalikan mereka?" tanya Galih, suaranya sedikit bergetar, matanya masih menatap jejak cakar besar yang tercetak dalam di tanah.
"Entahlah," jawab Sekar, berdiri kembali sambil menatap jauh ke arah hutan yang membentang gelap di kejauhan. "Tapi yang jelas, ini bukan misi sederhana seperti yang kita kira sebelumnya. Kita harus tetap waspada sepanjang jalan."
Galih meneguk ludahnya sendiri, terasa kasar menahan gugup yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menggenggam erat gagang keris di pinggangnya, merapalkan keberanian dalam hati, mencoba mengingat setiap latihan yang pernah ia jalani bersama Sekar selama berbulan-bulan terakhir. Ketakutan itu nyata, namun tekad untuk tidak lagi menjadi beban bagi rekan-rekannya terasa jauh lebih kuat sekarang. Ia menoleh sekilas ke arah Sekar dan Larasati yang berjalan tenang di sisinya, mengambil sedikit ketenangan dari kehadiran keduanya.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat ketika mereka melanjutkan penelusuran, mengikuti jejak cakar yang mengarah semakin dalam menuju perbatasan hutan. Langit berubah keunguan, bayangan panjang pepohonan mulai menutupi jalur yang mereka lalui. Suara jangkrik yang biasanya menemani senja kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, seolah seluruh penghuni hutan ikut bersembunyi menghindari sesuatu yang lebih berbahaya dari mereka.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin pekat bau amis darah segar tercium terbawa angin malam yang mulai berembus dingin, aroma yang membuat bulu kuduk ketiganya berdiri serentak. Bau itu menuntun langkah mereka menyusuri jalur yang semakin gelap, mengarah lurus menuju sesuatu yang terasa seperti sarang persembunyian para monster yang telah meneror desa sepanjang malam ini. Sesekali terdengar suara ranting patah dari kejauhan, entah tertiup angin atau pertanda sesuatu yang lebih mengancam sedang mengintai dari balik kegelapan pepohonan.