NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pintu utama terbuka, menampilkan sosok Adrian yang berdiri gagah dengan jas yang sudah agak longgar dan dasi yang telah sedikit dikendurkan.

Wajahnya yang semula menyimpan jejak lelah setelah seharian memimpin perusahaan seketika berbinar begitu matanya menangkap keberadaan Sasi yang menyambutnya di depan lobi.

"Selamat sore, Mas," sapa Sasi lembut seraya mengulas senyum hangat.

Adrian melangkah cepat, langsung merengkuh tubuh Sasi ke dalam dekapannya.

Pria itu mendaratkan kecupan hangat di dahi istrinya, menghirup aroma wangi yang selalu berhasil mengikis seluruh rasa lelahnya.

"Selamat sore, sayang," bisik Adrian mesra.

"Begitu melangkah masuk dan mencium aroma masakanmu, lelah Mas rasanya langsung hilang."

Sasi tertawa kecil, melepaskan dekapan dan mengambil alih tas kerja Adrian.

"Aku sudah masak menu kesukaan Mas hari ini. Ada ayam bakar, tempe bacem, sama sambal bajak."

Mata Adrian berbinar gembira. Ia merangkul pinggang Sasi seraya melangkah menuju ruang makan.

"Wah, benarkah? Kamu memang paling tahu cara memanjakan suami."

Setelah Adrian membersihkan diri dan berganti pakaian santai, mereka berdua duduk bersama di meja makan.

Suasana ruang makan yang dulu dingin kini dipenuhi gelak tawa dan obrolan hangat.

Adrian menyantap hidangan buatan Sasi dengan lahap, tak henti-hentinya memuji kelezatan sambal bajak dan ayam bakar racikan sang istri.

"Masakan mu selalu yang terbaik, sayang," tutur Adrian tulus seraya mengusap jemari Sasi di atas meja.

Sasi tersenyum haru. Di iringi kehangatan malam di rumah utama dan kesembuhan sang ayah yang makin nyata, Sasi tahu bahwa kehidupan baru mereka kini benar-benar telah berlabuh di muara kebahagiaan yang sempurna.

"Sayang," panggil Adrian pelan seraya meletakkan sendoknya, menatap Sasi dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah serius namun tetap hangat.

"Ada apa, Mas?" sahut Sasi lembut.

Ia menghentikan suapannya, mengamati raut wajah suaminya yang mendadak agak ragu.

"Pengacara Mas tadi ke kantor," tutur Adrian dengan suara berwibawa namun hati-hati.

Sasi mengerutkan dahinya tipis, mencoba mencerna perkataan suaminya.

"Soal berkas persidangan Fitria dan Hendrik, Mas?"

Adrian mengangguk pelan. Ia meraih telapak tangan Sasi di atas meja, menggenggamnya erat untuk memberikan rasa aman.

"Iya, semua berkas persidangan sudah rampung dan dilimpahkan ke kejaksaan. Tapi, pengacara Mas bilang, Fitria terus histeris di dalam sel. Dia memohon-mohon dan meminta Mas untuk datang menemuinya secara langsung sebelum sidang dimulai."

Sasi sempat terpaku sejenak. Nama itu pernah menjadi bayang-bayang kelam yang menghancurkan hidupnya.

Namun kini, mendengar nama Fitria tak lagi memicu rasa takut atau sesak di dadanya.

"Lalu, Mas Adrian jawab apa?" tanya Sasi lirih namun tenang, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

Adrian menyunggingkan senyum tipis, meremas lembut jemari Sasi.

"Mas langsung menolaknya tanpa ragu. Mas tidak punya urusan apa-apa lagi dengannya, dan Mas tidak akan pernah membiarkan orang itu masuk kembali ke dalam kehidupan kita, sekecil apa pun celahnya. Mas cuma mau fokus pada kamu dan masa depan kita."

Mendengar ketegasan suaminya, binar lega dan rasa haru memancar jelas di mata Sasi.

Ia menyentuh punggung tangan Adrian dengan tangan satunya, memberikan senyuman paling tulus yang membuat dada Adrian makin hangat.

"Terima kasih ya, Mas," puji Sasi penuh ketulusan.

"Keputusan Mas sudah sangat tepat. Biarkan hukum yang menyelesaikan semuanya."

Adrian menghembuskan napas lega, seolah beban terakhir di dadanya telah terangkat sepenuhnya.

Ia mengecup jemari Sasi dengan penuh kasih sayang, bersiap mengunci rapat-rapat lembaran masa lalu dan menikmati kebahagiaan utuh yang kini ada di hadapan mereka.

Sementara itu, di tempat lain, keheningan lorong rumah tahanan yang dingin dipecahkan oleh suara jeritan histeris.

Fitria berlutut di lantai semen yang lembap, menempelkan wajahnya pada celah jeruji besi.

Tangannya mencengkeram erat batangan besi dingin itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Pak, tolong saya, Pak! Sekali ini saja!" jerit Fitria pada seorang sipir penjaga yang melintas di depan selnya.

"Tolong hubungi Pak Adrian! Saya cuma minta waktu lima menit untuk bicara sama dia!"

Sipir itu menghentikan langkahnya sejenak, menatap Fitria dengan raut wajah jenuh dan dingin.

"Sudah saya katakan berulang kali, Tahanan Fitria. Pihak Pak Adrian maupun kuasa hukumnya sudah menolak mentah-mentah. Jangan membuat keributan di sini."

"Nggak mungkin! Mas Adrian nggak mungkin sejahat ini sama saya!" tangis Fitria pecah, air matanya bercucuran membasahi pipinya yang kini kusam dan tirus.

"Dia cuma terpengaruh sama Sasi! Tolong, Pak, pinjamkan ponsel Bapak sebentar saja. Saya mau jelaskan semuanya! Saya tahu dia pasti mau dengar kalau saya yang bicara langsung!"

"Cukup!" bentak sipir itu tegas, mengetukkan tongkatnya ke jeruji besi hingga menimbulkan suara dentangan nyaring yang membahana.

"Pak Adrian sendiri yang meminta pihak kejaksaan agar Anda dihukum semaksimal mungkin tanpa ada kompromi. Terima kenyataan itu dan kembali ke tempat tidur Anda!"

Sipir itu berbalik melangkah pergi tanpa memedulikan ratapan Fitria yang kian histeris.

"MAS ADRIAN! TEMUI AKU, MAS! MAS ADRIANNN!"

Suara lengkingan Fitria akhirnya runtuh menjadi isak tangis keputusasaan.

Ia tersungkur di lantai dingin, mencengkeram dadanya yang terasa dihantam beban amat berat.

Kebohongan yang ia susun rapi kini berbalik menghancurkan dirinya sendiri, meninggalkan ia membusuk di balik jeruji besi tanpa ada lagi satu orang pun yang bersedia menolongnya.

Di dalam sel tahanan yang gelap dan dingin, rasa frustrasi dan kebencian yang membakar dada Fitria kini berubah menjadi nekat.

Harapan terakhirnya untuk membujuk Adrian telah pupus sepenuhnya, berganti dengan keputusasaan yang teramat pekat.

Matanya yang menyalang merah menatap sekeliling ruangan sempit itu.

Akal sehatnya telah tertutup rapat oleh rasa malu dan bayangan masa depan yang hancur di balik jeruji besi belasan tahun lamanya.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Fitria mencengkeram kain seragam tahanan kusam yang melekat di tubuhnya.

Sreeek!

Ia merobek kain pakaian itu dengan paksa, menyobeknya menjadi beberapa helai panjang.

Tangannya yang dingin dan gemetar dengan cepat memilin serta mengikat helai-helai kain tersebut, menyambungkannya menjadi sebuah tali yang cukup kuat.

Sambil terisak tanpa henti dan bergumam menyebut nama Adrian serta Sasi dengan penuh dendam, Fitria memanjat pembaringan semen.

Ia mengikatkan ujung tali kain itu pada ventilasi jeruji besi di bagian atas dinding sel.

Setelah memastikan simpulnya terikat kencang, ia melingkarkan ujung lainnya ke lehernya sendiri.

"Kalau aku tidak bisa memiliki Mas Adrian. Sasi juga tidak boleh hidup tenang." bisiknya parau dengan sisa-sisa napas yang tercekat.

Dengan mata membelalak penuh dendam, Fitria menjatuhkan fisiknya dari tempat pijakan.

Beban tubuhnya membuat tali kain itu terulur tegang seketika.

Gesekan erat mencengkeram lehernya, memotong aliran udara secara mendadak.

Fitria mengerang tertahan, kakinya menggapai-gapai udara di dalam sel yang hening, sebelum akhirnya perlahan-lahan seluruh pergerakannya terhenti dan ruangan itu kembali mencekam dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!