Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Sang CEO Tampan
"Aduh...!" rintih Pak Santoso kesakitan, memegang bahunya yang terbentur keras.
"Ayah!" teriak Evita Desniati histeris dari atas ranjang pasien, wajahnya pucat pasi ketakutan melihat sosok wanita yang hampir merenggut nyawanya kini menerobos masuk ke dalam kamar.
Bu Yekti yang berdiri di dekat sofa langsung menjerit histeris histeris sejadi-jadinya, berlari melindungi suaminya sambil merentangkan tangan. "Tolong! Siapa saja! Tolong ada pembunuh masuk!"
Suasana di dalam kamar VIP 308 mendadak menjadi riuh rendah penuh kepanikan yang luar biasa.
Viola melangkah masuk ke dalam kamar dengan cara yang sangat beringas. Ia merobek topi perawat di kepalanya dan mencopot masker medis putihnya, menampakkan seringai sadis, senyuman lebar seluas telinga, serta mata melotot liar yang memancarkan aura kegilaan mutlak.
"Ha-ha-ha-ha! Kejutannnn!" teriak Viola histeris, mengayunkan jarum suntik besar berisi emboli udara di tangan kanannya dengan penuh kemenangan. "Kalian kira aku sudah mati, hah?! Kalian kira aku akan membiarkan kalian hidup bahagia setelah menghancurkan seluruh hidupku?!"
Viola berjalan terhuyung-huyung mendekati ranjang Evita, air liurnya sedikit menetes karena luapan emosi halusinasi yang menguasai otaknya. Di dalam kepala Viola yang sudah rusak total oleh dendam, ia melihat bayangan musuh-musuhnya bersujud memohon ampun, padahal yang ada di hadapannya adalah Evita yang gemetar ketakutan di atas ranjang rumah sakit.
"V-Viola... Kamu sudah gila..." cicit Evita dengan suara bergetar hebat, merosot mundur ke ujung kepala ranjang, berusaha mencari tombol darurat rumah sakit yang berada di dinding belakang.
"Jangan mendekat... Kumohon..."
"Gila? Ya! Aku memang sudah gila karena kalian berdua!" bentak Viola histeris, air matanya bercampur dengan seringai psikopat di wajahnya. "Dan hari ini, di kamar pesakitan ini, aku akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri, Evita! Biar kekasih taipanmu itu merasakan bagaimana rasanya kehilangan wanita yang paling dicintainya! Mati kauuu!"
Viola mengangkat jarum suntik maut itu tinggi-tinggi, bersiap menghujamkannya langsung ke arah dada Evita tanpa ragu sedikit pun.
"Tidak... Jangan...!" teriak Evita histeris menutup wajahnya dengan kedua tangan, pasrah menanti jarum beracun itu merobek kulitnya.
Cittt!
Tepat sepersekian detik sebelum jarum suntik itu menembus tubuh Evita, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar dengan hantaman angin yang sangat kencang.
****
"VIOOOOOLLAAAA!"
Sebuah suara bariton yang sangat berat, menggelegar bagaikan raungan naga murka dari dasar neraka, memenuhi seluruh ruangan kamar VIP tersebut. Suhu di dalam ruangan seketika merosot drastis hingga membekukan udara.
Viola tersentak kaget bukan kepalang, menghentikan ayunan tangannya di udara. Ia menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah pintu.
Sosok Ma Yong Hua berdiri di ambang pintu dengan postur tegap yang luar biasa mengintimidasi. Pria Tionghoa berdarah dingin itu mengenakan setelan jas hitam tailored-fit tanpa dasi, kemeja bagian atasnya terbuka sedikit karena ia berlari kencang dari lift utama begitu mendapat laporan darurat dari pos keamanan rumah sakit.
Di belakangnya, Feng Zhi bersama empat orang pengawal berbadan kekar berdiri bersiaga dengan tatapan mata setajam pisau belati.
Melihat kehadiran pria yang paling ia takuti berdiri tepat di hadapannya, sekujur tubuh Viola mendadak menegang kaku. Jarum suntik di tangannya bergetar hebat.
"T-Tuan... Ma...?" bisik Viola terbata-bata, ketakutan luar biasa tiba-tiba menghantam logika halusinasi yang menguasainya.
Ma Yong Hua melangkah masuk ke dalam kamar dengan tatapan mata sipit yang menyala tajam oleh kemarahan mutlak. Tidak ada ekspresi ampun di wajah tampannya; yang ada hanyalah aura kematian bagi siapa saja yang berani menyentuh wanita miliknya.
"Letakkan benda di tanganmu itu, atau aku pastikan hari ini adalah detik terakhir kamu bernapas di muka bumi ini, Viola Sanustika," ucap Ma Yong Hua dengan suara rendah, dingin, dan penuh tekanan psikologis yang sangat mematikan.
****
Viola mundur selangkah, menatap tajam ke arah Ma Yong Hua dengan napas memburu. Alih-alih menyerah, jiwa psikopatnya kembali berontak. Ia mendengus tertawa sinis, lalu mengarahkan ujung jarum suntik itu tepat ke leher Evita yang berada di sampingnya.
"Jangan mendekat, Ma Yong Hua! Mundur kalian semua, atau jarum ini langsung menusuk jantung wanita kesayanganmu ini sekarang juga!" ancam Viola histeris, menekan ujung jarum hingga menyentuh kulit leher Evita yang pucat ketakutan.
Evita memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya menetes perlahan. "Tuan Yong Hua... jangan pedulikan aku..." bisik Evita lirih.
Ma Yong Hua berhenti melangkah. Sepasang matanya menghujam tajam ke arah tangan Viola yang memegang jarum. Di balik ketenangannya, otak sang taipan menghitung setiap milidetik pergerakan musuh dengan presisi tingkat tinggi.
"Kamu pikir kamu bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup setelah melakukan semua kejahatan ini, Viola?" suara Ma Yong Hua terdengar sangat tenang namun mengandung ancaman mutlak.
"Aku tidak peduli!" jerit Viola histeris kehilangan akal sehat. "Kalau aku harus mati, aku akan menyeret wanita jalang ini ke neraka bersamaku!"
Namun, di saat perhatian Viola sepenuhnya terkunci pada ancamannya terhadap Ma Yong Hua di bagian depan, ia melupakan satu hal krusial: Feng Zhi.
****
Sebagai sekretaris pribadi sekaligus kepala keamanan yang terlatih secara profesional, Feng Zhi tidak pernah tinggal diam. Memanfaatkan celah sepersekian detik saat Viola menoleh dan berteriak histeris, Feng Zhi bergerak secepat kilat melompat menyamping melewati sisi ranjang sebelah kiri.
Syuuung!
Dengan gerakan akrobatik yang sangat presisi, tangan kokoh Feng Zhi mencengkeram pergelangan tangan kanan Viola yang memegang jarum suntik dengan tenaga penuh.
"Argh! Lepaskan aku!" jerit Viola kaget bukan kepalang.
Prang!
Feng Zhi memuntir pergelangan tangan Viola ke belakang dengan keras hingga jarum suntik di tangan wanita itu terlepas dan jatuh membentur lantai, pecah berkeping-keping. Belum sempat Viola meronta lebih jauh, dua orang pengawal berbadan besar langsung menerjang maju, membekap kedua lengan Viola dan menjatuhkan wanita itu berlutut tak berdaya di lantai kamar rumah sakit.
"Lepaskan aku! Kalian semua bajingan! Lepaskannn!" ratap Viola histeris meronta-ronta, mencakar lantai dengan kuku-kukunya yang kotor, namun cengkeraman para pengawal terlalu kuat untuk dilawan.
Ma Yong Hua menghela napas panjang, melangkah maju mendekati ranjang tempat tidur Evita. Ia mengabaikan jeritan histeris Viola sepenuhnya, lalu menundukkan tubuhnya untuk memeriksa kondisi Evita yang masih gemetar ketakutan di atas ranjang.
"Evita..." panggil Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang sangat lembut, menyentuh lembut pipi Evita yang basah oleh air mata. "Kamu tidak apa-apa? Apakah dia melukaimu?"
Evita membuka matanya, menatap wajah Ma Yong Hua yang penuh dengan kekhawatiran yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menghambur memeluk tubuh tegap Ma Yong Hua erat-erat, menumpahkan segala ketakutan dan ketegangannya di dada bidang sang taipan.
"Tuan Yong Hua... Aku takut sekali..." isak Evita tertahan dalam pelukan hangat pria itu.
Ma Yong Hua mendekap Evita dengan sangat erat, mengecup lembut puncak kepala wanita tersebut sambil mengusap punggungnya penuh kasih sayang. Ia mendongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah Viola yang masih meronta-ronta di lantai.
"Bawa wanita gila ini keluar dari hadapanku," perintah Ma Yong Hua dengan suara dingin setajam es kepada Feng Zhi dan para pengawal. "Serahkan dia langsung ke sel isolasi keamanan maksimum kepolisian, dan pastikan dia dipasung dengan rantai besi agar tidak bisa melarikan diri lagi selamanya."
"Baik, Tuan Ma!" seru Feng Zhi tegas.
Empat pengawal langsung menyeret tubuh Viola keluar dari kamar VIP 308 secara paksa diiringi teriakan sumpah serapah, makian kotor, dan tawa histeris Viola yang menggema di sepanjang koridor rumah sakit, mengakhiri teror mengerikan sang iblis betina untuk sementara waktu.