Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Terlalu Pengecut
Beberapa dokter itu terus membicarakan tentang apa yang terjadi di rumah sakit itu, Aisyah tetap tenang dan sementara berbeda dengan Amira yang sebenarnya ingin sekali bertanya dan bergabung dengan para dokter, tetapi Amira tidak mungkin melakukan hal itu.
Amira hanya terus melihat ke arah Aisyah dengan reaksi Aisyah yang benar-benar datar.
"Tetapi saya dengar-dengar kabarnya bahwa dokter Andrean akan berkunjung ke rumah sakit kita mungkin akhir bulan ini," salah satu dokter mengungkapkan apa yang dia ketahui membuat Amira menatap serius
"Benarkah, Alhamdulillah jika dokter Andrean masih berkunjung ke rumah sakit kita," sahut yang satunya ikut senang.
"Kita berdoa saja semoga dokter Andrean terus diberi kesehatan dan pasien-pasiennya juga bisa sembuh," ucap Dokter tersebut membuat mereka menganggukan kepala.
"Dokter Aisyah!" tiba-tiba salah satu dokter itu menyapa.
"Iya Dokter kenapa?" sahut Aisyah.
"Bagaimana dengan Dokter Aisyah? kemarin tidak masuk, apa sedang sakit?" tanya dokter itu.
"Benar, kurang enak badan, mungkin kurang beristirahat," jawab Aisyah.
"Begitu, cuaca memang akhir-akhir ini sangat buruk, semoga kita semua diberi kesehatan, Karena bagaimanapun kita harus sehat untuk pasien-pasien kita," sahut yang satunya membuat mereka menganggukkan kepala.
"Hmmm, saya mau keluar sebentar!" ucap Aisyah membawa dokumen yang baru saja dia selesaikan.
Amira yang melihat sahabatnya itu pergi membuat Amira juga keluar dari area tempat duduknya dan hanya tersenyum kepada para dokter yang bercerita.
"Aisyah!"
Langkah terhenti ketika Amira menghampiri Aisyah.
"Ada apa Amira?" tanya Aisyah.
"Bagaimana caranya aku mengatakannya kepada Aisyah, apa mungkin aku harus bertanya, tapi Aisyah sangat trauma dengan kecelakaan itu," batin Amira.
"Amira!" tegur Aisyah ketika sahabatnya itu hanya melamun.
"Oh, tidak apa-apa. Aku lupa apa yang ingin aku sampaikan," jawab Amira.
"Kamu ini aneh sekali, ya sudah kalau begitu aku ingin ke ruangan pasien dulu," ucap Aisyah membuat Amira menganggukkan kepala.
"Ya Allah, mungkin hal ini sangat simpel, tetapi kenapa aku merasa ada hal besar, tentang kecelakaan Aisyah, saudara tirinya yang namanya sama dengan map yang aku temukan, kenapa aku merasa hal ini tidak biasa? apa memang ada sesuatu hal besar yang terjadi?" batin Amira bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.
Amira menghela nafas dan kemudian meninggalkan tempat tersebut.
*******
Kaivan yang berada di kediaman orang tuanya terlihat memasuki gudang dengan membawa kardus cukup besar membuat Saras yang tidak sengaja menuruni anak tangga melihat hal tersebut.
"Kaivan!" tegur Lidya ketika putranya itu sudah keluar dari gudang dan menutup pintu gudang.
"Apa yang kamu simpan?" tanya Lidya
"Oh, itu hanya foto-foto Cindy yang masih tersimpan di kamar. Aku pikir tidak pantas berada di kamar," jawab Kaivan.
Lidya tersenyum menghela nafas dan kemudian melangkah menghampiri Kaivan dengan Saras memegang pipi Kaivan.
"Kamu melakukan semua ini karena Aisyah?" tebak Saras.
"Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kami. Bagaimanapun Aisyah adalah istriku dan saat ini sedang mengandung anakku, jadi tidak harus melibatkan Aisyah dalam masa laluku," jawab Kaivan.
"Alhamdulillah Kaivan, kamu ternyata sudah benar-benar lepas dari hubungan itu. Mama senang melihat kamu yang sekarang, melihat kamu jauh lebih baik daripada sebelumnya. Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu dan juga rumah tangga kamu dengan Aisyah," ucap Lidya.
"Terima kasih. Ma, maaf jika terkadang Kaivan harus melibatkan mama dalam hal ini dan membuat Mama khawatir begitu juga dengan Papa," ucap Kaivan.
"Ya sudah, kamu lakukan yang terbaik sebagai suami. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu," ucap Lidya membuat Kaivan mengangguk.
******
"Hmmmmm, enak sekali..." ucap Aisyah terlihat menikmati bubur yang baru saja di bawa Kaivan.
Kaivan tersenyum ketika menyuapi istrinya yang makan seperti anak kecil dan sangat menggemaskan.
"Di mana Kakak menemukannya?" tanya Aisyah ketika dia memang sedang ngidam ingin memakan bubur jagung di malam hari.
"Di manapun asalkan kamu tidak rewel," jawab Kaivan membuat Aisyah tersenyum.
"Makacih...., sudah berusaha mencarinya untuk Aisyah," ucapnya sangat manja.
Kaivan hanya tersenyum pada Aisyah.
"Kamu harus terus jaga kesehatan, jangan terlalu lelah dan kalau bisa jangan ada shift malam lagi, kamu harus benar-benar memikirkan bahwa saat ini kamu tidak sendiri, ada bayi di dalam kandungan kamu," ucap Kaivan selalu memberi pesan kepada istrinya.
"Baik suamiku yang sangat bawel," ucapnya dengan mengayun suaranya membuat Kaivan geleng-geleng kepala.
"Auhhh....."
Aisyah tiba-tiba saja mengucek matanya yang terasa perih.
"Aisyah kenapa?" tanya Kaivan.
"Tidak tahu tiba-tiba terasa perih!" ucapnya yang terus mengucek membuat Kaivan menahan jari-jari istrinya.
"Jangan semakin dikucek seperti itu, nanti akan semakin perih," ucap Kaivan yang meniup bola mata sang istri, tetapi tiba-tiba saja Kaivan melihat sosok lain dari mata itu.
"Aisyah mungkin karena kamu tidak melakukan pemeriksaan," ucap Kaivan.
"Pemeriksaan, memang mata Aisyah kenapa?" tanyanya membuat Kaivan membuyarkan lamunannya di saat menyadari bahwa ada sesuatu hal yang tidak harus dia katakan.
"Tidak apa-apa Aisyah," Kaivan geleng-geleng kepala yang terlihat mengatur nafas berat membuat Aisyah bingung.
"Aisyah tidak tahu apa yang terjadi Kak, belakangan ini mata Aisyah terasa perih, seperti ada luka yang kedut-kedut tidak jelas, kalau dalam dunia kedokteran itu biasanya berhubungan dengan kornea mata, tetapi itu biasanya pasien yang mendapatkan donor mata, sementara Aisyah sama sekali tidak pernah ada masalah dengan mata," ucap Aisyah.
Kaivan seolah-olah mengetahui hal yang besar membuatnya hanya terdiam.
"Tetapi nanti Aisyah akan coba bertemu dengan dokter spesialis mata dan membicarakan mata Aisyah, takutnya ada infeksi dan jika dibiarkan nanti akan semakin parah," ucap Aisyah.
Aisyah menatap suaminya, suaminya tiba-tiba tidak merespon apa yang dia sampaikan membuat Aisyah justru bingung.
"Kak!" tegur Aisyah membuat Kaivan terbuyar dari lamunannya.
"Iya Aisyah," jawab Kaivan.
"Kakak kenapa?" tanya Aisyah.
"Saya banyak salah kepada kamu," ucap Kaivan lagi-lagi apa yang dikatakan Kaivan membuat Aisyah bingung.
Aisyah tersenyum dengan memegang pipi Kaivan.
"Kakak kenapa sih, belakangan ini sangat suka meminta maaf, selalu mengatakan salah, padahal bagi Aisyah kakak tidak bersalah apapun, memang apa yang salah kak?" tanyanya kebingungan dengan suaminya.
"Entahlah Aisyah, saat saya melihat kamu seperti ini dan saat kita dekat seperti ini, saya merasa bersalah kepada kamu, apa yang saya pikirkan dulu, membuat saya seperti terjebak dengan keinginan saya, tetapi perlahan saya menyadari sesuatu, saya kurang dewasa, saya seperti menganggap semuanya permainan dan saya takut jika suatu saat kamu akan menjadi efek dari kebodohan saya," ucap Kaivan.
"Kakak sebenarnya berbicara apa? Sungguh Aisyah tidak paham," ucapnya benar-benar kebingungan dengan suaminya.
"Sudahlah Aisyah sebaiknya kita abaikan saja pembicaraan ini. Ayo kamu makan lagi buburnya, kalau sudah dingin nanti tidak enak," ucap Kaivan tidak ingin mengatakan apapun lagi dan mungkin takut jika Aisyah justru kepikiran.
Aisyah kembali menerima suapan dari suaminya.
"Kakak tidak mau mencobanya?" tanya Aisyah.
"Melihat kamu makan sudah membuat saya kenyang," jawab Kaivan.
"Kalau begitu kedepannya Kakak tidak perlu makan lagi, cukup melihat Aisyah saja," ucap Aisyah dengan candaannya.
Aisyah tersenyum lebar dengan suaminya yang justru semakin gemas kepadanya.
Bersambung.....