Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pengakuan jujur Emily membuat Leon begitu bahagia, tetap tidak bagi Jason yang bersedia membantu Caroline agar dapat memiliki Emily.
Caroline berhasil pulang membawa suami dan putrinya. Mereka tak kecewa pulang tanpa Emily, sebab mereka pun tak menginginkan Emily lagi. Apalagi Leon juga mengembalikan semua uangnya Jason. Jadi, mereka tak terikat utang kebaikan dengan pria itu.
Sementara dikediaman suaminya, Emily duduk di ujung ranjang. Ia merasa sedih karena tak dapat bertemu lagi dengan kedua orang tuanya dan kakaknya. Ia telah berjanji kepada Leon agar tetap berada di sisi suaminya.
"Apa kau menyesal?" Leon berdiri dihadapan istrinya yang duduk.
Emily mendongakkan kepalanya pelan dan berkata, "Aku tidak menyesal dengan keputusanku!"
"Lalu apa yang membuatmu bersedih?" tanya Leon.
"Aku sangat merindukan mereka," jawab Emily.
Leon tertawa getir.
"Aku diberikan pilihan yang sangat berat. Aku harus memilih antara suami dan kedua orang tua," kata Emily.
"Apa kau yakin mereka orang tua kandungmu?" tanya Leon menatap istrinya.
Emily mengernyitkan dahinya.
"Kau lihat ibumu, dia datang bersama siapa?" tanya Leon lagi.
"Jason," jawab Emily.
"Jason adalah orang yang licik. Dia tak mau membantu jika tidak memiliki kepentingan," ujar Leon.
Emily terdiam.
"Jason menginginkan kamu!" kata Leon.
"Apa?" Emily sangat terkejut.
"Kamu lepas dariku, maka mereka akan menyerahkanmu kepada dia!" kata Leon lagi.
"Lalu bagaimana kamu bilang jika mereka bukan orang tua kandungku?" tanya Emily.
"Apa selama ini kamu tidak merasakan perbedaan antara kamu dan Belinda?" Leon duduk di samping istrinya.
Emily sejenak berpikir.
"Apa kamu sudah ingat perbedaan diantara kalian?" tanya Leon menoleh ke arah wanita disampingnya.
"Ya, selama ini aku memang merasa jika aku dan Kak Belinda bukan saudara kandung!" jawab Emily.
Leon lalu menjelaskan asal usul istrinya.
"Tidak. Itu pasti kamu salah!" Emily beranjak dari tempat duduknya, ia tak percaya jika kedua orang tuanya adalah pelayan dan dilenyapkan oleh Antonio dan istrinya.
"Aku tidak mungkin salah mencari informasi tentangmu, Emily!" kata Leon yang juga berdiri.
"Kenapa mereka harus melenyapkan kedua orang tuaku?" tanya Emily.
"Untuk itu, aku tidak tau alasannya," jawab Leon.
Emily yang tak percaya, terduduk kembali di ranjang dan meneteskan air matanya. Pantas saja selama dia tinggal bersama Antonio dan Caroline ia mendapatkan perlakuan berbeda. Tak pernah diajak berlibur ke luar negeri. Jika dirinya meminta sesuatu sangat sulit segera dikabulkan. Ia harus melakukan suatu pekerjaan agar keinginannya terwujud.
"Apa kamu sekarang percaya padaku?"
Emily mendongakkan wajahnya, ia bangkit dan memeluk suaminya. "Jangan pernah tinggalkan aku, Leon!" isaknya.
Leon membalas pelukan istrinya dan mengelus punggungnya. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu!"
Sementara itu dikediaman Antonio, kedua orang tua dan anaknya tertawa bahagia karena terlepas dari Leon. Namun, mereka memiliki dendam sebab selama ditahan mengalami penyiksaan.
Ketiganya pun berniat segera membalas perlakuan Leon.
Dilain tempat, tepatnya di apartemen milik Jason. Pria itu tampak begitu kecewa, ia melemparkan gelas bekas alkohol yang baru selesai diminumnya. Ia gagal merebut Emily dari tangan Leon, teman sekaligus saingannya.
"Aaargghh..." teriak Jason sekencang-kencangnya.
"Aku pastikan kau bakal kehilangan semua yang kau miliki, Leon!" Jason mengepalkan tangannya menahan rasa marah.
***
Satu bulan berlalu...
Dari beberapa hari yang lalu Emily mengalami mual dan muntah, ia bahkan menolak makan walaupun sedikit. Dia lebih memilih minum air putih dan mengonsumsi buah yang asam.
"Emily, ayo kita ke rumah sakit!" bujuk Leon memegang tangan istrinya yang terbaring lemah di ranjang.
"Aku tidak mau dirawat, Leon!" kata Emily lirih.
"Jika memang tidak ada penyakit apapun, kamu takkan dirawat di rumah sakit!"
"Panggil saja dokter ke sini. Aku malas kalau harus keluar rumah!" kata Emily lagi.
Leon menghela napas, "Baiklah!"
Sejam kemudian, seorang dokter wanita paruh baya datang dan memeriksa kondisi kesehatan Emily. Ia juga melemparkan pertanyaan seputar masalah kewanitaan kepada Emily.
"Dari gejala dan tanda yang Nona Emily sebutkan sepertinya istri anda hamil, Tuan!" kata dokter menatap Leon yang berdiri di sampingnya.
"Hamil?" Leon tampak terkejut.
"Ya. Jika memang ingin lebih tau kepastiannya, sebaiknya Nona Emily melakukan pemeriksaan ke rumah sakit!" saran dokter.
Leon mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu saya pamit!"
"Iya, Dok. terima kasih!" kata Leon.
Selepas dokter berlalu dan pintu kamar tertutup, Leon menghampiri istrinya yang sedang duduk. Leon lalu duduk di sampingnya dan memeluknya. "Kamu hamil!"
Emily hanya diam dan tersenyum tipis.
Leon melepaskan pelukannya, matanya berkaca-kaca. Dengan bibir bergetar, "Aku tidak menyangka kamu bakalan mengandung anakku."
"Sekarang orang yang akan kamu lindungi bukan aku saja tapi calon anak kita!" kata Emily dengan raut wajah pucat.
"Aku janji kamu dan anak kita tetap aman!" ucap Leon.
"Ya, aku percaya padamu!"
-
Sore harinya untuk memastikan kabar bahagia itu, keduanya pergi ke rumah sakit. Dari hasil tahap pemeriksaan secara keseluruhan, kandungan Emily berusia 5 minggu.
Sepulangnya dari rumah sakit, di perjalanan Leon mengabarkannya kepada kedua orang tuanya.
Mendengar kabar bahagia itu, Rachel dan Frans berjanji datang berkunjung besok pagi.
"Selama kamu hamil, aku bebaskan diri latihan berat seperti berkuda dan menembak!" kata Leon.
"Tapi, aku mau kamu selalu ada di rumah!" Emily merangkul lengan suaminya dengan manja.
"Aku pastikan sebelum matahari terbenam, aku sudah kembali ke rumah!" kata Leon.
"Hmm, begitulah. Aku 'kan jadi bahagia!" ucap Emily tersenyum.
"Apapun yang membuatmu bahagia, aku akan lakukan!" Leon mengecup pucuk kepala istrinya.
***
Besok paginya, Rachel dan Frans datang berkunjung. Wanita paruh baya yang masih kelihatan segar dan cantik itu memeluk menantunya. Ia begitu sangat bahagia mendengar kabar tersebut, sebentar lagi dia akan dikaruniai seorang bayi.
"Selama kehamilan, kamu tak boleh stres. Kalau Leon membuatmu menangis beritahu Mama!" kata Rachel.
Emily tersenyum dan mengangguk kecil.
"Jika kamu menginginkan sesuatu jangan pernah tunda, sampaikan saja kepada kami atau suamimu!" kata Rachel lagi.
Emily sungguh beruntung memiliki mertua yang sangat menyayanginya. Menganggapnya seperti anak sendiri. Dia berharap kebahagiaannya tak cepat berakhir.