Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Kak Anin, Adik Bima
Sirene berhenti di bawah gedung kurang dari tiga menit kemudian.
Dua petugas naik bersama Doni. Rekan Bima itu tiba paling belakang, napasnya memburu meski datang memakai lift. Begitu melihat dua pria terkapar di lantai, langkahnya langsung terhenti.
"Bang Bima..."
"Jangan masuk terlalu jauh," kata Bima. "Pisau ada di bawah meja. Tali dan kain penyumpal di kamar. Jangan sentuh apa pun."
Petugas pertama mengenakan sarung tangan sebelum memeriksa kedua pelaku. Rekannya memotret posisi pisau, bekas congkel pada pintu depan, kabel di gagang kamar, serta ikatan yang sudah dilepas.
"Siapa yang melumpuhkan mereka?" tanya petugas itu.
Bima mengangkat tangan.
Petugas tersebut menatap seragamnya, lalu kedua pelaku, lalu pentungan yang masih terselip rapi di pinggang.
"Sendirian?"
"Mereka terpeleset berkali-kali, Pak."
Doni mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak. Bima meliriknya satu kali. Doni langsung menutup mulut.
Anindya duduk di sofa dengan kardigan dirapatkan. Seorang petugas menanyakan apakah ia membutuhkan ambulans. Setelah memeriksa memar di siku dan memastikan kepalanya tidak terbentur, Anindya memilih menjalani pemeriksaan lanjutan setelah laporan awal selesai.
Kedua pelaku dibangunkan, diborgol, lalu digiring ke lift. Pria bertato berjalan pincang dengan satu lengan menggantung kaku. Saat melewati Bima, ia berhenti setengah detik.
"Awas kau," desisnya. "Aku ingat mukamu."
Koridor mendadak sunyi.
Doni menegang. Anindya memucat lagi.
Bima hanya tersenyum tipis.
"Bagus," katanya. "Jadi lain kali kamu tahu harus lari ke arah mana."
Petugas mendorong pria itu masuk ke lift sebelum ia sempat menjawab.
Setelah pemeriksaan awal tempat kejadian selesai, Bima dan Anindya diminta ikut ke Polsek Danau Utara untuk membuat laporan serta memberikan keterangan terpisah. Doni kembali ke pos untuk menjaga akses gedung dan menyimpan rekaman CCTV agar tidak tertimpa rekaman baru.
"Jangan lupa salin bagian saat mereka masuk lorong servis," pesan Bima.
"Siap, Bang." Doni mengangguk cepat, lalu berbisik, "Tapi soal mereka terpeleset berkali-kali itu..."
"Jaga pos."
"Iya, iya. Rahasia negara."
Polsek Danau Utara hanya berjarak beberapa blok dari apartemen. Bima dan Anindya dibawa dengan kendaraan patroli yang berbeda dari kendaraan para pelaku.
Di dalam ruang pemeriksaan, lampu putih terasa terlalu terang. Seorang penyidik meminta Bima menjelaskan kejadian sejak melihat dua pria di CCTV sampai petugas tiba. Pertanyaannya diulang dari beberapa sudut: kapan ia masuk, siapa menyerang lebih dulu, di mana pisau ditemukan, dan apakah ia memukul setelah lawan tak mampu melawan.
Bima menjawab singkat dan konsisten.
"Saya menghindari serangan pertama, menguasai pergelangan pelaku, lalu menghentikan perlawanan. Setelah keduanya jatuh, saya tidak memukul lagi."
Penyidik memandang lembar catatannya. "Anda punya pelatihan bela diri?"
"Pernah mendapat pelatihan saat bekerja di luar negeri."
"Militer?"
Bima diam sepersekian detik. "Sejenis itu."
Penyidik mengangkat alis, tetapi tidak memaksa. Ia meminta KTP Bima untuk melengkapi data.
Saat Bima membuka dompet, selembar foto lama terlepas dan meluncur ke lantai.
Anindya kebetulan baru keluar dari ruang pemeriksaan sebelah. Ia membungkuk lebih cepat dan mengambilnya.
Foto itu sudah pudar di bagian sudut. Dua pemuda memakai seragam loreng berdiri di samping mobil sport merah yang berdebu. Senapan tergantung di dada mereka. Pemuda di sebelah kiri menyeringai lebar sambil merangkul bahu Bima; Bima sendiri tampak lebih muda, lebih kurus, tetapi tatapannya sama, tenang seperti seseorang yang selalu tahu letak pintu keluar.
"Ini kamu?" tanya Anindya.
Bima mengambil foto itu dengan hati-hati, jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menangkap pergelangan penyerang.
"Iya."
"Yang di sebelahmu?"
Jempol Bima menyapu debu tipis di wajah pemuda itu.
"Surya. Sahabat saya."
Hanya itu. Namun nada suaranya membuat Anindya tidak melanjutkan pertanyaan.
Bima menyimpan foto di bagian terdalam dompet, menyerahkan KTP kepada penyidik, lalu menandatangani berita acara setelah membacanya sampai akhir.
Hampir dua jam berlalu sebelum keduanya diperbolehkan pulang. Petugas menjelaskan bahwa mereka mungkin akan dipanggil kembali untuk melengkapi keterangan, sementara rekaman CCTV, dua pisau, tali, serta hasil dokumentasi pintu akan dimasukkan ke berkas penyelidikan.
Pukul menunjukkan lewat satu dini hari.
Bima menawarkan memesan kendaraan, tetapi Anindya menggeleng.
"Dekat. Aku ingin jalan sebentar. Di ruangan tadi rasanya susah bernapas."
Sapaan formalnya telah luruh tanpa mereka sadari.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Jalanan masih basah oleh siraman petugas pertokoan. Beberapa warung sudah tutup, menyisakan bau arang dan minyak goreng. Bima mengambil posisi di sisi luar, di antara Anindya dan jalan raya.
Selama beberapa menit, Anindya tidak bicara.
Kemudian sebuah motor melaju terlalu dekat. Suara knalpotnya meledak di belakang mereka.
Anindya tersentak dan meraih lengan Bima.
"Maaf," katanya cepat, hendak melepas tangan.
Bima membiarkannya menggenggam.
"Nggak perlu minta maaf."
"Aku masih merasa mereka mengikuti."
"Nggak ada siapa-siapa."
"Kalau teman mereka datang? Yang tadi mengancam kamu?"
Bima menoleh. Di bawah lampu jalan, wajah Anindya masih pucat dan lelah. Namun kekhawatiran dalam matanya sekarang bukan hanya untuk dirinya sendiri.
"Ada aku," katanya. "Nggak akan kenapa-kenapa."
Anindya membuang muka. Cahaya lampu memantul pada air yang tertahan di sudut matanya.
Ia tidak menangis. Hanya mempererat genggaman selama beberapa langkah, lalu perlahan melepaskannya saat gerbang Apartemen Danau Utara mulai terlihat.
"Bima."
"Hmm?"
"Boleh minta nomor teleponmu? Untuk urusan laporan. Atau... kalau aku merasa takut lagi."
Bima menyebutkan nomornya. Anindya menelepon sekali agar nomornya tersimpan di ponsel Bima.
Layar menyala dengan nama yang baru ia ketik: Anindya.
Perempuan itu mengintip. "Kaku banget."
"Harus disimpan apa? Bu Penghuni Lantai Dua Puluh Sembilan?"
"Jangan Bu. Aku belum setua itu." Anindya menahan senyum. "Panggil Kak Anin saja."
"Kak? Usia kita mungkin beda dua tahun."
"Justru cocok. Kamu jadi adikku. Adik yang kebetulan bisa menjatuhkan dua perampok."
Bima mengetik ulang namanya menjadi Kak Anin.
"Kalau begitu, Kak Anin harus traktir adiknya."
"Baru juga jadi adik, sudah minta makan."
"Gaji satpam, Kak. Harus pintar cari peluang."
Tawa Anindya kali ini terdengar lebih utuh.
Di depan lobi, mereka berhenti. Anindya memandang lift, menarik napas, lalu menoleh kepada Bima.
"Terima kasih sudah mengantar."
"Kabarin setelah pintu unit terkunci. Besok minta teknisi ganti silinder kuncinya. Jangan cuma kusennya yang diperbaiki."
"Siap, adik cerewet."
Bima menunggu sampai pintu lift menutup. Beberapa menit kemudian, pesan masuk di ponselnya.
Sudah di dalam. Pintu terkunci. Selamat malam, Dik Bima.
Ia baru saja memasukkan ponsel ke saku ketika Doni menyembulkan kepala dari pos.
"Bang Bima!"
"Kecilkan suara."
Doni berlari mendekat dengan senyum yang terlalu lebar. "Aku lihat semuanya dari CCTV lobi. Tatapan Kak Anin ke Bang Bima itu bukan tatapan korban ke satpam. Itu tatapan orang mau jatuh cinta."
Bima mendorong wajah Doni dengan satu telapak tangan dan berjalan menuju pos.
"Kebanyakan nonton video."
"Tapi Bang senyum!"
"Aku lagi mikir cara potong gajimu."
"Bohong. Bang Bima jelas senang."
Bima tidak menjawab. Ia duduk kembali di depan dua belas layar CCTV, seolah malam itu tidak terjadi apa-apa.
Namun di saku seragamnya, ponsel dengan nama Kak Anin terasa sedikit lebih berat daripada sebelumnya.