`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KISAH CINTA YANG BERACUN` BAB 1: Bunga Sebelum Badai
`KISAH CINTA YANG BERACUN`
BAB 1: Bunga Sebelum Badai
Aroma kopi hitam dan mentega terbakar dari croissant hangat memenuhi udara café langganannya di sudut kota Melbourne.
Lea menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu mengibaskan rambut bergelombang karamelnya dengan gerakan santai—gerakan yang sangat ia sadari berhasil menarik perhatian dua pria lokal di meja sebelah.
Lea Anggita bukan tipe gadis yang akan menyembunyikan kelebihannya. Dia cantik, dia tahu itu, dan dia menikmati setiap detik dari perhatian yang ia dapatkan. Dibesarkan di Australia oleh ibunya yang berjiwa bebas dan kaya raya, Lea tumbuh tanpa batasan.
Di sekolahnya, Lea adalah definisi popular girl yang tak tersentuh. Sensasi bermain-main dengan perasaan pria adalah hobinya. Saat ini saja, Lea punya tiga pria yang bertekuk lutut padanya:
Julian, si kapten tim rugby yang manis tapi membosankan;
Ethan, fotografer indie yang artistik;
dan Liam, mahasiswa tingkat atas yang memanjakannya dengan barang-barang bermerek.
None of them knew about each other. Bagi Lea, cinta itu seperti permainan catur, dan dia selalu menjadi ratu yang memegang kendali.
Ia baru saja hendak membalas pesan genit dari Ethan saat layar ponselnya bergetar panik. Sebuah nama memotong semua obrolan sampah dari para pengagumnya.
Alia.
Kerutan halus muncul di dahi Lea, namun senyum manis segera terukir di bibirnya. Saudara kembar identiknya. Sisi lain dari koin hidupnya. Jika Lea adalah bayangan yang liar dan tajam, maka Alia adalah cahaya lembut yang tenang.
Terpisah sejak usia delapan tahun karena perceraian orang tua mereka yang pahit, Alia memilih tinggal di Indonesia bersama ayah mereka—yang sayangnya telah meninggal dua tahun lalu—dan kini merawat nenek mereka dalam keterbatasan ekonomi.
Denting notifikasi beruntun masuk tanpa henti.
> Alia: Lea!! Kamu lagi sibuk gak?!
> Alia: Aku mau cerita! Tapi tolong banget, kamu jangan ketawa atau ngejek aku ya!
> Alia: Ini beneran penting!
>
Lea tertawa kecil, suara tawa riang yang membuat beberapa pengunjung café menoleh padanya. Ia menyesap iced americano-nya, lalu jemarinya yang terawat menari lincah di atas layar.
> Lea: Cerita apa sih, Kembaran? Kamu ketahuan tertidur di kelas matematika lagi? Atau akhirnya kamu nemu resep kue yang gak berakhir gosong dan bikin pemadam kebakaran datang?
> Alia: Bukan!! Ini jauh lebih besar dari itu!
> Alia: Aku... kayaknya aku lagi jatuh cinta, Lea.
>
Lea hampir saja menyemburkan kopi di mulutnya. Matanya membelalak lebar. Ia membetulkan posisi duduknya, mendadak lupa pada dua pria di meja sebelah yang sejak tadi mencoba mencari perhatiannya.
Alia? Jatuh cinta? Gadis yang seluruh hidupnya hanya diisi oleh buku pelajaran, rumus fisika, dan ambisi mempertahankan beasiswa di Ozawa School?
> Lea: DEMI APA?! Alia Anggita si paling akademis, si paling 'aku mau fokus kuliah dulu demi masa depan', akhirnya kepikat cowok?! Siapa bangsat yang berhasil meluluhkan hati batu kamu?! Tumpahkan semuanya sekarang juga!
> Alia: Hush! Bahasamu, Lea! 🙈
> Alia: Rahasia dong pangerannya. Aku belum mau kasih tahu namanya sekarang. Tapi yang jelas... dia itu sempurna banget. Tampan banget, Lea. Kayak karakter komik yang mendadak hidup.
> Lea: Tampan doang gak cukup, Alia. Kamu tahu kan standar cowok menurutku? Minimal harus bisa bikin kamu merasa jadi pusat semesta.
> Alia: Dia emang gitu! Dia tipe cowok yang dipuji-puji, ditakuti, sekaligus disukai sama satu sekolah. Dia punya segalanya.
> Lea: Tunggu, tunggu... Kalau dia sesempurna itu di sekolah elite tempat kamu sekolah, sainganmu pasti cewek-cewek kaya yang pakai tas Hermes ke sekolah, kan? Gimana ceritanya kamu bisa dekat sama dia?
>
Ada jeda cukup lama sebelum balon percakapan di layar ponsel kembali bergerak, menandakan Alia sedang mengetik pesan yang panjang. Lea bisa membayangkan saudara kembarnya di ujung sana—di kamar mereka yang sederhana di Jakarta—sedang menggigit bibir bawahnya dengan wajah memerah.
> Alia: Itu dia yang bikin aku masih gak percaya sampai detik ini, Lea... Aku rasanya mau nangis karena senang.
> Alia: Dari sekian banyak cewek kaya, cantik, dan populer di Ozawa School, dia malah milih aku. Gadis beasiswa yang biasa aja ini.
> Alia: Dia nembak aku kemarin malam di taman belakang sekolah. Kita baru jadian dua hari, tapi rasanya manis banget. Dia memperlakukan aku kayak barang berharga.
>
Lea bersandar di kursinya, matanya menatap lembut ke arah layar. Di balik sifat nakal dan manipulatifnya terhadap pria-pria di Australia, Lea punya satu titik lemah yang tak tersentuh:
Alia. Lea tahu betapa kerasnya hidup Alia. Sementara Lea hidup bergelimang harta di Melbourne, Alia harus berjuang mati-matian, menghemat setiap rupiah, dan menahan rasa iri pada anak-anak konglomerat di Ozawa School. Jika ada satu orang di dunia ini yang berhak mendapatkan kebahagiaan bak dongeng, itu adalah Alia.
Namun, intuisi tajam Lea yang terbiasa menghadapi berbagai tipe pria liar di luar negeri mendadak memberikan sinyal alarm kecil. Pria sempurna? Penguasa sekolah? Memilih gadis beasiswa yang polos dalam waktu singkat?
> Lea: Alia, dengarkan aku. Pria tampan dan kaya itu biasanya punya ego setinggi langit. Kamu yakin dia beneran tulus? Jangan sampai kamu dimanfaatkan.
> Alia: Lea, aku tahu kamu udah berpengalaman banget soal cowok (walaupun aku masih gak setuju kamu jalan sama tiga cowok sekaligus! 😤), tapi yang ini beda.
> Alia: Tatapannya ke aku beda. Dia lembut banget. Kamu gak usah khawatir, ya?
> Lea: Awas aja kalau dia cuma tebar pesona! Kasih tahu nama lengkapnya sekarang. Biar aku stalk semua media sosialnya, aku cek latar belakang keluarganya, sampai ke akar-akarnya.
> Alia: Enggak mau! Nanti kamu malah ganggu dia pakai cara-cara nakalmu itu! Nanti aja kalau kita udah jalan sebulan, aku janji bakal mengenalkan dia ke kamu lewat video call.
> Alia: Aku beneran bahagia banget, Lea. Rasanya kayak mimpi.
>
Lea menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. Sifat keras kepala Alia memang tidak ada tandingannya jika sudah membuat keputusan.
Lea mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas kulitnya. Senyum puas menghiasi wajah cantiknya. Ia kembali memoleskan lip gloss merah mudanya, berdiri, lalu berjalan menghampiri dua pria di meja sebelah yang sejak tadi menatapnya. Malam ini, permainan kecilnya di Melbourne masih berlanjut.
tiga minggu kemudian.
Dunia Lea tidak hancur secara perlahan. Dunia itu hancur dalam satu detik ledakan yang teramat dingin.
Hari itu, Melbourne sedang diguyur hujan deras. Lea baru saja menyelesaikan kelas fotografinya dan sedang berjalan menuju mobil sports hadiah ulang tahun dari ibunya, ketika ponselnya bergetar hebat di dalam saku mantelnya.
Bukan panggilan suara. Hanya satu baris pesan teks dari Alia.
Lea terkekeh pelan saat merogoh ponselnya. Pasti Alia mau memamerkan peringatan satu bulan jadiannya, pikir Lea. Namun, saat matanya membaca kalimat di layar, senyum di wajah Lea membeku seketika.
> Alia: Lea, tolong aku... Aku mau mati rasanya.
>
Darah Lea seolah berhenti mengalir. Ponsel di tangannya terasa seberat batu. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dadanya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
> Lea: Alia?! Kamu kenapa?! Balas telfonku sekarang!!
>
Lea segera menekan tombol panggilan, namun hanya suara mesin menjawab yang dingin. Panggilannya ditolak. Detik berikutnya, pesan beruntun kembali masuk, namun kali ini bukan pesan penuh bunga dan tawa seperti tiga minggu lalu. Pesan-pesan ini diketik dengan keputusasaan yang begitu nyata, dipenuhi huruf kapital dan tanda baca yang berantakan.
> Alia: Lea, aku gak bisa ke sekolah lagi. Aku malu. Aku gak berani keluar rumah.
> Alia: Dia merusak semuanya, Lea. Dia merusak hidupku.
> Alia: Semua yang dia ucapkan... semua perlakuan manisnya... itu semua bohong.
> Alia: Dia cuma jadikan aku bahan taruhan! Cuma taruhan murah di antara gengnya untuk membuktikan kalau gadis beasiswa yang 'sok suci' ini bisa bertekuk lutut di kakinya dalam waktu kurang dari sebulan!
>
Tangan Lea mulai gemetar hebat. Kemarahan yang begitu pekat dan membakar mulai menjalar dari ujung kakinya hingga ke kepalanya. Udara dingin Melbourne mendadak terasa menyengat.
> Lea: SIAPA ANJING ITU, ALIA?! SEBUT NAMANYA! SEKARANG!
> Alia: Satu sekolah menertawakanku, Lea. Video waktu dia membongkar taruhan itu di kantin... semua orang punya videonya. Mereka melemparkan sampah ke mejaku. Nenek sampai jatuh sakit karena stres mendengarnya...
> Alia: Namanya Teo. Teo Ozawa.
> Alia: Dia penguasa sekolah itu, Lea. Tiran yang harusnya dari awal aku hindari, bukan aku cintai. Aku bodoh... aku terlalu naif...
> Alia: Maafkan aku, Lea. Aku gak sanggup lagi.
>
Setelah pesan terakhir itu, semua akses terputus. Panggilan Lea dialihkan ke nada sibuk. Pesan-pesannya hanya menunjukkan centang satu.
Di tengah riuhnya suara hujan yang menghantam kanopi jalanan Melbourne, Lea berdiri mematung. Air mata kemarahan menetes di pipinya, namun tatapan matanya yang biasanya penuh keceriaan dan godaan kini berubah menjadi begitu gelap, dingin, dan mematikan.
Pria yang dianggap Alia sebagai pangeran itu telah meremukkan saudara kembarnya. Teo Ozawa baru saja membangunkan iblis yang salah.
Lea mencengkeram ponselnya erat-erat, memutar tubuhnya, dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
Permainan catur cantiknya di Melbourne telah usai. Kini, saatnya ia memulai permainan baru di Jakarta—sebuah permainan di mana ia tidak akan berhenti sampai Teo Ozawa berlutut di tanah, memohon ampun atas setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Alia.