Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Rahasia di Balik Pagar Rumah
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di langit Jakarta, namun Arthur Fernando sudah berdiri di depan jendela kamar tidurnya. Matanya sembab, tapi tatapannya penuh tekad. Semalam dia tidak tidur. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu nama: James. Nama yang dia dengar secara tidak sengaja di acara gala dinner, nama yang membuat jantungnya berdegup kencang sejak saat itu.
"Aldi, apa semuanya sudah siap?" tanya Arthur ke arah pintu.
Aldi yang sudah berdiri di ambang pintu mengangguk. "Pesawat sudah siap di Bandara Halim, Pak. Kami akan terbang dalam satu jam. Cuaca di Surabaya cerah."
"Bagus. Ayo berangkat."
Arthur tidak peduli lagi dengan urusan bisnis atau acara keluarga. Ada firasat kuat di dalam dadanya. Firasat yang mengatakan bahwa jika dia tidak segera mencari jawaban, dia akan kehilangan kesempatan yang tidak akan kembali.
Pukul 08.30 pagi, Arthur dan Aldi sudah tiba di Surabaya. Mereka tidak langsung menuju alamat rumah Helena di daerah Gubeng. Arthur ingin melakukan pendekatan yang lebih hati-hati. Dia memerintahkan Aldi untuk menyewa sebuah mobil hitam yang tidak mencolok, dan mereka mulai berkeliling di sekitar kompleks perumahan tempat Helena tinggal.
Mobil melaju perlahan di jalanan perumahan yang tenang. Rumah-rumah di sini tidak terlalu besar, tapi tertata rapi. Pagar besi rendah dan beberapa pot bunga di depan setiap rumah membuat suasana terasa hangat. Arthur menatap setiap rumah yang mereka lewati, mencari nomor yang ada di data Aldi.
"Di sana, Pak. Nomor 14," kata Aldi sambil menunjuk ke arah sebuah rumah dua lantai dengan cat krem yang sudah sedikit pudar.
Arthur meminta Aldi untuk memarkir mobil di seberang jalan, agak jauh dari rumah itu. Dari balik kaca mobil yang gelap, Arthur bisa melihat halaman rumah Helena. Ada beberapa pot bunga di teras, dan sepasang sandal jepit tergeletak di depan pintu. Rumah itu terlihat sederhana, sangat kontras dengan kemewahan mansion Arthur di Jakarta.
"Kita tunggu sebentar," bisik Arthur. "Aku ingin tahu siapa yang tinggal di sini."
Mereka menunggu selama beberapa menit. Arthur menatap rumah itu dengan tatapan penuh rasa penasaran. Di dalam hatinya, dia bertanya-tanya bagaimana kehidupan Helena selama lima belas tahun ini. Apakah dia bahagia? Apakah dia menyesali keputusannya? Dan siapa yang tinggal bersamanya?
Pukul 09.15, pintu rumah itu terbuka.
Arthur langsung menegakkan tubuhnya. Dari dalam rumah, seorang wanita paruh baya keluar, mengenakan daster dan membawa keranjang belanja. Itu bukan Helena. Arthur mengenali wanita itu dari foto yang Aldi tunjukkan—Rina, adik Helena.
Tapi yang membuat Arthur hampir tersedak napasnya adalah sosok yang keluar beberapa detik kemudian.
Seorang remaja laki-laki melangkah keluar dari pintu. Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, dengan tas ransel yang disandang di pundak kirinya. Rambutnya hitam berombak, disisir rapi ke samping. Wajahnya... wajah itu membuat Arthur membeku.
Rahang yang tegas, alis tebal yang sedikit melengkung, mata cokelat yang tajam, dan postur tubuh yang tinggi untuk usianya. Remaja itu berhenti sejenak di teras, mengikat tali sepatunya, lalu tersenyum pada Rina.
"Tante, aku berangkat sekolah dulu ya," ujar remaja itu.
"Hati-hati, Sayang. Jangan lupa beli bekal di kantin kalau lapar," jawab Rina.
Remaja itu mengangguk, lalu berjalan keluar dari halaman, melangkahkan kakinya menyusuri trotoar.
Arthur menatap remaja itu. Tidak mungkin. Tidak mungkin ini hanya kebetulan. Mata itu, hidung itu, bahkan cara dia tersenyum—semuanya sangat familiar. Seolah-olah Arthur sedang melihat dirinya sendiri lima belas tahun yang lalu.
"Ya Tuhan..." bisik Arthur, suaranya bergetar. "Aldi, lihat. Apakah aku salah lihat? Anak itu... dia sangat mirip denganku."
Aldi menatap remaja itu, lalu menatap Arthur. "Saya setuju, Pak. Kemiripannya sangat tinggi. Saya rasa ini bukan kebetulan."
Arthur tidak bisa menahan diri lagi. "Ikuti dia. Jangan sampai terlihat."
Aldi dengan cekatan menyalakan mesin mobil, dan mereka mulai mengikuti remaja itu dari jarak yang aman. Remaja itu berjalan dengan santai, sesekali melihat ponselnya, lalu melewati beberapa toko kelontong sebelum akhirnya belok kiri menuju sebuah gerbang besar.
Pintu gerbang itu bertuliskan: SMA Negeri 1 Surabaya.
Arthur memandang dari dalam mobil. Remaja itu berjalan melewati gerbang, bergabung dengan puluhan siswa lainnya yang berdatangan. Arthur melihat anak itu melambaikan tangan pada temannya, lalu tertawa lebar, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kelas.
"Aldi, aku harus tahu. Siapa dia? Namanya James? Berapa umurnya? Siapa orang tuanya?" Arthur bertanya dengan nada setengah memohon.
Aldi mengangguk. "Saya akan cari informasi dari sekolah ini, Pak. Sepertinya dia adalah siswa di sini. Tunggu saya di hotel nanti malam, saya akan bawa semua datanya."
Arthur menghela napas panjang. Matanya masih menatap gerbang sekolah, seolah berharap anak itu akan keluar lagi. "Bawa aku ke hotel. Aku harus memikirkan langkah selanjutnya. Tapi Aldi, jangan buang waktu. Aku ingin semua jawaban hari ini juga."
---
Sore harinya, Arthur dan Aldi sudah berada di sebuah hotel mewah di kawasan Tunjungan, Surabaya. Arthur memesan kamar di lantai delapan, dengan jendela yang menghadap ke jalan raya. Dari sana, jarak ke rumah Helena sekitar 15 menit berkendara. Dia memilih hotel ini bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk mengintai. Dia ingin memantau setiap gerak-gerik Helena dari jauh jika dia sudah pulang dari Jakarta.
Aldi kembali sekitar pukul 18.00. Dia membawa sebuah map cokelat tebal.
"Pak, saya berhasil mendapatkan data lengkap," ucap Aldi sambil meletakkan map di atas meja. "Anak yang Anda lihat tadi pagi bernama James. Nama lengkapnya James Fernando. Umurnya lima belas tahun, lahir pada bulan Juli."
Arthur mengambil map itu dengan tangan gemetar. Dia membacanya dengan cepat.
· Nama: James Fernando.
· Tanggal lahir: 12 Juli 2011.
· Alamat: Jalan Gubeng Masjid No. 14, Surabaya.
· Nama ibu: Helena Virgina (tercantum sebagai wali tunggal).
· Nama ayah: Tidak tercantum.
Arthur menatap nama belakangnya. Fernando. Bukan Virgina. James menggunakan nama belakang Fernando.
"James Fernando..." Arthur menggumamkan nama itu berulang-ulang. "Dia... dia benar-benar anakku, Aldi. Aku tidak percaya. Helena melahirkan anakku, dan dia menyembunyikannya dariku selama lima belas tahun."
Aldi menunduk. "Saya juga menemukan catatan kelahiran, Pak. Di rumah sakit Surabaya. Helena melahirkan di bulan Juli 2011. Jika dihitung mundur, saat itu dia sedang hamil sebelum perceraian mereka terjadi."
Arthur berjalan ke jendela, menatap langit sore yang mulai memerah. Dadanya sesak. Campuran antara amarah, kesedihan, dan kebahagiaan yang tak terkira.
"Dia menyembunyikan anakku. Anak yang lahir dari rahimnya. Anak yang seharusnya aku kenal sejak lahir." Arthur mengepalkan tangannya. "Tapi aku tidak akan membiarkan ini berlarut-larut. Besok, aku akan bertemu Helena. Dan aku akan memintanya bertanggung jawab."
Arthur menoleh ke arah Aldi. "Kamu tetap di sini. Pantau rumah Helena. Jika dia pulang dari Jakarta, kabari aku segera. Aku ingin tahu kapan dia kembali, dan aku ingin menjadi orang pertama yang dia temui."
Aldi mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan memantau dari kejauhan."
Malam itu, Arthur duduk di kamar hotelnya, menatap foto James yang dia ambil dari data Aldi. Jari-jarinya menyentuh layar ponsel, seolah dia bisa merasakan wajah anaknya.
"James, aku ayahmu," bisiknya. "Aku tidak tahu kamu ada di dunia ini. Tapi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita."
Di balik tirai jendela hotel, Arthur menatap arah rumah Helena. Dia menunggu. Dan dia bersiap untuk menghadapi badai yang akan datang.