Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Seni Menaklukkan Wanita
Menjelang makan siang, Diyah membantu pelayan untuk membawa beberapa hidangan menuju ruang makan. Padahal dia sudah dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tapi dasarnya Diyah adalah wanita yang tak bisa diam, jadi dia tak menggubris semua larangan itu. Saat berbelok di lorong rumah, dia hampir bertabrakan dengan seseorang.
"Aduh maaf," ucap Diyah dengan reflek, dia mengangkat wajah dan melihat wajah Januar yang datar. Pria itu hanya menatap sekilas.
"Aku minta maaf karena kurang fokus," ulang Diyah, melihat sedikit kuah memercik ke lantai dan kaki adik iparnya.
"Iya," jawab Januar begitu datar.
Diyah mencoba tersenyum.
"Mari makan bersama," ajaknya dengan ramah. Namun, lagi-lagi respon Januar tak sesuai ekspektasinya.
"Nanti saja, aku belum lapar!"
Tanpa menunggu jawaban, Januar langsung berjalan melewatinya. Dia bicara dengan Mbok Sum, dari nadanya terdengar sangat berbeda.
'Apakah dia juga tidak menyukaiku? Tapi karena apa, aku berbuat salah apa padanya?'
Diyah berdiri mematung. Sikap dingin itu terasa sangat kentara. Tidak seperti sambutan hangat keluarga lainnya.
Pun saat makan siang, karena dipaksa akhirnya Januar bergabung di meja makan, tetapi pria itu lebih banyak diam. Kalau pun berbicara, hanya kepada Juragan Marta atau Mbok Sum. Diyah sama sekali tak diajak berbincang.
Biyakta yang menyadari perubahan sikap adiknya hanya memandang sebentar. Dia belum mengetahui bahwa beberapa hari terakhir, pikiran Januar telah dipenuhi ucapan-ucapan budenya.
Padahal sebelumnya, hubungan mereka sebagai kakak-adik sangat akrab.
Diyah dan Biyakta tak sengaja saling tatap, mereka seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran masing-masing.
"Habiskan, setelah ini aku akan mengajakmu ke kebun," ujar Biyakta untuk menghibur hati istrinya, dan Diyah langsung mengangguk, berusaha secepat mungkin menghabiskan makanannya.
'Sepertinya ada yang mulai musuhan.' batin Laksmi tersenyum puas.
***
Sementara itu di rumah keluarga Diyah, Damar yang beberapa bulan terakhir menganggur mencari keberadaan orang tuanya. Dia berteriak-teriak, dan membuat suasana rumah yang semula sepi menjadi gaduh.
"Pak, Bu!"
Pria itu sambil mondar-mandir ke ruangan yang biasa ditempati Nuni dan Jaya. Akan tetapi Damar tak mendapati batang hidung mereka.
"Ck, mereka ke mana sih? Mana nggak ada makanan, udah tahu orang laper. PAK, BU! teriaknya lebih keras, hingga membangunkan Sarmila yang sedang tidur siang.
"Ada apa sih, Kak, teriak-teriak terus. Udah tahu cuaca lagi panas, berisik tahu!" omel Sarmila setelah membuka pintu kamarnya dengan kasar. Seharian ini tak ada jadwal manggung, jadi dia hanya berdiam diri di rumah sekalian memulihkan tenaga.
"Bapak sama ibu ke mana?" tanya Damar tanpa menggubris amarah adiknya.
"Kayak baru tinggal di rumah ini deh. Udah jelas Bapak sama Ibu ya di sawah, emang kerjaan mereka apa?" balas Sarmila sambil merongos.
"Kalau begitu aku pinjem uangmu deh. Aku mau makan," kata Damar. Sarmila langsung berdecak. Malas sekali kalau sudah meladeni Damar yang kerjaannya suka marah-marah dan minta uang.
"Nggak, aku nggak punya uang!" tandasnya tak mau dimanfaatkan.
"Nggak mungkin, kamu kan banyak job manggung bulan ini. Nanti kalau Bapak sama ibu sudah pulang aku balikin," ujar Damar berusaha melobi Sarmila. Namun, wanita itu sudah muak mendengarnya, karena sekali pun tak ada uangnya yang diganti.
"Nggak! Mending Kakak geledah aja tuh kamar Kak Diyah, cari barang berharganya terus jual, Kakak dapet duit deh," balas Sarmila, memberi ide pada Damar.
Mendengar itu Damar tak langsung menolak, karena dia merasa ada benarnya apa yang dikatakan Sarmila.
"Tapi awas kalo nggak ada, kamu harus kasih duitnya!" tukas Damar tak ingin rugi.
"Ck, iya-iya," pungkas Sarmila, lalu kembali ke kamarnya. Sedangkan Damar mulai membuka pintu kamar Diyah yang terkunci, dia menggeledah ruangan itu untuk mencari barang-barang yang bisa menghasilkan uang.
Namun, sampai setengah jam berlalu, dan kamar itu berubah seperti kapal pecah. Damar sama sekali tak menemukan benda berharga milik Diyah. Karena sepertinya semua itu sudah dibawa ke rumah Biyakta.
"Sial, pintar juga si Diyah!" makinya dengan wajah yang dipenuhi keringat.
Akhirnya dia keluar, beralih menggedor pintu kamar Sarmila. Wanita yang ada di dalam sana sampai terlonjak dan langsung terduduk.
"Ya ampun, apalagi sih?!" sentak Sarmila dengan kedua alis yang bertaut.
"Di kamar Diyah nggak ada apa-apa. Sini uangnya," ujar Damar sambil menyodorkan tangan. Sarmila berdecak keras, padahal dia sudah yakin Diyah meninggalkan beberapa benda seperti emas atau uang tabungan.
Mau tak mau Sarmila pun meraih dompetnya dan memberikan uang pada Damar, hingga pria itu tersenyum sumringah.
"Nah gitu dong, sekalian ya beresin kamar Diyah, agak berantakan," kata Damar, lantas melenggang pergi begitu saja.
"Ish, Kak Damar," umpat Sarmila geregetan sambil mengeratkan kepalan tangannya.
****
Karena sudah tak bekerja di KUA, jadwal harian Biyakta sedikit berubah. Tak hanya pergi ke kebun dan sawah, tapi dia juga mengantarkan Diyah ke kantor RW sebab ada jadwal posyandu.
"Turun di sini saja, Mas," ujar Diyah yang tak ingin membuat geger satu desa, karena ke posyandu saja harus diantar pakai mobil.
Firman yang menyetir langsung menghentikan mobilnya dengan reflek. Biyakta yang mengerti pun tak membantah.
"Ya sudah, kalau sudah selesai telepon saja nanti aku jemput lagi," balas Biyakta.
"Nggak usah, Mas, nanti aku bisa dianter sama Anjani naik motor kok," tolak Diyah. Wajah Biyakta sedikit berubah, karena Diyah ini suka sekali menolak perintahnya.
"Hem," katanya singkat. Diyah sama sekali tak menyadari perubahan itu, dia malah buru-buru menyalimi tangan suaminya dan turun dari mobil.
"Kenapa dia tidak pernah peka?" rutuk Biyakta sambil memperhatikan istrinya yang sudah berjalan jauh. Sementara dia masih tetap membuka kaca mobilnya.
Di depan Firman sedikit mengulas senyum.
"Menaklukkan wanita itu seni, Den," ujarnya tanpa sengaja, hingga membuat Biyakta menoleh.
"Seni? Tapi bahkan aku dan dia baru saling mengenal. Dan dia suka sekali tebak-tebakan, suka nggak mau jujur," papar Biyakta, sesuai dengan pengalaman hidupnya dengan Diyah setelah menikah.
"Nah, itulah seninya," timpal Firman lagi, karena untuk yang satu ini dia memang lebih berpengalaman.
"Begitu ya?" balas Biyakta sambil mengusap-usap dagunya.
Tiba-tiba tatapannya beralih pada botol minum milik Diyah yang tertinggal dalam mobil. Akhirnya dia memutuskan untuk turun, menghampiri istrinya yang sedang bertugas di bagian pencatatan.
Namun, niatnya untuk memanggil Diyah terurung, saat mendengar sebuah pertanyaan yang tak layak sekali dilontarkan.
"Gimana Diyah udah hamil belum? Jangan ditunda-tunda lagi, nanti makin tua makin susah lho."
Biyakta mencengkram botol di tangannya dengan erat.
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh