Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 17- Tersulut kembali
Ep. 17- Tersulut kembali
"Satu setengah tahun lalu... Di saat dia pulang ke rumah ini membawa bunga untukku... di saat dia mencium dahi Keisya sebelum tidur... dia sedang sibuk menyusun pembagian harta untuk wanita itu dan anaknya di kantor kalian?"
Kedua pengacara itu tunduk membisu, tak berani memotong luapan kepedihan seorang istri yang baru saja mendapati tatanan hidupnya dibongkar oleh bukti hukum yang tak terbantahkan.
Namun, profesionalisme menuntut tugas mereka harus diselesaikan. Dengan nada suara yang sangat berhati-hati, Pak Baskoro dan Pengacara Hendra secara perlahan membacakan lembar demi lembar pasal, pengalihan hak, hingga poin rincian nominal tabungan yang ditinggalkan Rendra untuk Ayu dan Aura.
Setiap angka dan rincian yang terucap dari bibir sang pengacara bagaikan tiupan angin dingin yang membekukan hati Kirana.
Ia tak lagi memotong dan tak lagi bertanya. Kirana hanya duduk membeku dengan tatapan kosong, seraya mendengarkan kenyataan pahit bahwa almarhum suaminya telah memikirkan masa depan wanita lain dan anak itu secara rapi dan adil di mata hukum.
Setelah seluruh berkas ditandatangani untuk bukti penerimaan berkas dan kedua pengacara itu pamit dengan raut wajah penuh rasa sungkan, rumah besar itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang menekan.
Hingga di sore harinya, langit di atas komplek perumahan berubah warna menjadi jingga keperakan yang suram.
Kirana sedang merenung di atas ayunan kayu gantung yang berada di atas balkon kamar utamanya di lantai dua. Angin sore yang dingin berhembus perlahan, memainkan helai-helai rambutnya yang terurai kusam.
Pikirannya melayang jauh ke berbagai arah, berputar-putar di antara kenangan manis bersama Rendra, pengkhianatan yang terungkap di rumah sakit, hingga deretan dokumen aset yang baru saja dibacakan tadi pagi.
"Satu setengah tahun..." batin Kirana menjerit pedih. "Di saat aku berpikir kita adalah keluarga paling bahagia, kamu sibuk menyiapkan rumah lain, tabungan lain, dan masa depan lain untuk mereka, Mas. Apakah aku dan Keisya tidak pernah cukup bagimu?"
Rasa hangat dan penerimaan tipis yang sempat tumbuh di hatinya untuk Aura beberapa hari lalu kini mendadak musnah, menguap terbakar oleh kobaran cemburu dan rasa tidak adil yang meletup kembali.
Kirana merasa dibodohi, dihina, dan dikesampingkan dari hidup suaminya sendiri.
TOK... TOK... TOK!
"Mama! Mamaaa! Hwaaa... Aura jahat, Ma! Boneka Keisya diambil!"
Tiba-tiba, Kirana dikejutkan oleh suara rengekan dan jeritan Keisya yang memantul dari arah tangga dan koridor bawah. Suara itu terdengar panik dan kekesalan khas anak-anak.
Firasat seorang ibu seketika menghentikan lamunan Kirana. Merasa khawatir terjadi sesuatu pada putri tunggalnya, Kirana beranjak lalu berdiri dari ayunan. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuruni anak tangga menuju lantai satu dan mencari keberadaan Keisya.
Di ruang keluarga, suasana tampak riuh. Keisya sedang mengejar-ngejar Aura yang berlari kencang sambil memeluk erat sebuah boneka kelinci berbulu merah muda, boneka kesayangan Keisya yang dibelikan Rendra saat ulang tahunnya yang ke empat.
"Aura! Kembalikan! Itu boneka Kakak! Jangan diambil!" jerit Keisya sambil mengulurkan tangannya, memohon agar adik kecilnya itu mengembalikan mainan tersebut.
Aura yang belum mengerti konsep kepemilikan dan hanya ingin mengajak kakaknya bermain, tertawa-tawa kecil sambil terus berlari dengan langkahnya yang belum terlalu stabil.
Namun, saat melihat kehadiran Kirana yang berjalan mendekat dari arah tangga, Aura menghentikan tawa cerianya. Kepolosan balita itu membuatnya mengira Kirana adalah tempat perlindungan aman dari kejaran Keisya.
Dengan wajah polos dan senyum mekar, Aura berlari mendekati Kirana. "Ma... ma! Kakaaa... ikuuut!" cicit Aura girang, hendak menyembunyikan wajahnya di balik lipatan gaun Kirana sambil membawa boneka kelinci itu.
Namun, Kirana tidak lagi menatap Aura dengan kelembutan seperti tadi pagi. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin, kaku, dan penuh ketegasan yang tajam.
Bayangan tentang aset, tabungan, dan rumah mewah yang telah disiapkan Rendra untuk Aura mendadak melintas liar di kepala Kirana.
Tanpa ragu-ragu Kirana langsung membungkuk. Dengan sentakan yang cukup kasar, Kirana langsung merebut boneka kelinci itu dari dekapan jemari mungil Aura.
SREKKK!
Aura terperanjat hebat, karena tangan kecilnya mendadak kosong.
Kirana langsung membalikkan badan, lalu menyodorkan boneka itu pada Keisya yang baru saja tiba di sampingnya sambil terengah-engah. "Ini bonekamu, Sayang. Ambil."
Keisya menerima boneka itu dengan canggung. Ia terpaku melihat perlakuan ibunya yang begitu mendadak dan kaku terhadap Aura.
Sementara itu, Aura berdiri membeku di atas karpet. Balita dua tahun itu menatap Kirana dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca.
Kepolosannya merasa terguncang hebat, sosok "Mama" yang baru saja memberinya kehangatan dan usapan lembut tadi pagi, kini menatapnya dengan pandangan asing yang amat dingin.
Tak lama, bibir kecil Aura melengkung ke bawah, tubuh mungilnya berguncang oleh rasa takut dan sedih yang tak dipahaminya hingga akhirnya...
"Hwaaaaaaaaa...! Hwaaaaaaaaa...!"
Aura meledakkan tangisannya dengan sangat keras. Suara jeritan melengking itu memecah keheningan rumah duka, memantul di dinding-dinding tinggi dan menarik perhatian semua orang di rumah tersebut.
Mbok Darmi dan Tuti yang sedang berada di dapur langsung berlari tergesa-gesa ke ruang keluarga dengan raut wajah yang panik.
Sedangkan Keisya yang berdiri di samping Kirana mendadak merasa bersalah. Melihat adik kecilnya menangis sesenggukan hingga wajahnya memerah, hati polos Keisya merasa sangat iba.
Keisya lalu melangkah mendekati Aura seraya menyodorkan kembali boneka kelinci di tangannya.
"Mama... bonekanya kasih aja ke Aura," ucap Keisya lirih sambil menatap ibunya dengan tatapan prihatin. "Kasihan dia nangis, Ma. Keisya boleh kok main mainan lain..."
Keisya hendak berjalan lagi dan lebih mendekati Aura untuk memeluknya, namun dengan cepat Kirana memegang pergelangan tangan Keisya dan menahan langkah putrinya dengan cengkraman yang kuat namun terkendali.
"Sayang, jangan," pangkas Kirana dengan suara yang sangat dingin dan tidak menerima bantahan. "Biar nanti Aura dikasih mainan yang lain ya. Mainan ini milik kamu, dan tidak ada yang boleh mengambil milikmu begitu saja," lanjut Kirana sambil menatap Keisya dengan tegas.
Melihat keseriusan ibunya, Keisya hanya tertegun dan tak berani membantah.
Di saat yang bersamaan, Mbok Darmi dengan sigap berlutut dan merengkuh tubuh Aura yang masih menangis dengan histeris. Mbok Darmi mengusap punggung balita itu, lalu menggendongnya ke dalam gendongan hangatnya.
"Cup... cup... anak pinter, jangan menangis ya..." bisik Mbok Darmi seraya mengusap air mata di pipi Aura.
Wanita tua itu melirik Kirana dengan tatapan iba dan penuh rasa mengerti atas gejolak yang sedang melanda majikannya. "Saya bawa Aura ke ruangan belakang dulu ya, Bu, agar tidak berisik di sini."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung di tengah ruang keluarga, memperhatikan Mbok Darmi yang berlari kecil membawa Aura yang masih menangis sesenggukan menjauh menuju lorong dapur.
Pandangan mata Kirana mengawal kepergian sosok balita di pangkuan Mbok Darmi itu hingga menghilang di balik pintu kayu. Rahang Kirana mengetat, kepalan tangannya meremas kain pakaiannya dengan begitu erat.
"Aku tidak akan membiarkan anak itu merebut apapun yang seharusnya menjadi milik Keisya!" batin Kirana dengan amarah dan keteguhan yang membakar jiwanya.
"Mas Rendra mungkin sudah memberikan harta dan dunianya untuk anak itu... tapi di rumah ini, hak Keisya tidak akan pernah kuizinkan tersentuh sedikit pun!"
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗