NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Curhat dan Keputusan

"Kim Hwa," katanya, setiap suku kata keluar pelan dan jelas. "Waktu Dede dulu bagaimana? Bicara yang jelas."

Wajah Kim Hwa berubah pucat.

Untuk pertama kalinya sejak Liana mengenalnya, perempuan tua itu tidak langsung membentak. Ia hanya menggenggam tongkatnya erat-erat, seolah kayu itu satu-satunya benda yang bisa menahannya agar tidak runtuh.

Albert melangkah di antara mereka. "Liana, cukup."

"Minggir."

"Kamu sudah keterlaluan."

Liana menatap Albert. "Aku bertanya tentang anakku."

Jason ikut berdiri, bingung dan gelisah. "Mama, jangan buat Oma semakin stres."

Liana hampir tertawa. Selama dua puluh tahun, semua orang meminta ia memikirkan perasaan Kim Hwa. Tidak satu pun bertanya bagaimana perasaannya ketika pulang dari kantor polisi dengan tangan kosong, ketika setiap malam ia memeluk baju kecil Dede sampai bau anak itu hilang pelan-pelan.

"Aku tidak akan bertanya lagi kalau dia menjawab."

Kim Hwa akhirnya menemukan suaranya. "Tidak ada yang perlu dijawab. Kamu memang selalu mencari kambing hitam."

"Kamu tadi bilang aku tidak tahu apa-apa."

"Karena kamu memang tidak tahu cara menjadi istri!" bentak Kim Hwa, cepat sekali mengubah arah. "Lihat, sekarang satu rumah jadi ribut karena kamu."

Albert memanfaatkan celah itu. "Pembicaraan selesai."

Liana tahu mereka tidak akan memberi jawaban malam itu. Kim Hwa sudah kembali memakai topeng marah. Albert kembali memakai kuasa. Jason kembali berlindung di balik kata malu.

Hanya Tiara yang berdiri di ujung ruangan, menatap Liana dengan mata basah.

Liana mengambil tasnya dari kursi. "Baik. Untuk malam ini selesai."

"Kamu mau ke mana?" tanya Albert.

"Ke tempat orang yang masih bisa mendengar tanpa memutar balik semua kata-kataku."

Albert mencibir. "Ke Jessy lagi? Bagus. Curhat terus. Nanti semua tetangga tahu."

Liana berhenti di depan pintu. "Kalau tetangga tahu, mereka akan tahu dari bukti, bukan dari gosip."

Ia keluar sebelum Albert sempat menjawab.

Di luar, udara malam BSD City terasa lembap. Liana berjalan cepat sampai ke ujung kompleks, baru kemudian memesan ojek online. Di perjalanan, angin mengenai wajahnya, tetapi panas di dadanya tidak turun. Kalimat Kim Hwa berulang lagi.

Kamu tidak tahu apa-apa.

Apa yang tidak ia ketahui?

Jessy membuka pintu dengan wajah siap perang.

"Masuk."

Begitu duduk di ruang tamu, Liana menceritakan semuanya. Tentang Kim Hwa yang dibawa pulang dari panti jompo. Tentang Jason yang membela Albert. Tentang Yuni yang menelepon dan memanggilnya Tante dengan suara manis penuh racun. Tentang kalimat Kim Hwa yang terputus di nama Dede.

Jessy mendengarkan tanpa memotong. Setelah Liana selesai, ia berdiri, mengambil napas panjang, lalu meletakkan kedua tangan di pinggang.

"Aku ingin datang ke rumahmu dan jambak semua orang di sana."

Untuk pertama kalinya sejak hari itu, Liana tersenyum tipis. "Jangan. Nanti kamu yang dilaporkan."

"Biar saja. Aku punya banyak energi untuk masuk berita."

Liana menggeleng pelan. Senyum itu hilang cepat. "Aku tidak bisa hanya marah, Jess. Albert bilang semua harta atas namanya. Kalau aku tidak bergerak dengan benar, dia akan benar-benar membuatku keluar tanpa apa-apa."

"Maka kita cari orang yang mengerti hukum."

Jessy mengambil ponsel dari meja. "Aku punya teman lama. Namanya Dennis Yoe. Pengacara. Dia sering bantu kasus perceraian, terutama yang suaminya merasa dunia ini cuma milik dia."

Liana menatapnya ragu. "Aku belum siap bayar mahal."

"Kita tanya dulu. Jangan kalah sebelum perang."

Sepuluh menit kemudian, suara laki-laki terdengar dari speaker ponsel. Tenang, formal, tetapi tidak dingin.

"Selamat malam, Bu Liana. Jessy sudah menjelaskan garis besarnya. Saya Dennis Yoe."

Liana duduk lebih tegak. "Maaf mengganggu malam-malam, Ko Dennis."

"Tidak apa-apa. Saya perlu tahu beberapa hal. Pernikahan tercatat sipil, benar?"

"Iya. Kami Kristen. Menikah resmi tiga puluh tahun lalu."

"Baik. Berarti gugatan perceraian melalui Pengadilan Negeri, bukan Pengadilan Agama. Soal harta, prinsip umumnya harta bersama selama pernikahan bisa diminta pembagian. Nama di sertifikat atau rekening bukan satu-satunya penentu."

Liana menutup mata sebentar.

Untuk pertama kalinya sejak Albert mengancamnya, ada sesuatu yang longgar di dadanya.

"Jadi saya masih punya hak?"

"Punya," jawab Dennis tegas. "Apalagi kalau ada bukti perselingkuhan, transfer, foto, riwayat chat, dan saksi keluarga saat ada pembicaraan pembagian harta. Simpan semuanya. Jangan kirim ke orang banyak. Buat salinan aman."

Jessy langsung mengambil buku catatan. "Salinan aman, email baru, cloud, flashdisk. Oke."

Dennis melanjutkan, "Jangan terpancing keluar rumah tanpa catatan. Jangan menandatangani dokumen apa pun tanpa saya baca. Dan kalau Pak Albert mengalihkan aset, kita bisa pakai bukti transaksi."

Liana teringat Apartemen Golden Crown.

"Saya punya bukti transfer rutin ke Yuni. Ada juga tagihan kartu kredit dengan alamat Golden Crown."

Di seberang, Dennis diam sebentar. "Simpan itu baik-baik. Itu bisa sangat penting."

"Apa yang harus saya lakukan besok?" tanya Liana.

"Buat kronologi tertulis," jawab Dennis. "Mulai dari kapan Ibu mengetahui perselingkuhan, kapan Pak Albert mengancam, siapa saja yang hadir saat keluarga menekan Ibu. Tulis tanggal, tempat, saksi. Untuk proses mediasi nanti, detail seperti itu sering lebih kuat daripada kemarahan."

Liana mencatat di kertas kosong. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi kali ini gemetar itu punya arah.

"Dan satu lagi," tambah Dennis. "Jangan datang sendirian kalau keluarga Phua mengundang Ibu untuk bicara. Bawa saksi atau rekam percakapan jika memungkinkan, selama tidak digunakan untuk memeras atau menyebar fitnah. Kita pakai bukti untuk hukum, bukan untuk drama."

Kalimat itu menampar Liana dengan cara yang aneh. Selama tiga puluh tahun ia bertahan demi menjaga wajah keluarga. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia belajar menjaga dirinya sendiri dengan rapi.

Setelah panggilan berakhir, Jessy menaruh teh hangat di depan Liana. "Lihat? Kamu tidak sendirian."

Ponsel Liana bergetar.

Pesan WhatsApp masuk dari Tiara.

Mama, aku mendukung Mama. Maaf tadi aku belum berani bicara. Tapi aku akan bantu sebisaku.

Liana membaca pesan itu dua kali. Tenggorokannya mengencang, tetapi kali ini bukan karena luka saja.

"Dari Tiara?" tanya Jessy.

Liana mengangguk. "Dia masih punya hati."

Malam itu, mereka bekerja sampai lewat tengah malam. Jessy membuat email baru untuk Liana. Liana mengirim semua tangkapan layar, foto, bukti transfer, dan rekaman percakapan yang sempat ia simpan. Ia memberi nama folder itu sederhana.

Bukti.

Setiap file yang masuk terasa seperti batu kecil yang ia susun menjadi tembok.

Menjelang subuh, ketika Jessy tertidur di sofa, Liana masih duduk di depan laptop. Ia membuka mutasi rekening yang pernah Albert unduh dan lupa hapus dari komputer rumah. Angkanya berbaris panjang, kering, tanpa emosi.

Lalu matanya berhenti pada beberapa transaksi besar.

Albert pernah berkata tabungan mereka sekitar lima ratus juta. Nyatanya, saldo yang tersisa bahkan tidak sampai tiga ratus juta.

Ke mana sisanya pergi?

Liana menggulir lagi.

Di salah satu tagihan kartu kredit, sebuah alamat muncul berulang.

Apartemen Golden Crown.

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!