Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Uhuk. Uhuk.
Debu pekat berhamburan memenuhi udara di sekitar mereka.
Anya membuka matanya perlahan sambil terbatuk keras.
Telinganya masih berdenging panjang akibat suara ledakan tadi.
Niiiing.
Dia merasakan beban berat menindih punggungnya.
Kenji masih memeluknya dengan sangat erat seolah enggan melepaskannya.
"Kenji, kau tidak apa-apa?" panggil Anya dengan suara serak.
Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaannya.
Kenji perlahan mengangkat tubuhnya dan menyingkir dari atas tubuh Anya.
Ergh.
Terdengar erangan tertahan dari mulut pria itu.
Anya buru-buru membalikkan badannya dan duduk menatap Kenji.
Cahaya redup dari lampu darurat gudang memperlihatkan kondisi pria itu.
Ada darah segar mengalir dari pelipis kiri Kenji menetes hingga ke rahangnya.
Bahu jas hitamnya juga robek terkena serpihan tajam dari ledakan karung pasir tadi.
"Kau berdarah, Kenji!" pekik Anya panik.
Tangannya refleks terulur menyentuh pipi pria itu dengan gemetar.
"Ini cuma luka gores kecil, jangan berlebihan," jawab Kenji dengan napas sedikit tersengal.
Pria itu menyeka darah di pelipisnya dengan punggung tangan secara kasar.
Sret.
"Kau terluka karena melindungiku lagi," ucap Anya dengan mata berkaca-kaca.
Kenji menatap mata gadis itu lekat-lekat.
"Sudah kubilang itu tugasku, jadi berhentilah menangis," balas Kenji dingin.
[Peringatan: Musuh di atap sedang mengisi ulang peluncur granat.]
Suara sistem tiba-tiba berbunyi memecah momen emosional Anya.
Anya langsung mendongak ke arah atap gudang yang gelap.
Keterampilan Mata Elang miliknya kembali aktif secara otomatis.
Dia bisa melihat dengan sangat jelas siluet pria bersenjata itu dari jarak dua puluh meter di atas sana.
Pria itu sedang memasukkan tabung peledak baru ke dalam senjatanya.
Klak.
"Dia mau menembak lagi," batin Anya panik.
Kenji sedang sibuk mengganti magasin pelurunya sendiri.
Anya tahu Kenji tidak akan sempat membidik musuh di atas sana dalam kegelapan ini.
Tanpa berpikir panjang, Anya mencabut pistol perak kecil dari sarung di pahanya.
Dia mengangkat kedua tangannya lurus ke depan dan membidik siluet di atap itu.
Kenji menoleh karena terkejut melihat pergerakan tiba-tiba dari gadis di sebelahnya.
"Anya, apa yang kau lakukan? Tundukkan kepalamu!" bentak Kenji.
Tapi Anya sama sekali tidak menghiraukan teriakan pria itu.
Matanya fokus menatap target melalui bidikan senjatanya.
Tarik napas, tahan, lalu tekan pelatuknya dengan lembut.
Kata-kata Bima saat latihan menembak terngiang jelas di kepalanya.
Dor.
Satu tembakan nyaring membelah udara berdebu di dalam gudang itu.
Jleb.
Peluru perak itu melesat lurus dan menembus tepat di bahu kanan penembak granat tersebut.
"Arghhh!" teriak pria di atap itu kesakitan.
Senjata peluncur granat yang berat itu terlepas dari tangannya.
Bruk.
Senjata itu jatuh menghantam lantai besi gudang di bawahnya dengan suara keras.
Pria itu kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh dari atas palang baja.
Brak.
Tubuhnya menghantam tumpukan peti kayu di bawah dan tidak bergerak lagi.
Kenji menatap pemandangan itu dengan mulut sedikit terbuka.
Pria yang biasanya selalu tenang itu kini terlihat benar-benar terkejut.
"Kau menembak jatuh target dari jarak dua puluh meter dalam kegelapan berdebu begini?" tanya Kenji tidak percaya.
Anya menurunkan senjatanya dengan tangan yang kembali gemetar hebat.
"Aku hanya membidik asal dan beruntung mengenai sasarannya," bohong Anya dengan cepat.
Dia tidak mungkin menjelaskan soal keterampilan Mata Elang dari sistem.
Kenji mendengus pelan, dia tahu gadis ini berbohong tapi dia tidak peduli.
Yang penting ancaman terbesarnya sudah hilang.
"Area aman, Tuan Muda!" suara Bima terdengar dari alat komunikasi di telinga Kenji.
"Semua tikus dari Naga Hitam sudah berhasil kami bereskan."
Kenji berdiri perlahan sambil menahan rasa sakit di bahunya.
Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Anya yang masih duduk di lantai.
Anya menyambut uluran tangan itu dan ikut berdiri.
"Kerja bagus, Bima. Sisir seluruh area dan cari ruang dokumen mereka," perintah Kenji ke alat komunikasinya.
Mereka berdua berjalan perlahan keluar dari balik reruntuhan karung pasir.
Banyak mayat berbaju hitam dengan lambang naga bergelimpangan di lantai gudang.
Bau darah dan mesiu semakin menyengat hidung Anya.
Dia menutup mulutnya untuk menahan rasa mual yang tiba-tiba datang.
"Jangan melihat ke bawah, tatap lurus saja ke depan," instruksi Kenji pelan.
Pria itu merangkul bahu Anya untuk membantunya berjalan menghindari mayat-mayat itu.
Sentuhan tangan Kenji entah kenapa membuat rasa mual Anya sedikit berkurang.
"Tuan Muda, kami menemukan sebuah ruangan tersembunyi di balik kontainer ujung timur."
Bima berjalan menghampiri mereka berdua dengan sebuah map cokelat di tangannya.
"Apa ada sesuatu yang penting di dalam sana?" tanya Kenji sambil menerima map tersebut.
Bima mengangguk dengan raut wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
"Itu adalah buku catatan transaksi keuangan klan Naga Hitam selama lima tahun terakhir."
Kenji membuka map cokelat itu dan membaca beberapa lembar kertas di dalamnya.
Mata hitamnya perlahan menyipit saat membaca deretan angka dan nama di sana.
Anya ikut melongok dari samping lengan Kenji karena penasaran.
"Ini gila," gumam Kenji dengan nada suara yang sangat dingin.
"Ada apa, Kenji?" tanya Anya bingung.
"Klan Naga Hitam tidak mendapatkan senjata sebanyak ini dari hasil memalak pedagang pelabuhan."
Kenji memberikan satu lembar kertas berlogo resmi kepada Anya.
Anya menerima kertas itu dan membacanya dengan teliti.