NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Cinta Kamu

Nana kembali ke meja dengan setengah wajah memerah.

"Dia menampar aku." Telunjuknya mengarah pada Laras yang berjalan di belakang.

Bram langsung berdiri. Ia tidak melihat Nana lebih dulu. Ia mengambil tangan Laras, membalik telapaknya, dan memeriksa apakah kulitnya terluka.

"Sakit?"

Laras meniru nada manjanya saat jari tergores daun kelapa. "Sakit banget."

Sudut bibir Bram bergerak, menahan tawa. Lalu ia menoleh kepada Gilang. "Kata istriku, sakit banget."

Wajah Gilang menjadi dingin. "Apa yang terjadi?"

"Dia menguping teleponku," Nana mendahului.

"Dia bilang saya mau menikah dengan kakaknya lalu menggandeng adiknya," kata Laras tenang. "Dia juga berniat menjual kebohongan itu ke akun gosip."

Nana kehilangan warna. "Aku bicara tentang apa yang kulihat."

"Anda melihat perempuan yang sudah membatalkan pertunangan bersama seorang lelaki. Semua tuduhan tentang sebelum akad adalah karangan Anda."

Gilang mengulurkan tangan. "Ponsel."

"Gilang..."

"Sekarang."

Nana menyerahkannya dengan enggan. Riwayat panggilan masih ada. Di percakapan lain, ia dan temannya sudah membahas akun mana yang mungkin membayar paling tinggi. Gilang membaca beberapa baris, lalu menaruh ponsel di meja.

"Beli tiket sendiri. Pulang hari ini. Jangan muncul di depanku lagi."

"Kamu mengusir aku demi mereka?"

"Aku mengusirmu karena kamu nggak paham batas." Suara Gilang tetap datar. "Kalau kabar ini bocor, kamu tanggung sendiri. Temanmu juga."

Nana memandang Bram, mungkin berharap ia membela. Bram hanya mengusap telapak Laras dengan ibu jari.

"Minta maaf kepada Laras," kata Gilang.

"Nggak perlu." Laras tidak ingin menerima kata-kata kosong.

Gilang tetap menundukkan kepala kepadanya. "Maaf. Aku yang membawa dia."

Nana mengambil tas dan pergi. Gilang mengirim pesan kepada seseorang untuk mengawasi dua akun gosip yang disebut dalam percakapan, lalu mengatakan akan kembali ke Jakarta sendiri.

"Hari ini nggak akan keluar," janjinya kepada Bram. "Kalau nanti ada gerakan, aku kabari."

Bram mengangguk. Tidak ada ucapan terima kasih panjang di antara mereka, hanya kepercayaan lama yang tidak perlu dijelaskan.

Setelah Gilang pergi, Bram menarik Laras berdiri di antara kedua lengannya. "Sekarang aman."

"Saya mau pulang."

Tubuh Bram mengeras. "Pulang ke mana?"

Laras membuka mulut untuk mengatakan Jakarta. Itulah jawaban yang benar. Perjalanan sudah terlalu lama, hubungan mereka sudah dilihat orang, dan setiap hari tambahan akan membuat perpisahan lebih sulit.

"Ke hotel," ia mendengar dirinya menjawab.

Ketegangan di bahu Bram lenyap. "Oke."

Di dalam mobil, mereka tidak membahas Nana. Bram terus menggenggam tangan yang dipakai Laras menampar, seolah takut telapak itu benar-benar sakit. Sampai di hotel, ia meminta es melalui layanan kamar dan membungkusnya dengan handuk kecil.

"Saya cuma bercanda," kata Laras.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa masih dikompres?"

"Biar besok bisa nampar lagi."

Laras menarik tangannya dan masuk ke kamar mandi sebelum senyum muncul.

Air hangat menutupi tubuhnya. Di dalam bak, tanpa Bram yang mengawasi setiap ekspresi, Laras akhirnya mengakui bahwa tadi ia tidak salah bicara. Tempat yang benar-benar ingin ia tuju memang kamar hotel tempat Bram menunggu.

Ia seharusnya mengatakan Jakarta dan mengakhiri semuanya.

Maldives serta Singapura sejak awal hanya dimaksudkan sebagai kebebasan sementara, satu pelanggaran terakhir sebelum kembali menjadi Laras yang rasional. Setelah terpisah, rasa tertarik akan dingin. Kebiasaan tidur dalam satu pelukan akan hilang. Semua alasan mengapa adik Radit tidak mungkin menjadi pasangan sungguhan akan kembali terdengar masuk akal.

Namun mulutnya memilih hotel sebelum pikiran sempat berbohong.

Mungkin ia benar-benar menyukai Bram sedikit.

Bukan hanya wajah, tubuh, atau cara lelaki itu mencium. Ia menyukai Bram yang membeli semua jenis pembalut karena tidak tahu memilih. Bram yang menulis surat cinta buruk atas nama orang lain hanya untuk membuatnya tertawa. Bram yang tidak mengatakan ia berlebihan saat kembang api menjatuhkannya ke lantai.

Ia menyukai cara lelaki itu bertanya sebelum menyentuh, tetapi tetap berdiri di depan pintu ketika ia membutuhkan seseorang.

Pengakuan itu menakutkan. Anehnya, pengakuan itu juga membuat dada Laras lebih ringan.

Ia mencoba menguji dirinya dengan membayangkan Bram bersama perempuan lain. Bayangan Angela memanggil Bagas dengan suara manis sudah cukup membuat air mandi terasa lebih panas. Lalu ia membayangkan pulang dan tidak menerima pesan kangen, tidak ada nama 1001 di atas layar, tidak ada tangan yang diam-diam mencari tangannya di mobil. Kekosongan itu terasa terlalu nyata.

Ini bukan lagi sekadar kebiasaan tubuh. Laras sudah memberi Bram tempat di dalam hari-harinya, dan tempat itu akan meninggalkan bentuk jika dipaksa kosong.

Kembali ke Jakarta akan mengakhirinya, ia meyakinkan diri. Malam ini hanya perpisahan yang belum disebut.

Laras keluar dari kamar mandi, duduk di samping Bram, lalu menciumnya lebih dulu.

Bram mengangkat alis, jelas terkejut. "Tumben agresif."

"Tidak suka?"

"Suka banget. Cuma curiga."

Ia menahan wajah Laras dengan kedua tangan, tetapi tidak langsung melanjutkan. "Kamu masih pikir aku cuma main-main?"

Laras memejamkan mata.

"Aku serius apa nggak, kamu tahu."

"Saya tidak mau tahu."

Mengetahui berarti harus memberi jawaban. Memberi jawaban berarti hubungan ini kehilangan pintu keluar palsu yang membuatnya terasa aman.

Bram memandangnya lama. Akhirnya ia mengembuskan napas seperti orang yang memilih kalah, lalu membalas ciuman. Ia mengatakan sesuatu sangat pelan di dekat telinga Laras, tetapi suara air yang masih mengalir dari kamar mandi menelan separuhnya.

Laras menangkap bunyi terakhir yang mirip kamu.

Ia tidak bertanya.

Malam itu Laras lebih berani daripada biasanya, sedangkan Bram justru lebih sabar. Setiap kedekatan tetap menunggu jawaban. Setiap jeda diberi ruang. Mereka tidak membicarakan besok, karena besok akan menuntut keputusan yang belum sanggup dibuat Laras.

Menjelang pagi, ia setengah terbangun saat Bram membersihkan tubuhnya, mengenakan gaun tidur yang sudah dicuci, lalu membaringkannya kembali. Lelaki itu berbaring di belakang dan merapatkan selimut.

"Aku nggak maksa," bisiknya. "Kalau kamu sudah mau tahu, kapan pun aku bisa kasih jawabannya."

Laras pura-pura tidak mendengar.

Pada malam berikutnya, Bram duduk sendirian di ruang tamu sampai lewat pukul dua. Laras tertidur lebih dulu. Saat membuka pesan kerja, ia tanpa sengaja melihat kabar dari Gilang.

Perempuan yang ditelepon Nana sudah aku bungkam. Omongan mereka jahat banget. Tamparan Ras kurang keras.

Gilang menyertakan tangkapan layar. Dua perempuan itu berencana menggambarkan Laras sebagai perusak hubungan bersaudara sejak sebelum akad, sengaja menghapus perselingkuhan Radit dari urutan peristiwa.

Bram membaca seluruhnya. Urat di punggung tangannya menonjol karena genggaman pada ponsel.

Ia bisa menerima jika orang menyebut dirinya merebut calon istri abang. Ada bagian kebenaran yang memang kotor. Namun mereka menjadikan Laras pelaku utama, seolah tidak ada video hotel, paksaan keluarga, atau lamaran publik tanpa pilihan.

Bram meminta Gilang menyimpan semua bukti dan memantau dua akun itu. Ia juga mengirim nama keduanya kepada orang yang menangani jejak digital. Tidak ada unggahan yang boleh naik tanpa jalur sumbernya langsung diketahui.

Ketika kembali ke kamar, Laras tidur menyamping dengan satu tangan di atas bantal. Bram duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan itu lama.

Ia telah menunggu bertahun-tahun agar perempuan tersebut hidup tanpa rasa sakit. Sekarang dunia masih berusaha menghukumnya karena akhirnya memilih kebebasan.

Bram menunduk dan mengecup telapak yang kemarin menampar Nana.

Sore berikutnya, Laras mengirim pesan kepada Kirana.

Kayaknya aku suka sama Bram.

Balasan datang hampir seketika.

Suka fisik atau suka hati?

Laras menatap balkon. Bram sedang membelakanginya saat menerima telepon kerja. Cahaya matahari jatuh di pundaknya. Laras teringat ciumannya, tetapi juga teringat suara tenang yang berkata ada aku ketika ia tidak bisa berdiri.

Dua-duanya?

Kirana mengirim deretan tanda seru.

Nah lo. Kamu tamat!

Laras mematikan layar. Senyumnya tidak mau benar-benar hilang.

Pada hari kepulangan, mereka kembali melewati pemeriksaan secara terpisah. Di dalam pesawat, dua kursi kosong memisahkan mereka. Tidak ada sentuhan yang bisa menarik perhatian pengamat.

Sebelum naik, Bram sempat mengirim satu pesan melalui kontak yang baru dipulihkan.

Aturan ketiga menyebalkan.

Laras membalas tanpa menoleh.

Yang membuat aturan juga saya.

Makanya pembuatnya harus tanggung jawab.

Untuk apa?

Karena aku pengin pegang tanganmu.

Laras tidak menjawab, tetapi selama menunggu pintu kabin ditutup, ia menyembunyikan satu tangan di antara lipatan jaket agar tidak tergoda mengulurkannya melintasi kursi kosong.

Bram pun menjaga jarak. Kesediaannya menaati aturan justru membuat Laras ingin melanggarnya.

Saat pesawat meninggalkan landasan, Laras menoleh.

Bram juga sedang melihatnya.

Ia menggerakkan bibir tanpa suara. Tiga suku kata. Lalu sebuah senyum malas muncul, seolah ia hanya menggoda dan tidak baru saja mengatakan sesuatu yang mampu mengubah seluruh hubungan mereka.

Laras tidak bertanya.

Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Jakarta. Para penumpang berdiri. Ponsel seseorang membunyikan lagu cinta lembut di tengah bunyi bagasi dan pengumuman kabin.

Bram berjalan lebih dulu ke lorong, memainkan peran sebagai orang asing sampai akhir. Punggungnya menjauh dan perlahan hilang di antara penumpang.

Laras merapatkan bibir, menarik kembali pandangannya, lalu mengikuti arus keluar pesawat.

Tiga kata tanpa suara itu tetap tinggal di depan matanya seperti pengakuan yang sengaja diberikan tanpa memaksa jawaban.

Laras belum berani mengulang bentuk bibirnya, tetapi hatinya sendiri sudah menyimpan bunyinya dengan terlalu baik sejak meninggalkan kota itu: cinta kamu, cinta kamu, cinta kamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!