NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: tamat
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Tamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Konfrontasi Bawah Tanah dan Kalkulator Nyawa

Lorong bawah tanah yang biasanya senyap itu kini dipenuhi oleh puluhan pengawal berzirah yang telah membelot. Di ujung lorong, pintu baja setebal dua meter yang menuju ruang inti pelindung magis masih tertutup rapat.

Pangeran Arthur berdiri dengan pedang bercahaya keemasan di tangannya, tersenyum penuh kemenangan yang terasa dipaksakan.

"Menyerahlah, Caden," ucap Arthur, suaranya menggema di dinding batu. "Kau sudah dikepung. Otoritasmu sudah hancur. Malam ini, aku mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Istana ini, kekayaanmu, dan keadilan untuk rakyat yang kau peras!"

Aura yang masih berdiri di belakang Caden, mendecak sebal dan menyela dari balik bahu lebar bosnya.

"Woy, Hama Pirang! Sejak kapan utang macet sama gagal bayar bank disebut 'hak'?! Lo ke sini bukan bawa keadilan, lo ke sini bawa niat Hostile Takeover (Akuisisi Paksa) jalur ilegal! Lo sadar nggak sih, makar itu denda pidananya penyitaan aset seratus persen?! Eh, sori, lupa, lo kan udah nggak punya aset apa-apa buat disita!" cibir Aura lantang.

Arthur menggertakkan giginya. Wajahnya memerah menahan malu. "Tutup mulutmu, Elara! Kau sudah dicuci otaknya oleh lintah darat ini! Caden menghancurkan ekonomi kekaisaran demi menumpuk emas di brankasnya!"

"Menghancurkan ekonomi?! Laporan keuangan Departemen Keuangan kita dapat predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) tiga tahun berturut-turut, Pangeran! Justru lo yang bikin inflasi karena gagal panen!" Aura berkacak pinggang, sama sekali tidak gentar melihat puluhan pedang terhunus ke arah mereka. "Bos! Orang ini literasi finansialnya bener-bener minus! Nggak layak jadi pewaris takhta!"

Caden terkekeh pelan. Bahkan di tengah kepungan maut, asistennya ini masih sempat memberikan ulasan kinerja ekonomi musuh. Pria itu mengangkat pedang panjangnya, aura membunuh berwarna hitam pekat mulai menguar dari tubuhnya, membuat udara terasa sesak.

"Kau dengar sendiri, Arthur," suara Caden berubah menjadi sangat dalam, dingin, dan mematikan. "Asistenku bahkan menganggapmu tidak layak masuk ke dalam buku besar akuntansiku. Apalagi memegang takhta."

"BUNUH DIA! TAPI BIARKAN GADIS ITU HIDUP!" teriak Arthur panik, memberi perintah pada puluhan pengawal pemberontak.

Para pengawal itu menerjang maju serempak dengan teriakan perang.

"Elara, lari ke panel pintu baja itu sekarang!" perintah Caden mutlak.

"Bos! Charge (bebankan) biaya perawatan pedang Bos ke tagihan mereka ya! Darah bikin karat!" balas Aura, langsung menunduk dan berlari menyusuri pinggiran lorong, memegang Koin Naga erat-erat di dadanya.

TRANG! WUSSS! CRAK!

Caden tidak mundur satu langkah pun. Ia melesat ke depan, menyambut puluhan pengawal itu layaknya badai kematian. Setiap sabetan pedangnya tidak pernah meleset. Darah terciprat ke dinding, suara jeritan kesakitan menggema. Sang Antagonis utama akhirnya menunjukkan kekuatan aslinya. Tidak ada sihir gemerlap, hanya tebasan presisi yang brutal, efisien, dan mematikan.

Sambil berlari merunduk, Aura terus mengomel melihat kerusakan yang terjadi.

"ADUH! Dinding batu pualamnya cuil kena pedang! Itu biaya dempulnya seratus emas per meter!" jerit Aura saat seorang pengawal terlempar menghantam dinding.

"Mundur dari asistenku, sampah!" bentak Caden, menendang dada seorang pengawal yang mencoba mendekati jalur lari Aura hingga tulang rusuknya remuk.

"Bos, awas sebelah kiri! Eh, maksudnya jangan potong helmnya, itu helm baja cetakan mahal, mending kita sita utuh buat dijual kiloan!" teriak Aura lagi.

Arthur yang melihat pasukannya dibantai dengan sangat mudah oleh Caden, mulai gemetar ketakutan. Ia menyadari perbedaan kekuatan mereka sangat jauh. Matanya kemudian tertuju pada Aura yang hampir mencapai panel pintu baja raksasa di ujung lorong.

"Hentikan gadis itu! Dia membawa kunci Inti Naga!" teriak Arthur, menembakkan sihir cahaya keemasan langsung ke arah punggung Aura.

"Sialan!" Caden menggeram marah. Ia berbalik dan merapal sihir perlindungan dengan tangan kirinya.

BLAAAR!

Sihir Arthur menghantam perisai bayangan Caden dan meledak, menciptakan kepulan asap tebal. Namun, fokus Caden yang terbelah membuat dua pengawal berhasil melukainya. Sebuah tombak menggores lengan Caden, merobek kemeja mahalnya dan mengeluarkan darah segar.

Aura yang sudah sampai di depan panel pintu, menoleh ke belakang saat mendengar suara kain robek. Matanya membelalak melihat lengan bosnya berdarah. Otak rasionalnya mendadak tergantikan oleh kemarahan yang tidak ada hubungannya dengan uang.

"HAMA PIRANG SIALAN! LO BERANI BIKIN BOS GUE BERDARAH?!" teriak Aura dengan amarah yang meledak-ledak. "LO TAHU NGGAK ASURANSI KESEHATAN DIA PREMINYA BERAPA?! KALAU DIA SAKIT, SIAPA YANG NGGASIH GUE BONUS?! GUE GILING LO JADI PAKAN NAGA!"

Aura langsung menghantamkan koin emas bermata dua itu ke dalam cekungan di tengah panel pintu baja dengan sekuat tenaga.

"AKTIF, WOY! CEPETAN! BUKA PINTUNYA!" omel Aura, memukul-mukul panel itu layaknya mesin ATM yang menelan kartunya.

Cahaya biru menyilaukan seketika memancar dari Koin Naga itu. Garis-garis energi magis menjalar dari koin, mengalir ke seluruh permukaan pintu baja, lalu merambat ke dinding dan lantai lorong bawah tanah.

Terdengar suara mesin kuno berdengung keras. Udara bergetar hebat.

KLIK. KRAK.

Pintu baja raksasa itu terbuka perlahan, menampilkan sebuah ruangan kristal yang bersinar terang benderang. Di tengahnya, terdapat sebuah altar dengan lubang kunci utama, dan di atas altar itu melayang sebuah mahkota hologram berwarna emas.

"Sistem Keamanan Level VVIP, Online!" Aura bersorak kegirangan melihatnya. Ia menoleh ke arah Caden yang masih berdiri di tengah tumpukan pengawal yang tumbang, napasnya memburu, darah menetes dari lengannya.

"Bos! Cepetan masuk! Pintunya udah kebuka!" panggil Aura panik.

Arthur yang melihat pintu itu terbuka, matanya dipenuhi keserakahan yang buta. "Itu dia... pusat kendali istana! Jika aku menguasainya, aku akan menjadi raja yang tak terkalahkan!"

Arthur berlari nekat mengabaikan Caden, mengarahkan pedangnya langsung ke leher Aura yang menghalanginya di ambang pintu. "Minggir, Pelayan Rendahan! Ini bukan tempat untuk rakyat jelata sepertimu!"

"Rakyat jelata matamu!" Aura merogoh saku celana kargonya, mengeluarkan artefak 'Air Mata Dewi Suci' yang ia beli semalam, lalu dengan gerakan melempar bola baseball, ia menghantamkannya tepat ke wajah Arthur.

TAK!

"ARGH!" Arthur menjerit, hidungnya berdarah terkena hantaman kristal keras berharga jutaan koin emas itu. Langkahnya terhenti.

Dalam sepersekian detik itu, Caden sudah melesat. Tangannya yang berlumuran darah mencengkeram kerah jubah Arthur dari belakang, lalu melempar tubuh sang Protagonis itu ke dinding batu hingga terdengar bunyi retakan yang mengerikan.

"Ukh..." Arthur memuntahkan darah, pedangnya terlepas. Ia merosot jatuh ke lantai, tidak berdaya.

Caden berdiri menjulang di atas Arthur, ujung pedangnya yang berlumuran darah menunjuk tepat ke tenggorokan sang pangeran pirang.

"Berani sekali kau mencoba menyentuh asistenku, Arthur," desis Caden, suaranya dipenuhi murka yang tidak bisa dibendung. "Kau baru saja menandatangani surat kebangkrutan nyawamu."

"Caden, tunggu! Jangan bunuh dia di sini!" seru Aura, berlari mendekati Caden dan menarik lengan pria itu yang tidak terluka.

Arthur tersenyum lemah, penuh darah. "Lihat, Caden... pelayanmu sendiri... masih memiliki belas kasihan padaku..."

"Belas kasihan apanya?!" Aura melotot pada Arthur. "Gue cuma nggak mau darah kotor lo ngotori panel sistem keamanan istana! Nanti maintenance-nya susah, tau! Bos, panggil aja pengawal penjara, biar dia diadili secara hukum! Kalau Bos bunuh dia tanpa pengadilan, nilai saham departemen kita bisa anjlok karena isu pelanggaran HAM!"

Caden menoleh, menatap asistennya yang masih saja memikirkan sentimen pasar bursa di saat-saat mematikan ini. Amarah Caden perlahan memudar, berganti dengan tawa pelan yang lelah namun penuh kasih sayang.

"Baiklah, Elara. Jika itu yang diinginkan Manajer Investasiku," Caden menurunkan pedangnya. Ia menekan panel magis di dinding menggunakan Koin Naga.

Seketika, puluhan bayangan hitam bermunculan dari lantai—Pasukan Bayangan Istana, unit paling elit yang hanya tunduk pada pemegang Koin Inti.

"Tangkap pengkhianat ini. Masukkan dia ke Penjara Bawah Tanah Level Maksimal. Segel semua sisa asetnya," perintah Caden dingin pada Pasukan Bayangan.

Arthur diseret pergi, masih meracau tentang takdirnya sebagai pahlawan yang dicuri. Sang tokoh utama benar-benar telah dikalahkan oleh kekuatan kapitalisme dan kekejaman absolut.

1
Fajar Fathur rizky
Julian baik banget kasih banyak uang sampai mau nangis
Anastasya
author yg manis ijin masukan boleh ya
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!