NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Indri tidak berhenti berjalan sampai dirinya tiba di lobi. Langkahnya tergesa-gesa. Napasnya belum sepenuhnya teratur, sementara telapak tangannya masih terasa dingin.

Ia berhenti di dekat pintu kaca dan memejamkan mata. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Namun semakin ia mencoba melupakan kejadian di dalam lift, semakin jelas semuanya kembali terbayang.

Tatapan kemarahan Evan. Kalimat-kalimat sindiran yang ia lontarkan. Dan... Perlakuan tak menyenangkan yang dilakukan pria itu.

Indri menundukkan kepala. "Kenapa semuanya harus seperti ini?" Suara itu keluar nyaris tanpa suara.

Seorang petugas keamanan yang berdiri tidak jauh darinya sempat memperhatikan keadaan Indri. "Bu, apakah Anda baik-baik saja?"

Indri segera mengusap wajah. "Iya."

"Benar-benar tidak apa-apa?"

Indri mengangguk. "Saya hanya sedikit pusing."

Petugas itu mengangguk, lalu kembali ke posnya.

Indri menarik napas panjang. Ia harus segera pulang. Tidak ada alasan untuk tetap berada di tempat itu.

Di dalam lift, Evan masih berdiri di tempat yang sama. Pintu sudah tertutup. Namun pikirannya justru semakin terbuka terhadap sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui.

Ia teringat wajah Indri ketika mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melupakan kesalahannya.

Bukan wajah seorang perempuan yang tidak peduli. Bukan pula seseorang yang sedang berusaha mencari pembenaran. Melainkan seseorang yang tampak lelah. Sangat lelah.

Evan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, rasa puas yang biasanya muncul setiap kali ia mengingat masa lalu tidak terasa sama. Yang tersisa justru rasa bersalah.

Ia mengusap wajahnya. "Apa aku sudah kelewatan."

Kalimat itu terdengar asing dari mulutnya sendiri.

Selama bertahun-tahun, Evan selalu meyakini bahwa kemarahannya adalah bentuk cinta kepada Laura. Ia merasa sedang memperjuangkan keadilan untuk adiknya.

Namun malam itu, keyakinan tersebut mulai retak. Ia memang tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi pada Laura. Tetapi ia juga tidak bisa terus menggunakan kematian adiknya sebagai alasan untuk menghancurkan hidup orang lain.

***

Malam telah larut ketika Indri sampai di rumah. Ia langsung menuju kamarnya.

Rumah sudah sunyi. Haris mungkin telah tidur, begitu pula Cinta, Vano dan anak-anaknya.

Indri berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar, lalu duduk perlahan.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap kosong ke hadapannya.

Pikirannya kembali pada Evan. Pada semua ancaman. Pada masa lalu yang tidak pernah berhenti mengejarnya. Pada bagaimana setiap kali ia mencoba menata hidup, pria itu selalu muncul dan menyeretnya kembali ke dalam rasa bersalah.

Indri menarik napas panjang. "Aku sudah mencoba." Suaranya bergetar.

"Aku sudah mencoba bertahan." Ia menundukkan kepala. Tetapi malam itu, sesuatu dalam dirinya terasa telah patah.

Selama bertahun-tahun ia menerima hukuman atas kesalahannya. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan besar.

Namun ia mulai menyadari bahwa penyesalan seharusnya tidak berubah menjadi hukuman tanpa akhir.

Evan tidak lagi sekadar mengingatkan kesalahannya.

Keberadaan pria itu telah menjadi bayangan yang menguasai hidupnya. Dan Indri sudah terlalu lelah.

Tangannya perlahan membuka sebuah buku catatan. Halaman kosong terbentang di hadapannya. Ia mengambil pena.

Awalnya ia hanya menggenggamnya. Lalu menulis satu kalimat.

Bagaimana caranya agar Evan berhenti?

Indri menatap tulisan tersebut.

Beberapa detik kemudian, ia mencoretnya. Lalu menulis lagi.

Bagaimana caranya agar aku benar-benar bebas?

Kali ini ia tidak mencoretnya. Air matanya jatuh di atas halaman.

Karena jawaban yang muncul di kepalanya membuatnya sendiri merasa takut.

Evan harus mati.

Indri langsung meletakkan pena.

"Tidak..."

Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Namun pikiran itu tidak hilang. Semakin ia mencoba mengusirnya, semakin jelas bayangan tentang kehidupan tanpa Evan muncul di kepalanya.

Tidak ada ancaman. Tidak ada rasa takut. Tidak ada seseorang yang terus mengingatkan bahwa dirinya pernah menghancurkan kehidupan Laura. Tidak ada lagi belenggu.

Indri berhenti di depan cermin.

"Apa aku benar-benar sanggup melakukan itu?"

Pantulan dirinya tidak menjawab.

Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, Indri membayangkan dirinya mengambil keputusan yang tidak dapat ditarik kembali.

Bukan karena kebencian. Bukan pula karena ingin melihat Evan menderita. Melainkan karena ia merasa tidak menemukan jalan lain.

Ia kembali duduk. Buku catatan itu dibuka lagi. Indri mulai menuliskan beberapa hal yang menurutnya harus dipertimbangkan.

Bukan bagaimana membunuh Evan. Bukan pula cara melakukannya. Ia menulis tentang akibatnya.

Papa, Kak Cinta, Laura kecil, Brian, Vano... Dan diriku sendiri.

Satu per satu nama itu membuat tangannya semakin gemetar. Jika ia melakukan hal tersebut, hidup keluarganya tidak akan pernah sama lagi.

Ia mungkin terbebas dari Evan.

Tetapi apakah ia akan terbebas dari rasa bersalah? Pertanyaan itu membuatnya terdiam lama.

...

Pagi berikutnya, Indri datang ke kantor seperti biasa. Tidak seorang pun mengetahui bahwa semalam ia telah mengambil keputusan yang begitu gelap.

Ia tetap tersenyum kepada karyawan. Tetap menghadiri rapat. Tetap memeriksa laporan.

Namun sekarang, setiap kali nama Evan muncul dalam pembicaraan, jantungnya berdetak lebih cepat.

Menjelang siang, sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama yang sudah Indri hapal.

"Kita perlu bertemu."

Indri membaca pesan tersebut. Biasanya ia akan merasa takut. Kini perasaannya berbeda. Ia justru merasa sedang berdiri di persimpangan.

Ada jalan yang mengarah kepada kehidupan baru. Dan ada jalan lain yang mungkin menghancurkan dirinya untuk selamanya.

Indri menggenggam ponselnya erat. "Aku harus mengakhirinya."

Tetapi bahkan setelah mengucapkan kalimat itu, ia belum tahu apakah yang ingin ia akhiri adalah hidup Evan... atau dendam yang telah mengikat mereka selama bertahun-tahun.

Malamnya, Indri kembali membuka buku catatan tersebut.

Di halaman terakhir, ia menulis:

Jika aku melakukannya, aku mungkin bebas dari Evan.

Ia berhenti. Kemudian menambahkan:

Tetapi aku mungkin akan menjadi tawanan diriku sendiri seumur hidup.

Indri menatap kalimat itu lama. Rencana yang semula terasa seperti jalan keluar mulai terlihat seperti pintu menuju penjara lain.

Namun keputusan yang sudah terlintas di kepalanya tidak mudah dihapus. Ia menutup buku tersebut dan memasukkannya ke dalam laci.

"Besok," bisiknya. "Besok aku akan menentukan semuanya."

1
ken darsihk
Ruwettt , dan penyesalan pasti ada nya di belakang
Eva Karmita
Indri apa kamu lupa dengan siklus datang bulan mu .. bukan nya tenang tapi tambah runyam nanti setelah kamu tahu ada berudu kecil di dalam tubuh mu 🤣🤣😩
Aditya hp/ bunda Lia
setelah kamu membunuh Evan bukannya tenang hidupmu malah tambah gelisah
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Aditya hp/ bunda Lia: kayaknya Evan belum meninggal deh itu pasti bohongan ... iya kan Thor
total 2 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!