NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Disuap oleh Nathan

Pagi berikutnya, Karina bangun dengan satu nama yang terus mengganggu pikirannya.

Elina.

Malam tadi, setelah Susan pergi dengan wajah dingin dan anak-anak tertidur, Karina membuka kembali tas berisi surat yang direbut dari Pak Hendi. Ia ingin memisahkan dokumen penting dari kertas lama sebelum semuanya tercampur di lemari baru.

Di antara surat-surat itu terdapat buku catatan tipis milik Karina lama. Sebagian besar halamannya berisi keluhan tentang uang dan keluarga Wijaya. Namun selembar kertas kecil jatuh dari bagian belakang. Tulisan di sana bukan tulisan yang sama dengan isi buku.

Karina baru sempat membaca baris pertama sebelum Lucas memanggil dalam tidur. Ia menyelipkan kertas tersebut kembali dan menyimpan buku di laci.

Sekarang bayangan tulisan itu belum hilang.

Ia berniat memeriksanya setelah sarapan.

Pukul tujuh, meja makan terasa jauh lebih tenang tanpa Susan dan Priscilla. Bi Asih menjelaskan Susan biasa bangun siang dan tidak ikut sarapan. Tuti sedang mengenali area belakang bersama salah satu pegawai dapur.

Sebastian sudah duduk dengan kemeja kerja dan sebuah map di samping kursinya. Kopinya masih mengepul, tetapi matanya berada pada layar HP.

Karina hendak duduk di antara Nathan dan Lucas ketika Nathan menarik sandaran kursinya.

"Mama duduk sebelah Papa saja."

Karina berhenti. "Kenapa?"

"Biar gampang ambilin sayur."

"Sayur siapa?"

Nathan menatap Sebastian, lalu piring di depannya. "Papa."

Sebelum Karina menemukan alasan menolak, anak itu sudah mendorong kursinya sampai berada tepat di sebelah Sebastian.

Lucas bertepuk tangan. "Iya! Biar kayak keluarga di TV. Papa sama Mama duduk sebelahan."

Sebastian mengangkat pandangan dari HP. Matanya berpindah dari kursi ke Nathan. "Kalian merencanakan ini?"

Nathan buru-buru duduk. "Nggak."

Jawabannya terlalu cepat.

Karina menahan tawa dan duduk. "Kalau kursinya dipindah lagi, kita malah telat sarapan."

Jarak antara lengannya dan lengan Sebastian hanya beberapa sentimeter. Aroma kopi bercampur dengan wangi sabun yang bersih. Karina mendadak teringat siku di paha, tangan pada lengan jas, dan kalimat sudah puas pegangnya.

Ia mengambil sendok saji sebelum telinganya ikut panas.

Seporsi tumis kangkung diletakkan di piring Sebastian.

"Ini," katanya pelan. "Buat ganti utang kemarin di mobil."

Sebastian melihat sayur itu. "Utang apa?"

"Jangan pura-pura lupa."

"Saya hanya ingat seseorang memakai kaki saya sebagai pegangan."

"Siku. Bukan tangan. Dan cuma sebentar."

"Tiga detik."

Karina menoleh. "Anda menghitung?"

"Seseorang harus mencatat kejadian dengan benar."

Sudut bibir Sebastian bergerak tipis. Karina menutup percakapan dengan menyuapkan nasi ke mulut sendiri.

Di seberang, Nathan mengamati mereka dengan wajah sangat serius. Lucas justru tersenyum lebar seolah rencananya berhasil.

"Papa makan sayurnya," kata Lucas.

Sebastian mengambil tumis kangkung yang diberikan Karina. "Saya sedang makan."

"Mama yang ambilin."

"Saya tahu."

Nathan melihat tumis kangkung di piring Sebastian yang baru dimakan sedikit. Ia turun dari kursinya, mengambil sendok saji dengan kedua tangan, lalu menambahkan satu porsi kecil lagi.

"Harus dihabiskan," katanya.

Sebastian memandang sayur itu, lalu Nathan. "Kenapa?"

"Mama sudah ambilin. Nggak boleh disisakan."

"Kalau saya tidak suka?"

Nathan tampak kebingungan, seolah kemungkinan seorang dewasa tidak menyukai sayur belum masuk rencananya. "Coba satu dulu. Kalau nggak suka, bilang baik-baik. Mama bilang begitu ke Lucas."

Karina menutup mulut agar tidak tertawa.

Sebastian, presiden direktur yang membuat satu lobi kantor berbisik, akhirnya mengambil tumis kangkung itu dan memakannya di bawah pengawasan anak enam tahun.

"Bagaimana?" tanya Nathan.

"Bisa dimakan."

"Berarti habiskan."

Nathan kembali ke tempat duduk dengan puas. Sebastian menatap punggung kecilnya beberapa detik, lalu benar-benar menghabiskan sayur tersebut tanpa protes.

Karina tidak mengatakan apa pun. Namun pemandangan itu membuat meja makan yang terlalu besar terasa sedikit lebih masuk akal.

Karina menyentuh kening Lucas. "Makan sendiri sebelum nasinya dingin."

Sarapan berlanjut dengan tenang. Nathan mengambil telur tanpa bertanya untuk pertama kali, meski hanya satu potong kecil. Karina berpura-pura tidak memperhatikan agar anak itu tidak merasa sedang diuji.

Ketika Lucas meminta susu kedelai lagi, teko di meja ternyata kosong.

"Mama ambil sebentar," kata Karina.

Seorang pelayan hendak bergerak, tetapi Karina sudah berdiri. Dapur hanya beberapa langkah dari pintu samping, dan ia belum terbiasa memanggil orang untuk setiap hal kecil.

Ujung sandal rumahnya tersangkut pada pinggiran karpet.

Tubuh Karina terdorong ke depan.

Ia hanya sempat melihat sisi meja mendekat sebelum sebuah tangan melingkari pinggangnya. Sebastian menariknya ke samping, menahan seluruh berat tubuhnya agar tidak menghantam sudut meja.

Dada Karina menempel pada bahunya.

Jarak di antara wajah mereka tinggal sedikit. Karina bisa mencium aroma sabun dari kerah kemejanya, sedangkan napas Sebastian menyentuh rambut dekat pelipis.

Ruangan mendadak terlalu sunyi.

"Hati-hati," kata Sebastian.

Suara itu lebih rendah daripada biasanya.

Karina mengangkat kepala. Jantungnya masih kaget, tetapi posisi mereka yang begitu canggung justru terasa lucu. Kemarin ia menyikut paha lelaki itu. Hari ini ia hampir jatuh ke pelukannya sebelum sarapan selesai.

"Terima kasih," katanya, lalu tertawa kecil. "Entah kenapa saya jadi sering mempermalukan diri di dekat Anda."

Tawanya lepas tanpa dipikirkan. Bukan senyum yang digunakan untuk menyenangkan orang lain. Hanya rasa geli kepada dirinya sendiri.

Sebastian tidak segera menjawab.

Tatapannya berhenti pada wajah Karina. Tenggorokannya bergerak saat menelan, dan tangan di pinggang Karina terlambat melepaskan setengah detik.

Karina baru menyadari telapak tangan lelaki itu masih hangat ketika jarak kembali terbuka.

Nathan dan Lucas tiba-tiba bertepuk tangan.

"Papa Mama mesra!" seru Lucas.

"Mesra," Nathan ikut mengulang lebih pelan, tetapi senyumnya terlihat.

"Nggak ada yang mesra," kata Karina cepat.

Sebastian meraih map dan tas kerjanya. Ujung telinganya memerah, sangat tipis tetapi jelas di kulitnya.

"Sudah telat," katanya.

Padahal jam di dinding menunjukkan ia masih punya beberapa menit dari waktu keberangkatan biasanya.

Ia berjalan menuju pintu dengan langkah lebih cepat. Lucas masih cekikikan. Nathan mulai makan lagi dengan wajah puas.

Karina mengambil teko susu kedelai yang sudah dibawa pelayan, lalu berusaha menenangkan napas. Kejadian itu hanya refleks. Sebastian akan menangkap siapa pun yang hampir membentur meja.

Seharusnya begitu.

Di dekat pintu utama, Sebastian berhenti. Ia tidak menoleh sepenuhnya.

"Jangan jatuh-jatuh lagi," katanya.

"Saya juga nggak merencanakannya."

Sebastian pergi tanpa membalas. Pintu menutup di belakangnya.

Karina menyentuh telinganya sendiri yang panas. "Kenapa jadi aneh begini, sih?"

Tawa Lucas terdengar lagi dari ruang makan.

Namun begitu Karina teringat laci di kamar, rasa hangat itu perlahan surut. Ia kembali ke lantai dua setelah anak-anak selesai sarapan dan mengeluarkan buku catatan tipis dari bawah tumpukan pakaian.

Kertas asing itu masih terselip di halaman belakang.

Kali ini Karina membacanya sampai selesai.

Jangan percaya cerita keluarga Wijaya tentang Elina. Cari tahu kenapa Sebastian tidak pernah dianggap sebagai anak mereka.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!