NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Dendam Lama Ratna

Ratna menunggu Arkana di ruang tamu rumah keluarga Adiwijaya dengan lampu utama dimatikan.

Hanya lampu meja yang menyala di samping sofa. Kebaya biru tua yang tadi tampak anggun di panggung kini terasa seperti seragam perang. Kalung keluarga masih melingkar di lehernya.

Arka masuk tanpa melepas jas.

“Duduk,” kata Ratna.

Ia tetap berdiri. “Ibu ingin bicara, saya mendengarkan.”

“Kamu mempermalukan keluarga di depan kamera.”

“Saya mengatakan kebenaran tentang perbuatan saya.”

“Kebenaran pribadi tidak harus diumumkan di acara keluarga.”

“Amara menyerang Anindya di depan kamera. Kalau saya mengoreksi diam-diam, fitnahnya tetap hidup.”

Ratna bangkit. “Kamu bisa membela proyek tanpa mengaku pernah menikah siri dengan perempuan itu.”

“Justru karena saya menyembunyikannya tiga tahun, orang merasa berhak menyebut dia perebut pasangan.”

“Dan sekarang seluruh Jakarta akan menyebutmu laki-laki yang menalak istri rahasia lalu mengejarnya lagi.”

“Mereka tidak salah.”

Jawaban itu membuat Ratna terdiam sesaat. Ia mengangkat tangan ke dada, bukan karena lemah, melainkan seolah nama keluarga yang selama ini dijaganya baru saja diletakkan Arka di lantai.

“Kamu tahu kenapa saya tidak pernah menerima kedekatanmu dengan keluarga Wicaksana.”

Arka menahan napas.

Selama bertahun-tahun, mereka tidak pernah menyebut perkara itu secara lengkap. Cukup satu kalimat tentang ayahnya, satu map lama, lalu seluruh pintu tertutup.

“Ibu...”

“Ayahmu meninggal setelah kecelakaan dalam proyek logistik yang melibatkan perusahaan mitra Wicaksana.” Suara Ratna mulai bergetar. “Dana keselamatan dialihkan. Pemeriksaan kendaraan dipalsukan. Ada surat persetujuan dan aliran uang yang mengarah ke orang mereka.”

Ratna masih mengingat telepon terakhir suaminya. Malam itu ia sedang menunggu makan malam ketika lelaki tersebut mengatakan ada masalah pada armada pengangkut dan ia harus memeriksa gudang sendiri. Dua jam kemudian, polisi menelepon. Truk yang ditumpanginya kehilangan kendali di jalan menurun, menabrak pembatas, lalu terbakar sebelum tim penyelamat tiba.

Kasus bergerak cepat. Vendor menyatakan kegagalan mekanis. Perusahaan asuransi membayar. Seorang manajer tingkat bawah menerima hukuman atas kelalaian dokumentasi, sementara orang-orang yang menandatangani kontrak utama tidak pernah duduk di ruang sidang.

Beberapa bulan setelah pemakaman, sebuah amplop tanpa pengirim tiba di rumah Ratna. Isinya salinan transfer, laporan inspeksi yang berbeda dari berkas resmi, dan foto pertemuan seorang wakil vendor dengan orang Grup Wicaksana. Sejak saat itu, Ratna percaya kecelakaan tersebut bukan sekadar kelalaian satu orang.

Arka tumbuh bersama map itu. Setiap kali bertanya mengapa penyelidikan tidak dibuka kembali, ia mendengar jawaban yang sama: saksi menarik keterangan, dokumen asli hilang, dan keluarga Wicaksana terlalu kuat untuk disentuh.

Tak seorang pun dalam keluarga pernah meminta laboratorium independen memeriksa salinan tersebut.

“Kasus resminya menyebut kegagalan rem dan kelalaian vendor.”

“Vendor yang dilindungi oleh kontrak Wicaksana.”

“Itu kesimpulan dari dokumen yang kita terima setelah kasus ditutup. Bukan putusan pengadilan terhadap Bramantya.”

Ratna menatapnya tajam. “Sekarang kamu meragukannya karena Anindya?”

Pertanyaan itu menembus titik yang paling membuat Arka malu. Tiga tahun lalu, ia tidak meragukan apa pun. Ia mengambil salinan dokumen, kemarahan Ratna, dan nama keluarga Anindya, lalu menyusunnya menjadi vonis yang nyaman.

Ia pernah menyebut perempuan yang dicintainya anak dari keluarga pembunuh tanpa memeriksa satu berkas asli pun.

“Saya meragukan cara saya memperlakukannya,” jawab Arka. “Itu tidak sama dengan menyatakan dokumen lama palsu.”

“Kamu tadi mengaku di depan semua orang bahwa tuduhan itu tidak pernah kamu periksa.”

“Karena memang tidak.”

“Saya yang memeriksa!”

“Ibu membaca salinan yang dikirim kepada keluarga. Kita tidak pernah mendapat akses penuh ke berkas penyidikan, sumber dokumen bank, atau pemeriksaan tanda tangan.”

Mata Ratna memerah. “Saya menguburkan suami saya. Jangan bicara seolah duka saya adalah kesalahan administrasi.”

Arka akhirnya duduk, tetapi tetap menjaga jarak. “Saya tidak meremehkan duka Ibu.”

“Lalu apa yang kamu lakukan?”

“Memisahkan duka dari kesalahan saya terhadap Anindya.”

Ratna tertawa pendek, pahit. “Dia putri Bramantya Wicaksana.”

“Dia juga putri Laras. Dan bahkan kalau suatu hari terbukti ada orang Wicaksana yang bersalah, Anindya tidak pernah diadili untuk perbuatan ayahnya.”

“Keluarga menikmati hasil yang sama.”

“Anindya hidup di kontrakan Ciputat dan bekerja sebagai kopilot. Apa yang Ibu anggap sedang ia nikmati?”

Ratna membuang muka.

Arka melanjutkan, “Saya tidak meminta Ibu menerima dia malam ini. Saya bahkan tidak punya hak meminta Anindya kembali. Tapi saya tidak akan mencabut pengakuan tadi hanya demi menjaga kesan bahwa saya tidak pernah berbuat salah.”

“Jadi kamu memilih dia daripada keluarga?”

“Saya memilih bertanggung jawab atas keputusan saya sendiri.”

“Jawab pertanyaan Ibu.”

Arka berdiri lagi. “Pertanyaannya dibangun seolah menghormati Anindya berarti mengkhianati Ayah. Saya tidak akan menerima pilihan itu sebelum kebenaran perkara lama diperiksa ulang.”

Ratna menatap putranya seolah melihat orang asing.

“Kamu ingin membuka makam ayahmu demi perempuan yang mengatakan membencimu?”

“Saya ingin membuka arsip, bukan makam. Dan kebencian Anindya tidak mengubah kewajiban saya.”

Kalimat itu membuat wajah Ratna mengeras sepenuhnya.

“Kalau kamu terus mengejarnya, jangan harap saya menggunakan nama, saham, atau hubungan keluarga untuk membantumu.”

“Saya tidak akan meminta.”

“Kamu bisa kehilangan dukungan dewan.”

“Kalau posisi saya bergantung pada menutup kesalahan pribadi dan menerima bukti tanpa pemeriksaan, saya memang harus tahu seberapa rapuh posisi itu.”

Ratna meremas sandaran sofa. “Berhenti menemuinya, atau bersiap berdiri tanpa keluarga Adiwijaya.”

Arka tidak segera menjawab. Wajah ayahnya muncul dalam ingatan: tangan besar di bahu, suara tawa di hanggar, peti tertutup setelah kecelakaan. Rasa marah lama masih ada. Dokumen yang ia lihat dulu juga masih nyata di kepalanya.

Namun untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa keyakinan lama tidak sama dengan kebenaran yang telah diuji.

“Beri saya waktu untuk memeriksa perkara itu dari awal,” katanya.

“Itu bukan jawaban yang Ibu minta.”

“Itu satu-satunya jawaban jujur yang saya punya.”

Arka berbalik menuju pintu.

“Kalau kamu pergi malam ini, jangan datang membawa perempuan itu ke rumah ini.”

Ia berhenti tanpa menoleh. “Anindya tidak pernah meminta datang. Jangan jadikan dia pelaku dalam pertengkaran yang kita ciptakan sendiri.”

Pintu tertutup setelahnya.

Ratna berdiri sendiri di tengah ruang tamu. Kemarahan membuat tangannya gemetar, tetapi di bawahnya ada sesuatu yang lebih tua: ketakutan bahwa satu-satunya penjelasan atas kematian suaminya akan diambil darinya.

Ia membuka laci meja yang selalu terkunci.

Di dalamnya tersimpan foto lokasi kecelakaan yang telah menguning dan salinan dokumen transfer dengan satu tanda tangan di sudut bawah. Tinta pada salinan itu kabur, hanya beberapa huruf awal yang masih bisa dibaca.

Ratna menyentuh tepi kertas.

“Kematianmu bukan kebetulan,” bisiknya. “Tidak mungkin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!