NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Satu Kamar, Dua Ego

Di belakang Fransisca, Alena langsung menjerit kecil.

“YA TUHAN!”

Arsen yang baru keluar berhenti di tengah langkah. Ia menatap kakaknya dari atas sampai bawah.

Lalu tertawa keras tanpa ampun.

“Hahahaha! Kakak pulang kayak debt collector gagal!”

“Diam,” ujar Alden datar sambil berjalan masuk.

Arsen buru-buru mengejarnya, mengitari kakaknya seperti sedang memeriksa barang langka.

“Serius... ini nyata?”

Ia menyentuh debu di lengan baju Alden.

“Masih hangat pula.”

Alena menutup mulut menahan tawa.

“Bahkan rambut Kak Alden berantakan. Aku tidak pernah lihat ini sejak lahir.”

Fransisca mendekat cemas.

“Kamu kenapa? Mobilmu mana? Kamu jatuh? Kamu dirampok?”

“Mobilku dibawa Belvina.”

Semua orang menatapnya.

Arsen paling dulu bereaksi, lalu meledak lagi.

“Hahahahaha! Kakak dibajak Kak Belvina!”

Alena sampai berpegangan ke dinding.

“Tidak... aku tak sanggup...”

Fransisca justru tampak terharu.

“Ya ampun...” matanya berkaca-kaca. “Akhirnya ada juga yang bisa mengalahkanmu.”

Alden melewati mereka semua seolah tak terganggu. Bibirnya malah melengkung nyaris tak terlihat

Gerakan kecil itu tertangkap Andreas yang baru keluar dari ruang baca.

Pria yang menjadi kepala keluarga itu berhenti di ambang pintu. Matanya jatuh pada RX-King di halaman.

Lalu pada putra sulungnya yang pulang berdebu.

“Jelaskan.”

Alden membuka kancing manset kemejanya sambil berjalan melewati ayahnya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Andreas mengangkat alis.

“Mobilmu hilang. Kau pulang naik motor tua. Bajumu seperti habis dikejar ayam. Dan kau bilang tak ada yang perlu dijelaskan?”

Arsen hampir tersedak menahan tawa.

Alden berhenti sebentar, menoleh sedikit ke belakang.

“Istriku sedang belajar mengambil aset keluarga.”

Arsen jatuh terduduk di tangga sambil tertawa.

Alena menepuk meja terdekat.

Fransisca benar-benar menangis karena terlalu bahagia.

Andreas memandang putranya beberapa detik, lalu satu sudut bibir pria tua itu naik nyaris tak terlihat.

“Bagus.”

Alden mengangkat alis tipis.

“Bagus bagian mananya?”

“Kalau dia berani mengambil milikmu,” ujar Andreas tenang, “berarti dia belum berniat pergi.”

Alden terdiam. Kalimat itu mengenai sasaran terlalu tepat. Ia menoleh ke arah halaman, ke tempat sedan hitamnya seharusnya parkir.

Kosong.

Namun entah kenapa, dadanya justru terasa penuh.

Arsen masih terpingkal di tangga.

“Besok apa lagi? Kakak pulang naik bajaj?”

Alden berjalan ke kamarnya tanpa menoleh.

“Kalau kau masih tertawa saat makan malam, kartu kreditmu kublokir.”

Tawa Arsen mati seketika. Alena terbahak lebih keras. Fransisca memeluk lengan suaminya bahagia.

“Rumah kita menyenangkan lagi.”

Andreas menyesap teh yang baru dibawakan pelayan.

“Bukan rumahnya,” katanya tenang.

Matanya mengikuti langkah Alden yang menjauh.

“Tapi perang yang baru dimulai.”

***

Pintu kamar terbuka.

Alden masuk sambil melonggarkan dasi, masih membawa aura jalanan, debu, dan kekesalan yang belum selesai.

Namun langkahnya berhenti di ambang pintu.

Belvina baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, dijepit ke satu sisi sambil digosok handuk kecil. Wajahnya segar tanpa riasan. Piyama longgar berwarna lembut membuatnya terlihat jauh lebih muda.

Belvina memerhatikannya dari kepala sampai kaki. Lalu alisnya terangkat.

“Wah.”

Alden menutup pintu pelan.

“Apa?”

Belvina menahan tawa.

“Kalau tak kenal, kupikir tadi satpam salah masukin tukang tagih utang.”

Alden berjalan mendekat sambil melepas jam tangan.

“Lucu?”

“Tidak, serius.” Belvina melangkah memutari dirinya seolah sedang menilai barang bekas. “Kemeja kusut. Sepatu berdebu. Rambut berantakan.”

Ia berhenti di depannya.

“Masih kurang helm proyek.”

Alden hanya memandang tanpa ekspresi.

“Kau selesai?”

“Belum.”

Belvina menunjuk lengannya.

“Ini apa?”

“Debu.”

“Bukan. Ini bukti karma bekerja cepat.”

Alden terkekeh pendek, sangat tipis, tapi nyata.

Belvina langsung menyipitkan mata.

“Kau ketawa?”

“Tidak.”

“Kau jelas ketawa.”

“Aku sedang kasihan padamu.”

Belvina mendecak.

“Kasihan kenapa?”

Alden membuka simpul dasinya.

“Karena kau sengaja pulang ke sini hanya supaya bisa tidur denganku.”

Belvina membeku satu detik, lalu tertawa kering.

“Narsis.”

Ia melempar handuk kecil ke sofa.

“Aku pulang ke sini karena Bunda yang minta.”

“Mm.”

“Jangan ‘mm’ begitu.”

“Faktanya tetap sama.” Alden berjalan melewatinya menuju lemari. “Kau tetap berakhir di kamar yang sama denganku.”

Belvina menaruh tangan di pinggang

“Malam ini kau tidur di sofa.”

Alden membuka lemari tanpa menoleh, seolah usul itu tak layak dipertimbangkan.

“Gak mau.”

Belvina membelalak.

“Excuse me?” Ia melangkah mendekat. “Ya sudah. Kalau kau tak mau, aku yang tidur di sofa.”

Kini Alden menoleh. Tatapannya datar, tapi jelas menilai.

“Yakin ingin tidur di sofa?”

“Yakin.”

Alden menutup pintu lemari pelan.

“Semalam kau nyaman sekali tidur denganku.”

Belvina tersedak udara sendiri.

“Apa?”

“Bahkan sampai memelukku.”

“Itu fitnah.”

“Kau melingkari pinggangku.”

“Itu karena aku mengira kau guling.”

Alden mengangkat satu alis.

“Guling hidup?”

Belvina menunjuk wajahnya.

“Jangan besar kepala. Kau yang maksa aku tidur di ranjang itu.”

“Tapi kau nyaman.”

“Tidak.”

“Nyenyak.”

“Tidak.”

“Mendengkur sedikit.”

“Aku tidak mendengkur!”

“Baik. Mendengus manja.”

Belvina mengambil bantal terdekat dan melempar ke arahnya.

Alden menangkapnya dengan satu tangan.

“Malam ini kita tidur seranjang lagi,” ucapnya tenang sambil meletakkan bantal ke kasur.

“Tidak," bantah Belvina. "Kita tidur terpisah.”

“Gak mau.”

“Harus mau.”

“Tidak.”

Belvina menyipitkan mata.

“Keras kepala.”

“Kita cocok.”

“Aku tidak bercanda.”

“Aku juga.”

Dua-duanya saling menatap tanpa berkedip.

Lalu Alden berkata santai,

“Kalau begitu, aku panggil Bunda dan bilang kita bertengkar.”

Belvina langsung bergerak cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Awas kalau berani.”

Alden menunduk sedikit. Suaranya teredam di balik telapak tangan Belvina.

“Jadi?”

Belvina sadar posisi mereka mendadak terlalu dekat.

Ia buru-buru menarik tangannya, mundur beberapa langkah.

“Licik.”

Tatapan Alden tak berubah sedikit pun.

“Efektif.”

"Aku tetap gak mau tidur denganmu."

"Aku beneran bilang ke bunda."

Belvina menatap tajam.

“Kau mengancamku pakai ibumu sendiri?”

“Aku memanfaatkan situasi.”

Belvina berjalan cepat mendekat.

“Kau tahu apa yang paling menyebalkan darimu?”

Alden menoleh, jarak mereka kini terlalu dekat.

“Apa?”

“Kau merasa selalu menang.”

Alden menunduk sedikit, suaranya rendah.

“Kalau begitu buktikan aku salah.”

Jantung Belvina berdenyut tak nyaman. Ia mundur setengah langkah.

“Pergi mandi.”

“Ada nada perhatian di sana.”

“Ada bau knalpot di sana.”

Sudut bibir Alden bergerak samar.

“Jadi kau mengendusku?”

Belvina mengambil bantal lagi dan menghantam dadanya.

“MANDI.”

Lagi-lagi Alden menangkap bantal itu dengan satu tangan.

Tatapan keduanya bertemu beberapa detik terlalu lama. Lalu Alden berjalan ke kamar mandi sambil membawa bantalnya.

“Itu bantalku!” seru Belvina.

“Rampasan perang,” jawabnya tenang dari balik pintu yang menutup.

"What?!" Belvina berdiri mematung, pipinya panas. “Manusia paling menyebalkan sedunia.”

Dari balik pintu terdengar suara Alden datar.

“Aku dengar.”

Belvina langsung mengambil bantal kedua.

“Bagus.”

Dari kamar mandi kembali terdengar suara Alden. Ia berkata dengan nada datar,

“Siapkan diri. Aku tidak berniat tidur di sofa.”

 

...✨“Mereka belum saling mengaku suka. Tapi seluruh rumah sudah tahu perang ini terlalu manis untuk disebut benci.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Seraphina berulah, Alden mengambil langkah cepat dengan pemutusan seluruh kerja sama yang masih berjalan.

Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.

Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.

Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.

Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
anonim
Belvina lebih baik tidak usah keluar rumah sebelum Alden menemukan bukti-bukti kuat kejahatan Seraphina di perusahaan keluarga Alden.

Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
anonim
Alden mendapatkan laporan dari Dimas tentang sepak terjang Seraphina yang menjadi pahlawan perusahaannya.

Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.

Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.

Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.

Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
anonim
Orang suruhan Seraphina ini apa tidak punya istri dan anak. Mau-maunya menerima pekerjaan mencelakakan Ibu hamil.

Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
anonim
Seraphina penjahat terselubung, melakukan kejahatan dengan membayar seseorang.

Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.

Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
SediaKala
Bukannya ponselnya di tinggal d rumah ya?🤏
anonim
Alden benar-benar marah kepada Seraphina yang telah mencoba menghancurkan rumah tangganya.

Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.

Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.

Dimas takut Seraphina berbuat nekat.

Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
anonim
Seraphina datang ke gedung Astera Group memenuhi panggilan dari Alden.

Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.

Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.

Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.

Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.

Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.

Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
anonim
Seraphina menghancurkan gelas wine yang isinya sudah tandas dia teguk dengan emosi tinggi

Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.

Seraphina menahan amarah.

Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.

Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
anonim
Belvina tidak mau membantu Alden lepasin baju.

Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.

Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.

Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.

Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.
beybi T.Halim
setelah mood yg up & down baca cerita ini akhirnya kelar juga,happy ending buat semuanya,semangat buat penulisnya,sehat2 sll💝
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Keren juga Belvina dalam menghadapi Seraphina yang dengan sengaja bicara tentang perlakuan Alden yang sudah berlalu.

Sayangnya Belvina tak terpengaruh dengan Seraphina. Tidak terpancing untuk marah.

Kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Belvina membuat Seraphina tak berkutik.

Kebanggaannya diperlakukan istimewa oleh Alden, tak ditanggapi Belvina sesuai harapannya.

Belvina tak bisa diremehkan. Pasti akan mekawan dengan cara yang elegan. Seperti saat ini.

Tidak perlu marah pakai teriak-teriak.
anonim
Seraphina sengaja mengikuti Belvina kah ?

Belvina mesti hati-hati kalau dekat Seraphina. Mesti waspada terhadap gerak-gerik Seraphina. Jangan sampai membahayakan kehamilannya.
Nurlaila Hidayah
gmna Lo mau tahu sama istri Lo aja cuek lbih perhatian sama cwek lain, mka'a aneh kan sama istri sndri, kerasa kan skrg keadaan'a di balik, emg enak, sangka thor
RusNa ANtox DEwi
baguss
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
keren2... bakal saya lahap habis ini karya2mu...
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bakulgeblek
home sweet home...
Bakulgeblek
nha... senyum2 besoknya pasti ini pak COD koplak...
Bakulgeblek
titik terendah harga diri laki2 di depan istri, sekaligus puncak kelaki2an utk menahan dan hanya melepas kepada istri...💪💪💪
Bakulgeblek
"sudah boleh?" 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!