NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Kota Jakarta

Kereta masuk Stasiun Gambir menjelang siang.

Begitu pintu terbuka, udara Jakarta langsung menampar wajah Rian Prasetyo dengan panas, suara, dan bau campuran aspal, parfum mahal, kopi, serta manusia yang semuanya tampak sedang terburu-buru.

Bagas Wicaksono turun dengan mata berbinar.

"Bos, ini baru kota. Lihat, gedungnya tinggi semua. Bahkan orang jalannya juga kayak mau merger."

Rian menggenggam dompet tipisnya.

"Jangan terlalu kagum. Kita ke sini untuk rugi."

Fajar Hidayat turun di belakang mereka sambil membawa tas kecil. Pria itu tampak lebih rapi daripada kemarin, tapi matanya masih menyimpan sisa lelah orang yang baru saja mengubur masa lalu.

"Mas Rian," katanya pelan, "Jakarta tidak mudah. Orang di sini tidak peduli siapa kita sampai kita punya angka."

Rian melihat panel biru yang melayang di sisi pandangnya.

[Siklus 3]

[Dana Sistem: Rp 1.000.000.000.000]

[Rekomendasi pasar: Jakarta]

Angka.

Ia punya angka yang cukup untuk membuat kepalanya pusing.

Masalahnya, angka itu bukan uang pribadi.

Ketika Bagas mengusulkan beli minum di minimarket stasiun, Rian membuka dompetnya seperti membuka luka lama.

"Dua air mineral," katanya kepada kasir.

Totalnya sederhana.

Tapi setelah membayar, sisa uang pribadinya langsung terasa seperti pasir yang jatuh dari genggaman.

Pemilik dana satu triliun membeli dua botol air dengan wajah orang hampir bangkrut.

Bagas memandangi botolnya. "Bos, lu kelihatan sakit hati cuma gara-gara air mineral."

"Ini air yang dibayar pakai darah."

"Darah lima ribuan?"

"Diam."

Mereka keluar dari stasiun dan masuk ke jalan besar. Mobil pribadi, taksi online, motor, bus, dan suara klakson saling berebut ruang. Di kejauhan, gedung perkantoran berdiri seperti deretan brankas raksasa.

Rian menatap kota itu lama.

Kota Tanjung Emas bisa ditaklukkan oleh satu supermarket dan satu restoran.

Jakarta berbeda.

Di satu jalan saja, ia melihat tiga kafe modern, dua minimarket, satu restoran Korea, satu kedai kopi lokal, dan sebuah pusat perbelanjaan yang tampak bisa menelan seluruh Garuda Mart lama tanpa tersedak.

Persaingan di sini padat.

Biaya sewa pasti gila.

Gaji karyawan lebih tinggi.

Pelanggan lebih rewel.

Brand datang dan mati setiap bulan.

Rian merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Harapan.

"Bagas," katanya pelan, "di kota ini, kalau kita buka bisnis sembarangan, peluang matinya tinggi."

Bagas menoleh. "Itu kalimat paling menyeramkan yang pernah lu ucapkan dengan wajah bahagia."

Fajar, yang berjalan di sisi lain, mengangguk serius. "Benar, Mas. Jakarta tidak memberi ampun. Banyak brand punya modal besar tetap tumbang karena salah lokasi, salah harga, atau salah membaca pasar."

Rian hampir ingin memeluknya.

Akhirnya ada orang bicara seperti kenyataan.

Mereka naik taksi online menuju kawasan bisnis. Dari jendela, Rian melihat papan iklan digital, tower apartemen, ruko mahal, dan antrean panjang di depan kedai kopi terkenal.

Semua tampak mahal.

Semua tampak kompetitif.

Semua tampak seperti tempat ideal untuk membakar uang.

"Kita cari lokasi yang biaya sewanya paling tidak masuk akal," kata Rian.

Bagas menatapnya. "Biasanya orang cari yang strategis."

"Terlalu strategis juga bagus. Mahal."

"Lu ini kalau dengar kata mahal langsung kayak dengar azan magrib pas puasa."

Fajar tersenyum kaku, belum berani ikut tertawa.

Di kawasan bisnis, mereka berjalan tanpa tujuan pasti. Rian mencatat harga sewa ruko, melihat kepadatan karyawan kantoran, memerhatikan bagaimana orang membeli kopi seharga makan siang tanpa berkedip.

Ia makin yakin.

Jakarta bisa menyelamatkannya.

Kota ini cukup besar untuk menelan satu triliun.

Saat Rian berdiri di depan sebuah kafe dengan papan harga yang membuat dompet pribadinya ingin pingsan, Bagas tiba-tiba menghilang.

Lima menit kemudian, ia kembali sambil menyeret seorang pria tua berambut putih rapi yang membawa gelas kopi.

"Bos, kenalan. Ini Pak Budiman. Gue tadi cuma tanya tempat makan murah, tapi beliau malah nanya kita dari mana."

Rian hampir tersedak udara.

Pria tua itu tertawa pelan. Ia memakai kemeja linen sederhana, jam tangan tua, dan sandal kulit. Tidak ada pengawal mencolok. Tapi cara orang-orang di sekitar kafe menunduk kepadanya membuat Rian langsung tahu pria ini bukan pensiunan biasa.

"Budiman Hartono," kata pria itu sambil mengulurkan tangan. "Panggil saya Pak Budiman saja."

Rian menjabat tangannya dengan sopan. "Rian Prasetyo."

Mata Pak Budiman bergerak sedikit.

"Rian dari Garuda Mart?"

Bagas langsung membusungkan dada seolah namanya ikut tercetak di papan perusahaan. "Betul, Pak. Ini bos saya. Supermarket, restoran, semuanya dia."

Rian ingin menutup mulut Bagas, tapi terlambat.

Pak Budiman tersenyum lebih dalam. "Saya membaca sedikit tentang Garuda Mart dari berita lokal. Harga rendah, gaji tinggi, layanan cepat. Banyak orang mengira itu promosi gila. Tapi kalau promosi, seharusnya cepat berhenti. Anda malah menggandakan modelnya."

Rian diam.

Ia baru sampai Jakarta beberapa jam dan sudah bertemu orang yang membaca bencana hidupnya seperti laporan investasi.

"Itu bukan model yang rumit, Pak," jawab Rian hati-hati. "Saya cuma tidak terlalu mengejar profit."

Pak Budiman mengangkat alis. "Menarik."

Tidak.

Jangan menarik.

Mereka akhirnya duduk di meja pojok kafe. Asisten Pak Budiman, seorang perempuan muda berkacamata, muncul tanpa dipanggil dan meletakkan kartu nama di atas meja.

Rian membaca sekilas.

Budiman Hartono.

Hartono Capital & Property.

Ia memasukkan kartu itu ke saku dengan gerakan paling tenang yang bisa ia lakukan, padahal dalam hati ia sudah mendengar alarm.

Orang kaya.

Sangat kaya.

Berbahaya.

Pak Budiman menyesap kopi. "Jadi, Mas Rian, apa yang Anda cari di Jakarta?"

"Peluang bisnis yang risikonya besar," jawab Rian jujur.

Bagas menutup mata.

Fajar menahan napas.

Pak Budiman justru tersenyum.

"Anak muda biasanya datang mencari peluang untung. Anda mencari risiko."

Rian mengangguk. "Kalau persaingan terlalu mudah, bisnis jadi tidak sehat."

Maksudnya: kalau terlalu mudah, saya untung lagi.

Pak Budiman meletakkan gelasnya. "Lanjutkan."

Rian mulai bicara lebih bebas. Ia berkata bahwa karyawan harus dibayar tinggi agar loyal. Harga tidak perlu mengambil margin terlalu banyak karena pelanggan harus merasa dihormati. Renovasi harus benar-benar bagus karena tempat kerja memengaruhi martabat orang. Kalau harus memilih antara laba cepat dan membangun sistem yang membuat banyak orang bertahan, ia memilih membakar laba cepat itu.

Semua kalimat itu, di kepala Rian, artinya satu.

Biaya naik.

Profit turun.

Semoga rugi.

Namun wajah Pak Budiman berubah semakin serius.

Ia tidak menyela.

Ia hanya mendengarkan seperti orang menemukan peta lama menuju tambang emas.

Satu menit hening berlalu setelah Rian selesai.

Pak Budiman akhirnya berkata, "Mas Rian, Anda menyebutnya tidak mengejar profit. Di Jakarta, kami menyebutnya long-termism."

Rian membeku.

"Apa?"

"Jangka panjang." Pak Budiman menatapnya hangat. "Banyak pemilik bisnis bicara soal manusia, tapi begitu laporan turun sedikit, yang pertama dipotong adalah gaji dan kualitas. Anda melakukan kebalikannya. Anda mengorbankan margin untuk kepercayaan. Itu fondasi, jauh dari kecerobohan."

Bagas menepuk meja pelan. "Nah! Itu yang dari dulu gue bilang. Bos gue ini beda."

Rian menatap Bagas.

Kapan?

Kapan kau pernah bilang itu?

Pak Budiman tertawa kecil. "Saya sudah lama mencari anak muda seperti Anda. Jakarta punya uang terlalu banyak, tapi tidak punya cukup keberanian yang bersih."

Kalimat uang terlalu banyak membuat punggung Rian dingin.

"Pak Budiman terlalu memuji," katanya cepat. "Saya baru sampai. Saya belum punya jaringan di sini."

"Jaringan bisa dibuka." Pak Budiman mengambil kartu lain dari asistennya dan menuliskan nomor pribadi di belakangnya. "Besok datang ke kantor saya. Saya ingin mendengar rencana Anda lebih lengkap."

Rian menerima kartu itu dengan tangan kaku.

"Saya belum tentu punya rencana matang."

"Lebih bagus," kata Pak Budiman. "Rencana yang terlalu matang biasanya sudah tidak berani."

Rian kehabisan kata.

Pak Budiman berdiri, lalu menepuk bahunya dengan lembut.

"Mas Rian, saya ingin berinvestasi pada proyek Anda berikutnya. Dan saya akan memperkenalkan Anda kepada seorang teman, Pak Wahyu Santoso. Dia kasar di mulut, tapi matanya tajam untuk bisnis."

Rian merasa kursinya tiba-tiba terlalu rendah.

Ia datang ke Jakarta untuk menghabiskan satu triliun.

Belum sempat mencari tempat rugi, sudah ada orang ingin menambah uang.

Setelah Pak Budiman pergi, Bagas bersandar dengan wajah puas.

"Bos, baru sehari udah ketemu investor top. Jakarta menyambut kita."

Fajar menatap kartu nama itu dengan kagum. "Mas Rian, Pak Budiman bukan orang biasa. Kalau beliau tertarik, banyak pintu akan terbuka."

Rian memasukkan kartu itu ke dompet tipisnya, tepat di sebelah sisa uang lima puluh ribuan.

Perbandingannya terasa kejam.

Saku kiri: hampir tidak punya uang makan.

Saku kanan: calon investor triliunan.

Rian berdiri dan berjalan keluar kafe.

Bagas mengejarnya. "Bos, kenapa muka lu kayak orang baru dengar kabar buruk?"

Rian menatap gedung-gedung Jakarta yang berkilau di bawah matahari sore.

"Selesai," katanya pelan.

"Apanya?"

Rian menarik napas panjang.

"Belum mulai saja, sudah ada yang mau memasukkan uang lagi."

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!